
Deru mobil terdengar menjauh, Juminten tersenyum sambil melambaikan tangan pada sang pengemudi yang terlihat acuh saja. Setelah mobil merah itu melewati pagar besar, Juminten menurunkan tangannya sambil menghela nafas berat.
Ia sudah memainkan peran sebagai istri yang baik, melayani sang suami dengan tulus, meskipun pernikahan mereka hanya sebatas diatas kertas saja.
Wanita mungil itu mengayunkan langkahnya, memasuki rumah yang teramat megah dan mewah itu. Ya, sudah sejak seminggu yang lalu mereka pindah kerumah besar Li. Meskipun berat meninggalkan ibunya, tetapi sebagai seorang istri, Juminten wajib untuk mematuhi suaminya.
"Jum, kamu siap-siap gih," suara Mayleen menghentikan langkahnya.
"Mau kemana Ma?"
"Jalan-jalan, kamu nggak jenuh di rumah terus." Mayleen tersenyum sambil merapikan rambut bergelombang sebahu miliknya.
"Iya Ma." Juminten pun melanjutkan langkah ke kamar.
Sebenarnya dalam hati ingin sekali ia mengunjungi sang keponakan yang sudah lama tidak ia jenguk. Sejak menikah, Juminten belum sempat menjenguk Dimas, entah bagaimana rupa remaja itu sekarang.
Setelah mengenakan celana jeans dan kaos berwarna merah terang, Juminten pun menemui sang mertua yang sedang menunggu di ruang tamu, Mayleen duduk dengan anggun dan tampak sedang berbincang dengan Parman. Juminten memicingkan matanya, melihat banyaknya barang yang ada diatas meja.
"Ini apa Ma?" tanya Juminten, gadis itu menatap dua kantong yang ada di atas meja.
"Adalah, yuk berangkat. Ntar keburu siang." Mayleen bangkit dari sofa empuk yang ia duduki.
"Man, kamu bawa semuanya ke mobil ya!"
"Baik Nyonya." Pria paruh baya itu menenteng tas yang ada di atas meja, dan bergegas membawa ke mobil.
Juminten segera mengikuti langkah kedua orang yang ada di depannya. Setelah semua siap, menurut Mayleen. Mobil mereka pun akhirnya melaju meninggalkan rumah besar itu, perlahan menyusuri jalanan kota Surabaya.
Sebenarnya Juminten ingin sekali menanyakan tujuan mereka pergi. Namun, ia tidak ingin di anggap cerewet oleh Mayleen, Juminten pun lebih banyak diam.
"Jum, apa kamu kerasan Nak tinggal di rumah?" tanya Mayleen, dengan tatapan lembut pada Juminten.
Juminten tersenyum manis.
"Kerasan kok Ma, kenapa Mama tanya begitu?"
Mayleen tersenyum, ia meraih tangan Juminten. Tatapan matanya begitu teduh, ada rindu dan kesedihan dalam sorot matanya. Entah kenapa Juminten selalu merasa kalau Mayleen seperti itu saat melihatnya. Begitu sayu, seolah menemukan seseorang yang lama ia rindukan.
"Mama takut kamu nggak kamu nggak betah di rumah," ujar Mayleen sungguh-sungguh.
"Mama nggak usah khawatir, Jum betah kok. Apalagi ada Mama sama Bu Sarmi yang nemenin." Juminten membalas genggaman tangan sang mertua.
Juminten tersenyum dengan tulus, ia tidak ingin melihat Mayleen merasa sedih. Meskipun sebenarnya, Juminten merasa asing di rumah besar itu. Bukan karena tidak nyaman, tetapi mungkin terlalu nyaman.
Rumah besar itu sangat berbeda dengan rumah sederhana yang ia tempati bersama Mirna. Di rumah besar itu Juminten sangat terbatas, ia hanya bisa berinteraksi dengan beberapa pelayan yang berkerja di sana.
Tukang kebun, satpam. Semua Juminten kenal dengan baik, meskipun baru seminggu di sana Juminten sudah akrab dengan mereka. Sifat Juminten yang supel dan murah senyum, membuat dia gampang akrab dengan orang lain.
"Apa kita ajak Ibu dan Budhemu tinggal sama kita Jum, Mama tau kamu mengkhawatirkan keadaan mereka," tawar Mayleen. Ia ingin membuat Juminten merasa nyaman di rumah.
"Terima kasih atas tawaran Mama, tapi apa Ibu mau Ma?" tanya Juminten dengan raut wajah sendu.
"Waktu Dylan ngajak pindah ke rumah Mama, Jum sudah bujuk ibu supaya ikut. Tapi ibu nggak mau Ma," Lanjut Juminten.
"Kalau memang kamu mau, Mama akan bantu kamu membujuk Mirna. Dia pasti mau kalau Mama yang ngomong."
Mata Juminten berbinar penuh harap, wajah yang tadinya menunduk kini ia tegakkan dan menatap Mayleen dengan tersenyum.
"Beneran Ma?"
Juminten langsung memeluk erat sang mertua, Mayleen tersenyum dan membalas pelukan Juminten.
🤗🤗🤗
Seorang wanita dengan rambut coklat berjalan dengan anggunnya. Wanita cantik itu berjalan melewati meja resepsionis begitu saja, tanpa menyapa atau sekedar bertanya.
Karyawan yang duduk di meja resepsionis pun tak menghalanginya, ia sudah tau siapa wanita cantik nan sombong itu.
"Sapa sih itu? kenapa main nyelonong aja?" tanya seorang wanita yang baru menjadi resepsionis kemarin. Ia berbisik bertanya pada seniornya.
"Masa kamu nggak kenal, dia tuh Jessica. Model yang akhir-akhir ini lagi laris," jawab seniornya dengan datar.
"Lha model kenapa ke sini? perusahan kita kan nggak ada hubungannya dengan dunia entertainment?"
"Kamu tuh, dia tuh kekasih Tuan Dylan. Tapi aku nggak suka sama Dia, sombong banget soalnya. Udah ah .. jangan gosip terus, cepat selesaikan perkejaan kamu."
"Siap senior."
Jessica naik menggunakan lift khusus, ia tidak sudi berdesakan dengan karyawan di kantor itu.
Raka yang baru saja keluar dari ruangan sang atasan, memicingkan mata, melihat sosok yang baru saja keluar dari lift khusus. Pria itu menatap jengah dengan berdecih, jujur saja selama ini Raka tidak terlalu menyukai Jessica.
"Selama pagi Nona," sapa Raka dengan sopan, meskipun tidak menyukai Jessica. Namun, Raka tetap bersikap sopan dan menunjukkan senyum ramahnya.
"Di mana Dylan?"
"Tuan ada di ruangannya. Apa perlu saya antar?"
"Nggak usah!" tolak Jessica dengan ketus. Raka tetap tersenyum ramah, ia mengangguk kemudian meninggalkan Jessica begitu saja.
"Dasar wanita sombong, tanpa Tuan dia tidak mungkin terkenal seperti sekarang, hem. Semoga saja Tuan Dylan cepat sadar, dan meninggalkan benalu itu," gumam Raka panjang lebar.
Jessica melangkah pasti, tangan lentiknya terulur mendorong pintu kayu besar yang ada di hadapannya.
"Sayang!" pekik Jessica manja.
Dylan yang tadinya tertunduk melihat laporan yang diberikan Raka, langsung menegakkan wajahnya. Saat mendengar suara manja Jessica.
"Hai Sayang." Dylan bangkit dari duduknya, Jessica pun segera berhambur ke dalam pelukan Dylan.
"Apa yang membuatmu jauh-jauh datang kemari, hem?"
"Tentu saja merindukan mu," jawab Jessica dengan asal, wajahnya masih tenggelam di dada bidang Dylan.
"Benarkah merindu? Bukan ingin hal lain?" goda Dylan.
"Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu." Jessica menarik wajahnya menjauh, dengan bibir yang mengerucut seperti corong Jessica menatap Dylan dengan tak suka.
Dylan terkekeh. Ia mencubit gemas hidung Jessica, tetapi sebelum Dylan sempat mendaratkan jemarinya di hidung Jessica. Wanita itu segera menepis tangan Dylan dengan kasar.
"Jangan sentuh, nanti lecet gimana?"
"Iya, Maaf aku lupa."
Jessica memberengut kesal. Baru Minggu lalu hidung Jessica di permak, bisa berabe jika lecet.Ya, meskipun bukan uang pribadinya yang ia pakai untuk oplas. Tetapi Dylan lah yang membiayai semua perawatan dan kebutuhan Jessica.