Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Kewajiban Membuat Nyaman


Ghaza masih tersenyum dengan wajah penuh kepuasan. Bagaimana ia tidak merasa puas di saat dahaga dan kebutuhannya sebagai pria dewasa terpenuh, melalui bibir dan tangan istrinya, terlebih hal itu di lakukan atas kemauan Kayla sendiri bukan paksaan darinya.


Kini sering diperbincangkan oleh kalangan yang berasal dari pasangan suami istri (pasutri) sebagai sebuah variasi dalam berhubungan intim.


Kendati dalam bidang kesehatan **** oral diperbolehkan dengan adanya beberapa catatan dan risiko yang bisa saja terjadi, maka dalam Islam *** oral pun tak luput dari perbincangan para ulama.


Buya Yahya pernah mendapatkan pertanyaan serupa terkait hukum **** *** dalam Islam dan ulama Indonesia itu menjawab secara jelas dan terperinci pertanyaan yang dilayangkan dari seorang Jemaah kajiannya.


"Maaf, apabila kita sekarang wanita sedang libur atau haid bolehkan memuaskan suami dengan mulut?"tanya seorang jemaah. Dikutip oleh bandung.suara.com dari YouTube Al-Bahjah TV pada Rabu (15/2/2023).


m


Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya menjawab bahwa hal tersebut (melakukan **** oral) diperbolehkan dalam Islam sebab sebagai pasutri segala sesuatu boleh dilakukan untuk bersenang-senang dalam hubungan intim.


Namun Buya Yahya memberikan catatan khusus untuk tidak menelan cairan yang keluar dari alat vital ketika melakukan oral **** dan sebagaimana yang diketahui bahwa daerah itu bukanlah tempat yang bersih.


Jika memang perlu, beliau menyarankan untuk menggunakan salah satu dari kedua tangannya saja atau bahkan langsung kedua-duanya demi menghindarkan diri dari risiko tertelannya cairan kotor kedalam perut suami maupun istri.


"Anda boleh berbuat apa saja suami istri, bebas. Anda bersenang-senang dengan kupingnya, dengan rambutnya, apa saja boleh, halal. Cuma yang diharamkan dalam dua keadaan,"papar Buya Yahya atas pertanyaan yang sebelumnya disampaikan.


Kata 'bebas' yang diberikan kepada pasutri pun memiliki batasan-batasan tertentu yang kemudian kembali dijelaskan oleh Buya yakni dua gaya berhubungan intim yang diharamkan untuk kondisi-kondisi berikut.


Pertama, ketika haid atau masa menstruasi maka seorang pria dilarang memasukan alat vitalnya ke lubang depan dari istrinya.


Kemudian yang kedua memasukan alat vitalnya ke lubang bagian belakang, apapun kondisinya baik istri sedang menstruasi ataupun tidak sebab hukumnya haram. 


Semoga memberikan pencerahan ya teman-teman.


Ridwan dan Kimmy sendiri mengetahui apa yang sudah di lakukan pasangan muda itu, terlihat jelas dari senyum cerah yang di tampilkan di wajah Ghaza.


.


"Kau sedang apa?" Kahfa mengejutkan Lexi yang tengah berada di dapur entah apa yang sedang iparnya itu kerjakan.


"Astaghfirullah. Gus Kahfa bisa-bisanya mengejutkanku saja." Dada Lexi terlihat di elus-elus oleh pemiliknya nampaknya Lexi benar-benar di buat terkejut oleh Kahfa yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan di dapur? Jangan mengacau Lexi. Lebih baik kau kembali kekamarmu sebelum Kahfi kembali. Sepertinya dia ada kelas malam ini." Kahfa memberi saran, dari pada Lexi berada di dapur dan menghancurkan pekerjaan bibi yang bekerja di rumah.


"Ish, sepertinya Mas Kahfi memang ada kelas. Dasar, harusnya Mas Kahfi ijin saja inikan malam pertama kami." Lexi terus menggerutu seraya menuangkan puding yang ia buat ke dalam cetakan, sedangkan bi inah tengah sibuk mencuci perabotan yang Lexi gunakan untuk membuat puding.


"Memangnya apa yang akan kalian lakukan." Kahfa menatap penasaran Lexi, akankan adik iparnya itu malu-malu atau jistru urat malunya benar-benar sudah putus seperti biasa.


"Kau, jomblo tak akan paham, ini area dewasa. Sebaiknya kau menikah dulu baru kau akan mengerti." Lexi tertawa, ia yakin jika Kahfa kesal padanya puas hati ia bisa membuat Kahfa kehilangan moodnya.


"Lexi!"


"Bye kakak ipar. Tante Berlian sepertinya cocok untukmu, minta Kayla untuk mengenalkannya padamu." Lexi harus segera melarikan diri sebelum Kahfa mengamuk.


"Bibi. Tolong masukan pudingku ke lemari pendingin." Teriak Lexi dari kejauhan.


"Dasar bocah bunglon, jika di hadapan Kahfi gayanya seperti bidadari surga, sedangkan di hadapanku tak ubahnya seperti dayang fir'aun." Kahfa tak habis pikir akan tingkah gadis itu yang berbanding terbalik saat berhadapan dengan Kahfi akan berubah semanis permen kapas pasar malam.


Kahfa memajukan kursi rodanya menuju lemari pendingin.


"Abang." panggil Kahfi kembali.


"Kau sudah pulang?"


"Ya Bang,"


"Bukannya kau ada kelas malam ini?" Kahfa meneguk minumannya setelah mengucapkan basmalah.


"Ya Bang, tapi aku ijin, badanku masih lelah."


"Badanmu masih lelah? Atau kau ingin berkeringat dengan istrimu?" ucapan menohok Kahfa berhasil menimbulkan seraut rona di wajah adiknya.


"Wah. Ternyata tak mudah untuk mengelabui Abang." Kahfi malah semakin membenarkan tuduhan Abangnya.


"Sepertinya kau sudah tertular tingkah aneh gadis bunglon itu."


"Siapa yang abang maksud gadis bunglon? Jangan katakan jika yang di maksud Abang adalah istriku!" Kahfi menatap Kahfa penuh intimidasi, ia tak rela istri cantiknya di katakan gadis bunglon.


"Ya memang dia orangnya." tunjuk Kahfa pada Lexi yang tiba-tiba ikut bergabung.


"Masya Allah suami tampan aku sudah pulang." Lexi mengdekat dan meraih tangan Kahfi untuk ia kecup.


Uwekkk ...


Kahfa berlaga srperti orang yang tengah mual dan ingin memuntahkan sesuatu. "Bucin."


"Abang tidak boleh bertingkah seperti itu tidak baik. Sesama saudara harus saling menyayangi jangan seperti itu." Andai saja setiap berbicara Lexi selembut ini tidak memakai urat. Tapi sayang sekali ini hanya akan Kahfa jumpai di saat ada Kahfi di samping gadis itu, mode bidadarinya tengah Lexi gunakan.


"Lexi, meski aku patah tulang aku masih sanggup hanya untuk menenggelamkan tubuh mungilmu di danau selatan pondok." Kahfa mendengus kasar.


"Astaghfirullah. Abang jangan berbicara seperti itu, Abang ingin membuatku menjadi duda perjaka." Ceplos Kahfi.


Mendengar kata perjaka sontak saja membuat pikiran Lexi melanglang buana, melayang tinggi, bebas tanpa batas.


"Perjaka?" Beo Lexi. Lebih tepatnya seperti pernyataan mutlak.


"Sudahlah. Aku malas berdebat dengan kalian lebih baik kita makan saja." Kahfa memajukan kursi rodanya ke arah meja makan, ia bersiap untuk menyantap makanan yang terhidang di meja makan. Sepertinya mereka hanya akan makan malam bertiga, dikarnakan Ayah dan dan ibunya akan bermalam di rumah sakit menemani Kayla dan suaminya di sana.


Setelah berdo'a Kahfi lekas mengambilkan makanan untuk istrinya. Kahfa memijat pangkal hidungnya, sepertinya dunia sudah terbalik. Harusnya yang menyiapkan makanan kan sang istri bukan sebaliknya. Tapi lain dengan Kahfi adiknya, pengantin baru itu melayani istrinya.


"Kahfi biarkan Lexi mengambil makanannya srndiri."


"Tidak papa Bang, Abang mau sekalian Kahfi ambilin?" Dasar bodoh Kahfi malah bertanya pada Kahfa, padahal maksud Kahfa adalh memperingati Kahfi agar ia jangan mau di perlakukan seenaknya oleh Lexi.


"Tidak, meski kakiku patah, tanganku masih berpungdi dengan baik." ucap Kahfa ketus.


Lexi semakin berpikir apa kesalahan sebenarnya pada Kahfa? Sehingga kakak iparnya itu terlihat tidak menyukainya.


"Mas, biar Lexi saja yang mengambilnya." Lexi hendak berdiri tapi Kahfi menahannya.


"Biarkan Mas memperlakukanmu dengan layak, jangan merasa tidak enak! Sudah menjadi kewajibanku membuatmu nyaman Lexi." Kahfi mengusap pucuk kepala Lexi yang terbalut kerudung berwarna coklat susu itu.