Love In Tanjung Priuk

Love In Tanjung Priuk
Oh, Wanita Itu Dia


Angga dengan santai berjalan menyusuri koridor rumah sakit setelah tadi dari toilet. Namun tiba-tiba hodienya ditarik seseorang dari belakang dan membuat Angga terseret kebelakang.


"Aduh-aduh, siapa ini?" Angga coba memutar lehernya untuk melihat wajah orang tersebut. Saat tiba di sebuah tempat sepi dan minim pencahayaan, barulah Angga dilepaskan. Namun tidak dilepaskan begitu saja, tubuh Angga di kungkung ke tembok oleh pria bertubuh tinggi kekar itu.


"Siapa, Lo?" tanya Angga spontan membentaknya. Lelaki yang menariknya itu menjawab pertanyaan Angga dengan menunjukkan dompetnya.


"Kenal sama dompet ini?" tanya Mahawira.


"Mana saya kenal Om bule."


Mahawira tertawa atas jawaban Angga. "Coba lihat-lihat lagi, apa benar kamu tidak mengenali dompet yang isinya sudah kamu ambil?"


Angga nyengir, memperlihatkan deretan giginya hingga barisan belakang, dan dengan entengnya dia menjawab. "Saya nemu Om, itu rejeki saya, masa rejeki di tolak." Kembali dengan tanpa bersalah dia tersenyum. "Lagian yang ilang cuma duitnya aja kan, Om Bule? Dompetnya enggak, biasanya orang kaya lebih mentingin kartu-kartunya daripada uangnya."


Mahawira menghela nafas, ingin marah tapi tak bisa. Tanpa melepaskan Angga Mahawira mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan sebuah rekaman video cctv yang tadi ia minta dari kepala security. Belum sempat ia menunjukkan pada Angga, suara seorang perempuan mengganggu keduanya.


"Heh, mau kamu apakan adik saya?" teriak Adifa. Tanpa babibu kaki Adifa mengenai punggung Mahawira.


Bughhh.


Mahawira yang tanpa persiapan itu jatuh tersungkur kebawah. Angga yang terlepas dari kungkungan Mahawira langsung berlari belindung di belakang tubuh kakaknya yang lebih kecil darinya. Ketika tatapan Mahawira dan Adifa beradu, keduanya sama-sama terkejut.


"Kamu?"


"You?" ucap keduanya bersamaan.


"Kakak kenal dia?" tanya Angga menatap Mahawira dan Adifa bergantian. Adifa meringis karena tadi sudah menendang Mahawira.


"K-kamu kenapa bisa sama dia?" Adifa mengalihkan bertanya pada adiknya. Mahawira yang sejak tadi menyimak menyimpulkan jika bocah tengik ini adalah adik Adifa.


"Sorry, jadi bocah ini adik kamu?" tanya Mahawira pada Adifa. Adifa mengangguk. Mahawira membuang nafas ke udara, tertawa sendiri dunia begitu sempit baginya. "Oke, bisa aku jelaskan apa yang barusan terjadi."


Adifa dan Angga menatap Mahawira menunggu pria berwajah bule itu menjelaskan. Mahawira pun menjelaskan tentang dia yang kehilangan dompetnya, dan memeriksa cctv untuk melihat dimana dompetnya itu jatuh. Ketika Mahawira menunjukkan rekaman cctv itu, Adifa terkejut dengan apa yang dilakukan adiknya.


Dari rekaman itu terlihat Angga sedang berjalan di belakang Mahawira melihat dompet Mahawira terjatuh, tapi bukanya memanggil Mahawira dan mengembalikan dompetnya, Angga justru memungut dompet itu, mengambil isi dalamnya, dan membuang dompet Mahawira kedalam tong sampah.


"Sudah jelas di sini siapa yang salah?" ujar Mahawira menatap Adifa yang masih menatap layar ponsel mahalnya. Adifa yang tidak bisa menyangkal bukti yang cukup kuat itu hanya dapat meringis. Matanya melirik Angga yang membuang muka.


"Jadi uang dua juta tadi?" Adifa memejamkan matanya. "Dasar bocah nakal, hancur sudah citra baik aku di mata si tampan."


"Eh tunggu, Kakak lihat yang jelas deh. Kayanya tadi Angga ada manggil-manggil dan neriakin Om Bule kalau dompetnya jatuh." Angga masih mencari pembelaan diri. "Coba Om bule replay lagi videonya," pinta Angga menatap serius pada layar gawai Mahawira.


Mahawira pun menuruti permintaan Angga, di detik 50 jari telunjuk Angga menekan pause, disana memang jelas memperlihatkan Angga melambaikan tanganya seperti memanggil.


"Tuh, tuh. Lihat. Ada kan Angga manggil dia, Kak. Dianya aja yang tidak dengar."


Tuk.


Mahawira menjitak kening Angga. "Iya, itu hanya bentuk formalitas kamu saja biar selamat dari tuduhan, padahal itu hanya panggilan bahasa kalbu."


Hais, pintar juga nih Om bule. Angga menggaruk kepalanya ketahuan modus.


"Jangan!" Adifa langsung menjawab, menghela nafas dalam. "Maaf, tapi uangnya sudah terpakai." Aku Adifa menundukkan kepalanya. "Kalau boleh, kasih saya waktu untuk mengembalikanya."


Hadeh, begini nih kalau maling ketahuan. Ujung-ujungnya playing victim. Lagi-lagi Mahawira hanya dapat membuang nafas jengah ke udara.


"Sebenarnya bukan uang yang jadi masalah, tapi kejujuran kamu. Kalian tahu kejujuran itu sangat berharga_"


"Iya tahu." Potong Adifa. Ia kemudian mengeluarkan dompet, mengambil kartu pengenalnya. Kepalanya benar-benar pusing jika harus mendengar ceramah dari Mahawira, bisa tambah sakit kepalanya. "Ini, pegang KTP saya dan juga id card saya sebagai jaminanya. Kasih saya waktu sebulan untuk membayarnya." Adifa memberanikan menatap Mahawira.


Mahawira balas menatap mata Adifa dengan kening berkerut, ia kemudian tersenyum arti. Sebenarnya tidak perlu seperti ini, uang dua juta tidaklah berharga baginya, dia hanya mengharapkan kejujuran Angga saja dan menyayangkan sikap Angga.


"Baiklah deal, awas kalau kamu sampai kabur."


"KTP, dan id card itu sebenarnya lebih berharga dari uang." Adifa membalikkan ucapan Mahawira. "Awas saja kalau dipakai untuk pinjol," ujarnya balik mengancam Mahawira.


Mahawira tertawa, ada ya orang sepolos itu memberikan kartu pengenalnya? Tapi boleh juga ide buat pinjaman pinjol. Hahahah Mahawira tertawa dalam hati.


* * *


"Kamu dari mana saja, Wira?" tanya Rasya pada Mahawira yang baru saja masuk ke ruang perawatan Mawar.


"Dari bayar obat Amam, Pap." Mahawira menghempaskan tubuhnya di sofa nyaman yang tersedia di ruangan vip tersebut. Kemudian menatap Mawar yang sudah tertidur.


"Bagaimana keadaan, Amam? Kapan Amam bisa pulang?"


"Mungkin dua hari lagi." Mahawira menganggukkan kepalanya. "Wira," panggil Rasya. Anaknya yang sedang menggulir ponsel memutar kepala kearahnya "Anak Apap dan Amam yang belum menikah hanya kamu. Sekarang Amam sudah sering sakit-sakitan, Amam ingin, sebelum Amam menghembuskan nafas terakhirnya, dia ingin melihat kamu sudah ada yang menemani," ucap Rasya. Karena dari ketiga anaknya, memang tinggal Mahawira yang belum menikah.


Marsha sudah bahagia dengan pernikahanya yang penuh drama meski hingga kini baru dikaruniai satu anak, dan Mahendra kembaranya juga sudah memiliki keluarga dan memilih tinggal di luar negeri bersama anak dan istrinya karena Mahendra memiliki bisnis di luar negeri.


"Apa sih Pap, kenapa bicara begitu?" Gumam Mahawira tak suka.


"Tapi memang itu kenyataannya. Manusia tidak selamanya hidup, ada yang pergi, ada juga yang datang. Kamu ajak pacar kamu menikah, kalian sudah terlalu lama berpacaran, tidak baik juga menggantung hubungan anak gadis orang."


"Jingga memang sudah mau menikah, seminggu lagi. Tapi bukan dengan Mahawira." Terang Mahawira tersenyum getir. "Nasib seorang nahkoda, harus terombang ambing di lautan yang tidak jelas haluanya, tidak tahu kapan harus berlabuh, dan di dermaga yang mana."


Rasya cukup terkejut mendengarnya. Kasihan juga dengan Mahawira. "Jangan menyalahkan profesi mu, mungkin wanita itu bukan jodoh mu." Rasya mencoba bijaksana. Tidak mau menyalahkan salah satunya juga. "Kapan kontrak mu berakhir?" Mengusap-usap bahu putranya.


"Setahun lagi, tapi Mahawira akan memperpanjang kontraknya."


"Tidak mau resign?" Mahawira menggeleng. Dia terlalu nyaman dengan pekerjaanya, juga untuk melupakan patah hatinya adalah dengan menyibukkan diri dengan bekerja. "Terserah kamu saja, sebenarnya Amam dan Apap kamu jangan perpanjang kontrak lagi, Amam ingin kamu selalu di dekatnya."


"Nanti Wira pikirkan lagi, Pap. Kalau Amam kesepian, ajak saja anak Mahendra tinggal di sini," ujarnya merebahkan tubuhnya di sofa. Mahawira mengambil kartu pengenal Adifa, ia tersenyum melihat foto Adifa yang terlihat seperti patung, begitu kaku dan tegang.


Rasya hanya menggeleng dengan sifat keras kepala Mahawira.


* * *


Esok paginya, Mahawira iseng mencari tempat kerja Adifa. Memakirkan mobil tak jauh dari kawasan itu, Mahawira mencoba mencari tahu pekerjaan Adifa. Namun belum jauh, Mahawira melihat seorang wanita berkemeja kotak-kotak, topi hitam yang rambutnya di selipkan di belakang sedang memberikan protokol kepada para lelaki yang memiliki tubuh lebih besar darinya.


Mahawira kembali mengingat wanita yang ia lihat beberapa waktu lalu saat ia turun dari kapal. Oh, jadi wanita itu Dia?