Menjebak Cinta Gus Tampan

Menjebak Cinta Gus Tampan
Bingung kasi judul


Kayla mengecup lama kening Ghaza dengan sangat hangat.


"Bahkan aku mengatakan akan menghukummu." sebulir air mata lolos di mata Kayla.


"Jika kau sudah tau kebenarannya. Lalu siapa yang pantas di hukum?"


"Kay Bang." Yes masuk perangkap batin Ghaza.


"Lalu Abang mau hukum Kay sepeeti apa? Jangan katakan jika Abang ingin menghukum Kay untuk membersihkan toilet santi pria lagi." Kayla mencebik, karna di masa lalu Gaza pernah menghukumnya demikian.


"Ga lah Kay, hukumannya enak-enak kok, Kay pasti suka." Ghaza kini duduk dan sedikit meringis, saat kepalanya berdenyut kembali.


"Abang masih sakit?"


"Sedikit."


"Bang maafin Kay ya. Kay sudah nenuduh Abang macam-macam."


"Ya Sayang Abang mengerti."


"Bang, apa aku menderita kelainan atau semacam penyakit ya, mengaapa akhir-akhir ini Kay selalu merasa tak tenang. Apa Kay sudah gila dan butuh dokter atau rumah sakit." Kay cemas ia ragu-ragu menunggu jawaban yang akan Ghaza berikan padanya.


"Hey, kau sehat sayang. Kau tak sakit apa lagi gila. Semua perasangka yang timbul menurut Abang itu hal wajar, dan Abang tidak keberayan saat kau cemburui. Namun jika Kay mulai tak tenang ambillah air wudhu dan segeralah menghadap Allah. Jangan pernah memikirkan hal-hal sulit yang belum tentu terjadi, kita sebagai hamba Allah haris berbai sangka kepada Allah. Keluarga kita tengah di uji, sebaiknya kita semakin mendekatkan diri pada Allah. Ingat tidak ada sehelai daunpun yang terjatuh tanpa ijin Allah, semua sudah di atuh oleh sang pemilik kehidupan. Jika Kay merasa tak nyaman atau apapun. Kay boleh katakan langsung pada Abang." Ghaza menenggelamkan tubuh istrinya dalam dekapan hangatnya.


"Kay satu-satu milik Abang yang paling berharga." Ghaza melabuhkan satu kecupan di puncak kepala istrinya.


"Kenapa Abang begitu mencintai Kay?" Kayla mendongak menatap manik Ghaza.


"Kay kira Abang tau penyebabnya? Abang juga tak tau Kay, Abang juga tak mengerti mengapa rasa ini tidak dapat Abang kendalikan sama sekali. Hati, tubuh dan pikiran Abang kompak berpusat padamu setelah Abang mencintai Allah."


"Abang harap Kay selalu nau menerima limpahan cinta yang tak seberapa ini."


"Hoam ... Kay mengantuk." Kayla menguap lebar ini sudah hampir pagi sedangkan Kayla belum memejamkan matanya.


"Kay tidak bisa tidur sebelum di hukum."


"Kay lelah Bang."


"Abang hanya pinjam tangan Kay, janji ga bakalan macam-macam." Ghaza bahkan mengacungkan kelingkingnya agar Kayla mempercayainya.


"Ay, lanjut yang tadi yuk!" Kahfi mengajak istrinya untuk melanjutkan permainan mereka yang tadi sempat tertuda karna adanya ganguan dari Kayla.


Ah semoga ini menjadi awal yang baik, sudah seminggu dari Lexi bertemu dengan Zahra, wanita itu tidak mengganggu atau kembali menghubungi suaminya lagi.


Ya Lexi hanya berharap seperti itu. Padahal sebenarnya Zahra tengah mengajukan kerjasama pada perusahaan Ayah Ridwan agar dapat lebih sering bertemu Kahfi. Sejauh ini Ghaza dan Kahfa masih bisa mengatasi tapi tak tau di waktu yang akan datang.


"Besok saja Mas ini sudah malam."


"Ga mau aahh, Mas udah kelamaan nunggu ini. Sekalipun Mas harus memaksa Ayang sungguh Mas tidak papa."


"Itu sih emang maunya Mas Kahfi." Lexi semakin kesal pasalnya ia sangat mengantuk. di samping itu kata teman-teman kampusnya dulu melakukan making love untuk pertama kali akan terasa menyakitkan, apa lagi jika mengingan senjata jumbo suaminya bahkan Lexi sampai merinding.


"Mas kata orang melakukan itu pertama kali sakit, aku takut."


Kahfi di buat nasteng dengan Lexi yang kebanyakan ngeles kaya tukang bajaj. Jika terus bercurhat ria kapan mulainya.


"Lalu jika sakit kau mau apa? Mau mundur jangan mimpi!" ketus Kahfi.


"Bukan begitu aku takut mati Mas."


"Eh, iya juga ya."


"Lalu aku harus ngapain Mas?"


"Mana ku tau, ini juga yang pertama untukku. Kau diamlah. Lama-lamu aku kesal kau selalu mengacaukan kosentrasiku." Kahfi di buat mupeng oleh istri kecilnya yang kebanyakan bertanya persis seperti pembantu baru.


Judulnya bukan mau malam pertama jika debat begini terus.


Naluriah, Kahfi menyentuh titik-titik yang membuatnya penasaran, nelucuti seluruh pakaian istrinya yang tadi nyaris bu-gil.


Kahfi memandang dengan takjub penampakan surga dunianya. Leci sendiri menutup wajahnya karna malu. Mengapit kedua dadanya yang menyembul dengan lengannya. Daerah intinya ia lindungi dengan cara merapatkan kedua kakinya.


"Ish Ayang ganggu." Kahfipun melucuti pakaiannya dengan tergesa. Belum sempat bersilaturahmi gedoran pintu kembali terdengar.


"Kahfi, Kahfi kita harus ke kalimantan sekarang " terdengar suara Ayahnya juga dengan Riza omnya.


Memang jika berniat melakukan hal baik ada saja gangguannya.


Ayah Ridwan, Om Riza, Kahfi dan Ghaza segera bertolak ke kalimantan sana malam itu juga, ada sesuatu yang terjadi di pabriknya yang berada di sana. Wajah Kahfi dan Ghaza terlihat sangat kusut, pasalnya acara bersenang-senang mereka dengan sang istri di hentikan secara paksa.


Masih mending Ghaza sudah sampai ke puncak meskipun belum mandi besar. Sedangkan Kahfi, pria itu masih awet menyandang status perjakanya di saat pernikahannya sudah berjalan sepuluh hari.


Jika saja Ghaza dan Ayahnya tau habis Kahfi dicengin ini mah.


.


Kaylapun pada akhirnya menginap di rumah ibunya, karna ia tak berani untuk tidur sendirian di rumahnya.


Sudah beberapa hari Ghaza dan Kahfi masih belum kembali, meski Ayah Ridwan dan Om Riza sudah kembali kemarin.


Kayla di hubungi Berlian mengabari jika Ayudia terserang sakit cacar air, dan penyakit itu menular sehingga Berlian bahkan sampai menginap di rumahnya yang lain takut tertular penyakit ibu sambungnya.


Sudah dua hari Berlian tidak tinggal di rumah, semenjak Ayudia di nyatakan sakit cacar air yang menular.


Mendadak Berlian kembali kerumah berharap Ghaza ikut bersama Kayla, namun sayang Kayla hanya datang sendiri tanpa orang lain, membuat Netlian harus menelan kekecewaan. Dan kembali kerumah singgahnya yang lain.


"Ibu mengapa tidak bilang dari kemarin-kemarin jika ibu sakit, padahal kan kemarin Kay menelpon ibu." Kayla menyuapi ibu mertuanya dengan penuh perhatian.


"Ibu hanya tidak ingin merepotkanmu, kau kan baru saja pulih. Nak." Ayudia dapat menilai ketulusan menantunya ini. "Lagipula Ibu menderita cacar air, yang menular ibu takut malah menjangkitimu." Ayudia memang mengkhawatirkan menantunya.


"Ish, mana ada seperti itu. Ibu tetap tanggung jawab Abang dan aku. Tapi Kay belum memberitahu Abang Bu, yakut Anang khawatir, nugas di sananya lumayan lama. Ibu tidak papakan jika di urus Kay?" Kayla sangat tulus, gadis ini yang begiti di cintai putranya. Ayudia akan merasa sangat berdosa jika ia mengiyakan kemauan Berlian.


Panas perih di rasa pada tubuh Ayudia, karna cacar air yang ia derita. Tapi hatinya merasa sangat damai karna ulah menantunya.


"Kay terimakasih, karna sudah mau mencintai putra ibu yang banyak kekurangan. Kau bisa memilih pria manapun yang kau inginkan, tapi malah menerima pernikahan dadakan dengan Ghaza, hanya untuk membela harga dirinya."


Kayla meringis tak tau saja ibu mertuanya, jika ia juga sempat menolak dan membenci Ghaza, tapi karna pembuktian cinta Ghaza, pada akhirnya Kayla luluh, dan sampai sekarang Ghaza masih memperlakukannya dengan sangat baik.


"Abanglah yang banyak berkorban demi rumah tangga kami." lirih Kayla.


"Itu artinya Ghaza sangat mencintaimu, Nak."


"Iya, Bu. Aku rasa juga begitu."


"Tapi bagaimana jika Kay tak bisa memberi ibu cucu?"