
Mobil sedan berwarna merah berhenti tepat di depan gedung bertingkat. Max turun kemudian membuka pintu mobil untuk sang kekasih. Wajah Arumi memerah, siapa yang tidak meleleh dengan perlakuan manis seperti ini. Tangan Arumi di raihnya, dengan sedikit memaksa Max melingkarkan tangan Arumi di lengannya.
"Kak," Arumi berkata dengan sedikit merengek manja.
Gadis yang memakai sweater rajut warna biru, menyembunyikan rona wajah di lengan Max. Ia merasa malu karena menjadi pusat perhatian di tempat kuliah Max.
Siapa yang tidak kenal Max, Pria tampan, jenius yang menjadi asisten dosen. Laki-laki bermata sipit yang dingin dan selalu menjaga jarak dengan mahasiswi, sekarang malah mengandeng seseorang seorang wanita cantik disisinya, tentu saja hal itu membuat gempar seantero kampus.
"Mila, itu bukannya Max? Tapi siapa yang jalan di sebelahnya?" Seorang gadis berjilbab memberi tahu sahabatnya.
"Mana sih Ra?" Mila melemparkan pandangan kemana ujung telunjuk Rara mengarah.
"Itu."
Mata Mila melebar melihat pujaan hatinya berjalan dengan wanita lain. Sudah lama ia menaruh hati pada Max, segala macam cara ia gunakan tetapi pria itu tidak membalas perasaannya. Mila, dengan pamornya sebagai gadis paling populer di kampus, tentu saja harus bersanding dengan laki-laki tertampan dan paling populer.
Mila berdecak, ia berjalan cepat menghampiri Max yang sedang menuju ruangan Dosen.
"Mil ... Mila!" Pekik Rara, mengikuti langkah sahabatnya tidak ingin mila berbuat hal bodoh.
"Siapa wanita itu, berani-beraninya dia menggoda Max!" Geram Mila, wanita dengan rambut bergelombang dengan warna coklat bergelombang itu, mengepalkan tangannya kesal.
Dia berjalan bersungut-sungut, mengikuti langkah Max dan Arumi. Tetapi kedua pasangan itu berjalan cukup cepat ke ruang salah satu Dosen, Mila tidak mungkin untuk membuat keributan di sana.
"Mau ikut masuk atau nunggu di sini?" Tanya Max pada kekasihnya.
"Tunggu di sini aja Kak," jawab Arumi dengan senyuman di balik masker yang ia pakai.
Max mengangguk." Tunggu sebentar ya."
Arumi bangkit, ia berjalan mendekat kearah kaca yang menempel di salah satu sudut. Merapikan rambut dan masker yang ia pakai. Iseng dia pun mengambil foto dirinya di cermin, tanpa ia duga Max sudah berdiri dibelakang dan mengambil pose.
Arumi menoleh." Sudah selesai Kak?"
"Sudah, cuma ngambil ini kok," jawab Max sambil memperlihatkan flashdisk yang diberikan dosen.
Max memakaikan kupluk rajut yang ia pakai pada Arumi, dan mengajak wanitanya itu berfoto sekali lagi.
"Begitu lebih baik," ujar Max sambil tersenyum sangat manis.
Arumi tersenyum sambil mengangguk kecil, mereka pun berjalan bergandengan tangan kembali ke mobil. Pasangan yang memakai sweater rajut warna biru itu masih menjadi pusat perhatian, tentu saja mereka saling berbisik menebak siapa wanita yang begitu beruntung bersanding dengan Max.
"Lihat saja nanti, aku akan membuat wanita itu lenyap dari kota ini," geram Mila, dia yang sedari tadi menguntit pasangan itu merasa semakin kesal, melihat cara Max memperlakukan kekasihnya.
"Syukurlah Mil, kamu nggak ngelakuin hal bodoh. aku kira kamu bakalan langsung tarik tangan wanita itu dan memperlakukan dia dengan kasar. Ikhlasin saja Mila, mungkin Max memang bukan jodoh kamu."
Rara yang sempat khawatir dengan Mila merasa lega, karena gadis itu tidak berlaku seperti biasanya. Mila hanya tersenyum miring menanggapi ucapan sahabat karibnya itu.
"Gue pulang dulu ya Ra, ada urusan." Mila memutar badan, menepuk pundak Rara yang ada di sampingnya.
"Lho kita kan masih ada satu mata kuliah lagi Mil?"
"Izinin gue, bilang aja gue sakit perut!" pekik Mila, tanpa memperdulikan jika mahasiswa lain mendengar.
Max X Arumi