Mbak Jum Wo Ai Ni

Mbak Jum Wo Ai Ni
Mari berpisah


Juminten duduk tergugu di balkon kamarnya. Wanita yang memakai daster batik itu menatap pemandangan senja dengan tatapan kosong. Rambutnya tergerai, berterbangan dibelai angin senja.


"Ai kenapa melamun?"


Juminten terhenyak, saat tangan kekar melingkar di perut.


"Nggak apa-apa kok," jawab Juminten, berusaha menutupi kegelisahannya.


"Bohong ya, Ai lebih banyak melamun akhir-akhir ini. Kenapa? Cerita dong sama Kakanda yang ganteng tiada tara ini."


Dylan menyibakkan rambut hitam Juminten agar bisa mencium tengkuk leher, yang menjadi titik sensitif wanita itu.


Tak seperti biasa, tak reaksi berarti dari sang istri. Dylan merasa aneh dengan sikap Juminten yang akhir-akhir sering melamun, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ai, kamu sebenarnya sedang mikirin apa sih?" tanya Dylan dengan serius.


Juminten merasa bimbang untuk menceritakan perihal surat yang ia temukan di ruang kerja mertuanya. Surat yang sampai saat ini belum berani ia baca, meskipun dia begitu penasaran dengan isinya. Juminten juga takut dianggap lancang oleh Dylan, karena mengambil sesuatu yang bukan miliknya.


Terdengar helaan nafas dari wanita yang tengah mengandung itu, menyandarkan kepalanya pada kepala Dylan yang sedang bermanja di bahunya.


"Aku nggak apa-apa kok, mungkin karena capek aja," jawabnya sambil mengusap tangan kekar yang melihat diperutnya.


"Kamu yakin?"


Juminten mengangguk kecil, ia tidak ingin membuat Dylan khawatir. Dylan pun tak bisa mendesak sang istri untuk bercerita, tapi dia merasa Juminten sedang menyembunyikan sesuatu.


Hari ini Dylan berangkat kerja lebih pagi dari biasanya, pria sipit itu sudah rapi dan siap berangkat. Ia tersenyum melihat sang permaisuri yang masih terlelap tidur, dia sengaja tak membangunkan Juminten. Bumil itu begadang, dan terlihat gelisah beberapa hari belakangan ini.


"Ai, aku berangkat ya." Dylan mencium kening Juminten dalam, kemudian mengusap lembut rambut yang masih berantakan itu.


Juminten mengangguk kecil, matanya masih terpejam.


Beberapa menit setelah sang suami berangkat, Juminten memutuskan untuk bangun. Ia ingin menuntaskan apa yang selama ini menganggu pikirannya.


Bumil cantik itu duduk di tepi ranjang yang telah bersih dan tertata rapi. Juminten memang tidak melakukan apapun, sejak Dylan tahu kalau istrinya sedang hamil. Ia kembali mengunakan jasa asisten rumah tangga dan supir, Juminten benar-benar tidak boleh melakukan pekerjaan rumah apapun.


"Nyonya apa ingin sarapan sekarang?" Tanya Nurul yang baru selesai membersihkan kamar mandi dalam kamar majikannya.


"Nanti aja Mbak, belum lapar," jawab Juminten singkat.


"Kalau begitu saya permisi Nyonya, mau lanjut ngerjain yang lain."


Juminten mengangguk, Nurul pun segera keluar dari kamar. Wanita yang tengah hamil itu beranjak dari tempat ia duduk, berjalan menuju lemari untuk mengambil surat yang ia simpan rapi dibawah tumpukan baju.


Brak.


Pintu rapat di buka dengan keras, seorang wanita menatap lurus pada seorang pria yang tengah duduk memimpin rapat di ruang itu.


Seketika semua orang menoleh kearah wanita itu, pria sipit yang tadinya tidak sadar dengan kedatangan tamu di ruang rapat, turut menoleh saat nama yang ia panggil tak kunjung meresponnya.


"Ai," satu kata yang terucap saat netra sipit Dylan bertemu dengan sang istri.


Air mata Juminten yang sedari tadi ia tahan meleleh seketika. Dylan segera bangkit dari duduknya, menghampiri sang istri yang menatapnya dengan penuh kesedihan.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Dylan panik.


Juminten hanya diam, menatap dalam mata jernih yang tengah melihatnya dengan khawatir. Air mata Juminten semakin deras mengalir, berlomba-lomba untuk keluar dari lubang kecil di sudut mata.


"Rapat selesai," ucap Dylan tanpa melihat kebelakang.


Pria yeng mengenakan jas abu-abu itu, mengendong tubuh mungil yang sedari tadi mematung di hadapannya. Langkah lebar Dylan terayun menuju ruangannya. Juminten masih diam, dengan mata yang basah wanita itu menatap lekat wajah Dylan.


"Ai kenapa? Jangan membuat aku khawatir?"


Juminten memeluk tubuh sang suami, suara tangisannya pecah. Wanita itu menjerit, meraung menumbuhkan rasa sesak.


Dylan semakin panik, melihat sang istri yang menangis histeris dalam pelukannya. Dylan memeluk erat tubuh mungil wanita kesayangannya itu, mengusap lembut rambut hitam yang Juminten biarkan tergerai, sesekali ia mengecup pucuk rambut beraroma lemon itu dengan sayang.


Cukup lama Juminten menangis, kini posisi mereka berubah tak lagi berdiri berpelukan. Dylan mengangkat tubuh istrinya yang masih terisak, wanita hamil itu kini ada dipangkuan sang suami.


Setelah merasa tenang Juminten melepaskan tangannya yang sedari tadi mencengkeram kuat jas Dylan yang basah dan kusut. Pria sipit itu menatap wajah ayu yang terlihat kotor karena ingus dan air mata.


"Ai kenapa? Ada apa sebenarnya?" Dylan mengambil beberapa lembar tisu.


Mengusap wajah Juminten yang basah dengan penuh dan air mata, juga ingus. Juminten mengambil nafas dalam, mencoba meredam rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Kanda," panggil Juminten sayu, dengan suara serak.


"Iya Ai."


"Mari berpisah," ucap Juminten dengan nada tegas.


Alis Dylan bertaut, menatap sang istri dengan bingung. Dylan tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya. Ditatapnya lembut mata jernih bak telaga yang sedikit memerah, dengan penuh kasih Dylan menyelinapkan rambut Juminten kebelakang telinga.


"Cintaku, yang paling cantik dan menawan hati. Jangan bercanda seperti ini ya, nggak baik." Dylan mendekatkan wajahnya hendak mengecup kening Juminten, tapi wanita itu segera berpaling, seolah enggan untuk untuk disentuh bibir seksi sang suami.


"Aku tidak bercanda, Dylan Li. Mari berpisah, ceraikan aku segera!" ucap Juminten penuh ketegangan, ia menoleh menatap tajam pada sang suami.


"Apa maksudmu Ai? kita tidak akan bercerai, tidak akan pernah!" Dylan menatap mata bening Juminten lekat, meski mencoba terlihat marah, ada kesedihan yang coba wanita itu sembunyikan.


"Apa ini Ai? Apa ini karena Jessica? Apa wanita itu menganggu mu?"


Juminten kembali membuang mukanya, ia tak sanggup menatap mata sipit itu terlalu lama.


"Nggak, nggak ada hubungannya dengan siapa-siapa. Ini masalahku sendiri," jawabnya dengan suara bergetar, tanpa melihat wajah Dylan. Jemarinya saling bertautan di atas pangkuannya.


"Masalah mu? Masalah apa? tidak bisakah kau menceritakan masalah itu, kita akan cari solusinya bersama."


"Tidak ada solusi, aku mencintai orang lain. Lepaskan aku biarkan aku bahagia," lirih Juminten.


Rahang Dylan mengeras mendengar jawaban sang istri. Kedua tangan Dylan mencengkeram bahu Juminten, memutarnya dengan paksa, agar wanita itu menghadap kearahnya.


"Liat aku saat bicara!"


Juminten mengangkat wajahnya dengan berat, hingga ia bersitatap dengan sang suami.


"Siapa laki-laki itu? Aku tau kau bohong Ai, apa yang coba kau sembunyikan dariku sebenarnya?"


"Aku tidak menyembunyikan apapun! kau tidak perlu tau siapa dia, aku hanya ingin bercerai Dy. Menjauh darimu, mengertilah, ku mohon." Juminten kembali menangis, wajahnya kembali tertunduk.


Air asin itu kembali mengalir tanpa jeda, meski Juminten mencoba menghentikannya.


"Jangan harap bisa berpisah dariku! apa kau lupa? kau sedang mengandung anakku!" Dylan mulai kesal, Juminten yang terus berbohong dan meminta cerai membuatnya emosi.


Ia bahkan tak sadar, sudah mencengkeram bahu Juminten dengan kuat, hingga istrinya kesakitan.


"Mintalah apapun Ai, tapi tidak untuk berpisah," ujar Dylan dengan lebih lembut, setelah bisa mengontrol emosinya.


Kembali didekapnya, tubuh sang istri yang bergetar karena menangis. Juminten terus menangis, sampai ia terkulai lemas dalam pelukan Dylan.