
Adifa menelan ludah melihat begitu banyaknya makanan yang tersedia diatas meja, lidahnya berkali-kali membasahi bibir, ngiler ingin mencoba semuanya. Dia biasanya makan nasi padang atau warteg, paling beken makan di resto yang menjual mie viral yang harganya sangat pas dikantongnya. Tapi di hadapkan dengan menu lengkap yang biasa tersedia di meja makan orang-orang kaya dari menu: appetizer, main course, dan dessert.
Adifa menoel-noel paha Mahawira dibawah meja. Mahawira menoleh. "Ada apa? Ada menu yang kamu kurang suka? Atau ada yang kurang, hem?" tanya Mahawira berbisik pelan, dan suara beratnya membuat darah Adifa meremang.
"Ini kamu yang traktir kan? Dan aku boleh coba semuanya?" Adifa menjawabnya dengan berbisik pula.
Sultan dan Romeo yang sibuk membuat flog tak menyadari kelakuan keduanya.
Mahawira tertawa, lalu mengulum bibirnya. "Iya, tapi tidak gratis?"
"Hem? Jadi aku harus bayar pakai apa? Jangan pakai uang, uang aku nggak cukup."
"Menurutmu aku laki-laki yang seperti itu? Hem aku sedikit kecewa. Padahal aku cuma minta kamu buat temani aku ke pesta nanti malam dan berdansa dengan ku."
Mata Adifa membulat. "Pesta? Dansa?"
Mahawira mengangguk. "Aku sudah menyiapkan gaun untuk mu, makanlah. Setelah ini aku antar kamu ke kamar, istirahat yang cukup karena aku ada kejutan untuk kamu malam ini." Mahawira menggengam tangan Adifa yang seakan sudah menjadi kebiasaan laki-laki itu.
Seketika jantung Adifa serasa berhenti berdetak, apa ini artinya Mahawira akan mengungkapkan perasaannya? Ya Tuhan, rasanya deg-degan sekali, tak sabar menunggu nanti malam.
Setelah makan, Adifa diantarkan Mahawira menuju kamarnya yang ada dilantai sepuluh dengan menaiki lift, yang Adifa tidak tahu jika lift yang mereka gunakan khusus pemilik dari kapal pesiar atau pihak keluarga.
"Ini kamar ku, kalau kamu butuh apa-apa ketuk saja, kamar Romeo dan Sultan juga ada di sini," ujar Mahawira memberi kamarnya sebelum masuk ke kamar Adifa. Setelah memutar kunci, dengan masih menggandeng tangan Adifa Mahawira menuntun gadis itu untuk masuk. Barulah setelah didalam Mahawira melepaskan tangan Adifa berjalan menuju jendela dan membuka hordengnya.
Sretttttt
Air laut langsung terlihat dengan pemandangan kota.
"Aku sengaja milih kamar dilantai sepuluh, karena disini memiliki view yang sangat bagus. Kamu bisa lihat air laut dan juga pemandangan kota dari atas sini dengan jelas. Kalau di lantai bawah berisik dan juga tidak bisa melihat kota dengan baik." Adifa ikut berjalan menuju hordeng dan melihat pemandangan luar. Ternyata kapal pesiar yang mereka naiki sudah mulai meninggalkan pelabuhan.
"Kita sudah jalan?" tanya Adifa menatap Mahawira.
"Hem, kamu tidak merasakan getaran air laut?" Adifa menggeleng. "Syukurlah kalau begitu, berarti kapal ini sangat layak untuk mengair dan tidak malu-maluin aku mengajak kamu kesini." Tangan Mahawira mengusap lembut kepala Adifa. Adifa mesem-mesem bingung dengan kata malu-maluin yang dimaksud. Padahal dibawa pake getek yang jalanya pakai minyak tanah saja Adifa tidak akan keberatan, asal itu bersama Mahawira. "Yang spesial dari kamar ini juga, langsung terhubung dengan anjungan." Tambah Mahawira kembali menggandeng tangan Adifa, membuka pintu yang langsung menuju anjungan. Rambut sebahu Adifa tertip angin memperlihatkan leher jenjangnya. "Suka?" tanyanya menoleh kearah Difa.
Adifa mengangguk dengan tatapan spechless, apa Mahawira memberikan yang spesial ini hanya untuknya? Jika iya? Omg ...
"Oh ya, koper kamu sudah ditaruh di lemari, dan juga gaun yang harus kamu pakai nanti malam. Aku keluar dulu karena aku ada pekerjaan. Selamat beristirahat, Beauty."
Adifa menatap punggung lebar Mahawira yang menghilang dari balik pintu, sejak tadi lidahnya serasa keluh, tak dapat mengeluarkan kata-kata apapun saking takjubnya, Mahawira seolah pangeran yang dikirim untuk mengabulkan semua keinginanya.
"Aku harus kasih tau Adinda," ujarnya berlari masuk kamarnya. Hampir setengah jam-an mereka yg mengobrol, eh bukan mereka. Tapi Adifa yang lebih banyak bicara, pamer dengan fasilitas yang diberi oleh Mahawira. Karena tadi juga kekenyangan, akhirnya Adifa tertidur dengan panggilan yang belum berakhir.
* * *
Pukul tujuh malam Mahawira mengetuk kamar Adifa. Ketika gadis itu keluar, Mahawira terpana dengan gaun yang ia belikan begitu pas dan cocok dengan Adifa. Gaun merah dengan tali spagethi yang menunjukkan bahu Adifa, bahu yang selama ini gadis itu tutupi dengan kemeja kini dapat Mahawira lihat, kulit eksotisnya terlihat begitu seksi.
"You so beautyful," bisik Mahawira mengulurkan tanganya. Adifa tersipu mendengar pujian Mahawira, tanganya tak segan menyambut tangan Mahawira. Dikoridor itu, juga sudah ada Sultan dan Romeo, tak bedanya dengan Mahawira, kedua laki-laki tampan berstelan jas dan dasi pita berwarna merah juga terpana dengan kecantikan Adifa.
"Sepertinya aku salah membelikan gaun untuk mu. Sorry." Mahawira memasangkan jasnya ke pundak Adifa hingga tulang selangka gadis itu kembali tertutup. Mamaaaa tolooong kenapa anak bujang orang bikin hati anak mu mau meledak.
"Cieee yang udah mulai bucin." Sultan menggoda temanya.
"Awas saja tidak segera confess." Dengus Romeo menyindir. Yang diledek hanya senyum-senyum saja. Tapi ucapan Romeo berhasil membuat pipi Adifa memanas.
Malam itu, mereka mengikuti pesta yang diadakan oleh pemilik kapal di ruang show sebagai hiburan untuk para tamu undangan. Suasana musik yang menggelar memekakkan telinga Adifa ketika ia memasuki ruang itu, tapi tangan kekar seseorang dipinggangnya membuat Adifa merasa terlindungi, siapa lagi pemilik tangan itu kalau bukan Mahawira.
"Jangan jauh-jauh dari aku." Bisik laki-laki itu ditelinga Adifa dan mengeratkan genggamanya.
Tak banyak yang Adifa lakukan di pesta itu, tak ada yang ia kenal kecuali Mahawira dan kedua temanya, tapi kedua teman Mahawira sudah bergabung dengan para wanita-wanita cantik berwajah bule. Ya, bisa dikatakan hanya Adifa berwajah lokal tulen di plesiran ini, yang lain? Entah mereka warga negara Indonesia atau bukan.
"Disini tidak ada minuman untuk kamu, bagaimana kalau kita keanjungan saja?" Ajak Mahawira berbisik. "Disana juga tidak berisik, kamu pasti tidak nyaman."
"Tidak apa-apa, kita disini saja." Adifa ingin mencoba beradaptasi dengan keadaan meski sebenarnya dia tidak nyaman, namun dia tidak enak jika Mahawira lamah banyak menghabiskan waktu bersamanya, bukan bersenang-senang.
Mendengar apa yang Mahawira katakan, Adifa tak bisa menolak. Ia pun keluar bersama Mahawira naik ke dek 10 dimana kamarnya berada ingin tahu apa something spesial yang akan Mahawira berikan padanya. Ketika mereka sampai di anjungan, mata Adifa membulat melihat ada meja bulat lengkap dengan lilin dan makanan diatasnya, dan ada dua kursi diantaranya untuk mereka berdua duduk.
Oh my god, apa ini yang dinamakan makan malam romantis yang suka orang-orang bicarakan?
"This is for you, aku ingin menghabiskan malam ini berdua bersama kamu," ujar Mahawira seperti tahu yang dipikirkan Adifa. "Kamu suka?" tanya Mahawira.
Adifa mengangguk dengan mata berkaca-kaca, sejak Mahawira datang dihidupnya, Adifa merasa dia selalu dihujani kebahagiaan yang sialnya bibirnya tak mampu terbuka sekedar untuk mengucapkan terimakasih.
Mahawira membimbing Adifa untuk duduk di kursi, dan laki-laki itu duduk dihadapan gadis itu yang menatapnya tanya kedip, takut jika semua yang terjadi dalam hidupnya hanya mimpi dan Mahawira akan menghilang jika sampai sedikit saja ia memejamkan matanya.
"Aku tahu kamu masih merasa ini seperti mimpi, dan aku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak menyangka bisa berduaan dengan wanita sehebat kamu."
Oh no, Adifa tak bisa menahan setitik bulir yang jatuh dari pelupuk matanya. Bisakah Mahawira berhenti mengeluarkan kata-kata mengandung bom yang tak hanya bisa meledakkan hatinya, tapi juga seluruh tubuhnya. Melihat itu dengan gerakan cepat Mahawira mencondongkan tubuhnya dan mengusap pipi Adifa yang basah. Dan hal itu benar-benar melumpuhkan tubuh Adifa hingga sulit untuk bergerak.
"Oke sepertinya kita belum bisa makan sekarang, bagaimana kalau kita langsung ke acara inti?"
"Hah?" Adifa cengok, setelah dari tadi diam.
"Dansa. Aku ingin berdansa berdua dengan mu sekarang." Karena Mahawira yakin jika ia suapi juga, Adifa tak akan mampu menelan makananya jika wanita itu sejak tadi hanya bengong.
Mahawira berdiri, mengajak Adifa untuk berdansa denganya.
Adifa mendongak. "Tapi aku tidak bisa dansa."
"Tidak ada yang melihat, aku juga tidak bisa. Makanya aku mengajak mu berdansa disini, hanya ada kita berdua."
Dengan mengulum senyum, akhirnya Adifa menuruti permintaan Mahawira. Bohong jika laki-laki itu tidak bisa berdansa, nyatanya tubuhnya begitu luwes ketika membimbing Adifa untuk mengikuti gerakanya ke kiri dan ke kanan. Adifa menahan nafas, ketika Mahawira menarik tanganya dan mengarahkan melingkarkan dilehernya.
"How do you feel, Beauty?" Mahawira mengusap pipi Adifa dengan begitu lembut. Adifa menggeleng, rak bisa menjabarkan apa yang ia rasakan saat ini. "Nikmati semua momen kita berdua oke." Adifa hanya bisa mengangguk.
Entah kapan Mahawira mempersiapkan semua ini, tiba-tiba dua orang laki-laki datang membawakan musik dari biolanya, dan ...
Duarrrrrrr
Duarrrrrrr
Duarrrrrrr
Hujan kembang api dilangit kota apung tempat mereka berpijak. Adifa sontak menatap takjub langit gelap yang tiba-tiba berwarna-warna itu. Dan ketika Adifa menatap Mahawira hendak menanyakan hal itu, bibirnya langsung dibungkam oleh bibir Mahawira.
Tubuh Adifa membeku, gerakan lembut bibir Mahawira diatas bibirnya membuat matanya membulat, karena Mahawira terus menyerang bibirnya, Adifa pun memejamkan matanya karena sungguh ciuman Mahawira begitu memabukkan, Adifa pun membalas lumatann bibir Mahawira yang semakin lama semakin menuntut.
Hening, dengan suasana romantis, ditambah tiupan angin laut yang menyentuh kulit terbuka Adifa, karena jas Mahawira sudah ditanggalkan sejak mereka tiba di anjungan, benar-benar membawa kedua insan itu hanyut dengan cinta yang belum jelas arahnya. Kedua pemain musik tadi cukup tahu diri melihat pemandangan didepan mereka, dan meninggalkan tempat itu tanpa diminta menyisakan kedua insan yang masih asik dengan mainan baru mereka, yaitu perang lidah. Namun tak lama kemudian Mahawira menggendong tubuh Adifa ala koala dan merebahkan tubuh gadis itu ditempat tidur tanpa melepaskan pagutann mereka.
Huffff
Adifa terengah saat ciuman mereka terlepas, kenapa bisa terlepas? Karena Mahawira melepaskan kemejanya yang membuat tubuhnya semakin gerah. Melihat itu, Adifa gemetar, tapi jujur tak bisa menolak, logika dan nalurinya berlawanan arah. Dengan mata yang terlihat berkabut, Mahawira menunduk, menyerang Adifa semakin ganas, tanganya menurunkan tali gaun Adifa hingga terlihat bongkahan daging dada gadis itu, yang mana semakin membuat Mahawira semakin terbakar semangat, ia kecupi kulit pundak Adifa, dari pipi, leher, pundak, dan Mahawira mendongak meminta izin untuk mengecup kulit dadanya. Ia tersenyum ketika melihat Adifa mengayunkan dagunya.
Semakin lama, tubuh mereka semakin menempel, bagian atas tubuh Adifa sudah tidak tertutup lagi, artinya Adifa sudah setengah telanjang, dan Adifa dapat merasakan sesuatu yang keras menekan bawah perutnya ketika Mahawira asik bermain diatas dadanya. Semakin lama, Mahawira terus menggerakkan pinggulnya naik turun, hingga ... Keduanya merasakan sesuatu meledak dalam diri mereka.
Bughhh
Mahawira ambruk disamping tubuh Adifa. "Kamu nakal bisa buat aku ngompol," ujarnya terkekeh, menutup tubuh Adifa dengan selimut. Wajah Adifa bersemu malu Mahawira mengatakan itu. "Maaf," katanya lagi menarik tubuh Adifa kedalam pelukanya, tanganya mengusap punggung Adifa yang terbuka hingga mata gadis itu terpejam karena merasa nyaman.
* * *
"Iya Jingga, ada apa? Coba jelaskan pelan-pelan ... Kamu sekarang dimana?"
Suara berat Mahawira membuat Adifa perlahan membuka matanya. Meski belum terbuka sempurna, tapi Adifa dapat melihat punggung tegap Mahawira yang membelakanginya sedang berbicara dengan entah siapa? Tapi Adifa dapat mendengar Mahawira menyebut nama seseorang. Bukankah itu nama mantanya yang menikah kemarin? Lantas kenapa dia menghubungi Mahawira?