
“Benar ‘kan apa yang gue bilang? Nada itu sengaja menjauhkan lo dari Galang. Supaya dia dekat dengan Galang.” Suara yang tiba-tiba datang membuat Eliana memutar kepalanya.
“Sejak kapan lo ada di sini?”
“Jadi, apa lo masih anggap Nada itu sahabat? Padahal dia udah rebut pacar sahabatnya sendiri,” lanjut Sasha.
“Diem lo! Berisik!”
Eliana pergi meninggalkan Sasha seorang diri. Melihat kepergian Eliana, Sasha tersenyum puas. Ia akan terus menghasut Eliana, sampai dua sahabat itu saling bertengkar. Eliana berjalan dengan terburu-buru. Ia baru menyadari jika ice cream yang ada di tangannya hampir saja meleleh.
Karena terburu-buru, Eliana kehilangan keseimbangannya. Ia hampir saja terjatuh, namun beruntung Galang menyelamatkannya. Kini mereka terlihat berpelukan. Kedua mata Eliana terpaku pada wajah Galang yang sekarang berada sangat dekat dengan dirinya.
“Eh, maaf gue nggak sengaja.” Eliana bangkit dan melepaskan tangan Galang di pinggangnya.
“Hati-hati kalo jalan. Nanti kamu jatuh.”
Eliana menjawab dengan menganggukkan kepala, “Nad, ini ice cream buat lo.”
“Wahh… Lo memang sahabat terbaik gue, El. Lo tau banget apa yang gue suka.”
“Tentu dong. Gue tau semuanya tentang lo.”
Mereka tampak bergembira. Sampai tidak sadar bahwa sekarang mereka telah meninggalkan Galang jauh di belakang. Tetapi pria itu berhasil mengikutinya. Nada yang teringat akan sesuatu, menghentikan kedua kakinya. Gadis itu kemudian memutar tubuh dan berhadapan langsung dengan Galang.
“Oh iya gue cuma mau kasih ini aja,” ucap Nada seraya memberikan kembali tas tersebut.
“Gue beliin ini sebagai hadiah aja. Nggak lebih, lagipula gue lagi banyak duit.”
Nada memutar bola matanya malas, “Gue kayaknya nggak bisa terima hadiah ini.”
“Terima aja, Nad. Lumayan ‘kan,” bisik Eliana.
Apa yang dikatakan Eliana ada benarnya. Nada berpikir sejenak lalu tersenyum ke arah Galang. Membuat pria itu kebingungan dan berakhir dengan menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
“Btw, terima kasih buat tasnya,” ujar Nada memperlihatkan deretan giginya yang putih dan bersih.
Galang tersenyum tipis, “Iya, tapi semua itu nggak gratis.”
“Hah?! Bajingan lo! Ada maunya ternyata.”
“Hahaha… Tlaktir gue mie ayam besok di kantin,” balas Galang diiringi dengan gelak tawa.
“Oke, gampang. Bisa diatur.”
Setelah itu, Nada dan Eliana memutuskan untuk pulang. Mengingat hari sudah hampir malam. Sementara Galang pergi untuk menjemput ibunya. Tanpa mereka sadari telah menghabiskan waktu cukup lama untuk berbelanja. Walau hasil yang didapatkan tidak terlalu banyak.
Sampainya di rumah, Nada mendapati kedua orang tuanya tengah duduk santai. Mereka terlihat romantis malam itu. Duduk berdua, menikmati secangkir teh hangat dan camilan ringan. Nada lalu menghampiri dan tidak lupa untuk menyapanya.
“Dari mana saja Nada?” tanya Veny.
“Iya, Bun. Tadi habis belanja sama Eliana.”
“Di mana Eliana? Bunda udah lama banget nggak ketemu.”
Nada duduk tepat di samping sang ibunda, “Iya Bun, kita lagi banyak tugas di sekolah. Besok Nada sampaikan supaya main ke rumah.”
“Nada, bagaimana dengan konsep ulang tahun kamu?” tanya Firman.
Ketika mendengar perkataan ayahnya, Nada diam sekejap. Otaknya seperti berhenti berfungsi dalam beberapa detik. Setelah mengingat kembali, Nada menepuk dahi dengan sangat kencang. Bagaimana bisa ia melupakan hari paling spesial dalam hidupnya.
“Ya ampun, Ayah. Kenapa Nada bisa lupa?”
Veny tersenyum dan mengelus lembut kepala puteri semata wayangnya itu, “Kamu ini ada-ada saja. Biar nanti Bunda yang atur semua. Kamu undang semua teman-teman sekolah.”
“Nanti Bunda atur jadwalnya.”
Nada tersenyum bahagia, “Harapan Nada, semoga Ayah dan Bunda ada di hari ulang tahun Nada.”
Kedua pasangan itu saling menatap satu sama lain.
Sejujurnya mereka menyadari bahwa selama ini tidak meluangkan waktu untuk puteri tercintanya. Tetapi tuntutan pekerjaan mengharuskan Veny dan Firman meninggalkan Nada seorang diri di rumah ini. Setelah berbincang cukup panjang, Nada bangkit dari duduknya.
“Sayang,” panggil Veny dengan lembut.
“Iya, Bun. Kalau nanti Bunda dan Ayah nggak bisa hadir juga nggak papa.” Kini wajah Nada tertunduk lemas.
“Kamu istirahat aja. Kelihatannya lelah sekali.” Veny memberikan usulan.
Nada hanya mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun.
Gadis itu berjalan menuju kamar. Rasa lelah mulai menyerang sekujur tubuhnya. Walau hanya pergi ke Mall, tetapi terasa menaiki gunung. Sebelum beristirahat, terlebih dahulu Nada membersihkan tubuhnya yang lengket akibat keringat. Selesai membersihkan tubuh, Nada menghempaskannya ke tempat tidur. Ia termenung beberapa saat.
“Nada hanya berharap Ayah dan Bunda itu ada di samping Nada. Nada rindu sekali saat-saat kita selalu bersama,” gumamnya dalam hati seraya membayangkan masa kecil yang sangat indah bersama dengan kedua orang tuanya.
**
Pagi yang cerah dan udara yang segar sangat terasa. Matahari mulai menampakkan sinar hangatnya. Gemerlap lampu mulai meredup, diganti dengan silaunya sinar mentari pagi itu. Sayup-sayup gadis berambut panjang itu menghalau kedua mata dengan tangannya. Ia merasa ada seseorang yang telah menganggu tidur lelapnya.
“Siapa yang buka tirai?” ujarnya di balik bantal berwarna putih.
“Non, ini sudah siang. Apa Non nggak berangkat sekolah?” Suara familiar itu selalu saja terdengar di setiap pagi.
“Bibi, Nada masih ngantuk. Bisa nggak nanti aja berangkat sekolahnya?”
Bi Surti menghela napas panjang, “Pesan Nyonya tadi pagi, Non Nada jangan lupa untuk membuat undangan ulang tahun.”
“Memangnya Bunda ke mana, Bi?”
“Nyonya udah berangkat Non.”
“Astaga aku lupa. Setiap pagi mana ada mereka di rumah.”
Gadis itu kemudian membuka selimut yang telah menutupi tubuhnya semalaman. Bi Surti memberikan senyuman terbaiknya pagi ini. Hanya Bi Surti yang selalu setia menemani Nada dan menjadi teman keluh kesahnya. Nada terdiam sejenak, ia mengumpulkan nyawa yang masih berkutat dengan mimpinya semalam. Setelah dirasa cukup, Nada lalu beranjak dan pergi bersiap. Sementara Bi Surti membereskan semuanya dan menyiapkan sarapan pagi untuk nona mudanya itu.
Tap… Tap… Tap…
Suara langkah kaki terdengar sampai ke penjuru ruangan. Dengan gayanya yang khas, dan kedua tangan yang memegangi tas. Nada berjalan menuju meja makan. Alangkah terkejutnya Nada, tatkala ia mendapati ada Eliana di sana. Tidak tahu bagaimana cara Eliana bisa sampai di sana sepagi ini.
“Sejak kapan lo datang ke sini?” tanya Nada.
“Numpang makan ya. Gue laper banget.” Eliana melahap makanan tersebut.
“Yaelah… Udah masuk aja tuh makan ke mulut.”
Eliana menoleh kemudian menyengir kuda.
“Lo nanti bantu gue siapin untuk pesta ya.”
“Pesta apa?” Bahkan Eliana pun telah melupakan ulang tahun sahabatnya.
“Sehat lo Neng? Gue ‘kan mau ulang tahun.”
“Oh iya gue lupa. Oke siap bos!” Eliana terlihat seperti tidak ada dosa.
Kedua gadis itu melanjutkan kembali sarapan paginya. Waktu sudah siang, dan mereka harus bergegas menuju sekolah. Jika sampai terlambat, maka hukuman menanti di depan mata. Baik Eliana maupun Nada, tidak ingin jika sampai hal itu terjadi. Nada menancap gas sekencang mungkin, agar cepat sampai dan tentunya tetap selamat.