King Of Buaya

King Of Buaya
Luka Masa Kecil


Tettt… Tettt… Tettt…


Bel masuk sudah berbunyi. Nada yang sedang melamun terkejut mendengar bel itu. Ia kemudian bangkit dari duduknya. Ketika dirinya hendak berdiri, tanpa disengaja tubuhnya tidak bisa seimbang. Alhasil Nada hampir saja terjatuh namun beruntung Galang menolongnya. Pria itu menarik tubuh Nada sehingga membuat tubuh Nada terhentak serta mereka terlihat seperti berpelukan.


Kedua mata mereka saling bertatapan. Nada merasakan getaran di dalam hatinya. Bagaimana tidak, saat ini aroma tubuh Galang menusuk ke dalam indera penciumannya. Pria itu benar-benar menatapnya dengan teduh. Tidak berapa lama kemudian, Nada dan Galang tersadar.


“Maaf, nggak sengaja.” Galang mencoba agar tidak menatap Nada lagi.


“I-iya, terima kasih.”


Kemudian mereka pergi dari tempat itu menuju kelas. Keduanya saling canggung. Nada terus menepis rasa grogi yang menyelimuti dirinya. Ia tidak ingin jika terjadi sesuatu pada perasaannya. Mengingat Galang adalah musuhnya selama ini.


**


Di sebuah café.


“Sayang, aku dapat foto ini,” ucap Tasya yang menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya.


“Kamu dapet foto itu dari siapa?”


“Dari Sasha. Dia ‘kan sepupu aku, dan dia itu siapa?”


“Hanya temen aja, aku ‘kan sayangnya sama kamu.”


Tasya merupakan kekasih Galang. Mereka menjalin hubungan baru beberapa minggu ini. Sudah tidak terhitung berapa banyak wanita yang menjadi korbannya. Tasya merasa cemburu karena kekasihnya dekat dengan wanita lain. Sedari tadi Tasya memasang wajah kecut. Ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Galang. Dirinya lebih memilih untuk diam.


“Sayang, apa kamu nggak percaya sama aku?” Galang meraih kedua tangan Tasya dan memberikan kecupan manis.


“Aku hanya takut kamu diambil sama dia.”


“Nggak akan. Aku itu cinta sama kamu.”


Bukan Galang namanya jika tidak pandai dalam merangkai kata-kata. Mereka terlihat sangat mesra sekali. Baik Tasya maupun Galang saling memuji satu sama lain. Mereka tidak peduli tengah berada di keramaian. Di saat sedang menikmati makanan, Galang mendapat panggilan di ponselnya.


“Iya, Ma.” Galang merasa ada yang aneh dengan ibunya.


“…”


“Mama tunggu di sana. Galang on the way. Mama jangan takut. Galang sebentar lagi sampe rumah, Ma.”


Segera Galang beranjak pergi dari tempat itu. Tasya yang melihatnya spontan menarik tangan kekasihnya itu. Pria itu berdecak pelan, ia hampir saja melupakan kekasihnya. Galang lalu duduk kembali. Hatinya gelisah mendapat panggilan dari ibunya.


“Kamu mau ke mana? Kenapa buru-buru gitu?” tanya Tasya.


“Aku harus pulang sekarang. Aku pesankan taksi online ya.”


“Tapi kenapa? Aku ‘kan masih kangen sama kamu.”


Galang memesan taksi online di ponselnya.


“Sayang, kenapa kamu gak jawab?”


“Ada yang lebih penting. Aku duluan.”


Motor itu menggerung, memacu dengan kecepatan tinggi. Galang tidak peduli dengan bahaya yang sewaktu-waktu akan menimpanya. Ia melewati pengendara lainnya di jalan yang sedang ramai. Tidak butuh waktu lama ia sampai. Keadaan rumah terasa sepi sekali. Perlahan pria itu turun dari motor dan berjalan menuju rumahnya.


Betapa terkejutnya Galang, ia mendapati ibunya sedang duduk di sudut ruangan dan menangis tersedu-sedu. Sementara itu, rumah dalam keadaan berantakan. Beberapa vas bunga berserakan di atas lantai. Galang mempercepat langkah kakinya menghampiri Farah.


“Ma, Mama baik-baik aja ‘kan?” Terlihat sorot mata cemas dari seorang anak kepada ibunya.


“Mama baik-baik aja, Sayang.”


Tanpa dijelaskan, Galang sudah tahu perbuatan siapa ini. Ia mencari ke seluruh penjuru rumah. Akhirnya ia menemukan sosok pria sedang berdiri di dapur. Tanpa basa-basi, Galang melayangkan satu pukulan keras pada pria tersebut.


Buggg…


Pria itu jatuh tersungkur ke lantai. Emosinya sudah tidak bisa terkendali. Galang mirip seperti harimau yang hendak memakan mangsanya saat itu juga. Menyetahui bahwa dirinya mendapat serangan, pria itu kemudian bangkit dan membalaskan rasa sakitnya. Alhasil, dua pria itu terlibat perkelahian hebat. Saling memukul satu sama lain, menyebabkan luka lebam di antara keduanya.


“CUKUP! BERHENTI!” Farah berteriak menghentikan kericuhan yang terjadi di rumahnya dengan tangis yang terus mengalir.


“Beraninya lo sakiti Mama gue! Rasakan ini!”


BRAK…


“BERHENTI!!!” untuk kesekian kalinya Farah berteriak.


Akhirnya Galang berhenti dengan napas yang memburu. Ia menyaksikan seorang pria tidak berdaya di atas lantai. Wajahnya merah serta degub jantung yang tidak beraturan. Ya, dia adalah Luis Adhitama. Seorang pria yang digadang-gadang adalah ayah kandung dari Galang. Tetapi sampai saat ini Galang tidak menyakuinya sebagai ayah.


Bukan tanpa sebab, Luis sudah menyakiti ibunya. Ia menikah dengan wanita lain serta meninggalkan istri dan anaknya. Selain itu, Luis datang hanya untuk menyakiti Farah. Kejadian ini sudah sering kali terjadi. Terlebih saat Galang tidak ada di rumah. Luis akan menyiksa Farah dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya.


“Pergi lo! Atas gue abisin lo di sini!” gertak Galang.


“Anak kurang ajar! Beraninya lo sama gue!” balas Luis tidak mau kalah.


Galang membulatkan kedua matanya, “Apa lo bilang?! Gue, bukan anak lo! Camkan itu!”


Luka di sudut bibir Luis membuatnya sedikit meringis. Ia pun lalu pergi dari rumah itu. Galang terdiam dan berusaha untuk mengatur napasnya. Keheningan terjadi beberapa saat. Kemudian Galang menoleh ke arah ibunya yang masih saja menangis. Ia berjalan lalu memeluk Farah dengan hangat.


“Ma, maafin Galang,” ucapnya pelan.


“Hiks… Harusnya kamu nggak boleh kayak gitu sama Papa, Nak.” Farah menangis dalam pelukan anaknya.


Galang menghela napas sejenak, “Mama sekarang istirahat ya. Biar nanti Galang yang beresin ini semua.”


Farah menjawab dengan anggukan.


Galang tidak ingin membuat ibunya sakit. Ia memapahnya menuju kamar. Tubuh Farah ada sedikit luka akibat pukulan Luis. Sungguh, Galang tidak terima dengan itu semua. Setelah itu, Galang membereskan barang yang berantakan akibat perkelahian tadi. Hatinya teriris tatkala menyaksikan ibu yang selama ini disayang telah disakiti oleh orang lain. Walau orang itu ayahnya sendiri.


Pikirannya kalut, ia pun memutuskan untuk pergi keluar. Petang itu dilalui oleh Galang dengan mengendarai motor kesayangannya. Selama di perjalanan, memori kelam itu terus saja menyelimutinya. Di mana Galang kecil selalu saja mendapat perlakuan tidak baik dari ayahnya. Tidak hanya dirinya saja, tetapi Farah juga ikut dalam pelampiasan sang suami. Akibat melamun, Galang tidak begitu memperhatikan jalan. Hingga tiba-tiba, ia terkejut ketika sebuah mobil berada di hadapannya.


Tiiiinnnn…..


Klakson mobil itu terdengar begitu nyaring. Beruntung Galang dapat menghindarinya. Ia hampir saja menabrak mobil tersebut. Galang lalu melepas helm miliknya. Ia sedikit memicingkan mata untuk melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. Kini Galang mengetuk pelan kaca mobil. Tidak lama kemudian, munculah sosok seorang gadis yang sangat ia kenali.