Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Tak memiliki alasan


"Gak bisa. Pokoknya aku akan tetap membuat surat perjanjian."


Kahfa menghembuskan nafas kasar, Lexi memang keras kepala meski demikian Kahfa tetap menyetujuinya dari pada wasiatnya tidak di lakukannya sama sekali.


Sore harinya, Lexi menelpon nomor Kahfa dan mengatakan jika surat perjanjiannya sudah jadi.


Lexi benar-benar ingin melaksanakan pernikahan di atas kontrak.


Mereka bertemu di rumah petak yang Lexi tempati.


"Abang bacalah!" Lexi menyerahkan dua lembar kertas yang berisi surat perjanjian yang terdapat matrai juga di sana, sepertinya Lexi tak main main dengan hal ini.


Tapi di tengah Kahfa membaca surat perjanjian, dirinya tertawa tertahan di kala membaca sebuah pernyataan yang di mana menyatakan jika Lexi sebagai pihak pertama, dan pihak pertama berhak memutuskan, mengganti dan membatalkan poin-poin maupun perjanjian tanpa harus adanya denda sama sekali maupun tuntutan.


Tawa Kahfa meledak, bahkan Kahfi terpingkal saat Lexi menyertakan tidak boleh ada sentuhan fisik kecuali Lexi yang meminta atau mengijinkan. Jika terdapat sentuhan fisik yang merugikan pihak pertama maka dendaan 1 juta berlaku.


Jangankan 1 juta, 10 jutapun akan Kahfa bayar. Tapi bukan Kahfa namanya jika tidak mencibir Lexi.


"Memangnya apa yang membuatmu merasa di rugikan jika kita terlibat sentuhan fisik?" Kahfi menaikan satu alisnya.


Lexi sendiri tersenyum kikuk. "Sebenarnya bukan aku sih yang di ragukan Bang. Tapi istrimu nanti, masa ia gadis yang akan kau nikahi mendapatkan second sih. Kalo aku sih memang jelas sih statusnya." Lexi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Jika seperti itu aku yang rugi, mau bagai manapun statusku pasti duda jika berpisah denganmu masa iya duda tapi aslinya perjaka." Kahfa selalu berujar enteng dan tanpa ekspresi.


"Ya sudah bagian yang itu aku revisi. Kita bisa pisah kamar untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan." putus Lexi.


Tidak di inginkan justru Kahfa sangat menginginkan yang iya-iya.


Mata Kahfa membulat seketika. Tidak, tidak ini tidak bisa bagai mana ia bisa dekat dengan Lexi jika harus tidur terpisah.


"Kau ingin ayah curiga?"


"Tidak, tapi bagai mana? Aku bingung, dua orang manusia yang berlainan jenis berada dalam satu kamar, apa lagi dengan setatus halal, sangat mustahil jika kita hanya main tebak-tebakan Bang." Lexi menyadari hal itu. Kahfa hanya mengulum tawanya. Lexi memang sudah tercemar. Tak ada lagi raut malu-malu di wajah cantiknya yang ada hanya wanita dewasa yang pandai berkata.


"Baiklah aku setuju membayar denda jika melakukan sentuhan fisik denganmu. Dalam catatan jika aku memaksa. Tapi jika kau tidak menolak tidak ada denda."


Sebenarnya lima peraturan tidak berlaku jika pihak pertama membatalkan atau mengganti poin manapun karna pihak pertama adalah aturan mutlak.


Lexi benar-benar gambaran wanita cerdas dan tak mau rugi.


"Baiklah aku setuju. Aku hanya ingin merenovasi satu hal saja. Kau tidak bisa mengajukan perceraian jika aku tidak menyetujui perpisahan denganmu." Kahfa mengajukan satu syarat tambahan.


Lexi nampak menimang-nimang dan tidak langsung menjawab.


"Bagai mana Lexi?"


"Baiklah aku setuju."


"Tapi bagaimana jika aku menyukai pria lain?"


"Selama kau terikat pernikahan denganku kau di larang menyukai pria manapun." Kahfa berujar dingin.


"Sudah ku duga." Lexi tersenyum miring.


"Awas saja jika kau terlibat hubungan dengan pria lain." Kahfa menunjuk wajah Lexi.


Lexi mengangkat tangannya "Ya, ya oke, aku mengalah aku tak akan terlibat hubungan dengar pria lain."


Lexi tidak bertanya balik ia yakin, meskipun Lexi tidak menegaskan pada Kahfa soal gadis lain Kahfa sangat paham bagai mana batasan pada orang lain.


Keduanya menanda tangani kontrak setelah syarat Kahfa di cantumkan di surat perjanjian.


"Jangan berubah pikiran."


"Hem. Aku mengerti." ujar Lexi.


"Aku ingin ada pesta di pernikahan keduaku." Sebenarnya ia sudah memiliki konsep pernikahan dan akan melaksanakan resepsi setelah bayinya lahir. Tapi impian mengadakan resepsi pernikahannya kandas begitu saja kala Kahfi tiada. Dan kini Lexi akan melakukan ini dengan Kahfa.


.


Acara pernikahan di gelar dengan sangat mewah dan meriah di salah satu hotel termewah di kota itu setiap santri bersuka cita dan larut di hari itu.


Hanya Lexi yang terlihat sedih ia merasa sudah mengambil langkah yang salah karna mengambil keputusan yang sebesar ini. Lexi menyesal.


Padahal sebelum acara di gelar Lexi sudah berjiarah terlebih dahulu ke makam Kahfi, ia merasa berdosa kala Kahfa dengan lantang menyebutkan namanya di antara ijab qabulnya pagi tadi.


Jika ia beruntung ia akan berlayar di ikatan pernikahan. Bisa menepi jika Kahfa menginginkanya, atau mungkin ia akan tenggelam sungguh akhir dari pernikahannya ada di tangan sang pencipta.


Kimmy dan Ridwan tengah sibuk menidurkan Zayn di kamar hotel yang tersedia. Mereka pamit kepada kedua mempelai untuk beristirahat lagi pula sebentar lagi acara selesai dan mereka akan pulang ke rumah mereka.


Seorang wanita bercadar, tapi Lexi sempat melihat matanya berwarna abu-abu muda. Mirip seperti dirinya tapi matanya lebih terang, mendatangi Lexi yang berada di pelaminan, dengan seorang wanita cantik tapi separuh wajahnya mengalami luka bakar. Sedangkan Kahfa tengah ke kamar mandi.


Alih-alih mengucapkan selamat wanita bercadar itu hanya mematung di tempatnya.


Seorang yang mengenakan hodi hitam dengan wajah sebagian terbakar menunjukan sesuatu pada Lexi yang mana membuat Lexi hampir limbung. Sebuah potret pernikahan Daddynya dengan seorang wanita lain dan itu bukan Mommynya.


"Akulah yang membunuh orang tua dan suamimu. Atas kejahatan Daddy dan Mommymu yang mengharuskan aku untuk membuatmu menderita, sebagai mana yang di lakukan Daddymu padaku. Aku menderita sendiri, hamil dan melahirkan tanpa siapapun. " Terdengar suara itu bergetar.


"Bersiaplah kau akan selalu kehilangan kebahagiaan Lexi."


"Apa yang terjadi katakan padaku?" Lexi masih berusaha menahan kakinya yang seketika terasa seperti jelly.


"Ayahmu berdosa. Dia meniduriku sampai aku memiliki anak dan menolak bertanggung jawab dengan alasan mencintai ibumu. Aku dan putriku menderita bertahun-tahun Lexi."


Wanita itu mengatakan putri, itu artinya Lexi memiliki saudara seayah bukan? Lalu di mana keberadaannya atau mungkin gadis bercadar bermata abu yang berdiri di belakang ibu itu pikir Lexi.


Sebisa mungkin Lexi tetap tenang.


"Lalu apa dosa suamiku sehingga kau turut melenyapkannya juga?" bulir-bulir air mata tak dapat ia bendung saat mengetahui fakta jika Kahfi tiada karna seseorang yang membalas dendam padahal Kahfi tidak memiliki dosa, ini yang membuatnya semakin merasa bersalah. Mengapa bukan dirinya saja yang tiada. Mengapa harus Kahfi?


"Sebenarnya bukan hanya suamimu, Sami, dan Eve saja yang ingin ku lenyapkan, kau juga termasuk di dalamnya tapi sayang kau malah selamat. Lain kali kau dan putramu juga akan ku lenyapkan."


Lexi menggigil ketakutan bukan karna ia takut mati melainkan wanita itu mengatakan putranya harus ikut mati. Itu yang membuatnya takut.


"Lexi ..."


"Lexi ..."


"Kau kenapa?" Kahfa sedikit mengguncang tubuh Lexi. Sedangkan kedua orang tadi entah kemana.


"Bang. Ada dua orang menemuiku. Dia mengaku sudah membunuh Kahfi dan orang tuaku."


"Lexi sepertinya kau bermimpi." Ujar Kahfa ringan.


"Tidak mungkin aku benar benar melihatnya. Kita harus mengecek Cctv." Lexi masih kekeh.


Kahfa menurut dan ternyata Cctv tidak berpungsi ini aneh dan janggal. Kahfa tentu tidak mempercayainya begitu saja. tapi Kahfa tetap meyakinkan Lexi jika dirinya baru saja berhayal atau berimajinasi.


Lexi mengatakan apa saja yang di katakan wanita itu. Dan berharap Kahfa akan mempercayainya.


"Bang dia mengancam akan melenyapkan aku dan putraku."


"Itu tidak akan terjadi aku akan melindungi kalian." Kahfa harus segera berbicara pada Ayahnya mengenai hal ini.


"Kau hanya berhalusinasi Lexi. Mungkin kau lelah. Aku sejak tadi duduk di sana memperhatikanmu. Tak ada seorangpun yang menghampirimu." Kahfa berbohong tapi terlihat meyakinkan. Ia hanya tak ingin Lexi terlalu banyak berpikir.


Ia akan menyelidiki semuanya bersama ayahnya.


"Benarkah?" Lexi meragu.


"Jangan khawatirkan apapun okay." Kahfa mengusap wajah istrinya tapi Lexi malah mundur dan memberi jarak.


"Ma-maaf aku belum terbiasa."


Sangat canggung rasanya saat Kahfa menyentuh tubuhnya.


"Ya aku mengerti. Mari pulang."


.


Sesampainya di rumah Kimmy membawa Zayn kekamarnya. Ibu Kimmy akan membiarkan Lexi dan putranya semakin dekat.


Kahfa membawa Lexi ke kamarnya. Lexi beberapa kali menolak dan akan tinggal di kamar yang ia tempati sebelumnya bersama Kahfi. Tapi Kahfa tidak membiarkan Lexi bertindak semaunya.


"Kau istriku Lexi. Apa kata para iblis jika kau tidur di kamar lain di malam pertama kita?" Kahfa membentak Lexi. Hanya cara itu yang ampuh untuk menyadarkan ke gilaan istri barunya.


Tidur di kamar terpisah dengan istri barunya itu tidak akan terjadi di kamus hidup Kahfa.


"Kau tidak memiliki alasan lagi untuk menjauh dariku Lexi."