King Of Buaya

King Of Buaya
Sosok Mencurigakan


Bruk…


Lemparan tas mengenai meja menyebabkan suara bising. Di markas, terlihat anggota Warriors sedang bermain game. Tampak dari ponsel mereka yang berputar menjadi landscape. Sementara itu, sang ketua Galang memilih untuk meneguk segelas jus jeruk yang baru saja ia beli di depan.


“Apaan nih Gal?” Cakra melihat selembar kertas berwarna merah muda.


Tidak ada jawaban dari Galang.


“Wuih… Undangan ulang tahun Nada. Ger, lo mau datang nggak?”


“Kalian nggak diundang, cuma gue yang diundang.” Galang mengambil alih kertas undangan yang ada di tangan Cakra.


“Sesekali ajak gue boleh lah Gal. Lumayan bisa makan gratis,” sahut Tiger.


Cakra membetulkan perkataan temannya itu.


Ya, besok adalah hari spesial bagi Nada. Tidak bisa dipungkiri jika Galang sangat antusias untuk datang. Saat ini Galang tidak mengerti dengan perasaan yang melandanya. Ia merasa berdebar jika berdekatan dengan Nada. Sampai-sampai Galang termenung memikirkan itu semua.


Cakra yang menyaksikan kejadian langka itu, lalu duduk tepat di samping Galang. Membuat pria itu terkejut. Dengan gayanya yang khas, Cakra menaik turunkan alisnya. Seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh temannya itu.


“Lagi mikirin Nada ‘kan lo?” celetuk Cakra.


“Ngaco. Nggak mungkin gue mikirin Nada.”


“Mungkin aja lo udah jatuh hati sama dia. Oh iya, gimana sama Tasya?” Tiger ikut menimpali.


“Gue udah putusin dia. Kelakuan dia itu udah keterlaluan.”


Tiger dan Cakra mengangguk setuju, “Lo bener. Kasihan Nada, jadi bahan buly mereka.”


Setelah itu, Galang mengedarkan pandangannya. Ia kemudian menghitung jumlah anggota yang ada di markas. Malam ini terasa sangat sepi. Ia baru menyadari bahwa ada tiga orang yang tidak terlihat di sana.


“Ke mana yang lain?”


“Gue juga nggak tau. Padahal di grup udah rame banget. Si Reynan juga nggak kelihatan,” jawab Tiger.


“Tapi Gal, gue curiga sama Reynan. Sejak kejadian waktu itu, dia jarang datang dan mencurigakan banget,” tutur Cakra.


“Jangan ambil kesimpulan kalau nggak ada bukti.”


“Tapi gue yakin banget. Tuh anak diam-diam tapi menghanyutkan.”


Perkataan Cakra berhasil membuat Galang berpikir. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Tetapi Galang tidak mau ambil kesimpulan begitu saja. Ia perlu bukti yang akurat dan tidak ingin terburu-buru.


**


Acara pesta berlangsung meriah. Teman-teman Nada datang dan mereka memberikan ucapan selamat kepada gadis itu. Hanya saja, kedua orang tua Nada benar-benar tidak hadir. Mereka harus pergi keluar kota untuk pekerjaan yang sangat penting menurut mereka, tidak menurut Nada.


Nada menyuguhkan banyak sekali makanan untuk teman-temannya. Suasana malam itu sangat membahagiakan bagi Nada. Lantunan musik anak muda turut mengiringinya. Nada berbincang hangat bersama dengan teman-teman yang lain. Ia mengenakan gaun berwarna biru muda. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.


Sejak pertama kali datang, banyak pria yang tertuju pada kecantikan Nada malam ini. Sebab, jarang sekali Nada mengenakan gaun seperti ini. Begitupun dengan Galang, pria itu diam-diam mengamati Nada dari kejauhan. Ia seperti melihat bidadari yang jatuh dari langit. Mempesona dan begitu menawan bagi siapa saja yang melihatnya.


“Cantik ‘kan idola gue.” Tiba-tiba saja Jean berdiri di samping Galang.


“Kesurupan lo bocil,” ejek Galang.


“Enak aja bilang gue bocil. Lo juga bocil.”


Galang tidak menanggapi perkataan Jean.


“Sukses ya acaranya,” ucap Galang mencari topik pembicaraan.


“Tentu aja sukses, ada gue,” timpal Eliana.


“Ya pasti dong. Lo ‘kan besti gue yang paling the best.” Nada merangkul sahabatnya dengan hangat.


Selama acara berlangsung, semua bergembira. Tanpa terasa waktu sudah larut malam. Kini satu per satu tamu undangan mulai berpamitan untuk pulang. Ketika Nada sedang sibuk, tiba-tiba saja terdengar suara kaca pecah. Sontak semua yang ada di situ terkejut.


“Ada apa?” teriak semuanya panik.


“Kenapa? Suara apa tadi?” Nada juga ikut cemas dan berlari keluar rumah.


Mereka semua berbondong-bondong untuk melihat keluar. Rupanya kaca rumah bagian depan sudah hancur. Nada tercengang melihatnya. Ia berjalan perlahan, tetapi berhasil dicegah oleh Galang.


“Jangan ke sana. Biar gue aja yang cek.”


Pria itu berjalan pelan, dan melihat sebuah bongkahan batu yang tergeletak di pinggir jendela. Galang menggenggam erat batu tersebut. Ia mengeratkannya dan mencoba untuk menganalisis dari mana kira-kira batu itu berasal. Kondisi bagian depan rumah Nada sudah hancur.


Tidak hanya kaca saja yang pecah, tetapi beberapa tanaman yang ada di depan rumahnya sudah porak poranda. Nada tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Ketika hendak kembali, Galang tidak sengaja menemukan secarik kertas yang di dalamnya terdapat batu kecil. Ia kemudian membuka kertas tersebut. Sebuah tulisan tergores di dalam kertas itu.


HIDUP LO DAN TEMAN-TEMAN LO NGGAK AKAN TENANG


Tulisan itu sangat jelas dengan tinta merah. Galang meremasnya kembali. Ia melangkahkan kaki menghampiri Nada yang masih kebingungan. Keadaan menjadi keos karena kejadian itu. Galang mencoba untuk menenangkan teman-temannya.


“Kalian sebaiknya segera pulang. Jangan sampai ada yang pulang sendiri,” teriak Galang.


Semua mengangguk mengerti akan arahan yang diberikan oleh Galang.


Sementara itu, Nada menatap wajah Galang, “Apa yang udah terjadi Gal?”


Galang menggelengkan kepalanya pelan, “Gue juga nggak tau. Tapi, gue coba buat cari tau sama anak-anak yang lain.”


“Gue ikut,” pinta Nada.


“Lo jangan lakuin hal bodoh! Ini berbahaya. Lo sama Eliana tetap di rumah, biar satpam yang jaga kalian di sini.”


“Tapi Gal, ini rumah gue. Gue juga berhak tau apa yang udah terjadi di sini?” Nada terus saja memaksa.


Galang menghela napas panjang, “Ya udah kalo gitu. Nanti kita ketemu di pos penjaga. Kita lihat rekaman cctv.”


Nada bersikeras untuk ikut, dan akhirnya Galang mengizinkan. Pria itu tidak ingin terjadi sesuatu pada Nada. Galang mencoba untuk menghubungi Cakra dan Tiger, tetapi tidak berhasil. Tanpa pikir panjang, Galang mengendarai motor menuju markas Warriors. Ia bertemu dengan Cakra dan Tiger di sana.


“Lo kenapa Gal?” Cakra menyernyitkan dahi ketika melihat Galang datang dengan napas yang memburu.


“Ada yang nyerang rumah Nada. Dan mereka melempar ini.” Galang memberikan secarik kertas yang ia temukan.


“Bajingan! Siapa yang lakuin ini?”


“Gue juga nggak tau. Bantu gue selidikin ini.”


Cakra dan Tiger setuju untuk membantu Galang.


Mereka kemudian pergi ke komplek perumahan Nada. Kali ini Galang ingin melihat cctv yang ada di sekitar rumah Nada. Ia akan mencari tahu siapa yang sudah membuat kerusuhan di sana. Ketika sampai pos penjaga, Galang mendapati seorang pria paruh baya sedang bersantai di sana.


Ia meminta agar pria itu menunjukkan rekaman cctv ketika kejadian. Awal mula tidak ada yang aneh di sana. Tetapi, beberapa menit kemudian. Ada sosok pria yang berpakaian hitam mulai muncul. Galang dan kedua temannya serta Nada yang juga ada di sana menyimak dengan seksama. Mereka terus mengamati setia gerak-gerik dari pria mencurigakan itu.