Love In Tanjung Priuk

Love In Tanjung Priuk
Seperti Meteor Garden


"Gimana, cantik kan adik sepupu gue." Kata Romeo pada Mahawira. Adifa berbunga-bunga di puji lelaki setampan Romeo.


Apa Mahawira juga setuju dengan pendapat laki-laki itu?


Semoga saja.


Berdiri diantara tiga cowok tampan membuat Adifa merasa menjadi Shan Chai versi lokal dengan Mahawira sebagai Tao Ming Se.


"Lumayan lah tidak malu-maluin," jawab Mahawira dengan pandangan tak lepas dari Adifa membuat Adifa langsung kecewa dengan komentar tak sesuai ekpetasinya.


Seberapa cantik sih wanita yang dia suka? Batin Adifa karena dia merasa sangat cantik malam ini, suami orang saja sampai tergila-gila sama dia. Eh, eh, apa sih aku ini? Gadis itu berdebat sendiri dengan hatinya.


Tapi Adifa merasa heran, awal pertemuan mereka Mahawira begitu lembut dan baik. Kenapa sekarang terkesan jutek dan dingin.


"Adifa Narendra," sentak Mahawira menegur Adifa yang melamun. "Ingat, jangan sampai melakukan kesalahan kalau mau hutang kamu lunas. Harus sesuai skenario awal karena kita tidak ada plan A, atau, B," ujarnya memperingati Adifa. Tiba-tiba Mahawira kurang yakin akting Adifa akan berhasil.


Adifa mengangguk.


"Tenang, Baby." Romeo menggenggam tangan Adifa lembut, membuat Adifa mendongak menatapnya. Adifa juga tersentak dengan nama panggilan Romeo untuknya. "Setelah ini kalau rencana kita gagal. Aku yang akan bayar hutang kamu sama, dia." Romeo menunjuk Mahawira didepanya menggunakan dagu. "Abis ini juga kontrak kamu sebagai adik ipar selesai, otomatis kamu akan menjadi seorang Juliet."


Adifa tersipu malu dengan gombalan Romeo.


"Duh, sih yang mendadak bisa ngegombal," ledek Sultan. "Tapi kayaknya habis ini kamu lebih baik masuk anggota kita. Kamu cocok, dan kita langsung klik sama kamu, Adifa." Lanjut Sultan malah ingin Adifa jadi anggota mereka. "Iya nggak, Bro?" tanyanya pada Mahawira yang hanya diam.


Mahawira menjawab dengan menaikkan bahunya. Laki-laki itu berjalan lebih dulu memasuki lift menuju lantai ballroom pernikahan Jingga.


"Eh, padahal tadi aku cuma menghayal loh jadi Shan Chai, masa langsung dikabulkan," sahut Adifa mengikuti langkah lebar ketiga laki-laki itu.


"Dan aku yang jadi Tao Ming Se," sambar Romeo memiringkan kepalanya melihat Adifa.


Difa tersenyum kikuk, ekor matanya melirik Mahawira yang memutar leher ke belakang melihatnya.


Mahawira, Sultan, dan juga Romeo berjalan beritingan memasuki ballroom pernikahan Jingga dan laki-laki yang sudah sah menjadi suami Jingga yang bernama Antonio. Mahawira yang kini berjalan di belakang Adifa tak lekat memandang wajah cantik Adifa dari belakang yang tak membosankan menurutnya.


Tak terasa sudut bibir Mahawira tertarik, entah apa yang Mahawira pikirkan tentang Adifa.


Saat sudah masuk, mereka langsung menghampiri sepasang pengantin yang menjadi raja dan ratu malam ini. Jingga yang melihat kehadiran mantan kekasih dan sahabatnya.


Mata Jingga dan Mahawira bersirobok, keduanya saling tatap dari kejauhan dengan sorot cinta yang masih begitu dalam. Namun Jingga dapat menemukan raut kekecewaan Mahawira terhadapnya. Laki-laki itu tak pernah bisa menyembunyikan perasaannya pada Jingga.


Bagaimana Mahawira tidak kecewa padanya, empat tahun bersama itu tidak menjamin Jingga tetap bertahan di sisinya dan memilih laki-laki pilihan orang tuanya.


"Hai Jingga, selamat atas pernikahan kamu ya." Romeo yang berjalan lebih dulu menyapa Jingga. "Kenalin ini adik sepupu ku." Romeo langsung memperkenalkan Adifa yang berdiri sampingnya pada Jingga.


Jingga tersenyum lembut menatap Adifa, kedua wanita itu saling memuji dalam hati atas kecantikan mereka.


Saatnya kini giliran Mahawira mengucapkan selamat pada mantan kekasih terindahnya itu.


"Happy wedding! Wishing you a lifetime of love and happiness. May the love you share today grow stronger as you grow old together," lirih Mahawira tulus.


Jingga menundukkan kepalanya tak kuat menghalau sesuatu yang siap jatuh.


"Thank you, Mahawira." Antonio yang menjawab dan membalas jabatan tangan Mahawira dengan senyum meremehkanya. "Kami akan selalu bahagia dan bersama, aku akan membahagiakan Jingga lebih dari apapun di dunia ini, menjadikannya wanita paling bahagia," ucapnya sengaja memanasi Mahawira.


Mahawira mengangguk menguatkan hatinya, meski tak bisa dibohongi hatinya terluka, kemudian berlalu menyusul, Adifa, Romeo dan Sultan yang sedang mencicipi semua hidangan yang disediakan, mereka berkeliling mencoba semua makanan yang ada. Hingga tiba saat dimana acara yang ditunggu-tunggu para wanita, yaitu pelemparan buket bunga oleh pengantin wanita.


Adifa yang memang ditugaskan harus bisa mendapatkan bunga itu bersiap-siap. Romeo menahan tangan Adifa sebelum gadis itu ikut dalam kumpulan para wanita yang berebut untuk mendapatkan bunga yang sama dengan Adifa.


"Jangan tegang, jangan pikirkan soal hutang itu. Jangan sampai kamu terluka gara-gara bunga itu." Bisik Romeo menatap Adifa penuh kelembutan.


Hal itu tidak luput dari perhatian Mahawira.


Dua.


Tiga.


Jingga melempar buket bunganya kebelakang melalui podium. Para gadis berebut menangkapnya.


Hap.


Adifa berhasil mendapatkan bunga itu meski harus mendapat dorongan dari yang lainnya. Jingga membalikkan badan ingin melihat siapa yang beruntung mendapatkan bunga darinya. Seketika itulah Jingga dibuat panas oleh pemandangan dihadapanya.


Dimana Mahawira merangkul Adifa yang memegangi bunga dengan tatapan terpesona sama seperti Mahawira terpesona padanya di pandangan pertama.


Adifa sendiri, meski sebelumnya dia sudah diintruksi hal ini akan terjadi, tak bisa menahan debaran jantungnya saat tatapanya beradu dengan mata Mahawira dengan jarak yang begitu dekat, apalagi tatapan Mahawira yang dalam dan menghipnotis.


Ser.


Darahnya berdesir, skenario ini terlihat natural karena Adifa tidak sedang menjalankan skenario, tapi sungguhan.


Sorakan dan tepuk tangan dari para undangan yang lain menyadarkan Adifa dan Mahawira. Adegan bertambah romantis ketika Mahawira membantu Adifa berdiri. Kini fokus para tamu undangan bukan lagi pada pengantin sang pemilik acara melainkan pada Adifa dan Mahawira yang membuat mereka ikut baper.


'Ya ampun, romantisnya. Kayak adegan di drama-drama Korea'


'Bikin iri aja'


'Iya, coba aku yang dapat tadi'


'Kamu tidak cocok, mereka cocok. Yang cewek cantik, yang cowok tampan'


'Eh, itu yang cowok bukanya mantannya Jingga ya?'


Celetukan terakhir itu membuat Adifa baru tahu, jika permintaan Mahawira yaitu untuk memanasi 'Jingga' sang mantan pacar.


Norak nggak sih? Apa sebegitu masih cintanya Mahawira hingga dia harus melakukan hal konyol ini? Adifa tersenyum kecut.


"Mantan pacar kamu ngancurin acara pernikahan kita," bisik Antonio pada Jingga penuh penekanan.


* * *


"Sepertinya kita tadi berhasil membuat Jingga kepanasan." Sultan menepuk pundak Mahawira menuju parkiran mobil mereka.


Mahawira tersenyum, senyum yang memikat hati Adifa.


"Iya, apalagi saat kalian dansa tadi. Kelihatan Jingga menyesal," timpal Romeo. Tadi Adifa dan Mahawira mendapat hadiah dansa bersama dari pembawa acara.


"Adifa, kamu pulang bareng saya," ujar Mahawira mengabaikan perkataan dari Sultan dan Romeo, matanya melirik pada tangan Romeo yang sejak tadi menggandeng tangan Adifa.


"Biar Adifa pulang bareng gue." Romeo mengusulkan dirinya sendiri.


"Adifa harus mengambil ktp-nya yang ketinggalan dirumah," jawab Mahawira membukakan pintu mobilnya untuk Adifa.


Setelah Romeo melepaskan tanganya dan mengizinkanya untuk pergi bersama Mahawira, Adifa masuk ke mobil Mahawira.


"Langsung anterin Juliet ku pulang," pesan Romeo pada Mahawira sebelum mobil itu melaju meninggalkan mereka. Namun nyatanya Mahawira memberhentikan mobilnya di sebuah club tanpa persetujuan Adifa terlebih dahulu.


"Kok kita berhenti di sini?" protes Adifa.


"Temani aku sebentar," sahut Mahawira melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.