King Of Buaya

King Of Buaya
Mangkuk Mematikan


Keheningan terjadi beberapa saat, hingga datang ibu kantin yang membawa makan siang mereka. Mata Nada langsung tertuju pada semangkuk mie ayam kegemarannya. Tidak mau membuang waktu terlalu banyak, Nada melahap mie ayam dan menambahkan empat sendok sambal ke mangkuknya. Ketika mengetahui bahwa Nada menyukai pedas, Galang menghentikan aksi gadis itu. Sontak Nada terdiam dan mereka saling menatap untuk beberapa detik.


“Kenapa sih?” protes Nada.


“Sambal ini pedas banget. Lo yakin mau makan pedas?”


Kedua alis Nada terangkat sempurna, “Sejak kapan lo perhatian sama gue?”


“Ya ampun Nad, gue itu selalu perhatian sama lo. Lo aja yang nggak nyadar.”


“Hem… Masa?” Bukannya berterima kasih karena sudah diberi perhatian, Nada malah menantang Galang.


“Makan punya gue aja.”


Pria itu kemudian memberikan mangkuk miliknya. Kebetulan Galang memang tidak terlalu menyukai pedas. Ia menukar posisi makannya dengan makanan milik Nada. Terlihat perbedaan yang kontras antara dua makanan tersebut. Mie ayam milik Galang tampak pucat, sedangkan milik Nada terlihat merah merona.


Ketika sedang mengaduk makanan, Galang beberapa kali meneguk salivanya. Ia seperti tidak mampu untuk menelan makanan tersebut. Sementara itu, dalam diam Eliana memperhatikan mereka berdua. Walau ia terlihat fokus, tetapi Eliana mendengar setiap percakapan di antara keduanya.


“Kalian itu cocok banget ya. Saling melengkapi,” celetuk Eliana.


“Lo ngomong apa sih El? Gue sama dia? Ogah gila.” Nada memutar bola matanya malas.


“Yehhh.. Siapa juga yang mau sama lo?”


“Udah jangan berantem. Gue mau tentram damai makan di sini. Kalo kalian mau berantem, di lapangan aja sana.”


Nada menjawab dengan deheman panjang seraya kembali melahap mie ayam.


Makanan itu terasa hambar karena tidak pedas. Tetapi berbanding terbalik dengan Galang. Pria itu sudah berlumuran keringat di wajahnya. Tidak hanya itu saja, tetapi kini bibirnya terlihat memerah. Ia menahan rasa pedas yang sangat dahsyat. Tidak sengaja Nada melihatnya, ia segera memberikan minuman kepada Galang.


“Kalo nggak kuat makan pedas, jangan sok ngelarang gue. Kena batunya ‘kan?” oceh Nada.


Gluk… Gluk… Gluk…


Dalam waktu sekejap minum itu habis. Bahkan masih kurang dan Galang harus menambahnya lagi. Nada dan Eliana tertawa menyaksikan kejadian tersebut. Mereka belum pernah melihat Galang seperti ini sebelumnya.


“Bukannya bantu, malah ketawa.” Galang menyeka keringat yang mengalir di dahinya.


“Hahah… Ya habisnya lo sok banget kuat makan pedes,” sahut Eliana.


“Udah jangan dimakan lagi. Sakit perut baru tahu rasa lo.”


Sepertinya kali ini Galang setuju dengan ucapan Nada. Ia menyingkirkan mangkuk mematikan itu. Untuk ke depannya, Galang bertekad tidak makan pedas seperti itu lagi. Sungguh, Nada adalah wanita kuat yang pernah ia temui. Bahkan Nada tidak bergeming ketika level pedas ditambahkan ke mangkuknya.


Bel masuk sudah berbunyi, tidak terasa mereka harus segera masuk ke dalam kelas dan melanjutkan pelajaran. Beruntung Nada dan Eliana telah menyelesaikan makan siang mereka. Sekarang kondisi Nada sudah pulih kembali. Ia siap untuk belajar dan mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan oleh guru di kelas nanti.


**


“El, jadi ‘kan rencana kita ke Mall?” Nada bertanya seraya memasukkan buku ke dalam tasnya.


Eliana mengangguk pelan, “Jadi dong. Gue juga suntuk di rumah mulu.”


“Oke kalo gitu.”


Baik Nada maupun Eliana memang sering kali bernyanyi di dalam mobil. Apalagi ditambah dengan cuaca mendung seperti sekarang. Memutar musik galau adalah kegemaran mereka berdua. Nada berteriak sekencang-kencangnya, melantunkan lagu yang otomatis terputar di dalam mobilnya.


Tanpa sadar mereka telah sampai di tempat tujuan. Udara yang dingin membuat Nada harus memakai jaket. Ia mengenakannya dan keluar dari mobil. Kemudian mereka berjalan mencari store pakaian. Sebagai target utama, kali ini Nada ingin berbelanja pakaian dan beberapa tas untuk menunjang penampilannya.


“Yang ini gimana Nad?” tanya Eliana memberikan sebuah tas kecil berwarna biru muda.


Nada mengamatinya beberapa saat, “Nggak cocok. Buat lo terlalu terang.”


“Kalo yang ini?”


“Boleh sih, tapi modelnya kayak ibu-ibu,” komentar Nada pada tas dengan model yang tidak cocok untuk Eliana.


Karena tidak menemukan tas yang cocok, Nada berjalan untuk mencari kembali. Ia melihat beberapa koleksi tas yang ada di sana. Di saat sedang memilih, Nada tertarik pada sebuah tas berwarna hitam. Tas tersebut memang tidak terlalu besar, tetapi sangat elegan jika dipakai.


Tanpa pikir panjang, Nada langsung mengambilnya. Tetapi, ketika dirinya hendak mengambil tiba-tiba saja sebuah tangan meraih tas tersebut. Sontak Nada terkejut dan menoleh. Rupanya orang itu adalah Sasha.


“Sha, balikin itu tas gue,” ujar Nada.


“Tas ini belum dibayar. Jadi, belum ada pemiliknya.” Sasha melenggang pergi membawa tas tersebut.


“Ck! Padahal gue duluan yang lihat. Kenapa sih rusuh banget jadi orang.” Nada kesal dan melipat kedua tangan di dadanya.


“Lo kurang beruntung. Ups! Memang lo nggak pernah beruntung.” Kini Sasha malah mengejek Nada.


“Apaan sih lo Sha?! Ayo Nad, kita pergi aja dari sini.”


Eliana menarik tangan sahabatnya itu untuk menjauh. Sejujurnya Nada sedih sekali. Padahal ia sangat menyukai tas itu. Tetapi sayangnya Nada tidak bisa memilikinya. Seakan mengerti dengan suasana sahabatnya, Eliana kemudian pergi dan berinisiatif untuk membelikan ice cream kesukaan Nada.


Selama Eliana pergi, gadis itu duduk pada sebuah kursi yang kosong. Raut wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan. Ingin rasanya Nada marah, tetapi ia tidak ingin menimbulkan keributan di keramaian seperti ini. Jika sampai itu terjadi, maka ia akan berurusan dengan pihak keamanan. Nada menyandarkan tubuhnya pada kursi tersebut, menunggu adalah hal yang paling membosankan untuk dirinya.


“Huft… Eliana mana sih?” gerutunya pelan.


“Ini buat lo.”


Secara mengejutkan ada seseorang yang mengulurkan tangannya. Pada tangan itu terdapat sebuah paper bag berwarna cokelat. Nada tertegun sejenak, kemudian ia menengadahkan kepala. Alangkah terkejutnya Nada, ia mendapati Galang berada tepat di depannya. Segera Nada bangkit dari duduknya.


“Kenapa lo bisa ada di sini?” ekpresi wajah Nada masih terkejut.


“Jangan banyak tanya. Tadi lo mau ini ‘kan?” Galang menyodorkan paper bag yang masih melingkar di jemarinya.


“Apa ini?”


“Buka aja,” perintah Galang.


Nada kemudian membukanya, dan ternyata tas yang ia inginkan kini berada di tangannya. Seakan tidak percaya, Nada sampai membelalakkan kedua matanya dengan sempurna. Bahkan terlihat seperti akan lepas dari tempatnya.


“I-ini serius?” Nada tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Galang mengangguk, “Serius. Kapan gue bohong?”


Desir darahnya mengalir sangat cepat. Degub jantungnya pun berdetak tidak beraturan. Sementara itu, dari kejauhan ada yang memantaunya. Ya, Eliana menyaksikan kejadian itu. Ia terhenti dan mendengarkan semua percakapan antara Nada dan Galang. Eliana terlihat sepert patung yang tidak dapat bergerak dengan tangan yang masih menggenggam dua buah ice cream.