Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Meminta Pada Pemiliknya Langsung


Saat keluarga Ridwan tiba di rumah sakit polisi sudah berada di sana. Tidak ada saksi yang menyaksikan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Tapi polisi menyatakan jika korban yang selamat hanya Kahfa.


"Dua orang dalam kecelakaan itu tewas di tempat. Dan satu orang di antaranya terbakar karna ledakan mobil. Di tempat kejadian, di sana juga tidak terdapat CCTV." ujar polisi bertubuh gempal itu.


Ridwan juga sudah melihat tempat kejadian dan memang kecelakaan itu terhitung parah. Kahfa pula menderita patah kaki, serta luka-luka yang cukup parah.


Polisi juga memaparkan jika sangat kecil kemungkinannya jika korban lainnya akan selamat. Mengingat bagian kursi di samping kemudi rusak parah.


"Tidak mungkin Kahfiku pasti selamat." Lexi sudah lebih dulu menyangkalnya, Lexi juga menggeleng kuat.


Ridwan dan Kimmy juga sudah menangis di sana membayangkan jika apa yang di katakan polisi itu benar.


Apalagi Kayla, bahkan wanita hamil itu sudah pingsan beberapa kali sampai Ghaza membawanya pulang karna di perintah oleh Ridwan.


Satu korban itu meninggal di luar mobil dekat mobil pengendara lain sepertinya pria itu tengah mabuk dan tidak mengenakan sabuk pengaman. Dan satu pria lagi meninggal di dekat mobil Kahfa dan pria itu hangus terbakar, entah pria itu terpental dari mobil lawannya atau memang itu benar Kahfi. Keterangan polisi itu membuat Kimmy terasa terpukul.


"Agus Kahfi ..." Kimmy sudah menangisi putranya, sedangkan Ridwan hanya memeluk tubuh istrinya.


"Innalillahiwainnailaihi razi'un." Ucap Ridwan pelan.


"Tidak Om, tidak jangan berkata seperti itu. Kahfiku pasti selamat. Ia hanya sedang berada di tempat lain. Jangan berkata yang buruk Om, Tante. Kahfi kita masih hidup." Tidak ada sedikit kesedihan di mata Lexi, gadis itu masih yakin jika calon suaminya masih hidup.


"Lexi ..." ucap Kimmy pelan. Wanita itu memeluk keponakannya yang masih keras kepala jika putranya masih hidup.


"Mas Kahfi sudah berjanji akan menikahiku. Ia tidak mungkin ingkar, ia hanya pamit padaku untuk pergi sebentar Tante." Lexi masih kukuh.


"Iklaskan apapun yang terjadi Nak. Tidak hanya Lexi, Kayla, Om, juga Tante sama terlukanya." Kimmy mencoba memberi pengertian pada gadis itu di tengah gempuran bathinnya sebagai seorang ibu tengah di hancurkan tanpa sisa.


"Tidak. Tante, tidak. Tante harus berkata yang baik-baik jangan berkata seolah Kahfiku telah pergi. Tante tetap harus berdoa jika Kahfi masih hidup, dua jenajah itu semuanya mengandung alkohol tidak mungkin Kahfiku menyentuh cairan neraka itu."


"Tante tau, aku menelponnya, dia berbicara padaku dan meminta tolong. Aku sudah menolongnya dengan do'aku tante." Lexi masih lancar berbicara di antara pelukan Tantenya.


Ridwan seketika tersadar benar juga apa yang di katakan Lexi, tidak mungkin di antara dua jenajah itu adalah Kahfi karna terdapat alkohol di jenajah itu. Dan artinya putranya pasti selamat ia sangat yakin.


Untuk itu Ridwan menelpon orang-orangnya agar mencari keperadaan putranya.


"Dan lagi tante. Tidak mungkin Gus Kahfa bisa sampai di bahu jalan dan di samping rerumputan. Kakinya patah bagai mana ia berjalan? Ya Kahfiku yang melakukannya." Lexi tetap menganggap jika calon suaminya masih hidup dan ia akan kembali memenuhi janjinya.


Seorang perawat mengatakan jika pasien yang bernama Kahfa sudah sadar.


Ridwan dan Kimmy segera melihat putra sulungnya.


"Haus Bu." ucap Kahfa parau.


Ridwan meminta izin pada dokter, dan beruntung dokter memberi ijin. Tidak ada luka yang serius selain patah tulang dan luka di bagian wajah Kahfa.


"Sayang bagai mana keaadanmu?" ucap Kimmy setelah memberikan air minum pada putranya.


"Baik, Bu."


Polisi sudah menyimpulkan jika kecelakaan itu terjadi karna kelalayan pengemudi yang juga menjadi korban dalam kecelakaan itu karna sudah berkendara karna sedang dalam kondisi mabuk.


Kahfa menceritakan apa yang terjadi.


Sampai ia mendapati Lexi sudah berada di hadapannya dengan raut wajah tak terbaca. Tidak ada keceriaan dalam wajah ayunya.


Lexi mencengkram kerah baju pasien yang di kenakan Kahfa. Diantara rahangnya yang mengatup, juga giginya yang gemerlatuk. Lexi bertanya dengan suara dingin nan membekukan, "Dimana Kahfiku? Kau bilang meminjamnya sebentar ini sudah pagi dan kau belum mengembalikannya Kahfa?" Sorot wajah Lexi yang penuh kekecewaan ia tancapkan pada manik Kahfa.


"Kahfi?" Ulang Kahfa. Ia baru ingat ia juga pergi bersama adik kembarnya, lalu mengapa Lexi bertanya padanya?


"Ya. Jangan berlaga bodoh di hadapanku Kahfa. Kau yang terakhir kali membawa Kahfiku. Kembalikan ia Kahfa." Dua butir air mata lolos begitu saja dari manik indah Lexi. Kahfa sampai kehilangan kata-kata saat melihat sepupunya seterluka itu karna Kahfi tak ada. Kahfa bahkan mengerti sesakit apa wanita itu sampai tak memperdulikan kesopanan.


"Nak."


Ridwan menyugar kengkraman keponakannya di kerah baju Kahfa sampai menimbulkan kusut di baju Kahfa yang tertidur di brankar pasien.


"Istighfar Lexi." Kimmy memeluk keponakannya yang tampak rapuh.


"Dimana Kahfiku? Bagai mana keadaannya?" Lexi melemas ia terduduk di lantai dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.


"Hiks ... Hiks ..."


"Kahfiku akan kembali." dengan segera Lexi menyeka seluruh air mata serta air hidungnya oleh kerudungnya.


Ia segera berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan pasien Kahfa.


"Lexi kau mau kemana?"


"Aku akan meminta Kahfiku pada pemiliknya langsung!" ujar Lexi.