King Of Buaya

King Of Buaya
Kecurigaan


Sementara Galang dan Tiger pergi, dua pria anggota Warriors tengah duduk dengan santai seraya menikmati segelas kopi hangat. Dua pria itu adalah Cakra dan Davin. Walau terkadang mereka sering bertengkar, tetapi tidak bisa dipungkiri jika keduanya bagai amplop dan perangko, bagai bunga dan kumbang. Di keheningan malam, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Cakra.


“Vin, Reynan mana?” tanya Cakra pada temannya.


Davin hanya mengangkat bahunya sedikit.


“Sejak kejadian tadi, gue nggak lihat tuh anak. Apa tadi dia kabur ya? Tapi kenapa dia kabur? Dia ‘kan anggota penting Warriors.”


“Ya mana gue tau. Emang gue Emaknya yang harus tau segala sesuatu tentang Reynan,” protes Davin.


“Tapi Vin, gue ngerasa ada yang aneh sama tuh anak.”


“Jangan berprasangka buruk.”


“Yehh… Feeling gue itu selalu benar,” pungkas Cakra.


Davin pun perpikir. Sebenarnya ia juga memikirkan tentang Reynan saat ini. Ia merasa ada yang aneh dengan pria itu. Sementara Reynan merupakan salah satu anggota terpenting di Warriors. Tetapi di saat seperti ini, Reynan tidak menunjukkan batang hidungnya sedari tadi.


Davin tidak ingin menaruh prasangka buruk pada temannya. Ia kemudian memutuskan untuk beristirahat. Sebab, kejadian tadi cukup menguras energi yang ada di dalam tubuhnya. Sedangkan Cakra masih bergelut dengan pikirannya. Ia bahkan tidak sadar jika temannya sudah lebih dulu meraih mimpi indah.


“Yailah Bambang, udah tidur aja anak satu ini. Bukannya bantu mikir,” oceh Cakra.


“Udah jangan ngedumel mulu. Mending lo tidur, kita pikirin besok,” sahut Davin dengan kedua mata yang sudah tertutup.


Apa yang dikatakan oleh Davin ada benarnya. Malam semakin larut, sudah waktunya bagi mereka untuk melepas penat. Sesuai dengan amanat yang diberikan oleh sang ketua, bahwa mereka diminta untuk tetap tinggal di penginapan sampai aba-aba selanjutnya. Semua anggota Warriors menuruti perintah Galang. Mereka paham jika Galang pasti akan melakukan yang terbaik untuk Warriors.


**


Di tempat lain.


“Gimana ini Lang? Gue kecewa banget sama kejadian tadi,” ungkap Denis ketua The Moge.


“Gue baner-bener minta maaf. Tapi semua udah diatur dengan baik. Gue juga nggak tau kenapa bisa kayak gini.”


Denis menarik napas pelan, “Atau ada salah satu dari anggota Warriors yang teledor? Lo udah cek semuanya belum?”


Galang menggelengkan kepalanya.


“Itu salah lo sendiri. Lo nggak crosscheck sebelum bertanding.”


Sang ketua hanya bisa tertunduk menahan rasa malu, “Gue atas nama Warriors meminta maaf sebelumnya atas kejadian ini. Gue janji kejadian tadi nggak akan terulang lagi.”


“Gue dan yang lainnya udah maafin. Tapi, The Moga akan pikir ulang untuk bekerja sama lagi dengan Warriors,” ungkap Denis.


Galang sangat menghargai keputusan The Moge. Sebab, semua adalah kesalahan Warriors. Setelah berbincang cukup lama, ia berpamitan untuk pergi. Ketika Galang hendak melajukan motornya, ia melihat sosok Tiger sedang mengamati dirinya. Kemudian Galang menghampiri Tiger.


“Ngapain lo di sini? Bukannya gue suruh kalian di penginapan aja,” ucap Galang.


“Gue nggak bakal biarin lo sendiri, Gal.”


Galang mengerti atas kecemasan Tiger, “Ya udah kalau gitu, kita balik ke penginapan. Udah malam.”


Mereka setuju untuk kembali ke penginapan. Mengingat waktu sudah malam dan sebaiknya jika mereka memulihkan keadaan terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, Galang berpikir keras. Ia harus mengambil tindakan atas rencana ke depannya. Mungkin ia akan menghentikan rencananya untuk pergi ke kota lain.


Semua itu ia lakukan demi menjaga Warriors dan geng motor lainnya. Sampainya di penginapan, Galang menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Sementara itu, Tiger melepaskan pakaiannya sehingga ia bertelanjang dada. Udara panas membuat keringatnya bermunculan.


“Besok kita kembali,” ujar Galang.


“Kenapa bisa gitu?” Tiger terkejut ketika mendengar ungkapan Galang.


“Batalin semua rencana dan beri tahu geng motor yang lain. Gue nggak mau kejadian tadi terulang lagi.”


Tiger tidak terima dengan keputusan itu, “Tapi Gal, citra Warriors akan terancam kalau lo batalin semuanya.”


“Ini udah keputusan gue.”


“Oke kalau gitu.”


Pria itu tidak bisa membantah ucapan sang ketua. Walau sebenarnya ia tidak setuju. Tetapi Tiger yakin jika Galang sudah memikirkan semuanya dengan sangat baik. Kemudian mereka mulai memejamkan mata masing-masing. Galang mencoba untuk tenang dalam segala situasi. Ia tidak ingin jika anggotanya ikut panik dan tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.


**


Keesokan harinya.


Semua telah berkemas barang masing-masing. Mentari telah menyambut mereka dengan suka cita. Tampak dari cahayanya yang menghangatkan. Tetapi tidak bagi Galang, perasaan bersalah terus saja menyelimuti hatinya. Ia merasa gagal menjadi pemimpin tatkala mengingat kejadian kemarin.


Di saat hendak pergi, Galang menerima sebuah pesan. Rupanya pesan tersebut berasal dari Reynan. Pria itu mengatakan jika dirinya sudah berada di depan penginapan. Galang bergegas untuk menemuinya. Reynan dan anggota Warriors yang lain memang memilih untuk menginap di tempat lain. Galang sudah mengetahui hal tersebut sebelumnya.


“Kalian baik-baik aja, ‘kan?” tanya Galang.


Mereka membalas dengan menganggukkan kepala serempak.


“Kalau gitu, kita pulang sekarang.”


“Apa nggak sebaiknya kita lanjutkan rencana awal. Sayang sekali kalau sampai gagal,” ujar Reynan.


Galang menggelengkan kepalanya pelan, “Nggak bisa, Rey. Kita harus balik sekarang.”


“Tapi lo nggak bisa ambil keputusan sepihak gitu dong, Gal. Di sini kita semua udah berkorban banyak. Tapi lo ambil keputusan gitu aja.”


Reynan tampak naik pitam. Ia seperti tidak terima dengan keputusan Galang. Sementara itu, Galang mendekati dan menepuk pundaknya secara perlahan. Ia memberikan penjelasan yang sangat konkrit. Semua itu ia lakukan demi keamanan Warriors dan geng motor lainnya.


“Gue tetap nggak setuju. Apa kalian semua setuju? Apa kalian ikut dalam mengambil keputusan itu? Kita udah berkorban waktu, tenaga, finansial, masa nyerah karena masalah sepele gitu.”


“Apa maksud lo ngomong gitu?!” timpal Cakra tidak terima.


“Udah, Cak. Jangan diperpanjang,” sahut Davin mencoba untuk merelai.


Perdebatan sengit terjadi pagi itu. Di mana Cakra tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Reynan. Begitupun dengan Reynan. Alih-alih membela teman-temannya yang sudah berkorban cukup banyak demi keberlangsungan acara tersebut. Keributan tidak bisa terelakkan. Davin terus menghalangi Cakra yang hendak melayangkan pukulan pada Reynan.


Sebagai pemuda, jiwa yang bergelora dalam diri mereka sangat tinggi. Tidak heran jika masalah sepele bisa menjadi besar ketika diselesaikan dengan pikiran yang panas. Galang kesal menyaksikan kejadian tersebut. Ia melangkah maju dan berdiri tepat di antara Cakra dan Reynan. Tatapan tajam mengarah pada kedua pria itu.


“CUKUP!!! Kalian bisa nggak, jangan kayak anak kecil,” bentak Galang.


“Lo yang kayak anak kecil, Gal. Lo anggap kita apa? Pajangan doang?! Jawab!!!” Reynan semakin tersulut emosi.


Galang berusaha tetap tenang agar keadaan tidak semakin menegang. Ia tidak ingin ada perkelahian di pagi hari.