King Of Buaya

King Of Buaya
Adu Domba


Akhirnya semua bisa dikondisikan. Tanpa menunggu waktu lama, Galang dan anggota Warriors lainnya bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Di dalam hati Reynan masih menggebu-gebu rasa amarah. Ia tidak terima atas tindakan yang dilakukan oleh sang ketua tersebut.


Butuh waktu berjam-jam hingga akhirnya mereka sampai di markas. Galang meminta agar teman-temannya beraktifitas seperti biasa. Berangkat sekolah dan mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Walau sudah terkendali, tetapi tidak bisa dipungkiri jika ada emosi di antara para anggota Warriors. Galang dapat merasakannya dengan sangat jelas.


**


Di sekolah.


“El,” teriak Nada dari kejauhan.


Suara itu tentu tidak asing bagi Eliana. Ia sangat mengenalnya sejak beberapa tahun ini. Pagi itu Nada berlari kecil menghampiri sahabatnya. Ia terasa damai dalam beberapa hari terakhir. Sebab, tidak adanya Galang membuat kehidupannya menjadi tentram. Ia dapat melakukan segala sesuatu tanpa harus berurusan dengan pria itu.


“Tumben banget lo jam segini udah sampai sekolah,” ucap Eliana.


“Iya dong. Gue ‘kan anak yang pintar, baik hati, dan rajin menabung.”


Spontan Eliana memutar bola matanya malas.


“Oiya El, sepulang sekolah kita ke Mall yuk. Udah lama banget kita nggak belanja.”


“Tapi lo yang traktir ya,” pinta Eliana.


Nada menyenggol tubuh mungil sahabatnya itu, “Yaelah, kalo makan tenang aja. Gue yang bayar.”


“Nah gitu dong, gue ke toilet dulu. Lo ke kelas aja duluan.”


Nada mengangguk mengerti. Ia segera mempercepat langkah kakinya agar sampai di kelas. Sementara itu, Eliana memutar arah untuk pergi ke toilet. Ia hendak membetulkan riasan rambutnya yang sedikit berantakan akibat angin kencang pagi ini.


Udara di luar memang sedang tidak bersahabat. Angin kencang dan awan yang berubah menjadi kelabu menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan yang sangat deras. Ketika sampai di toilet, Eliana melihat geng Sasha juga berada di tempat itu. Seakan tidak peduli, Eliana mulai menata kembali rambutnya.


Keadaan hening beberapa menit, hingga Eliana tersadar ada langkah kaki yang mendekatinya. Ia juga dapat melihat dengan jelas dari pantulan cermin yang ada di depannya. Rupanya Sasha mencoba untuk mendekatinya. Kini mereka saling beradu pandang pada pantulan wajah yang muncul di cermin.


“Lo itu bodoh!” hardik Sasha pelan tapi pasti.


Seketika Eliana menoleh dan memberikannya tatapan tajam, “Maksud lo apa tadi?! Hah!!”


Kini Eliana berhasil mendorong tubuh gadis itu. Bukannya kesal, Sasha menyunggingkan bibirnya. Ia mengibaskan bekas dorongan Eliana di bahunya. Gadis itu kembali mendekat. Sangat dekat sehingga tidak ada rongga yang jauh di antara mereka.


“Ya, lo itu BODOH,” ulangnya lagi.


“Diem lo Babi! Pagi-pagi udah ngajak ribut aja.” Eliana mulai tersulut emosi.


Sasha tertawa terbahak-bahak bersama dengan kedua temannya, “Hahaha… Apa lo nggak sadar? Kalau selama ini lo itu dimanfaatin sama Nada.”


“Maksud lo apaan? Ngomong yang jelas!”


“Lo mantannya Galang ‘kan? Dan Nada nggak setuju kalau lo pacaran sama Galang. Dengan dalih kalau Galang itu bukan yang terbaik buat lo, padahal dia yang suka sama Galang. Makannya dia suruh lo putus dari Galang.” Sasha memberikan penjelasan.


Eliana terdiam sejenak, “Gue nggak ngerti sama apa yang lo omongin. Yang jelas, lo itu jangan ikut campur dan sok tau urusan gue sama Nada atau sama Galang.”


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Eliana pergi meninggalkan toilet. Ia tidak ingin berurusan dengan wanita ular seperti Sasha. Rasa kesal kini timbul di hati Eliana. Ia tidak suka jika ada orang yang menjelek-jelekkan sahabatnya sendiri. Saat sampai kelas, Eliana duduk dengan kasar.


Ia meletakkan tas dan membuat kegaduhan. Nada yang sedang asik dengan ponselnya langsung menoleh. Ia memperhatikan Eliana yang sedang menekuk wajahnya serta melipat kedua tangan di atas meja.


“Lo kenapa El? Datang-datang kayak jemuran belum di setrika aja.”


Eliana menggelengkan kepala, “Nggak papa. Gue cuma lapar aja,” balasnya membual.


Lagi dan lagi, Eliana menggelengkan kepalanya pelan.


Nada menghela napas panjang, “Ya udah kalo gitu, nanti bel istirahat kita langsung ke kantin biar lo nggak kelaparan.”


Gadis itu kembali fokus pada ponsel yang ada di tangannya. Sedangkan Eliana terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Sasha di toilet tadi. Selagi berpikir, tiba-tiba saja ia mendengar suara kursi yang diseret. Eliana dan Nada melirik secara bersamaan.


Rupanya sosok yang selalu bertengkar dengan Nada telah kembali. Ya, siapa lagi kalau bukan Galang. Gayanya yang tengil kini sudah berada tepat di depan Nada. Spontan Nada memutar bola matanya malas. Ia enggan untuk berurusan dengan pria itu dan lebih memilih untuk bermain dengan gawainya.


“Apa kalian nggak kangen sama gue?” tanya Galang.


“Percaya diri lo terlalu tinggi,” balas Nada.


“El, kamu kangen sama aku nggak?” Kini Galang beralih pada Eliana seraya mengedipkan sebelah matanya.


Eliana hanya diam saja dan memberikan tatapan aneh.


“Kalian nggak asik. Padahal gue berharap kalau kalian bakal sambut gue di sekolah.”


Keduanya lagi-lagi diam tanpa ekpresi.


“Galang, kamu ke mana aja? Kenapa kamu izin sekolah lama banget.”


Suara melengking ciri khas Sasha memenuhi ruangan itu. Bahkan Nada sampai menutup kedua telinganya agar suara tersebut tidak menembus indera pendengarannya. Galang tidak begitu mempedulikan kehadiran Sasha di sampingnya. Ia terus mencoba untuk menganggu Nada dan berinteraksi dengannya.


“Selamat pagi anak-anak.” Pak Guru sudah datang, membuat semua siswa bergegas menuju tempat duduknya masing-masing.


“Eh, kamu ‘kan bukan kelas ini. Kenapa ada di sini?” tanya Pak Guru.


Sasha menyengir kuda, “Hehehe. Maaf Pak, saya permisi.”


Segera Nada pergi dari kelas itu. Pelajaran dimulai seperti biasanya. Selama pelajaran berlangsung, Eliana diam saja tidak berbicara sedikit pun. Ia lebih banyak menulis dan memperhatikan guru. Begitupun dengan Nada.


Diam-diam Nada mencuri pandang ke arah sahabatnya. Ia merasa ada yang aneh dengan Eliana sejak dari toilet tadi. Walau kedua mata Nada tertuju pada papan tulis, tetapi pikirannya kosong. Tidak ada satu pun perkataan Pak Guru yang menetap di otaknya. Mungkin, pelajaran matematika itu hanya singgah dalam mata tanpa masuk ke dalam otak atau ingatannya.


Sampai akhirnya, bel istirahat telah berbunyi. Pak Guru mengakhiri pelajaran pada pagi hari ini. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Ada yang melepas lapar dan dahaga ke kantin, ada juga yang lebih memilih untuk menetap di dalam kelas.


“El, katanya tadi lo lapar. Kantin yuk!” ajak Nada.


“Iya,” balas Eliana seperti bermalas-malasan.


Ketika sampai kantin, Nada langsung memesan beberapa makanan dan juga minuman. Sementara Eliana duduk untuk menunggu. Tidak lama kemudian Galang datang dan ikut duduk bersama dengan mereka berdua.


“Nad, gue sekalian dong,” pinta Galang.


“Pesen sendiri. Punya kaki dan tangan ‘kan? Gitu aja malas,” oceh Nada.


“Minta tolong sekali doing.” Galang bangkit dari tempat duduknya untuk memesan makanan.


“Nad, lo kenapa benci banget sama Galang?” tanya Eliana.


“Dia itu nyebelin. Cowok paling nyebelin yang pernah gue temui,” balasnya.


Eliana mengangguk-anggukkan kepala.


Galang telah kembali dan duduk tepat di depan Nada. Mereka menunggu sampai pesanan datang.