
Sampai dirumah, Adifa langsung disambut Angga. Padahal pemuda itu tadi sedang asik bermain game di ponselya, melihat kakaknya pulang Angga menampakkan gadgednya begitu saja.
"Akak pulang, Akak pulang, bawa oleh-oleh." Angga melompat, menggoyangkan kaki kiri dan kanan bergantian menghadang langkah sang kakak.
"Nggak ada oleh-oleh," ujar Adifa dengan wajah lemas, lelah yang tak bisa dijabarkan oleh kata-kata. Ekpresinya persis seperti kak Rose dalam sebuah kartun. "Minggir, Kakak mau istirahat." Tanganya mendorong lemah tubuh Angga yang lebih tinggi darinya.
Angga nyengir. "Kakak istirahat aja, biar Angga yang bawain koper Kakak."
Adifa yang sudah tak kuat lagi ingin menumpahkan tangisnya dikamar, menampakkan begitu saja kopernya di depan Angga, berlalu ke kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Disanalah, Adifa menumpahkan tangisnya yang ia tahan sejak kemarin. Hingga saat ini, tak ada kabar apapun dari Mahawira, laki-laki itu menghilang bak ditelan bumi.
"Kakak .... Ih oleh-olehnya di umpetin dimana?" Suara teriakan Angga Adifa hiraukan. "Masa dari gatering nggak bawa apa-apa sih?" Karena tak ada jawaban dari kakaknya Angga menyusul ke kamar sang Kakak. "Elahhh di konci lagi, Kak. Oleh-olehnya mana?" Angga menggedor-gedor pintu kamar kakaknya.
"Anggaaaa, ada apa sih teriak-teriak? Kedengeran sampai luar tahu." Kinan yang baru pulang dari warung menegur anaknya. "Ini koper siapa berantakan sekali?" Wanita yang menenteng plastik hitam kecil itu mengenali pakaian anak gadisnya. Ia kemudian menatap Angga yang masih berdiri di depan kamar Adifa sambil menarik handle pintu. "Kakak kamu udah pulang?"
Angga mengangguk. "Iya, tapi masa pulang dari gathering nggak bawa apa-apa sih, Ma."
"Kamu biarin Kakak kamu istirahat dulu deh, dia pasti kecapean. Masalah oleh-oleh nggak penting, yang penting Kakak kamu udah sampai rumah dengan selamat itu alhamdulillah." Kinan berharap ucapanya bisa dimengerti Angga. "Kamu tuh pakaian Kakak kamu sampai diberantakin begini." Kinan mengomel sambil memasukkan pakaian Adifa kedalam koper.
Wajah Angga terlihat kecewa. "Mama nggak asik, aku nongkrong di warung Tobby aja deh," gerutu Angga karena udah ngarep sekali kakaknya pulang membawa oleh-oleh yang banyak, namun saat kakaknya pulang, bukan hanya mendapati wajahnya kakaknya yang lecek, tapi juga menemukan pakaian lecek saja didalam koper.
"Kamu udah kayak anak kecil aja, ngarepin oleh-oleh," ujar Kinan menggelengkan kepala melihat kelakuan Angga.
Entah berapa lama tadi Adifa menangis, melepaskan segenap sesak yang menghimpit didadanya sampai gadis yang hatinya penuh luka itu tertidur tanpa membersihkan badan terlebih dahulu. Ia juga tidak mendengarkan seruan Kinan yang membangunkanya menyuruhnya makan. Namun Adifa terbangun ketika azan subuh berkumandang. Saat ia bangun, kepalanya masih terasa sangat pusing dan pandangan yang berkunang. Adifa berharap jika apa yang menimpanya itu hanya mimpi, namun ketika ia teringat Mahawira, sakit itu kembali menghampiri hatinya.
Tanpa terasa air mata yang tadi sudah mulai surut itu kembali menganak sungai tanpa bisa dicegah di ujung matanya. Detail yang terjadi antara dirinya dan Mahawira terekam jelas dikepalanya dan begitu membekas, Adifa malu pada dirinya sendiri. Bagaimana jika yang dia lakukan ini diketahui orang tuanya? Pastilah mereka sangat terluka karena Adifa tidak bisa menjaga diri dengan baik.
Memalukan!
Bertemu dengan Mahawira bukanlah kesalahan, yang salah itu dia, mau mau saja, dan iya iya saja ketika Mahawira mengajaknya kemana-mana tanpa ikatan apapun. Seharusnya ia bisa menolak keras sebagai pertahanan diri sebagai wanita.
Menghela nafas, Adifa turun dari tempat tidur mematut dirinya di depan kaca untuk melihat wajahnya yang terasa lengket dan berminyak. Jelek, Adifa mendapati wajahnya yang begitu jelek, rambut acak-acakan, wajah berantakan seperti pelataran yang tidak disapu selama seminggu, besar sekali pengaruh Mahawira yang baru beberapa minggu hadir di hidupnya dan bisa menghancurkan hati Adifa berkeping-keping. Adifa mengusap pipinya yang terasa bergerenjel.
Sial, dia jerawatan.
* * *
Terlahir dari keluarga serba pas-pasan, tak bisa membuat Adifa yang sedang galau merana untuk bersantai-santai meratapi kesedihanya. Meski kepala terasa berat, luka hati yang begitu dalam dan butuh perawatan intensif karena saat mengecek ponsel tetap tidak ada pesan dari Mahawira menanyakan kabarnya dia harus tetap bangun pagi-pagi mejemput rejeki.
Saat bertemu Angga di meja makan, Angga memasang wajah kecut. Adifa menghiraukan adiknya itu, minum segelas teh manis hangat yang sudah disiapkan mamanya cukup untuknya sekedar membasahi kerongkonganya yang kering dan menyapa lambungnya dipagi ini yang mungkin lambungnya akan diberi tugas berat karena mungkin seminggu kedepan hanya akan mendapat sedikit pekerjaan, namun harus bekerja keras memahami hati yang sedang pemulihan paska sakit yang cukup parah.
"Bukanya minta maaf nggak bisa beli oleh-oleh, malah diam saja." Sindir Angga pada kakaknya yang sedang memasang sepatu.
Adifa menautkan kedua alisnya. "Ini masih perkara oleh-oleh? Astaga, punya adek satu nyebelin amat ya." Adifa menghirup udara banyak-banyak untuk menetralkan emosinya. "Boro-boro mikirin oleh-oleh, mikirin-" Adifa menggantungkan kalimatnya, tidak mungkin dia mengatakan kalau dia lagi di ghosting dan rasanya bagai ingin meledakkan planet bumi.
"Mikirin apa hah? Bule itu? Kakak di ghosting?" ujar bocah itu asal namun ucapanya itu sangat tepat sasaran.
"Apaan sih, kepo aja." Setelah selesai mengikat tali sepatunya. Adifa melajukan kendaraan roda duanya, membelah jalanan yang baru jam enam pagi saja sudah sangat ramai.
"Gimana sih, Pak. Harusnya Bapak bisa lihat donk surat jalan yang harus di kasih ke customer itu yang mana, buat kita yang mana? Kalau begini bagaimana bisa masukin invoice, orang kantor mana mau tahu kesalahan kita apa?" Omel Adifa dengan suara tinggi pada salah satu supir didepan banyak orang. "Saya nggak mau tahu, Bapak balik lagi ke pabrik itu lagi, tukar surat jalanya," ujarnya melempar surat jalan itu. " Kayak anak baru aja pake salah-salah begini."
Laki-laki yang usianya jauh di atas Adifa itu memungut kertas yang dilemparkan padanya.
"Biasa aja donk, Bu. Jangan nyentak-nyentak begitu, tinggal kasih tahu aja kesalahan saya apa. Mau Ibu marah-marah kayak gimana juga tetap saja yang harus ambil. Sok berkuasa banget, baru jadi korlap." Balasnya tak terima. "Ingat Bu, roda itu berputar, nggak selamanya diatas."
Adifa hanya memutar bola mata malas, nggak jelas banget yang di omongin. "Yaudah sana ambil, kalau melakukan kesalahan berarti berani bertanggung jawab donk."
"Kamprettt, baru masuk udah marah-marah spek atasan aja." Laki-laki itu sudah maju ingin membalas Adifa dengan bogemann, namun dihalangi oleh temanya yang lain.
"Udah sabar, malu laki-laki melawan perempuan," ujar temanya merangkul pundaknya menenangkan.
Adifa tak lagi menghiraukan ucapan driver tersebut, otaknya mumet, jika dia meladeni laki-laki tersebut, yang ada malah makin ribut dan dia akan mengeluarkan kata-kata mutiara yang lebih dari ini.
* * *
Hari pertama bekerja setelah ditinggal beberapa hari libur membuat Adifa harus merapikan pekerjaan orang yang menggantikanya. Tanpa terasa, karena terlalu larut, Adifa tidak menyadari jika sudah pukul sebelas dinihari. Tapi Adifa bersyukur dengan pekerjaan yang menumpuk ini, setidaknya dia bisa melupakan masalahnya dengan Mahawira. Lihatlah sekarang, dia kembali mengingat laki-laki itu dan itu membuat hatinya merasa kosong kembali.
Adifa membuka ponselya yang ia abaikan selama beberapa jam. Ia mendapati banyak notifikasi pesan yang masuk, cepat-cepat Adifa membukanya berpikir itu dari Mahawira yang mungkin saja meminta maaf karena telah mengabaikanya dan membuatnya pulang sendiri. Namun ketika membuka pesan itu, Adifa dibuat lemas setelah membaca nama sang pengirim, Dirga.
"Difa, maaf tidak bisa menyambut hari pertama kamu kerja. Perceraian ku dengan Diana tidak berjalan lancar, Diana tidak terima aku gugat cerai. Sabar dulu ya, setelah ini kamu bisa kembali ke kantor."
Huffff, nggak penting banget. Adifa tak melanjutkan membaca pesan apa saja yang dikirim Dirga, dia mematikan ponselya dan berniat pulang. Jadi korlap selamanya juga dia tidak masalah, malas sekali kalau harus berurusan dengan Dirga.
Pukul sebelas lewat tiga puluh menit Adifa melajukan kendaraannya dengan pikiran yang hanya tertuju pada Mahawira yang entah apa kabarnya saat ini.
Tadi sempat gerimis kecil yang baru disadari Adifa ketika melihat jalanan aspal sedikit menghitam karena basah, membuat suasana jalan yang biasanya tidak terlalu sepi, jadi terasa hening dan dingin menembus kain yang menutupi kulit Adifa hingga terasa menusuk hingga ke tulang. Adifa tidak merasakan kejanggalan apapun karena baginya ini hal biasa.
Roda dua yang Adifa kendarai mulai melewati ditempat yang memang sepi, kiri kanan jalan hanya ada pagar pembatas tinggi sebuah gudang, dari jauh Adifa melihat seseorang mengenakan topi duduk diatas sepeda motornya dengan asap mengepul keluar dari mulutnya. Saat sudah dekat Adifa mengklakson karena mengenal sosok tersebut. Namun ....
Brughhhhh
Sreetttttttt
Roda dua itu teguling bersamaan dengan tubuh Adifa membentur aspal.
.
.
.
.
Oh ya, aku belum jelasin kalau perusahaan Adifa dalam kegiatan eksport impor itu berperan sebagai Freight forwatder. Dimana peran Freight forwatder ini penting karena membantu mempermudah eksport impor itu sendiri atau yang disebut sebagai pihak ketiga yang membantu mengurus ke bea cukai.