
Parman memarkirkan mobilnya di depan rumah Juminten, wanita itu segera turun. Rumahnya masih terlihat sepi, pintu masih terkunci rapat. Tidak ada tanda-tanda Dimas pulang.
"Mungkin dia masih kerja," gumam Juminten.
Setelah memutar anak kunci dua kali, Juminten mendorong pintu untuk membukanya. Dengan langkah lebar Juminten menuju kamar, dibukanya lemari kayu lawas tempat ia menyimpan benda-benda berharga.
Sebuah laci ia buka, Juminten mengambil surat-surat yang diperlukan oleh Mirna, setelah ia rasa lengkap Juminten menutup laci itu kembali. Dia kemudian meraih tas yang ia simpan diatas lemarinya.
Gadis itu pergi ke kamar Mirna, mengambil baju dan kain jarik. Suara ketukan pintu membuat Juminten menghentikan aktivitasnya.
"Assalamualaikum, permisi."
"Wa'alaikumsalam," jawab Juminten.
Juminten segera keluar untuk menyambut tamu. Juminten terkejut saat mendapati dua laki-laki berseragam sedang berbincang dengan Pak Parman.
"Bapak berdua mencari siapa?" tanya Juminten dengan raut wajah gugup.
"Selamat malam, apa benar ini Anda Juminten? Keluarga dari Dimas Aryo Prakoso?" tanya salah satu polisi.
"I-Iya Pak, saya Juminten," jawab Juminten gugup.
"Kami ingin menyampaikan bahwa saudara Dimas, tertangkap karena menjadi kurir narkoba. Dia ada sekarang ada di kantor polisi."
Bagaimana di sambar petir, apa yang baru saja didengarnya membuat lutut Juminten lemas, seolah tulang tak lagi menyangganya.
"Nona." Parman segera membantu Juminten agar tidak jatuh.
"Terima kasih Pak."
Juminten benar-benar terkejut, ia tidak menyangka Dimas menjadi kurir narkoba. Apakah ini ada hubungannya dengan perkerjaan yang Dimas katakan tempo hari.
Juminten mengusap dadanya, seraya mengucap istighfar. Tuhan benar-benar menguji dirinya, Mirna masih terbaring di rumah sakit dan Dimas. Anak itu harus meringkuk di balik jeruji besi.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Parman cemas.
"Saya tentu saja tidak baik-baik saja Pak," jawab Juminten dengan tersenyum getir.
"Begitu Bapak polisi, sekarang Ibu saya sedang ada di rumah sakit. Apa saya bisa ke kantor polisi setelah saya dari rumah sakit, saya harus mengurus admin untuk operasi Ibu saya," ucap Juminten dengan tenang.
"Baik, tapi saya harap Anda bisa secepat ke kantor. Kalau begitu kami permisi," pamit polisi itu.
"Baik Pak, saya usahakan secepat saya ke sana."
"Selamat malam. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Juminten dan Parman hampir serentak.
Setelah polisi itu berlalu, Juminten pergi ke rumah Budhenya, Ana. Juminten menitipkan rumah sementara ia pergi ke rumah sakit, Juminten memilih untuk tidak menceritakan tentang Dimas, Juminten hanya mengatakan pada Ana untuk tidak menunggu Dimas pulang.
"Kenapa Anda tidak memberi tahu pada saudara Anda, kalau Dimas di kantor polisi Nona?" tanya Parman dengan menoleh sekilas.
"Saya tidak ingin merepotkan Budhe, Pak. Selama ini saya sudah banyak merepotkan mereka," jawab Juminten dengan tatapan kosong ke depan.
Meskipun Juminten tidak tahu bagaimana dia akan bertindak selanjutnya. Namun, ia harus tetap berusaha, apapun itu. Juminten hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri sekarang.
Parman mereka sangat salut pada gadis yang duduk di sebelahnya itu. Tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, meski cobaan datang bertubi-tubi. Sungguh, Juminten gadis yang kuat.
Mobil berwarna silver itu melaju, menyusuri jalan kota Surabaya yang tidak pernah sepi.
Sesampainya di rumah sakit, Juminten langsung pergi ke kamar tempat Mirna dirawat.
Saat ia masuk, terlihat Mayleen sedang berbicara serius dengan seorang laki-laki, mereka berdiri agak jauh dari brankar Mirna.
"Jum, kamu sudah kembali?" tanya Mayleen sambil tersenyum. Laki-laki itu juga tersenyum sambil mengangguk kecil.
"Sudah Nyonya," jawab Juminten.
"Jum, perkenalkan ini adalah Wisnu. Dia pengacara keluarga Mama, dia akan menemani kamu ke kantor polisi," Mayleen berkata dengan lirih.
"Nyonya sudah tahu?"
Mayleen mengangguk. " Tadi Parman langsung chat saya."
"Tapi Nyonya, bagaimana saya bisa menerima semua ini? Saya tidak bisa membayar Bapak ini Nyonya."
Juminten benar-benar kebingungan, dengan semua yang dilakukan Mayleen untuk keluarganya.
"Sudah jangan pikir aneh-aneh, sekarang kamu cepat pergi sama Wisnu, kasihan adik kamu. Masalah Mirna, biar saya dan Parman yang akan mengurusnya di sini."
"Tapi Nyonya.-"
"Wisnu kamu cepat antar dia, dan ingat saya hanya mau mendengar kabar baik dari kamu. Jangan mengecewakan saya," Mayleen memotong cepat ucapan Juminten.
"Baik, Nyonya. Saya akan mengusahakan yang terbaik," jawab Wisnu penuh percaya diri.
"Mari Nona Jum," ajak Wisnu.
"Iya-iya baik."
"Nyonya ini surat-surat Ibu saya, saya sangat berterima kasih pada Nyonya. Ini semua, mungkin saya tidak akan bisa mengembalikan semuanya secara langsung, tetapi saya akan berusaha keras untuk mencicilnya," ucap Juminten sambil menyodorkan surat-surat yang diperlukan Mirna.
"Kalau kamu benar-benar berterimakasih, kamu bisa memanggil saya Mama."
"Mama," beo Juminten.
"Iya Mama, kamu tidak keberatan kan?" tanya Mayleen dengan penuh harap.
Juminten hanya tersenyum, ia merasa tidak pantas memanggil Mayleen dengan sebutan Mama. Bagaimanapun status sosial mereka berdua sangat jauh.
Mayleen menghela nafas, ia seolah mengerti dengan arti diam dan senyum Juminten yang kaku. Ya, gadis keras kepala itu tidak mungkin semudah itu untuk menuruti keinginannya.
"Kalian cepat pergi, ini sudah semakin larut."
"Baik Nyonya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ucap Juminten sebelum berlalu.
Mayleen menatap punggung gadis itu sampai benar-benar hilang di balik pintu, Mayleen tersenyum tipis. Juminten sangat mirip dengan sahabatnya, berwatak keras tetapi juga mempunyai hati yang lembut.
"Dia sama denganmu, aku sudah menemukannya," gumam Mayleen lirih.
Juminten berusaha untuk bersikap tenang, meskipun sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan Dimas. Juminten terus mengigit bibir bawahnya, menandakan dia sedang dilanda kecemasan.
"Bibirmu bisa berdarah jika kau terus menggigitnya seperti itu," Wisnu mengingatkan.
Juminten tersentak, dia berhenti mengigit bibirnya. Gadis itu kemudian menunduk, Wisnu hanya tersenyum melihat tingkah Juminten.
"Jangan takut, aku akan berusaha agar Adikmu tidak di penjara," ujar Wisnu sambil terus fokus menyetir.
"Apa bisa Pak? Apa Bapak bisa membebaskan Dimas? Saya yakin dia tidak bersalah. Pasti Dimas hanya ditipu sama temannya," cerocos Juminten.
"Kamu tahu temannya siapa?"
"Saya juga tidak begitu kenal Pak. Yang pasti Dimas pernah meminta izin pada saya untuk berkerja setelah pulang sekolah, dia bilang jadi kurir barang kerajinan," jawab Juminten.
Juminten memang sempat menaruh curiga pada pekerjaan Dimas, yang menghasilkan uang cukup banyak dalam waktu singkat. Namun, Dimas berkata itu upah yang sesuai, karena barang yang diantara Dimas, harus sangat hati-hati agar tidak rusak.
"Kamu percaya pada Adik kamu?" tanya Wisnu setelah diam sejenak.
"Saya percaya Pak, dia bukan anak nakal seperti ini," hawa. Juminten pasti.
"Panggil saya Wisnu saja biar akrab."
Juminten menautkan kedua alisnya, tadi Mayleen memintanya untuk di panggil Mama. Sekarang pengacara ini ikut-ikutan mau di panggil seperti itu.