
Juminten hanya bisa mengangguk mengiyakan, ia tidak bisa membantah apa yang dikatakan Mayleen.
Suara deru mobil terdengar dari luar, Mayleen bangkit dari duduknya. Bersiap untuk ceramah, jika yang datang adalah Dylan. Mayleen sudah memasang wajah sanggar untuk menyambut putra semata wayangnya itu.
Namun, wajah Mayleen berubah. Ia terlihat senang saat melihat mobil pick up berhenti di jalan depan rumah Juminten.
Seorang laki-laki memakai seragam dealer berjalan masuk ke pekarangan rumah, ia mempercepat langkahnya saat melihat Mayleen berdiri di ambang pintu.
"Nyonya, maaf kami baru bisa mengantarkan barangnya sekarang," ucap pria itu setelah menunduk hormat.
"Iya, tidak apa-apa." Mata Mayleen fokus pada dua orang pria lain yang sedang menurunkan barang pesanannya.
"Jum, Juminten!"
"Iya Ma."
"Kemari Nak, lihat itu. Apa kamu suka?"
Juminten meletakkan kembali piring bekas cilok yang hendak ia bawa ke dapur, ia memutar langkahnya. Berjalan kearah pintu.
"Astaga, apa itu Ma?" tanya Juminten dengan wajah bodoh.
"Motor lah apalagi," jawab Mayleen santai.
Juminten juga tahu kalau itu motor, tetapi masalahnya untuk apa motor itu di sini. Juminten mengerutkan keningnya tidak mengerti. Dia masih menatap lurus pada sepeda motor berwarna kuning terang yang dituntun petugas dealer ke terasnya.
"Ini hadiah pernikahan kamu dari mama Jum, kamu suka nggak?"
"Ha-Hadiah Ma?"
"Iya. Gimana suka nggak?"
Juminten tidak menjawab, ia masih belum bisa mencerna perkataan Mayleen dengan baik. Gadis itu masih terkesima, dengan penampakan kendaraan roda dua yang ia yakin itu tidak murah. Pasalnya Juminten tidak sering menjumpai tipe motor seperti itu.
"Bu, bisa minta tanda tangannya," ucap laki-laki berseragam itu, seraya menyodorkan lembaran administrasi yang ia bawa.
Mayleen mengangguk, ia menerima tumpukan kertas itu. Membacanya, kemudian membubuhkan tanda tangan di beberapa tempat yang di tunjukkan si petugas.
Mobil berwarna merah milik Dylan berhenti, tak jauh di belakang mobil pick up yang mengantarkan motor Juminten. Pria bermata sipit itu turun, dengan menenteng kresek hitam berukuran sedang. Memicingkan matanya kearah Juminten dan sang Mama yang ada di teras rumah bersama dengan tiga orang pria berkemeja putih. Mayleen tampak sibuk memeriksa lembaran kertas dan seorang pria seperti menjelaskan sesuatu padanya. Sedang Juminten, gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan sesekali tersenyum, pada dua orang yang sedang menjelaskan fitur yang ada pada motor berwarna kuning itu.
"Ma," sapa Dylan.
"Eh ... Sudah pulang kamu, lihat Mama beliin Jum motor bagus kan," ucap Mayleen dengan bangga.
Dylan melihat ke arah wanita yang tadi pagi baru saja sah menjadi istrinya itu, dengan senyum meremehkan dan kedua alis yang terangkat.
"Emang dia bisa naik motor itu," cibir Dylan.
"Ya kamu ajari dong, dia kan istri kamu."
"Aku Ma?" tanya Dylan sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu!" ketus Mayleen, dengan tatapan sinis pada Dylan.
"Mama nggak mau ya kalau menantu kesayangan Mama ini di ajarin orang lain, dan awas saja kalau sampai dia lecet. Kamu akan tau akibatnya!"
Dylan yang mendapatkan tatapan sini dari sang Mama, hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Iya ...Iya nanti Dylan ajarin. Dylan masuk dulu Ma."
Mayleen hanya mengangguk dengan tangan yang mengibas seolah mengusir Dylan.
"Sebenarnya anak Mama siapa sih, Suruh aku ngajarin dia pula. Huh ..." gerutu Dylan.
Pria dengan tinggi 180 cm menghempaskan pantatnya di kursi rotan. Ia juga meletakkan kantong plastik yang berisi martabak telur yang sengaja ia beli di pinggir jalan saat pulang tadi, meskipun dia tidak begitu suka martabak telur. Tapi, ya setidaknya biar ada jawaban kalau Mayleen bertanya dia keluar beli apa.
"Kamu suka kan Jum, sepedanya?" tanya Mayleen dengan lembut.
"Suka Ma, tapi apa ini tidak berlebihan?"
"Berlebihan apa? tidak ada yang berlebihan untuk menantu mama." Juminten tersenyum mendengar ucapan Mayleen.
Dylan hanya memutar matanya jengah mendengar obrolan kedua wanita itu. Ia sungguh tidak habis pikir pada sang Mama, Dia belum lama mengenal Juminten. Tetapi wanita itu sudah sangat menyayanginya, bahkan perhatiannya melebihi perhatiannya pada Dylan.
Mayleen menggeser pantatnya, agar bisa menengok ke arah Dylan.
"Kamu keluar beli apa, malam-malam begini?" tanya Mayleen penuh selidik.
Dylan tersenyum, untung saja dia sudah menyiapkan alasan untuk ini. Ia mengambil kantong plastik hitam yang ada di meja, kemudian menyerahkannya pada Mayleen.
"Nih Ma, martabak spesial pake telor double."
"Martabak?" Mayleen menyatukan alisnya, ia membuka plastik itu dan mengeluarkan kotak kertas berwarna putih. Seketika aroma gurih martabak itu mengguar.
"Kamu kan nggak suka ini, kenapa beli?"
Dylan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Buat dia Ma, iya Dylan beli itu buat menantu kesayangan Mama," kilahnya dengan cepat.
Juminten menaikkan satu alisnya ke atas, kesambet setan apa gerangan pria sipit itu.
"O ... baguslah kalau begitu." Mayleen tersenyum, ia menutup kembali kotak martabak itu.
Setidaknya sudah ada kemajuan, Dylan sudah mulai punya inisiatif membelikan sesuatu untuk Juminten. Ini sesuatu yang bagus, itulah yang terbesit di pikiran Mayleen.
"Jum, habiskan martabak ini. Dibeli khusus untuk mu oleh Dylan pasti enak, iyakn Dy?"
"I-Iya Ma, kata orang-orang tadi, ini martabak paling enak di sekitar sini."
Juminten tersenyum dengan kaku, menerima sekotak martabak yang di sodorkan sang mertua.
"Makasih Ma," ucap Juminten lembut.
"Jangan terima kasih sama mama, bilang terima kasih sama suami kamu."
"Terima kasih," ucap Juminten sambil melihat kearah Dylan.
"Sama-sama," sahut Dylan dengan ramah, agar sang mama tidak curiga.
"Mama seneng banget liat kalian seperti ini. Kalau begitu Mama pamit dulu, ini sudah malam," ujar Mayleen seraya bangkit dari duduknya.
"Iya Ma, makasih atas semuanya. " Juminten mencium takzim tangan Mayleen, begitu juga dengan Dylan.
"Sama-sama Jum, kalian cepat istirahat. Mama pergi Dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab kedua sejoli itu hampir serempak. Mereka turut berdiri mengantarkan Mayleen sampai masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mobil yang ditumpangi Mayleen mulai menjauh, Dylan menatap dingin pada wanita yang berdiri di sampingnya.
"Ngomong apa kamu sama Mama?" tanya Dylan dengan ketus.
"Aku nggak ngomong apa-apa kok," jawab Juminten santai. Ia membalikkan tubuhnya, mengayunkan langkah kembali masuk ke rumah.
"Yakin kamu nggak bilang apa-apa?" cerca Dylan yang masih belum percaya pada Juminten.
Kesa, Juminten menghentikan langkahnya. ia berbalik dan menatap Dylan yang juga berhenti di belakang Juminten.
"Dengar ya Tuan, aku tuh nggak bakat jadi lambe murah. Mama juga cuma tanya kanu kemana, dan aku jawab tidak tahu. Karena aku juga nggak mau tau kamu kemana. Puas!"