
Mahawira mengajak Adifa kuliner malam ke pantai pasir putih hasil buatan reklamasi yang berjarak lumayan jauh. Mahawira hanya memesan secangkir kopi, dan Adifa memesan es kelapa, korean bbq, dan pasta. Maklum pulang kerja, Adifa merasa kelaparan.
"Kamu udah lama kerja di jadi korlap?" tanya Mahawira menatap Adifa yang lahap memakan pesananya, tak ada jaim-jaim meski hanya berdua dengan Mahawira yang notabenya laki-laki yang ia sukai.
"Em, hampir dua bulan," gumamnya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kenapa mau? Itukan pekerjaan laki-laki, bergelut dengan banyak pria memang kamu tidak takut?" Mahawira menyodorkan es kelapa khawatir gadis itu tersedak. Adifa menerimanya dan menyedotnya.
Duh, ini love language-nya. Adifa salting sendiri.
Apa emang dia kesemua cewek gini? Coba menyadarkan diri.
"Jika ada pilihan lain mungkin nggak akan diterima." Jelas Adifa menyembunyikan kegugupannya dengan memasukan makanan kedalam mulutnya sebanyak mungkin.
"Emang sejak awal jadi korlap?" Mahawira menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi menatap lurus Adifa dihadapanya.
Adifa melambaikan tanganya karena tak mampu bicara, mulutnya terlalu penuh dengan makanan tapi Mahawira terus mengajaknya bicara dengan tatapan dalam yang mampu menembus jantung hatinya.
"Pelan-pelan." Mahawira kembali memberikan perhatian.
Duh nih orang bisa nggak sih biasa aja? Jangan php deh.
"Awalnya jadi admin, karena suatu hal sebagainya ya di mutasi," sahutnya setelah menelan makanan di mulunya. Tidak mungkin Adifa menceritakan hal itu terjadi karena ia menolak menjadi istri kedua atasanya.
"Mungkin karena kamu cocok dan dipercaya jadi korlap, jadi dimutasi."
"Cocok jadi karyawan lapangan ya bukan kantoran?"
"Jadi korlap itu tidak mudah, harus mampu mengatasi banyak masalah, mengurus driver sebanyak itu tidak mudah loh, pasti kamu pusing dan sulit menyesuaikan diri. Tapi sepenglihatan ku, kamu sudah sangat pro membaur dengan mereka. Berarti kamu orangnya asik, nyatanya aku betah, dan pengen jalan terus sama kamu."
Blush
Wajah Adifa langsung memerah.
Ampun nih cowok, ngegombal dan bikin orang terbang emang udah makananya dari piyik kali ya. Enteng banget muji orang.
Gleg ... Gleg ... Gleg ... Ahhh ...
Adifa membasahi tenggorokanya yang terasa kering, ia mengusap bibirnya menggunakan punggung tangan setelah menghabiskan es kelapa miliknya guna mengalihkan wajahnya yang memanas.
Mahawira terkekeh atas kalakuan Adifa. "Tidak takut aku ilfeel?" tanyanya setengah meledek.
Adifa jadi terdiam dengan apa yang dikatakan Mahawira, matanya seketika melotot. Tadinya tidak ilfeel karena baginya biasa saja, tapi karena lelaki itu mengatakanya, Adifa jadi malu.
"Hehehe, maaf." Adifa memberikan senyum canggung. "Emang boleh ya sejujur itu?" Desah Adifa karena Mahawira tidak menyimpan saja kata-katanya didalam hati.
"Be your self, Beauty. Jadi diri sendiri itu menyenangkan."
Adifa termangu dengan julukan Mahawira. Iapun menunduk guna menyembunyikan senyum bahagianya, hidungnya kembang kempis merasakan oksigen disekitarnya menipis. Ingin protes, tidak mungkin, ini terlalu manis di dengar apalagi keluar dari bibir seksi Mahawira yang mengatakanya dengan begitu lembut.
Jalan-jalan malam di tepi pantai, dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan memang terasa sangat romantis. Adifa hanya bisa mengiring langkah Mahawira, memperhatikan punggung bidang laki-laki itu dari belakang dengan pikiran jauh berkelana. Rasanya pasti sangat nyaman dan hangat berada dipelukan laki-laki itu semalaman.
"Kamu kok dibelakang aja sih, sini dekat aku." Suara Mahawira mengagetkan Adifa yang sedang menghayal, tanpa permisi laki-laki itu mengambil tangan Adifa, menyelipkan jemari besarnya diantara jari Adifa yang kurus.
Serrrr.
Darah Adifa berdesir hebat diikuti dengan miliknya yang berkedut dibawah sana. Tak dapat menolak perlakuan manis itu, Adifa membiarkan Mahawira tetap menggenggam tanganya, dan terlepas saat tiba di parkiran, gantian Mahawira yang memboncengnya kali ini.
Tak ada pertanyaan apa-apa dari mulut Mahawira sepanjang perjalanan. Padahal tadi Adifa sudah membrowsing dibukanya pasir putih dan siapa pemiliknya.
* * *
"Terima kasih ya sudah menemani aku malam ini. "Mahawira memberhentikan sepeda motor Adifa tepat didepan rumah Adifa.
Lihat, melihat cara lelaki itu melepaskan helm saja membuat Adifa ingin roboh, tidak kuat dengan pesona Mahawira.
Adifa mengangguk. "Terus kamu pulangnya naik apa?"
"Nanti teman aku yang jemput." Dia kembali memberikan senyum manis. Senyum yang membuat Adifa menyukainya sejak pertama mereka bertemu. "Yuk masuk, aku mau ketemu sama orang tua kamu karena sudah membuat anak gadisnya pulang terlambat."
"Eh ... jangan, jangan." Adifa langsung melarang.
Ya mana mungkin Adifa membawa Mahawira bertemu kedua orangtuanya, status mereka saja belum jelas. Kalau orangtuanya sudah mengharap lebih dan berpikir yang bukan-bukan kan berabe.
"Nggak papa, mama papa aku pasti udah tidur, lain kali saja. Lagian mereka sudah biasa liat aku pulang telat." Adifa memberikan alasan yang masuk akal.
"Yakin?" tanya Mahawira.
Adifa mengangguk menyakinkan.
"Oke, besok malam kita jalan lagi ya." Mengusak rambut Adifa sayang.
Jalan lagi?
Adifa hanya dapat mengangguk. Hatinya masih belum percaya Mahawira malam ini mengajaknya jalan-jalan, dan kini dia kembali mengajaknya bertemu. Adifa pikir pertemuan mereka hanya sebatas membayar uang Mahawira yang tak sengaja terpakai karena kecerobohan adiknya.
Masuk kedalam rumah, Adifa menutup pintu. Ia menyenderkan tubuhnya dibelakang pintu sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.
"Cie ... cie ... yang diantar pulang sama abang bule. Romanya ada yang habis jadian ini." Angga keluar dari kamar mengagetkan kakaknya.
"Diem, siapa yang jadian?" Sangkal Adifa melotot.
"Eh Kak. Dia bule yang uangnya kita ambil itu bukan Kak?" tanya Angga menghentikan langkah kaki Adifa yang akan masuk ke kamarnya. Tadi dia mengintip lewat jendela.
"Bukan." Tandas Adifa menutup pintu kamar agar adiknya tidak banyak bertanya lagi.
"Awas jatuh cinta sakit loh Kak. Belum tentu dia suka sama Kakak." Teriak bocah itu lagi masih belum puas mengerjai kakaknya.
Adifa mendengus, tapi ia juga kepikiran dengan yang Angga katakan. Belum tentu Mahawira suka padanya meski laki-laki itu sering mengajaknya bertemu. Semoga dia bisa membentengi hatinya sebelum jatuh terperosok terlalu dalam, mengingat Mahawira sepertinya sulit dijangkau meski Adifa belum tahu latar belakang Mahawira dan keluarganya.
* * *
"Dari rumah siapa?" tanya Sultan melihat Mahawira keluar dari gang sempit yang. Pertama kalinya menjemput Mahawira ditempat padat pendukung dan terbilang lingkungan kumuh.
"Adifa," jawab Mahawira jujur duduk disamping Sultan. Memakai sabuk pengaman, menurunkan jok kursinya lalu memejamkan mata dengan menjadikan kedua tangan yang ia lipat sebagai bantal.
"Oh, ini rumahnya," gumam Sultan mulai melajukan mobilnya. Tak terganggu dengan Mahawira yang memilih tidur. "Ngapain kesana? Jangan bilang habis ngapel."
Mahawira tak menjawab.
"Jangan jadikan anak orang pelampiasan jika kamunya sendiri belum benar-benar lupa sama cinta pertama mu, kasian anak gadis orang." Sultan memperingati, tahu Mahawira tidak benar-benar tidur.
Mahawira hanya bergumam, nasehat Sultan hanya ia anggap angin lalu, sebab Sultan sendiri player.
Esok paginya.
"Kamu lagi dimana?" Mahawira menelepon Adifa. Terdengar suara motor yang sedang dipanasi.
"Lagi dirumah, siap-siap mau berangkat kerja," jawab Adifa dengan ponsel yang ia jepit antara telinga dan bahunya karena dia sedang mengikat tali sepatu.
"Aku sudah didepan," ujarnya membuat anak gadis orang terkejut.
"APA?"
"Cepat kesini. Tidak ada tempat parkir, dibelakang udah macet."
Adifa galagapan, tapi kemudian dia mengangguk. Mematikan ponselya karena sepertinya Mahawira tidak berbohong mendengar suara klakson bersahutan, cepat ia mencabut kunci motor, berteriak pada mamanya yang berada di dapur.
"Ma, aku berangkat dulu."
"Loh, nggak bawa motor?" teriak Kinan berlari kedepan dan mendapati motor Adifa masih terparkir.
"Aku dijemput teman," sahut Adifa sambil berlari kedepan gang.
Meski belum hapal yang mana mobil Mahawira, tapi Adifa menghampiri mobil sedan putih yang lampu sen-nya kedip-kedip diiringi suara klakson dari mobil tersebut menandakan jika orang yang menunggunya di dalam sana. Adifa segera masuk dengan nafas ngos-ngosan melihat panjangnya antrian mobil dibelakang mobil Mahawira dengan suara klaksonnya yang berisik, serta suara sorakan dari pemgemudi lain yang kesal karena perjalanan mereka terganggu.
"Sorry ya jemputnya dadakan, bikin kamu jadi ngos-ngosan begini."
Adifa membuka matanya setelah mengatur nafas, namun dia kembali di buat jantungan saat wajah Mahawira berada tepat didepan wajahnya sedang menghapus jejak keringat di keningnya.
Adifa sontak menahan nafas, menatap wajah tampan Mahawira yang kini bertambah beribu-ribu kali tampan dilihat dari jarak yang sedekat ini.