
Dua sejoli itu kembali melanjutkan perjalanan, menghabiskan waktu berdua layaknya sepasang kekasih. Hari-hari bersama Jessica membuat Dylan lupa, kalau ia ingin mengakhiri hubungan ini.
Ia lupa akan janji yang pernah ia buat pada dirinya sendiri, bahwasanya ia akan bertanggung jawab penuh atas sang istri yang sudah dia nikahi. Dylan telah merenggut kehormatan Juminten, meskipun itu halal baginya. Namun, tetap saja tak ada cinta saat mereka melakukan hal itu.
Dengan bodoh Dylan melupakan semuanya. Keinginan untuk membuktikan bahwa Jessica adalah wanita baik-baik, mengikis kesadaran pria sipit itu. Ia tidak mau disebut sebagai pria bodoh yang mudah diperalat oleh seorang wanita.
"Kamu pengen kemana, Yang?" tanya Dylan sambil melirik sekilas pada kekasihnya.
"Kemana aja deh terserah kamu, yang penting sama kamu aku udah bahagia banget," jawab Jessica dengan senyum manis.
"Maaf ya, aku sementara harus pake mobil ini. Kamu nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa dong, Honey. Kenapa emangnya? kamu pikir aku akan pergi saat kamu dalam masalah seperti ini, kamu salah."
"Terima kasih, kamu memang kekasih yang terbaik." Dylan meraih tangan Jessica, mengecup hangat punggung tangan wanita itu. Hal manis yang tidak pernah ia lakukan pada sang istri.
"Jelas dong, Jessica," ucapnya dengan bangga.
Hati Dylan berbunga-bunga seiring senyum lebar melengkung si bibirnya. Ia memang tak salah pilih, perjalanan kisah cinta mereka bukanlah semu seperti ucapan Raka. Jessica memang tulus mencintai Dylan, ia sangat yakin dengan itu.
"Oke, sudah siap semuanya!"
"Siap, Pak!" jawab beberapa orang yang memakai kaos warna merah berkerah.
"Hadeh, dipanggil pak gini berasa Tua," keluh Heru.
"Makanya Pak, cepat nikah biar pantes dipanggil Bapak," sahut seorang wanita berambut pendek yang memakai bando.
Heru hanya melemparkan senyum manis khas dirinya.
"Ayo keburu siang ntar."
Lima orang termasuk Juminten pun masuk mobil, Heru mengajak karyawannya untuk makan siang bersama minggu ini.
Di tempat Heru memang tidak ada libur khusus, bahkan hari minggu sekalipun, mereka akan libur secara bergantian. Namun, hari minggu ini Heru mewajibkan semua karyawan untuk masuk, ia mengajak makan bersama sebagai bentuk syukur atas usahanya yang cukup berhasil.
"Mbak Jum duduk didepan sama Pak bos dong, biar mesra!" seru seorang wanita paruh baya.
"Hus, nggak boleh gitu. Mbak Jum kan udah ada suami," tukas seorang lagi.
"Weh, ... saya nggak tau. Maaf ya Mbak Jum," ucap wanita paruh baya itu, menakupkan kedua tangannya.
"Nggak apa-apa kok Mbak Marni, nggak usah sungkan begitu."
Juminten tersenyum tipis, senyuman yang selalu membuat Heru merasa nyaman.
Mobil MPV berwarna hitam itu pun melaju, membelah kepadatan kota Surabaya. Senda gurau mewarnai perjalanan yang cukup panjang itu, sampai akhir mobil itu berhenti di sebuah restoran.
"Hua .... akhirnya sampai!" seru Marni.
"Ayo cepat turun, keburu ngamuk cacing ku!" seloroh seorang laki-laki bernama eko.
Heru menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah para karyawan. Ia membuka pintu mobil, kemudian turun dan diikuti oleh semua penumpang.
Setelah masuk ke restoran, Juminten dan keempat orang lainnya segera duduk saling berhadapan di meja panjang dari kayu. Sementara Heru memesan makanan untuk mereka.
"Kalian suka bebek kan? tanya Heru, sesaat setelah duduk bersama mereka.
"Suka kok Pak bos, apalagi gratis!" seru Eko.
Juminten hanya tersenyum tipis, wanita itu terlihat berbeda. Ia sedikit pendiam hari ini, Heru yang menyadari itu merasa cemas.
"Jum, kamu kok diem aja? Kamu nggak suka bebek? pengen pesen yang lain?" cerca Heru, ia menatap wajah Juminten dengan penuh kasih.
"Suka kok suka, hanya saja aku lagi pengen ngemil," jawab Juminten sambil menyengir memamerkan giginya yang putih.
"Oalah, syukur deh kalau kamu suka bebek. Kamu pengen ngemil apa? biar aku beliin."
"Eh, nggak usah. Aku beli sendiri aja. Her," tukas Juminten segera, ia melirik kearah rekan kerjanya. Dia tidak ingin mereka salah paham, karena perhatian Heru padanya.
"Kayaknya aku tadi lihat minimarket di seberang restoran ini." Juminten bangkit dari bangku panjang yang ia duduki.
"Kita bareng aja, aku juga mau beli rokok," ujar Heru cepet.
Juminten melangkah lebih dulu tapi dengan cepat Heru dapat mengimbangi langkah Juminten.
"Kamu kenapa sih Cum? kamu nggak lagi menghindarkan?" tanya Heru, saat mereka sudah berada di luar restoran.
Juminten menghela nafas panjang. Ia menghentikan langkahnya, dan Heru juga berhenti di sisi kanan Juminten.
Wanita berambut panjang itu mendongak, menatap Heru dengan bibirnya yang sudah dimanyunkan.
"Aku nggak mau mereka salah paham dengan hubungan kita. Aku sudah bersuami," ujar Juminten.
Heru merasa tercubit dengan keadaan yang diucapkan Juminten. Ya, adakalanya Heru lupa kalau Juminten sudah ada yang memiliki, ia terlalu nyaman menghabiskan hari, berkerja bersama wanita berkulit putih itu.
"Iya Maaf, lain kali aku lihat sikon dulu deh kalau mau PD kate sama kamu," canda Heru, ia mencoba mencairkan suasana agar tidak canggung.
"Jangan bercanda Her, aku serius!" pekik Juminten kesal.
"Lha, aku juga serius, sapa tau aja aku diterima jadi suami kedua kamu. Jadikan nggak ada yang bakal salah paham to."
"O, bocah semprul!" Juminten melangkah sambil menahan tawa.
Pria itu selalu saja bisa membuat mood-nya kembali baik. Jujur saja, pagi tadi mood Juminten sempat hancur. Saat tanpa sengaja mendengar percakapan mesra Dylan dengan kekasihnya.
Heru tersenyum melihat wajah Juminten yang kembali terlihat ceria, ia tahu tak hanya soal kesalahan pahaman yang membuat Juminten muram.
"Hey Cum, main tinggal aja. Gimana, aku diterima nggak jadi suami kedua!" seru Heru, sambil melangkah menyusul Juminten.
"Maaf sudah tidak menerima lowongan, lagian kamu nggak masuk kriteria jadi suamiku."
"Lha kok bisa? emangnya kenapa? aku kurang ganteng, kurang tinggi atau kurang apa?"
"Aku nggak mau kena diabetes Her." Juminten berhenti, ia menengok ke kanan dan kiri jalan raya. Beberapa mobil tampak akan melintas dengan kecepatan tinggi.
"Maksudnya?" tanya Heru lagi, saat sudah bersisian dengan Juminten.
"Lesung pipi mu terlalu manis, bikin gula darah naik," jawab Juminten santai.
"Walah gombal mukiyo!" seru Heru sambil mengacak-acak rambut Juminten dengan gemas. keduanya tergelak bersama
Dari balik kursi kemudi, mata Dylan menyorot tajam pada istrinya yang sedang berduaan dengan pria lain. Kedua tangan pucat pria sipit itu mencengkeram kuat setir mobil.
Jessica meminta Dylan untuk berhenti di minimarket untuk membeli sesuatu, Dylan pun mengiyakannya. Setelah sampai di minimarket, Jessica turun sendiri, sementara Dylan menunggu di mobil. Dan tanpa sengaja ia melihat pemandangan manis, dari seberang jalan raya.