
"Berhenti di sini aja," pinta Adifa pada Mahawira ketika mobil Mahawira masih berjarak kira-kira dua ratus meter lagi dari kantornya.
"Ini nasih jauh." Kendati demikian tangan Mahawira menepikan mobilnya.
"Nggak papa disini aja."
Tak ada pertanyaan apa-apa dari Mahawira, ia mengangguk melihat Adifa keluar dari mobilnya.
"Nanti pulangnya aku jemput." Katanya sebelum wanita itu berlalu. Adifa mengangguk sebagai jawaban, sebelum akhirnya dia membalikkan badan sambil mengulum senyum. Ada perasaan aneh, kenapa laki-laki itu selalu mengajaknya bertemu?
Tak jauh dibelakang mobil Mahawira, berjarak kira-kira seratus meteran terparkir juga mobil mewah Dirga. Dirga menggeram kesal melihat pemandangan didepanya membuat dada Dirga terasa terbakar. Ia menebak jika pemilik mobil itu laki-laki yang sama dengan yang kemarin pergi bersama Adifa. Tangan Dirga mencengkram erat stir mobilnya, sekuat tenaga menahan emosi yang siap meledak. Ini masih pagi, tapi suhu didalam mobilnya terasa begitu panas, pendingin mobil mahalnya seperti tak berfungsi sama sekali.
Andai saja ini bukan di kantor, dan andai saja putusan sidang telah keluar, Dirga pasti akan menghajar habis-habisan lelaki itu dan melarang mendekati wanita yang dari lama menjadi incaranya. Tidak akan ia beri kelonggaran lagi untuk Adifa dekat dengan siapapun. Tapi sayangnya Dirga tidak bisa melakukan hal yang akan mempersulitnya berpisah dengan Diana karena pihak Diana tidak terima di gugat oleh Dirga, wanita itu sedang mencari kelemahan dirinya dan keluarganya untuk menyerang balik keluarganya.
Saat berpapasan dengan Adifa dilapangan pun Dirga hanya menyapa seadanya. Sebatas profesional pekerjaan meski bibirnya ingin sekali melarang wanita itu untuk keluar dengan lelaki manapun saat ini.
Tepat pukul lima sore, ponsel Adifa bergetar tanda ada pesan yang masuk, kembali Adifa mengulum senyum ketika membaca pesan dari Mahawira, lelaki itu mengiriminya pesan jika dia sudah menunggunya di warung kopi di seberang kantornya.
Adifa membalasnya sambil mesem-mesem sendiri.
●Apa nggak papa kamu nunggu satu jam lagi?● Balas Difa lebih ke minta ditunggu.
●Tidak masalah.● Dengan cepat pesananya dibalas.
"Kenapa mesem-mesem gitu heh? Chat dari siapa?" tanya Adinda yang kebetulan sedang ada disana mengcroscek surat jalan sebelum mengajukan invoice tagihan.
"Mahawira," jawab Adifa dengan senyum-senyum berbunganya. "Dia kirim pesan, udah ada di depan jemput aku." Lanjutnya memeluk ponselya.
"Daebak." Adinda menggeleng kagum. "Kalian udah sering jalan? Setelah kejadian itu ternyata berlanjut?" Adinda tahu ketika Adifa harus menjadi adik sepupu Romeo. "Jahat banget udah jadian sama mas bule nggak ngasih tau. Seenggaknya pajak jadian kek."
Bahu Adifa terlihat turun seiring gadis itu menghembuskan nafasnya berat, ia meletakkan ponselya diatas meja. "Masalahnya itu, belum ada konfess sama sekali dari dia meski udah sering banget ngajak jalan." Adifa mengerucutkan bibirnya, melirik Adinda. Adinda tidak tahu saja jika mereka sudah kissing, tapi untuk mengatakan itu, Adifa tidak berani.
Adinda yang tadi berdiri, menarik satu kursi plastik hijau yang ada disana. Duduk di dekat sahabatnya untuk menginterogasi.
"Hem, sejauh apa kamu tahu tentang dia? Selain teman, keluarga, atau tahu pekerjaan dia apa."
Adifa menggeleng. "Aku juga nggak tahu apa-apa tentang dia, selain dua temannya itu. Itu juga setelah itu nggak pernah ketemu lagi."
Adinda menjentikkan jarinya.
"Itu nggak masalah, dengan dia sering ngajak kamu jalan, itu sudah ada tanda-tanda ketertarikan dia sama kamu, kalau enggak. Mana mungkin dia ngajak jalan terus, setelah urusan yang waktu itu selesai pasti dia nggak akan hubungi lagi. Apalagi kartu identitas sama id card udah dikembaliin. Saran aku jangan ada jaim, slay, dan tetap jadi diri sendiri saat jalan sama dia. Tapi tetap dalam mode sopan dan aman ya, jangan yang berlebihan bikin ilfeel. Dari cerita novel-novel yang suka aku baca, dia bukan orang biasa. Tipe-tipe cowok kayak dia kadang lebih suka sama cewek lucu, polos, apa adanya, independent, nggak jaim, manis, juga cerewet. Dan itu semua ada sama kamu." Adinda menatap Adifa yang cengo mendengar penjelasanya yang cukup panjang itu.
"Kamu paham nggak sih sama yang aku omongin?" Adinda menepuk pundak Adifa gemas.
"Iya, paham." Adifa sedang memikirkan ucapan Adinda tadi. Dia setuju dengan hipotesa Adinda, jika Mahawira tidak ada ketertarikan, mana mungkin laki-laki itu sering mengajaknya jalan, bahkan hari ini pria itu mengantar jemputnya seperti sepasang kekasih. "Aku terlalu berharap nggak sih kalau udah kayak gini, jujur aku takut kecewa."
"Ck, elah. Namanya juga pacaran, penjajakan sebelum menemukan jodoh yang sesungguhnya." Adinda kembali memberikan pendapatnya. "Nggak akan sakit banget kalau nggak ngapa-ngapain. Semisal sentuhan fisik dalam bentuk apapun, kalo nanti putus dan nggak jodoh yaudah. Nggak usah diambil pusing, yang pusing itu dikejar-kejar pak Dirga." Adinda mengambil dokumennya.
Gadis itu pergi ketika melihat Dirga berjalan kearah ruangan Adifa.
"Adifa, aku pulang duluan ya. Kamu hati-hati pulangnya." Ternyata Dirga pamit pada Adifa. "Kamu sabar dulu ya untuk sementara waktu, setelah proses perceraian aku selesai, kita bisa pulang sama-sama."
Adifa diam, otaknya sedang mengingat perubahan drastis Dirga beberapa hari ini. Laki-laki yang biasanya memasang wajah mengejek bahkan meremehkanya dengan kata-kata mutiara, tapi sekarang laki-laki itu berucap begitu lemah lembut.
Jam enam Adifa keluar, ia bertos dengan driver yang berpapasan denganya. Matanya langsung menyorot pada warung kopi depan kantor. Seketika ia tersenyum ketika Mahawira melambaikan tangan memberi tahu keberadaanya.
"Kita mau kemana emang?" tanya Adifa saat sudah berada didalam mobil Mahawira, dan mobil itu mulai melaju pelan karena banyak kendaraan didepanya.
"Ke rumah Romeo. Nggak papa kan?" Adifa mengangguk. Dibilang mau dibawa ke bulan saja Adifa menurut, apalagi cuma kerumah Romeo. Perlu diketahui, jika kali ini Adifa sudah mengganti pakaianya, sengaja dia menbawa pakaian ganti jaga-jaga Mahawira mengajaknya jalan dadakan, dan itu benar-benar berguna.
Sejam kemudian mobil Mahawira memasuki pekarangan rumah Romeo yang cukup luas, di sana terlihat ada tiga mobil mewah yang Adifa tidak tahu milik siapa saja.
"Disini rame ya?" tanyanya menoleh pada Mahawira yang sedang melepas sabuk pengamanya.
"Cuma ada aku, Romeo, dan Sultan. Yuk turun."
Mereka memasuki rumah satu lantai milik Romeo, Adifa benar-benar dibuat takjub dengan design rumah milik Romeo, dari luar terlihat sangat sederhana, namun furniture didalamnya bak rumah-rumah mewah konglomerat. Kaki mereka melangkah menuju halaman belakang rumah tersebut yang terdapat kolam renang yang tidak terlalu besar.
"Wuihhhh, ada adik sepupu. Eh, juliet ku." Romeo menyambut kedatangan keduanya dengan merentangkan kedua tangan hendak memeluk Adifa. Tapi heranya melihat lirikan Mahawira ia jadi menurunkan kembali tanganya itu.
"Publish lah kalau nggak mau di sentuh orang," ujar Romeo menyindir Mahawira.
Adifa yang tahu maksud ucapan Romeo hanya tersenyum canggung.
"Tau nih, masa anak orang digantung." Sambung Sultan yang duduk di tepi kolam sambil mengunyah camilanya. "Sini Difa, jangan canggung. Anggap kita teman kamu sendiri, kita nggak bakalan ngapa-ngapain kamu. Cowok itu terlalu galak kalau sama cewek yang disukainya." Celetuk Sultan yang seketika membuat dada Adifa berhenti sejenak.
Eh, eh, apa maksudnya itu?
Malam itu, Adifa berasa kembali berperan sebagai Shancai, bagaimana Romeo dan Sultan yang sangat memanjakanya. Apalagi ledekan-ledekan kecil mereka dengan Mahawira, membuat tongkrongan mereka jadi lebih hidup dari biasanya yang terkesan membosankan. Yang biasanya tidak jauh-jauh dari bisnis, perempuan, dan senang-senang tanpa arah.
"Eh, mumpung ada Difa. Kita ajak Difa ke rooftof biasa yuk." Tiba-tiba Sultan memberi ide.
"Boleh juga. Cuaca malam ini juga kayaknya lagi bagus-bagusnya." Balas Mahawira cepat menyetujui.
Tak lama, keempatnya tiba di Tower Mahardika Corp. Dengan dua mobil yang mana Adifa satu mobil dengan Mahawira pastinya. Untuk yang kedua kalinya Adifa kembali dibuat terheran-heran dengan circle pertemanan ketiga laki-laki ini. Siapa sebenarnya ketiga lelaki ini? Mengapa dengan mudah mereka bisa masuk kedalam gedung yang terkenal memiliki penjagaan yang begitu ketat. Dan kenapa anak konglomerat mau mengajak Adifa masuk dalam geng mereka seperti cerita-cerita di film.
Jika Adifa menceritakan hal ini pada Adinda, Difa yakin sahabatnya itu akan kejang-kejang.
Sebelum mereka masuk kedalam lift, Mahawira mengambil tangan Adifa terlebih dahulu agar gadis itu selalu berada disampingnya, yang mana lagi-lagi love language Mahawira membuat Adifa nebak-nebak sebenarnya apa yang dirasakan laki-laki itu padanya?
Pukul dua belas malam Mahawira mengantarkan Adifa pulang kerumahnya.
"Aku turun dulu nggak nih izin sama orang tua kamu?" tanya Mahawira saat sudah menghentikan mobilnya didepan gang rumah Adifa.
"Nggak perlu, kan aku bilang mereka udah biasa lihat aku pulang malam. Kalau izin nanti mereka ngiranya aku pulang malam karena pacaran."
Didalam kalimatnya, terselip maksud tersendiri. Seperti ingin sebuah pengakuan, tapi Mahawira seperti tidak bisa membaca kalimat yang diucapkan Adifa.
"Em, kamu bisa izin kerja nggak? Dua hari lagi kita ada perjalanan ke Singapura naik kapal pesiar. Aku pengennya sih kamu ikut." Adifa yang sudah membuka pintu berbalik menatap Mahawira.
"Hah?" Adifa sedikit terkejut.
"Izin aja ya, jangan khawatir masalah kerjaan. Kalau kamu dipecat, Romeo dan Sultan siap merekrut karyawan baru."
Lagi, dan lagi, Mahawira mengajaknya jalan, dan kali ini tidak nanggung-naggung, naik kapal pesiar.