
Hari demi hari telah terlewati dengan senyuman. Seperti pagi itu, matahari bersinar dengan begitu cerah. Udara sejuk dapat dirasakan. Hujan tadi malam membawa ketenangan di pagi ini. Jalan yang lenggang, membuat seorang gadis mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Siapa lagi kalau bukan Nada.
Tidak tahu kenapa, pagi ini Nada menjadi rajin. Ia bangun tepat waktu, dan berangkat sekolah dengan hati yang gembira. Lantunan musik ikut mengiringi perjalanannya menuju sekolah. Tidak lama kemudian, sampailah Nada di gerbang sekolah. Ia memarkirkan mobilnya dengan rapi. Kemudian, ia berjalan menyusuri koridor sekolah.
“Nada,” teriak seseorang yang sangat ia kenali.
“Berhenti! Lo budek ya nggak dengar gue teriak?!” Eliana kesal dengan tingkah laku sahabatnya pagi ini.
Nada berdecak pelan, “Ck.. Mood gue pagi ini lagi bagus. Lo bisa nggak, jangan buat ancur mood gue?”
Eliana tersenyum seraya memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih, “Hehehe.. Tumben lo berangkat sepagi ini?”
“Gue ‘kan emang siswi teladan dan rajin,” balas Nada dengan kibasan rambutnya yang menjulur indah.
Tatkala mendengar itu, Eliana menyunggingkan bibirnya. Nada kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti. Sementara itu, Eliana mengikuti di belakangnya. Terlihat beberapa murid lainnya yang baru saja sampai. Seperti biasa, Nada akan langsung masuk ke dalam kelas dan meletakkan tasnya di sana.
Suasana di kelas pun terpantau sepi. Nada memasang headset ke telinganya dan mendengarkan sebuah lagu kesukaannya. Ia sampai memejamkan mata, merasakan setiap lirik yang ada pada lagu tersebut. Tanpa disadarinya, kelas sudah dipenuhi oleh teman-temannya. Nada terkejut tatkala Eliana menepuk pundaknya dengan keras.
“Kenapa? Ganggu aja lo, gue lagi semedi ini,” oceh Nada.
“Lihat itu! Mereka kenapa ya? Apa ada berita hangat?” Eliana menunjuk ke arah gerombongan para siswi di luar ruangan.
Nada menaikkan kedua bahunya, “Mana gue tahu.” Ia kembali memasang headset, namun dicegah oleh Eliana.
“Ayo lihat!”
Nada terpaksa mengikuti sahabatnya itu. Tetapi, ketika mereka hendak melihat bel berbunyi. Menandakan bahwa mereka harus segera masuk ke dalam kelas. Eliana mendengus kesal, ia tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi pagi itu. sampai-sampai membuat gempar satu sekolah.
“Udah masuk aja. Nanti juga pasti gosipnya sampai di telinga kita,” ujar Nada.
Eliana setuju dengan perkataan sahabatnya.
Kemudian mereka masuk kembali ke dalam kelas. Tidak lama kemudian, Bu Dara datang dengan membawa beberapa buku di tangannya. Nada yang sedang mengambil buku di dalam tasnya merasakan pukulan keras yang diberikan oleh Eliana. Wajahnya berubah kecut. Bagaimana tidak, pukulaan Eliana itu cukup terasa nyeri.
“Apa sih?! Gue lagi siapin buku ini,” gerutu Nada.
“Nad…. Lihat ke depan sekarang!” bisik Eliana dengan mata yang terbuka sempurna.
Perlahan nada mengikuti arah pandangan Eliana.
Deg…. Ia terpaku dengan apa yang sedang dilihatnya. Nada meneguk air liurnya beberapa kali tatkala menyaksikan sosok yang selama ini dibenci. Ya, sekarang di depan kelas sudah ada Galang. Pria itu berdiri dengan tegap di samping Bu Dara. Kedua matanya menatap tajam ke arah Nada yang sedari tadi tidak berkedip.
Aliran darah yang berhenti seketika. Nada tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tidak hanya Nada saja, tetapi Eliana juga ikut terkejut. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka berdua jika Galang bisa ada di tempat itu. Ia tersadar ketika Bu Dara mulai berbicara.
“Selamat pagi anak-anak!” sapa Bu Dara.
“Pagi, Bu.”
“Pagi ini kita kedatangan murid baru, silakan perkenalkan diri dulu.” Bu Dara kemudian duduk.
Galang tersenyum tipis, “Terima kasih, Bu. Selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Galang Elvan Adhitama. Bisa dipanggil Galang,” tuturnya dengan lembut.
“Kalau panggil Sayang, boleh?” celetuk Ziyan yang kemudian mendapat sorakan dari teman-teman lainnya.
“Oke kalau begitu, Galang bisa duduk di tempat yang masih kosong.”
Sementara itu, Nada melirik ke arah Ziyan. “Woi, Zi. Lo duduk sini ya, biar gue duduk di sana.”
Ziyan menggelengkan kepala, “Nggak mau gue. Nanti Bu Dara marah.”
Nada berdecak kesal. Masalahnya, kursi yang masing kosong itu berada tepat di sampingnya. Galang melangkahkan kaki dengan santai. Hingga akhirnya ia duduk di tempat yang sudah disediakan. Nada yang melihat hal itu langsung memalingkan wajahnya. Ia tidak henti-hentinya menggerutu. Bagaimana bisa sekarang dirinya berada dalam satu kelas bersama dengan musuhnya.
“Mati gue! Kenapa bisa sih dia pindah ke sini?” ucapnya pelan.
“Salam kenal, Nada.” Galang berucap dengan penuh penekanan.
Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Nada. Ia hanya diam saja, dan tidak melirik sedikit pun.
Sepanjang pelajaran, sudah seperti satu tahun. Nada ingin cepat keluar dari tempat itu. Perasaannya gusar, namun timbul banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya. Ia penasaran mengapa tiba-tiba Galang bisa pindah ke sekolah ini. Padahal, sekolahnya dulu juga termasuk bagus. Sedari tadi, Nada tahu jika dirinya dipantau oleh Galang.
“Gue harus cari tahu, apa maksud cowok gak tahu diri ini pindah ke sini,” ucapnya dalam hati.
**
“Nad.” Eliana menggeser kursinya mendekati Nada.
“Kantik yuk! Gue lapar,” balas Nada.
“Nad, gue takut kalau Galang bakal ngelakui sesuatu sama kita,” bisik Eliana.
Nada menatapnya dengan tajam, “Lo tenang aja. Kalau diam macam-macam, pasti gue gibing tuh anak.”
Eliana mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nad. Sahabatnya itu memang tidak kenal takut. Sudah banyak pria yang menjadi korban pukulan keras andalan Nada. Tetapi ada rasa cemas dalam hati Eliana. Mengingat kalau Galang itu tidak pernah tinggal diam jika ada yang mengusik hidupnya.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kantin. Keadaan kantin sudah ramai, dan sekarang Nada tengah mencari meja yang kosong. Selagi mencari, pandangannya teralihkan pada sudut kantin. Di mana banyak sekali siswi yang bergerombol. Nada yang penasaraan lalu menghampirinya. Ternyata di sana ada Galang. Ia sedang dimintai foto dan nomor oleh para siswi.
“Hem… Masih aja jadi Buaya,” ucap Nada seraya menghela napas.
“Nad, di sini kosong,” teriak Eliana kencang.
Segera Nada menghampiri sahabatnya. Ia lalu duduk dan memesan beberapa makanan serta minuman dingin. Kondisi kantin tidak terkendali. Semakin banyak siswi yang berdatangan dan meminta foto dengan Galang. Pemandangan itu membuat Nada sinis. Ia tidak habis pikir dengan mereka yang mengidolakan Galang.
“Gue curiga, cowok tengil itu pindah pasti ada sesuatu,” ujarnya seraya mengaduk minuman.
Eliana terdiam, “Gue juga sebenarnya curiga. Tapi, sebaiknya kita nggak usah pengen tahu, Nad.”
“Gue bakal cari tahu.”
“Hem… Terserah lo aja Nad.”
“Narsis amat tuh cowok. Baru pindah aja udah jadi idola baru di sini.” Nada berucap ketus.
Eliana terkekeh, “Namanya juga Galang. Udah pasti jadi Buaya. Lihat aja tampangnya, memang tampan sih. Gak heran kalau jadi pusat perhatian.”
“Gue nggak habis pikir. Padahal dia itu nggak ganteng amat.”
“Awas, nanti jatuh cinta,” timpal Eliana.
Seketika Nada tersedak karena mendengar jawaban dari sahabatnya itu.