Love In Tanjung Priuk

Love In Tanjung Priuk
Ikuti Perintah Ku


Tok, tok, tok.


Adifa yang sedang menyusun surat jalan di ruanganya yang berukuran 2x3 berdiri untuk membukakan pintu.


"Ada apa, Pak?" tanyanya pada pak Indra. Ketua driver disana.


"Lagi sibuk, Sayang?" Bukanya menjawab, ia balik bertanya.


"Nggak terlalu."


Laki-laki berperut buncit itu mengambil sesuatu dari saku celananya, mengambil tangan Adifa dan meletakkan sesuatu ke telapak tangan Adifa.


"Ini tadi ada titipan dari anak-anak, jangan di tolak ya, Sayang."


Adifa membuka telapak tangannya, ternyata sebuah amplop putih yang warnanya sudah berubah karena keringat mereka dan sedikit lecek. "Ini apa, Pak?" tanya Adifa tidak paham kenapa tiba-tiba dia di beri amplop. "Saya kan bukan lagi kawinan, kenapa di sumbangin?"


"Kita dengar katanya papanya Sayang kecelakaan, dan itu untuk papa mertua kita."


Adifa paham, dadanya merasakan gelombang haru mendengarnya. "Bapak dengar dari mana? Kenapa repot-repot? Papa saya tidak kenapa-kenapa, alhamdulillah beliau sehat," ucap Adifa dengan mata mulai berkaca-kaca.


Yang tahu papanya kecelakaan hanya Adinda temanya. Apa Adinda yang memberitahu pada para driver? Jikapun Adinda memberi tahu ini para driver, mereka juga tidak wajib memberinya sumbangan. Mereka ini kan memiliki kebutuhan yang lebih banyak dari Adifa, kenapa sampai memikirkan dia?


"Tidak apa-apa, Sayang. Itu sudah rejekinya mertua kita, jangan ditolak ya sayang. Cukup cinta kita saja yang ditolak. Kalau ditolak makin hancurlah hati kita." Adifa menatap laki-laki itu sambil memeluk amplop putihnya.


Baru sebulan dia bergabung menjadi korlap, tapi kebersamaan para driver begitu kental. "Terima kasih, Pak," lirih Adifa tak dapat menahan rasa haru.


"Salam saja untuk papa mertua, semoga cepat sembuh."


Kembali ke mejanya, Adifa membuka amplop itu dengan tangan dan dada bergetar. Saat melihat isi amplop tersebut, Adifa tak bisa lagi menahan bulir bening yang sejak tadi ia tahan saat melihat uang recehan yang sedikit lecek dari dua ribu rupiah, sampai sepuluh ribu rupiah itu. Saat di hitung, jumlahnya sebanyak dua ratus ribu, jumlah yang lumayan dari total 30 orang supir dan kernet. Baru kali ini dia merasakan kekeluargaan yang begitu erat, dulu saat ia bekerja di kantoran. Mendengar dia sakit atau orangtuanya dirawat saja para teman sekantornya cuek seolah tidak mendengar.


Bekerja diantara banyaknya lelaki membuat Adifa merasa disayang dan diperhatikan. Awal menjadi korlap, tak bisa di bohongi jika Adifa merasa was-was, selain mereka yang terkadang tidak mau diatur, sifat kebanyakan lelaki tidak bisa menjaga pandangan mereka, maka dari itu Adifa tidak pernah berdandan rapih selain memakai minyak wangi.


Hal yang Adifa baru tahu juga dari para driver, jika mereka memiliki grup dan uang kas yang setiap bulannya ditarik sepuluh ribu perorang. Grup tersebut bukan hanya grup driver dari jabodetabek, melainkan berasal dari gabungan seluruh Indonesia. Itu dibentuk, jika diantara para driver mengalami kecelakaan, dan uang tersebut digunakan untuk membantu mereka. Tentu yang memegang uang kas, orang yang sangat dipercaya.


(Info valid dari teman suami)


* * *


Makan siang, Adifa dan Adinda memilih makan bakso dipinggir jalan. Cuaca panas membuat kedua wanita itu ngiler untuk memakan makanan yang terbuat dari daging sapi giling yang di campur dengan kuah panas, ditambah sambal dan saos yang mampu membuat air liur semakin banjir.


"Din, tadi pagi para driver kasih aku uang. Katanya untuk papa, mereka kira-kira tahu dari mana ya papa kecelakaan?" tanya Adifa pada sahabatnya mengangini kuah bakso disendoknya agar cepat dingin. "Kan nggak ada siapa-siapa yang tahu kecuali kamu." Adifa memasukkan sebiji bakso besar kedalam mulutnya yang mungil.


"Maaf, Dif. Tadi pagi aku nggak sengaja keceplosan. Aku tanya sama mereka kamu masuk apa enggak, kirain kamu nggak masuk karena papa kamu kecelakaan."


"Alhamdulillah masalah papa udah selesai, tapi timbul masalah baru."


"Masalah apa?" tanya Adinda menatap Adifa yang duduk didepanya. Bibir kedua gadis terlihat merah karena kepedasan.


"Angga nemu dompet, tapi duitnya diambil, bukan dikembaliin. Yang punya dompet orang bule. Orang bule itu ternyata pintar, dia lihat rekaman cctv rumah sakit. Karena ketahuan, mau nggak mau aku menggadaikan ktp sama id card aku," Adifa menarik nafas dalam. "Id card aku nggak terlalu masalah, tapi ktp. Malas sekali kan kalau harus buat lagi? Aku juga takut ktp aku disalah gunain. Mana kami nggak saling kenal."


"Kok bisa-bisanya kamu kasih kartu sepenting itu sama orang yang kamu kenal sih, Dif? Kalau itu dipakai buat kejahatan gimana? Apalagi bule jaman sekarang itu serem-serem. Kriminalnya menakutkan." Suara Adinda sedikit meninggi, bagaimana bisa Adifa seceroboh itu.


"Namanya juga terdesak, Din. Mau gimana lagi?" Wajah Adifa sudah menyiratkan banyak ketakutan. Dia memang ceroboh, kenapa semalam tidak kepikiran kesana? Dengan mudah dan percaya memberikan data penting pribadinya pada orang yang tidak dikenalnya.


"Kalau bisa, buatin aku id card baru ya, jadi kalau ada sidak aku nggak kena."


Karena terlalu serius dengan obrolannya, Adifa dan Adinda tidak menyadari jika sejak tadi ada orang yang mereka bicarakan menguping pembicaraan mereka. Ketika Adifa berdiri ingin membayar baksonya, Adifa tidak sengaja melirik pada laki-laki yang duduk anteng disebelahnya sedang menikmati bakso pedas miliknya.


"Loh, kamu?" Adifa menyentuh bahu Mahawira. Mahawira bergeming tidak terganggu sama sekali dengan Adifa.


Adinda menatap Adifa meminta penjelasan. Tapi Adifa kembali fokus pada Mahawira. "Kamu kenapa ada disini, kamu ngikutin aku?" Adifa kembali mengambil duduk disamping Mahawira, meminta penjelasan lelaki tampan itu.


"Aku tinggal di dekat sini, ada masalah?" tanyanya melirik sekilas pada Adifa.


* * *


Adifa dengan setia menunggu Mahawira menyelesaikan makananya, laki-laki berwajah blasteran itu menghabiskan dua mangkuk bakso pedas sekaligus. Adinda kembali lebih dulu karena pekerjaanya menumpuk.


Slurpppp.


Mahawira menyeruput kuah bakso dengan begitu nikmat.


Ya ampun, untung tampan.


Gleg.


Adifa sampai meneguk air liur melihat cara laki-laki itu makan, padahal tadi dia sudah makan. Ditambah melihat bibir tipisnya yang merah, membuat Adifa bukan hanya ingin memakan bakso itu, tapi juga bibir Mahawira.


"Bakso, kuliner Tionghoa-Indonesia. Berasal dari kata Bak-So, dalam bahasa Hokkien yang secara harfiah berarti daging giling. Pertama kali dibuat oleh seorang pria bernama Meng Bo pada akhir abad ke-17 sebagai baktinya kepada ibunya." Mahawira menatap Adifa. "Makanan ini terkenal di Indonesia karena harganya murah dan rasanya enak."


"Apa tujuan mu mengikuti ku kesini?" Tanya Adifa lagi, karena aneh saja kenapa dia selalu bertemu Mahawira.


"Aku cuma memastikan apa benar kamu kerja di sini." Ia mengusap bibirnya menggunakan tissu.


"Kamu pikir aku berbohong?"


"Jaman sekarang kita tidak boleh percaya begitu saja kan pada orang lain?"


"Astaga, aku yang harusnya khawatir takut kamu menggunakan kartu identitas ku untuk melakukan penipuan." Tandas Adifa.


"Yes, sepertinya aku setuju dengan ide itu."


"Huft, jangan main-main. Aku bisa menuntut mu."


"Mana mungkin orang kismin seperti kamu bisa menuntut orang kaya seperti ku?" Mahawira menyungingkan bibir mengejek. Tapi entah kenapa dimata Adifa jatuhnya terlihat manis. Hati Adifa seperti es krim di yang meleleh di panasnya cuaca.


Tuhan, tolong jaga hati ku.


"Jika kamu mau hutang kamu lunas, kamu harus menuruti apa yang aku perintahkan." Perkataan Mahawira membuat Adifa tersentak sadar.


"Perintah apa?"


"Nanti akan aku beritahu." Mahawira membayar bakso, lalu pergi meninggalkan Adifa.