
"Emh ... Ternyata akting itu capek ya," ujar Juminten sambil meregangkan otot-ototnya.
"Apa akting?"
"Hu'um akting, pantas saja bayaran artis-artis itu mahal. Aktingku tadi bagus kan Dy?" tanya Juminten balik, tersenyum lebar pada sang suami yang berjalan kearahnya.
Dylan mengenyakkan bokongnya di sisi Juminten, dengan mata sayu ia menatap lekat wajah Juminten. Guratan kecewa tanpa jelas, di wajah Dylan.
"Jadi tadi itu kamu cuma pura-pura terima lamaran aku?" suara Dylan terdengar lesu, seperti orang kurang makan.
"Hehehehe ... kalau aku nolak, nanti kamu malu. Ya mending aku pura-pura," jawabnya cengar-cengir tanpa rasa bersalah.
Dylan mengambil nafas dalam sambil terpejam, ternyata sesakit ini rasanya. Dylan membuka mata, menatap mata bening sang istri dengan senyum hambar tersinggung di bibir. Ia meraih tangan Juminten, mengecup dengan lembut.
"Apa yang membuatmu ragu, bagaimana aku harus membuatmu yakin kalau benar-benar mencintaimu?" tanya Dylan dengan serius.
"Apa aku harus membelah dadaku agar kau bisa melihat hatiku?"
"Nggak usah, biayanya mahal. Lagipula nanti pasca operasi juga aku yang repot ngurusin kamu. Lebih baik uangnya buat beli cilok," jawab Juminten sekenanya.
"Astaga Cumi, serius dikit napa. Aku ini lagi bicara puitis lho, malah kamu mentahin!"
"Lha yang ga serius tuh sapa? kamu tau biaya rumah sakit tuh mahal, apalagi kamu mau operasi buat belah dada kamu, pasti mahalkan. Dan jelas setelah operasi kamu butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya, siapa yang repot kalau bukan aku," cerocos Juminten dengan ketus.
"Seumpama aku menerima kamu. Apa statusku di hati kamu, pelakor? selingkuhan? gebetan? aku cukup tahu diri Dylan. Kamu seorang laki-laki yang sudah mempunyai kekasih, bahkan kamu dan dia sudah menjelaskan itu dengan sejelas-jelasnya saat kita akan menikah. Terus apa alasan aku nerima kamu? Mau di kemanain tuh, Nona besar!" lanjut Juminten dengan nada meninggi, hatinya sedikit merasa lega bisa meluapkan emosi.
"Cumi aku sudah putus sama Jessica, aku udah nggak ada hubungan apapun dengan wanita itu!" tegas Dylan.
Mata Juminten membulat sempurna, ia sangat terkejut dengan pengakuan Dylan. Apa ini salah satu trik pria itu? atau ... ah sudahlah itu bukan urusannya, tapi tak bisa ia pungkiri. Juminten merasa senang jika Dylan benar-benar berpisah dengan Jessica.
"Kapan kalian putus?" Juminten menarik tangannya dari genggaman Dylan.
Dengan elegan ia melipat kedua tangannya di dada, mencondongkan tubuhnya kebelakang, hingga bersandar pada sandaran sofa. Menatap Dylan dengan tatapan elang, seperti polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.
"Pas kita bertengkar dan aku nurunin kamu di jalan tempo hari," jawabnya dengan wajah masam.
"Jadi gimana? aku udah putus sama wanita itu. Kita bisakan memulai semua dari awal?" Wajah Dylan terlihat penuh harap.
Juminten menggeleng. " Maaf, tapi aku belum yakin sepenuhnya sama kamu."
"Kenapa? setidaknya beri aku kesempatan untuk membuat kamu yakin. Buka hatimu sedikit saja, apa kamu nggak punya sedikitpun perasaan padaku?"
Juminten mengambil nafas dalam sebelum mulai bicara lagi, wajahnya sedikit mendongak menatap langit-langit.
"Kamu pastikan dulu, apa kamu benar-benar suka, beneran cinta sama aku, atau perasaan mu hanya sekedar pelampiasan karena kecewa dan ingin balas dendam pada Jessica. Kalau kamu tanya perasaan ku, jujur aku sayang sama kamu."
Mata Dylan berbinar.
"Sebelum kamu patahkan hatiku, dengan mengingatkan posisiku," Juminten berucap sambil menatap Dylan dengan senyum yang manis.
Dibalik senyuman Juminten, Dylan bisa merasakan luka yang ia torehkan pada sang istri.
"Maafkan aku," hanya kata itu yang bisa Dylan ucapkan.
"Benaran Cumi?" Juminten hanya mengangguk.
"Makasih cinta." Dylan memeluk erat tubuh Juminten, hingga membuat wanita itu meringis saking kuatnya Dylan memeluk.
"Udah ah, nggap nih!"
"Iya Maaf, aku terlalu senang." Dylan melepaskan pelukannya, senyum lebar melengkung di bibir Dylan hingga matanya terlihat seperti terpejam.
"Dy, aku lapar. Aku pengen makan nasi padang pake kikil sambel ijonya yang banyak."
"Siap!" Dylan bangkit dari duduknya, ia berjalan meja kerja. Hendak menghubungi Raka mengunakan telepon kantor.
"Aku mau kamu yang beli lho ya." Dylan langsung meletakkan kembali gagang telepon yang baru saja ia angkat.
"Siap Ratu! Nasi padang pake kikil dengan banyak sambal ijo, segera datang. Tunggu ya!" Dylan bergegas keluar.
Juminten menatap punggung suami dengan tersenyum.
"Eh lupa." Dylan masuk kembali ke ruangannya.
Cup
"Imun dulu," ujarnya setelah mengecup cepat bibir sang istri.
Sementara itu di tempat lain, seorang wanita tengah mengamuk karena tidak bisa masuk ke apartemennya.
"Siapa kalian berani-beraninya melarangku masuk! ini apartemen milikku, minggir!" Jessica mencoba untuk menerobos dua laki-laki berbadan besar yang berjaga di depan pintu apartemennya.
Salah satu pria itu mendorong tubuh Jessica, hingga wanita itu terjungkal. Wanita berambut merah itu mengaduh kesakitan sambil menggosok bokong yang mencium lantai.
"Kurang ajar beraninya kau mendorongku! Biarkan aku masuk, atau aku akan lapor polisi!"
Kedua pria berbaju hitam itu saling melihat, kemudian menatap Jessica dengan tatapan meremehkan. Beberapa orang yang kebetulan lewat melihat Jessica dengan penuh tanya, bahkan ada yang sengaja merekam.
Merasa jadi pusat perhatian, Jessica pun cepat berdiri dan merapikan pakaiannya.
"Siapa sebenarnya kalian? Apa kalian orang suruhan Monica?" tebak Jessica.
"Hahahaha ... Aku tahu, dia pasti iri padaku!"
Seorang pria keluar dari apartemen Jessica, ia melemparkan koper besar dihadapan Jessica. Wanita berambut merah itu terkejut, ia menatap pria itu dengan penuh kebencian.
"Nggak usah banyak bacok! cepat pergi dari sini. Ini bukan lagi apartemen mu, dan semua barang milikmu sudah ada di sana!" bentak Raka sambil menunjuk koper berwarna abu-abu yang tergeletak di lantai.
"Apa maksudmu?!"
"Apa masih kurang jelas aku ngomong. Tuan Dylan mengambil kembali apartemen ini, dan semua barang yang ia berikan untukmu. Tapi ya kalau perhiasan dan barang branded lain anggap saja kompensasi selama kamu pacaran dengan Tuan," tutur Raka, menatap jijik pada Jessica.
Tangan Jessica mengepal kuat, ia menatap Raka dengan nyalang. Pantas saja semua kartu kredit yang diberikan Dylan tidak bisa ia gunakan.