Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Bab 28


Dengan masih mengacuhkan keberadaan Ana dan Yudha, Michi mulai membicarakan persiapan mereka untuk berangkat besok. Michi bukannya tidak tahu kalau Yudha sesekali mencuri pandang padanya. Tetapi Michi sudah merasa lelah, bermain satu hati.


"Oke, gue rasa udah semua kan. Kita pake mobil gue aja biar ngirit," ujar Michi menutup pembicaraan mereka.


"Oke, abis ini gue kasih tau anak-anak yang lain. Dan sekali lagi gue minta maaf ya, soal kemarin," sahut Abim.


"Is Ok, nggak apa-apa kok. Kalian pulang gigi, aku masih ada pekerjaan nih," ujar Michi sambil melirik ponsel yang sedari tadi terus bergetar.


"Ngusir kita Nih?" Tanya Lusi dengan nada memelas.


"Iya," jawab Michi tanpa rasa bersalah, teman-temannya pun saling melihat mendengar Michi yang sekarang berubah lebih tegas.


"Ya Chi, gue kan udah minta maaf, masih ketus aja sih. Apa kurang tulus gue minta maafnya?" Tanya Abim yang mulia merapikan tas ransel yang ia bawa.


Mendengar pertanyaan Abim, membuat Michi merasa jengah. Sebenarnya dia juga tidak ingin mengusir Abim dan Lusi, tetapi Michi sudah tidak betah melihat Anna yang terus nempel pada Yudha, meskipun Michi terlihat baik-baik saja, lebih tegas dan acuh. Tetap saja hatinya merasa cemburu dan terluka, perjuangan Michi selama ini untuk mendekati Yudha sudah kalah oleh kecentilan Anna, menyebalkan.


Yudha terus saja memperhatikan Michi dengan tatapan yang sulit diartikan, ia tak perduli dengan Anna yang gelendotan di sampingnya. Ia tak bisa berpaling dari gadis bermata sipit itu. Sepanjang mereka musyawarah tadi, tak sekalipun Yudha menyela pembicaraan Michi, dia hanya terus melihat wajah ayu yang lugas dan cerdas itu.


"Abim please, bukan gitu maksudnya. Aku beneran lagi ada urusan, Lo nggak liat hape gue bunyi dari tadi, gue sibuk ok!" Tegas Michi.


"Sibuk apa sih, Lo kan anak orang kaya Chi. Tinggal ongkang-ongkang kaki, suruh sana suruh sini, duit bisa datang sendiri," cibir Abim.


"Sst .. Bim." Lusi menyikut perut Abim yang belum sadar kalau Michi sudah melayangkan tatapan membunuh padanya.


Michi menarik nafas dalam, ia tidak ingin menjelaskan apa-apa pada Abim. Dia cukup tahu ternyata selama ini begitulah cara Abim menilai dia.


"Kalian bisa pulang sekarang." Michi bangkit, dia sungguh kecewa dengan pemikiran Abim. Perubahan raut wajah Michi tak luput dari perhatian Yudha.


Saat Michi Berdiri dan hendak melangkah meninggalkan teman-temannya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


"Apa Sih Kak!" Pekik Michi kesal.


"Kamu yang nabrak, kenapa kamu yang bentak Kakak?"


"Maaf," ucap Michi sambil menggosok keningnya yang terbentur dada bidang Max.


Teman-teman Michi yang melihat kedatangan Max terkesima dengan karisma dan ketampanan pria itu, Ana segera melepaskan tangan dari lengan Yudha. Merapikan rambut yang sama sekali tidak berantakan.


"Kamu lagi sibuk?" Tanya Max pada Adiknya yang masih menunduk, berdiri di depannya.


"Nggak kok Kak," jawab Michi sambil melirik sekilas pada teman-temannya duduk di sofa. Michi tersenyum miring mendapati Anna yang tersenyum centil sambil sesekali menyelipkan rambut ke belakang telinga.


'Dasar ulet keket.' Michi menggelengkan kepalanya jengah.


"Kami sudah selesai, mereka juga mau pulang kok," Michi sengaja meninggikan suaranya agar mereka mendengar dan segera pergi.


Merasa tidak enak, mereka pun pamit untuk pulang. Dan saat itu Anna masih sempat untuk menggoda Max. Michi dan Kakak super tampannya mengantarkan para tamu sampai ke teras.


"Kakak Ana masih jomblo lho," ujar Ana saat bersalaman dengan Max.


Gadis itu mendengus kesal dan malu, ia pun langsung melengos pergi menyusul langkah Abim dan Lusi yang sudah lebih dulu. Michi menahan tawa melihat wajah Ana yang merah karena malu.


"Maaf Kak kami udah bikin repot di sini." Yudha mengulurkan tangannya untuk menyalami Max, Michi tampak membuang mukanya ke arah lain.


"Hem," sahut Max singkat.


Melihat Yudha yang seperti ingin membicarakan sesuatu dengan Michi. Ia pun masuk meninggalkan Michi dan Yudha.


"Makasih ya, aku pulang dulu."


"Hem," hanya itu yang keluar dari mulut Michi.


Michi sengaja membuang pandangan ke sembarang arah, tak ingin lama-lama bersitatap dengan mata Yudha yang menghanyutkan.


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku omongin sama kamu."


"Gue nggak, lebih baik Lo cepetan pergi deh. Gue sibuk," tukas Michi, ia memutar tubuh kemudian berlalu masuk.


Yudha hanya bisa menghela nafas, melepaskan kepergian Michi di balik pintu besar itu. Satu yang Yudha sadari, dia sudah melakukan kesalahan besar dengan mengabaikan perasaan Michi. Gadis yang menurutnya berisik dan suka caper itu nyatanya telah membuat ia jatuh cinta.


Dengan kecewa akhirnya Yudha melangkah menjauh. Michi pun sama, Sebenarnya ia menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Ingin sekali Michi memeluk dan bertanya pada Yudha mengapa? Mengapa dia lebih memilih Ana dari pada dia?


"Kak Max tadi mau ngomong apa?" Tanya Michi pada sang Kakak yang sedang duduk sambil memainkan ponsel di sofa ruang tamu.


"Besok kamu ada kelas pagi nggak?" Max bertanya sambil menggerakkan telunjuk, mengisyaratkan agar Michi duduk disebelahnya.


"Besok, aku free kok. Memangnya kenapa? Kak Max mau di temenin ngelamar Arumi, iya?" Michi tersenyum lebar, menatap Max dengan antusias.


"Masih kecil mikir apa sih? kuliah yang bener. Jangan mikirin yang aneh-aneh dulu," sahut Max sambil menekan-nekan dahi Michi dengan ujung telunjuknya.


Michi mencebikan bibirnya. " Ya kan bukan Michi, tapi Kakak. Lagian nggak aneh kan seorang wanita memikirkan pernikahan, Kanaya aja udah nikah, sekarang lagi hamil malah."


"Beda Adek. Udah ah nggak usah ngelantur, Kakak tuh mau minta tolong kamu buat jagain Neneknya Arumi. Besok Kakak mau ajak dia ke sekolahnya buat ngurusin pindah sekolah," ujar Max panjang lebar.


Max yakin jika ayah tiri Arumi tak akan membiarkan gadis itu begitu saja. Beberapa hari yang lalu Bayu diberitahu tetangganya kalau Wito datang ke rumah mereka lagi, tetapi hanya sebentar karena takut.


Tak ingin hal buruk terjadi pada Arumi, Max memutuskan untuk memindahkan sekolah Arumi. Apalagi Arumi memang sudah cukup lama tidak masuk sekolah, pasti pihak sekolah juga akan memberikan teguran pada gadis itu.


"Boleh, sih tapi,-" Michi sengaja menggantung kalimatnya, menatap Max dengan alis yang di naik turunkan.


"Apa?"


"Temenin Michi jajan, ya Kak," pinta gadis berambut sebahu itu dengan memelas.


"Ja-jajan?"


Michi mengangguk, memelas. Sejak Matthew kuliah di Taiwan, hilang sudah teman seru-seruan Michi. Padahal Matthew soulmate dia kalau soal kuliner, meskipun Matthew nggak suka pedas seperti dia. Tetapi mereka selalu menghabiskan waktu yang indah saat kuliner bersama.