
"Aku memang tidak bisa membaca pikiran setiap orang, tapi selama kau milikku aku tak sudi kau menyebut nama wanita lain apa lagi mantan kekasihmu." Lexi mencebik kesal dan bangun dari tubuh suaminya.
"Hey aku tidak pernah memiliki mantan kekasih."
"Lalu bagai mana jika Zahra kembali?"
"Dengarkan aku, tidak dosa hukumnya mendo'akan sesama muslim. Lagi pula aku mendoakan kebaikan. Dan lagi aku tidak berdo'a macam-macam."
Maksud Lexi bagai mana? Kembali atau tidak Zahra tak akan merubah apapun sebenarnya, Kahfi sudak menjadi miliknya tak mungkin pula pria itu akan meninggalkanya demi gadis itu, tapi apapun bisa saja terjadikan?
Belum sempat Kahfi menjawab adzan dubuh sudah terdengar dan pria itu segera beranjak dari ranjang junga mengambil sejadahnya.
"Tidurlah lagi. Hapalanmu libur selagi Ayang masih haid." Kahfi mengecup puncak kepala Lexi sekilas, panggilan Ayang seakan tak meruvah apapun setelah nama Zahra muncul.
Kahfi keluar setelah mengucapkan salam.
Mendadak Lexi tak menyukai suara merdu yang memanggil umat muslim untuk beribadah, ya karna adzan itu suaminya tak menjawab pertanyaannya dan itu sukses membuat Lexi uring-uringan.
.
Kayla pulang dari rumah sakit, tapi pasangan suami istri itu pindah ke rumah sebelah bukan kerumah yang selama ini Kayla dan Ghaza tempati.
Ayudia juga menawarkan beberapa rumahnya , rumah mewah dengan fasilitas lengkap untuk Ghaza tinggali. Namun dengan tegas Ghaza menolak itu, baginya Kaylanya tak akan nyaman dan semewah apapun tempatnya jika Kayla tak nyaman itu bukan hal baik menurutnya.
Jika ia ingin tempat mewah ia juga bisa membelinya, tapi istrinya tidak ingin tinggal berjauhan dari orangtua dan saudaranya itu sebabnya Ghaza merenofasi rumah bekas uwa Risma untuk ia tinggali dan istrinya.
"Kau menyukai rumahnya?" Ghaza menunjukan beberapa ruangan yang desaignnya Kayla sendiri yang memilih. Sesuai permintaan istrinya dinding di rumahnya berwarna ungu, ya semuanya ungu berbagai warna ungu di aplikasikan di setiap sudut ruangan. Membuat Kayla melebarkan senyumnya.
"Aku menyukainya. Ini rumah tercantik yang pernah ada. Pasti Kim Tae Hyung akan senang jika berkunjung ke sini." Kayla berucap girang, keceriaan istrinya kini sudah kembali.
Ghaza hanya menggelengkan kepalanya dengan tertawa, ia tak membatasi istrinya untuk menyukai boy band favoritnya, mengidolakan atau menghalukannya Ghaza tak memberi batasan.
"Ya, sudah. Pacarnya Tae Hyung harus makan dulu ya."
Ish, pinter sekali Ghaza merayu istrinya. Kay bahkan di buat tersipu-sipu dengan kata pacar Tae Hyung.
Sebelum datang, bibi yang bekerja di rumah Ridwan dan Kimmy sudah lebih dulu memasak menyiapkan berbagai menu kesukaan Kayla.
Kayla makan dengan sangat lahap, suapan demi suapan yang Ghaza berikan Kayla terima dengan senang hati. Bolehkah Kayla mengatakan cinta sejuta kali sehari pada pria di hadapannya.
"Abang bagaimana jika selamanya Kay tak bisa memberikan Abang anak?" Kayla selalu terlihat rapuh saat membahas kata anak, dan Ghaza tak menyukai itu.
"Dengan atau tanpa anak, Abang akan tetap bersamamu. Tak akan Abang biarkan nama lain masuk di antara hubungan kita. Sekalipun Abang tak akan memiliki anak, Abang iklas, ridho lillahita'ala. Cukup hanya Kay saja yang akan menghiasi hidup Abang." Ghaza bahkan berlutut menatap manik bening berwarna biji kenari di mata istrinya, kekhawatiran terpancar nyata di sana.
"Helehh. Sepertinya Abang sangat tergila-gila dengan Kay ya?" Kayla menangkup pipi Ghaza beserta rahangnya, bulu-bulu halus terdapat di sana bergesekan dengan telapak tangannya yang lembut.
"Sangat, Abang tergila-gila denganmu dengan amat sangat, naka Kay jangan macam-macam."
"Abang berapa lama tidak bercukur?"
"Mungkin seminggu lebih semenjak Kay masuk rumah sakit. Memangnya Abang jelek ya?"
"Tidak, Abang tidak jelek, justru Abang sangat tampan tapi Kay lebih suka Abang mencukur bulu-bulu ini agar indra perasaku puas menjelajahinya." Goda Kayla, ia berbisik dan mengulum sebentar cuping telinga Ghaza, membuat Ghaza meremang seketika.
"Kau sungguh nakal." Ghaza memencet pelan hidung Kayla menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih kotor oleh remahan makanan yang belum habis.
"Sayang, habiskan makananmu sebelum kau yang akan ku habisi." Ghaza menjejalkan suapannya kembali sebelum gadis itu kembali berbicara.
.
Di tempat lain
Seorang gadis baru saja tiba di tanah kelahirannya, sudah lebih dari empat tahun dirinya tidak kembali ke tempat itu.
Gadis itu kembali karna terlalu lama pergi dan mengabaikan janji pada seseorang yang sangat lembut dan peduli terhadapnya.
Di tempat inilah ia tumbuh meskipun sosok kedua orang tuanya kini telah tiada karna kecelakaan pesawat dua tahun yang lalu saat hendak mengunjunginya di negara prancis.
Kini gadis itu kembali dengan berbagai kenangan di masa lalunya, gadis yang mulanya mendalami fashion kini beralih pungsi melanjutkan usaha orang tuanya, yang bergerak di bidang kuliner sehingga gadis itu kembali untuk melanjutkan usaha mendiang ayah ibunya.
Gadis berkerudung segi empat berwarna hijau lumut itu tak sabar untuk segera sampai di rumahnya. Ia juga ingin menemui ketiga sahabat prianya, ada juga satu rindu yang sulit ia kendalikan pada sosok lembut yang kerap kali memburamkan pandangannya akan ketampanan pria lain meskipun banyak turis di negara tempatnya tinggal selama empat tahun ini.
Dia adalah Zahra, Zahra Ainun yang selalu merindukan sahabat kecil sekaligus pria muda yang lancang melamarnya empat tahun silam. Ia tertawa saat mengingat tingkah konyol pria lembut dengan tutur kata yang baik itu selalu mengirimkannya perhatian meskipun hanya sekedar pesan ucapan atau pertanyaan sederhana.
Kali ini ia siap menerima pinangan pria itu, di masa lalu ia sengaja menangguhkan lamaran Kahfi karna suatu hal, hal yang sangat rumit untuk ia jelaskan.
Zahra mampir sebentar ke toko kue, untuk membeli beberapa kue khas negara ini. Kue dengan cita rasa tersendiri yang ia rindukan di negara lain.
Maniknya memincing saat ia mendapati seseorang yang ia kenal, ia pun tersenyum lebar saat benar matanya tak salah, pria yang berada di kursi roda itu tengah memilih berbagai macam kue, yang bisa Zahra tebak jika yang di belinya adalah red valvet kue kesukaan sahabatnya Kahfa. Ya pria berkursi roda itu adalah Kahfa, lalu di mana Kahfi? Batin Zahra bertanya wajahnya bahkan merona saat membayangkan apa yang harus ia katakan saat bertemu dengan pria konyolnya.
"Assalamu'alaikum ..." Zahra mengucapkan salam sampai pria tampan di atas kursi roda itu menfongak menatap wanita di hadapannya.
"Wa'alaikumsalam ..."
"Kahfa kaukah itu?" tanya Zahra ragu-ragu ia takut salah mengenali temannya sendiri.
"Ya ini aku."
"Apa yang terjadi? Mengapa kau di kursi roda ini." tanya Zahra kembali.
"Ceritanya panjang. Aku mengalami kecelakan mobil dengan Kahfi." ucap Kahfa datar, ya begitulah Kahfa mau dengan siapapun ia berbicara rautnya akan tetap sama, dingin dan datar.
Raut wajah Zahra berubah menjadi pucat pasi, bagai mana keadaan Kahfiku itulah yang berada di lidahnya yang kelu. Kedua lututnya melemas seakan kedua kakinya tak mampu menopang bobot tubuhnya.
"Siapa yang menyetir?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Zahra, biasanya dalam sebuah kecelakaan meskipun supirnya baik-baik saja tapi orang lain atsu penumpang selalu lebih parah dari keadaannya.
"Aku yang menyetir, dan aku mengalami patah tulang kaki sebelah kanan." ujar Kahfa.
Ya Allah,,, Ya Allah.
Lalu bagaimana keadaan Kahfi, seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu pasti Zahra akan merasa bersalah. Zahra oleng hampir saja ia terjatuh.
Kahfa sendiri mencoba membaca riak wajah dan eksresi yang di tunjukan Zahra di hadapannya. Tentang bagai mana gadis itu hampir limbung saat mendengar Kahfi kecelakaan.
Awas saja jika gadis itu muncul di antara rumah tangga adiknya.
"Lalu bagai mana keadaan Kahfiku?"
"Kahfimu?"