
Tarikan tangan tersebut menyebabkan Nada merintih kesakitan. Ketika mereka hendak keluar, sosok Tiger menghalangi jalan mereka berdua. Nada dan Galang terdiam. Kemudian Galang melepaskan tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Nada dengan erat.
“Hai Cantik, udah lama ya gak ketemu. Oh iya Bos, gimana kalau tour kita ajak dia aja?” Tiger memberikan usulan.
“Gak bisa, dia bukan anggota Warriors,” jawab Galang dengan tegas.
“Gue yakin kalau Nada nggak akan merepotkan. Gue yang tanggung jawab.”
“Kayaknya nggak perlu deh. Gue nggak suka ikutan geng motor kayak gitu,” sahut Nada.
“Nah, lo dengar sendiri ‘kan? Lagi pula gue mau ajak Tasya.”
Tidak mau membuang waktu terlalu lama, Galang bergegas mengajak Nada untuk meninggalkan tempat itu. Terdapat pancaran kekecewaan dalam wajah Tiger. Padahal ia sangat berharap jika Nada ikut bersama dengan dirinya. Selain cantik, Nada juga dapat bergaul dengan siapa pun. Tatkala melihat temannya sedang bersedih, Davin mendekati dan menepuk pundaknya dengan keras.
“Kita memang perlu berguru sama Galang kalau soal mendapatkan wanita. Gue yakin nggak akan mudah mendapatkan Nada,” ujarnya berbisik.
Tiger setuju dengan itu, “Dia itu langka, Bro. Cantik, menarik, dan galak-galak manja.”
Semua orang yang ada di situ tertawa terbahak-bahak. Rupanya Nada mempunya banyak penggemar. Walau hanya baru beberapa kali ia datang, Nada mampu merebut perhatian anggota Warriors. Setelah itu, Tiger dan Davin kembali duduk. Suasana markas terasa tenang. Beberapa anggota lainnya sedang bermain game, dan yang lainnya tengah mempersiapkan acara besar mereka yang akan dilaksanakan minggu depan.
**
Di tempat lain.
Galang dan Nada telah sampai di rumah. Tidak lupa Nada mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Galang hari ini. Ia memberikan helm pada Galang dan memintanya untuk segera pergi. Namun, tanpa disangka Galang malah turun dari motor dan berjalan melenggang ke arah pintu. Nada menyernyitkan dahinya dan mencegah pria itu agar tidak masuk ke dalam rumah.
“Mau ngapain lo?”
“Ya mau masuk. Memangnya lo nggak ajak gue masuk dulu?” Galang kembali melangkahkan kakinya.
Nada geram dengan itu, sekuat tenaga ia menarik tangan pria tersebut. “Gue nggak izinin lo masuk! Mending lo pergi sana!”
“Nggak sopan sama tamu. Gue haus tau!”
Pria itu tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Nada. Pintu terbuka lebar sehingga memudahkan Galang untuk masuk ke dalamnya. Rumah dalam keadaan sepi. Dengan santainya Galang duduk dan meletakkan tas di sofa. Sementara Nada terus saja menggerutu. Ia tidak habis pikir dengan sikap Galang akhir-akhir ini.
Ia pun ikut duduk bersama dengan pria itu. Tidak lama kemudian, Bi Surti datang. Wajah Galang langsung berubah drastis. Tetapi Nada masih pada ekspresi yang sama. Wajahnya datar, kedua tangan terlipat sempurna di dada.
“Den Galang dan Non Nada mau minum apa? Biar Bibi siapkan,” ucap Bi Surti dengan lembut.
“Nggak usah, Bi. Dia mau pergi sekarang,” sahut Nada.
“Jus jeruk aja Bi. Kalau bisa sama makan siang sekalian ya Bi?” pinta Galang.
Nada memutar bola matanya malas, “Lo itu ngerepotin banget ya? Kenapa nggak pulang aja sih?”
“Ini semua sebagai ucapan terima kasih karena hari ini gue udah nolong lo.”
“Ck!” Nada berdecak kesal.
Dalam waktu singkat, Bi Surti sudah menyiapkan semua permintaan Galang dan Nada. Kebetulan hari ini Bi Surti sudah membuat mie ayam kesukaan Nada. Ia menghidangkannya untuk dua remaja itu.
“Huft… Terima kasih banyak, Bi. Masakan Bibi memang enak banget,” puji Galang.
“Sama-sama, Den. Mie ayam itu makanan kesukaan Non Nada. Jadi, seminggu sekali Bibi buat.”
“Oh ya? Selain itu Nada suka apa Bi?”
Pertanyaan Galang berhasil membuat kedua mata Nada membulat sempurna.
“Ngapain lo tanya gitu? Kepo banget jadi orang.”
“Ya ‘kan gue cuma pengen tau aja.”
“Tengil banget jadi orang,” ketus Nada.
Mereka selalu saja bertengkar. Bagai seekor anjing dan kucing yang tidak akan pernah akur sampai kapan pun. Selesai makan, Galang bersantai dengan ponsel di tangannya. Sedangkan Nada sudah mengganti pakainnya. Ia berjalan menuruni anak tangga menggunakan sandal bulu miliknya.
Gadis itu terlihat sangat menggemaskan. Bahkan Galang sampai tidak berkedip tatkala Nada berjalan sampai gadis itu benar-benar duduk di sampingnya. Nada merasa ada yang aneh dengan Galang, ia kemudian mengibaskan rambutnya sehingga mengenai wajah pria itu.
“Terpesona lo sama kecantikan gue?” tanya Nada.
Galang tiba-tiba gugup, “Ng-nggak. Siapa juga yang terpesona? Pacar gue jauh lebih cantik daripada lo.”
“Oh ya? Mungkin pacar lo memang cantik. Tapi sayang, dia buta. Nggak bisa bedain mana buaya sama kadal, hahahah.”
Nada tertawa terbahak-bahak mendengarkan celetukannya sendiri. Sampai membuat wajahnya merah akibat tidak bisa menahan ketawa. Ditambah, ekpresi wajah Galang datar. Ia sadar bahwa gadis itu sudah mengejeknya sore ini. Ingin rasanya Galang membalas, tetapi ia mencoba untuk tetap bersabar. Beberapa kali Galang menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan.
“Udah?” Galang kembali pada ponselnya.
“Hahah, udah sih. Tapi gue mau tahu, kenapa lo bisa jadi buaya? Terinspirasi dari mana gitu?” Nada berucap seraya menatap tajam ke arah Galang. Ia sungguh penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh pria itu.
“Memangnya lo nggak sadar kalau gitu itu tampan dan pemberani. Udah pasti banyak wanita yang takluk sama gue.”
Nada menyernyitkan dahinya keheranan, “Hah?! Tampan? Tampang kayak pulu-pulu gini dibilang tampan? Hahaha…”
“Kurang ajar ya lo!” Galang tersulut emosi.
Entah sudah berapa kali Nada selalu saja melontarkan ejekan untuk dirinya. Tetapi sejauh ini Galang masih terpantau sabar. Selagi saling mengejek, terdengar suara mobil datang. Awalnya Nada tidak mempedulikannya, hingga ia tersadar ketika Galang meraih tas dan hendak berdiri.
“Lo mau ke mana?” tanya Nada.
“Itu kayaknya orang tua lo udah balik. Jadi udah waktunya gue juga balik.”
“Aih? Kenapa bisa gitu?”
Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Galang. Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Nada seorang diri. Karena penasaran, Nada lalu mengantarkannya ke depan. Ternyata Galang sedang menyapa kedua orang tuanya. Tentu saja dengan sopan dan juga ramah. Untuk pertama kalinya Nada melihat ada seorang pria yang sangat sopan pada orang tua.
Bahkan mantan kekasihnya saja tidak pernah bersikap seperti itu. Diam-diam Nada tersenyum tipis. Hampir tidak diketahui oleh orang lain. Tidak lama kemudian, Galang pulang dan pergi dari rumah itu.
“Bisa sopan juga tuh anak,” gumam Nada dalam hatinya.