
Sudah pukul sepuluh pagi, Adifa masih berdiam diri didalam kamarnya karena tidak tahu harus melakukan apa. Dia hanya memandangi air laut berwarna biru yang tidak terlihat tepianya sejauh mata memandang dari kaca jendela kamarnya, benar kata Mahawira jika kamarnya sangat pas untuk melihat pemandangan air laut. Ngomong-ngomong soal Mahawira, sejak keluar tadi pagi dari kamar Adifa tanpa pamit atau mengatakan sepatah kata apapun karena laki-laki itu nampak begitu serius bicara dengan lawan bicaranya melalui sambungan telepon hingga saat ini laki-laki itu belum ada menampakkan batang hidungnya sama sekali, bahkan mengabari lewat pesan singkat juga tidak.
Adifa menghela nafas ketika kembali mengingat obrolan Mahawira dengan seseorang dari ponselya yang Mahawira sebut bernama Jingga, dan sialnya nama itu sama dengan mantan pacar Mahawira yang belum lama ini menikah. Tentu Adifa ingat nama itu karena ia hadir untuk dijadikan tumbal sakit hati Mahawira, Adifa baru menyadari itu.
"Positif thinking aja, Adifa. Mungkin dia ketiduran." Adifa mencoba menghibur diri. Bersamaan dengan itu bel kamarnya berbunyi. "Kan dia datang," gumamnya tersenyum sumringah buru-buru turun dari tempat tidur dan membukakan pintu.
"Hai Juliet/ Hai Cantik." Sapa Romeo dan Sultan berbarengan. Senyum manis yang tadi sempat mengembang itu seketika luntur mengetahui yang datang Romeo dan Sultan, bukan laki-laki yang diharapkanya. "Kamu ada ketemu Mahawira? Kita cari-cari dia dari tadi nggak ada?" tanya Romeo. Adifa menggeleng, harusnya dia yang bertanya begitu, bukan? "Beneran?" laki-laki itu seakan tidak percaya. Adifa kembali hanya dapat menggeleng kecil Romeo nampak menarik nafas. "Tuh anak kemana sih?" Desahnya kesal.
"Mending kita turun aja, siapa tahu tuh anak udah kebawah duluan. Bentar lagi kan acara peresmian kapal ini." Ajak Sultan yang diangguki setuju oleh Romeo. "Adifa, kamu nggak ada kegiatan apa-apa kan? Mending ikut kita ajalah." Ajaknya langsung menyeret tangan Adifa tanpa menunggu persetujuan gadis itu.
Tiba dilantai tujuh, mereka mencari keberadaan Mahawira, Romeo masih berusaha menghubungi Mahawira, meski Romeo tak menjelaskan apa-apa, dari raut wajahnya terlihat jika dia kesal karena Mahawira tidak juga mengangkat panggilanya.
"Sumpah kalau nanti ketemu bakal aku gorookk leher tuh anak." Makinya kesal.
Dilantai itu nampak semua orang berkumpul dengan pakaian rapih dan formal semacam akan ada acara. Adifa memperhatikan satu persatu orang-orang disana semua orang berpenampilan menarik kecuali dirinya yang hanya mengenakan dress seharga tak lebih dari dua ratus ribuan tanpa accecories apapun sebagai penunjang penampilanya, Adifa jadi minder sendiri. Dan Adifa baru menyadari jika ada beberapa penyanyi dan juga beberapa artis papan atas yang Adifa pernah lihat dari media sosial dan televisi.
Ditengah keramaian dan kemewahan seperti ini, seharusnya Adifa bahagia dan menikmati saja acara yang ada. Toh Romeo dan Sultan juga memperlakukanya dengan baik.
"Juliet, kita duduk disini saja," ujar Romeo mengajak Adifa duduk di bangku bar yang tak jauh dari mereka. "Kamu mau minum apa, pesanlah. Aku yang bayar semua kali ini. Kita butuh tenaga untuk mencari cecunguk kamprett satu itu." Ucapanya lagi menunjukkan kekesalanya pada Mahawira.
"Eh, itu Mahawira sama kak Marsha." Sultan menepuk lengan Adifa.
"Mana?" tanya Romeo matanya mencari-cari keberadaan sosok Mahawira ditengah keramaian orang. Adifa menoleh pada Sultan terlebih dahulu, lalu mengikuti arah pandangan laki-laki itu dan langsung menemukan keberadaan Mahawira yang terlihat sangat gagah dan tampan dengan setelan jas berwarna hitam yang dipadupadankan kemeja hitam juga didalamnya, Mahawira memang tidak sendiri, dia berdua dengan seorang wanita yang begitu cantik bak barbie hidup yang pernah Adifa lihat sebelumnya. Tapi Adifa lupa. Dimana pernah melihat wanita itu?
"Selamat pagi menjelang siang semua," sapa wanita cantik itu pada penumpang kapal pesiar miliknya, dia terlihat sangat anggun dengan pembawaanya yang tegas, pandanganya yang lurus menandakan dia seoarang wanita independent dan tak bisa ditindas. "Sayang sekali, sebenarnya aku ingin menyampaikan banyak hal, karena saya sedang mengejar waktu. Jadi saya hanya bisa mengenalkan adik saya yang selama ini sering kalian tanyakan."
Terdengar suara bisik-bisik riuh jika sebenarnya mereka sangat menunggu wanita itu memperkenalkan adiknya. "Laki-laki yang berdiri disamping saya ini, dia adik saya Mahawira Mahardika, kembaran dari Mahendra yang kalian tahu sekarang dia menetap di luar negara bersama anak dan istrinya. Sekarang tinggal Mahawira yang masih sendiri." Wanita itu tersenyum sembari menutup mulutnya. "Kesibukan adik saya saat ini masih dengan kegiatan favoritnya menjadi kapten kapal cargo. Jadi kalian para ladies ... harap bersabar karena kontraknya masih satu tahun lagi." Wanita itu tampak membanggakan adiknya.
Setelahnya keduanya pergi dengan diikuti banyak pengawal, langkah mereka nampak terlihat buru-buru, dan wajah Marsha yang tadi terlihat ceria, kini berubah tegang. Dari tempatnya duduk, ada getir yang Adifa rasakan, Mahawira tidak melihat kearahnya sama sekali.
"Singkat banget sambutanya." Komentar Sultan.
"Yuk, kita samperin aja." Ajak Romeo pada Sultan dan Adifa.
"Aku tidak ikut, aku disini saja." Adifa menolak.
Tapi ketika mereka coba mengikuti Mahawira, mereka kehilangan jejak Mahawira dan Marsha juga para pengawalnya, entah mereka keluar lewat pintu mana? Seperti jin, menghilang tanpa jejak.
"Kamu lihat mereka nggak?" tanya Romeo. Sultan mengangkat bahu dengan bola matanya mencari jejak keberadaan Mahawira
"Cepet banget sih ngilangnya tuh anak." Keluh Romeo. "Paling nggak suka nih kalo jalan bareng tapi yang satu ngilang. Bukanya ngabarin kalo ada apa-apa, malah ngilang tanpa jejak." Romeo terus mendumel meluapkan kekesalanya.
"Tapi aku rasa ada sesuatu yang terjadi deh. Sadar nggak tadi muka kak Marsha keliatan kayak tegang." Sultan mencoba tidak berpikiran buruk tentang teman mereka.
"Aku nggak perduli, kesel banget nggak sih, kita kayak orang begoo, nelponin dia tapi nggak diangkat. Kita kayak dikasih tanda tanya sama teka-teki. Kalo memang ada apa-apa, harusnya kan bisa kabarin kita." Adifa hanya diam saja melihat Romeo dan Sultan berdebat. Jika boleh jujur, dia lebih kesal dari mereka berdua.
Dikala mereka masih berdebat, tak lama terdengar suara deru baling-baling pesawat dari atas mereka. Romeo dan Sultan gegas berlari keluar.
"Kayaknya emang lagi ada sesuatu deh, tapi Wira nggak sempet cerita ke kita." Sultan berkacak mendongak dengan mata memicing menatap privet jet yang sudah menjauh.
"Brengsekkk, nggak bisa apa kasih kabar dulu." Romeo meludah kesal.
* * *
Tersisa dua hari Adifa menghabiskan waktu bersama Romeo dan Sultan. Setelah Mahawira pergi tanpa kabar, sampai detik ini Mahawira tidak ada juga mengabarinya. Meski tidak ada Mahawira, tetapi Romeo dan Sultan memperlakukan Adifa dengan sangat baik seperti adik mereka sendiri, namun Adifa tidak bisa menutup kekecewaanya, bukan pada Mahawira, tapi pada dirinya sendiri.
Kecewa dengan dia yang sudah dengan mudah membuka hati pada seorang laki-laki. Adifa tertawa miris mentertawakan dirinya yang malam itu begitu mudah memberikan yang seharusnya tidak ia beri pada siapapun sebelum mereka halal. Memang belum sampai ke tahap berhubungan inti, tapi apa yang Adifa lakukan malam itu cukup menunjukkan jika dia wanita murahan dan gampangan.
Ditanya menyesal? Sangat! Adifa sangat menyesali itu.Terlahir dari keluarga pas-pasan bisa dibilang juga kekurangan, seharusnya Adifa memiliki harga diri yang tinggi. Setidaknya satu itu yang bisa ia banggakan dari dirinya sendiri, sialnya lagi Adifa baru menyadari setelah itu terjadi karena ia terlalu dibutakan oleh ketampanan Mahawira. Kini dia baru tahu jika Mahawira adalah anak dari keturunan konglomerat Mahardika corp, juga kalau Mahawira juga berprofesi sebagai Pelaut yang memang terkenal sebagai player, pantas saja Mahawira bisa dengan mudah menghipnotis dirinya yang masih terbilang polos hingga Adifa bisa dengan mudah dipermainkan laki-laki itu.
"Akhirnya, kita sampai juga di Singapura." Romeo merentangkan tanganya keudara nenghirup udara darat setelah tiga hari berada dilaut. "Gilla, tiga hari di laut berasa setahun, bosen juga ya. Kayak mabuk laut tau nggak," ujar Romeo lagi lalu menggandeng bahu Adifa. "Cuti kapan abis Juliet?"
"Besok aku sudah harus masuk."
"Kita jalan-jalan dulu lah sebentar di Singapura. Masa pulang sekarang." Sultan masih belum mau pulang.
"Tidak apa-apa, kalian jalan-jalan saja. Aku pulang sendiri." Adifa sudah tidak ada semangat untuk bepergian, dia ingin segera pulang. Untuk apa? Untuk menangis sepuas-puasnya.
Akhirnya Romeo dan Sultan ikut pulang bersama Adifa, karena tak mungkin mereka membiarkan Adifa pulang sendirian.