
Arya pun duduk kembali di tempatnya dan kemudian kembali melihat Fiya dan melirik ke arah Dimas dan Farhan.
"Khanza, mata gue sebenernya tadi di apain si sama lo. Kok gue jadi selalu terbayang-bayang Farhan?"
Fiya sedikit tersenyum dan dia pun melihat ke arah Farhan dan Dimas sambil mengedipkan sebelah matanya. Mereka berdua mengerti dan langsung berpindah di belakang Arya.
"Kalian berdua liat ke belakang kalian."
Arya dan Feni melihat ke belakang mereka. Arya berteriak karena kaget melihat Farhan tepat di belakangnya sampai terjatuh.
"Aaaaakkk.....""
Keluarga Fiya dan Farhan lekas masuk ke kamar tamu. Feni pun juga membantu Arya yang terjatuh. Beruntunglah Bastian hanya menggeliat dan tidak terbangun.
"Ini kenapa? Siapa yang teriak?" tanya papa Wendi.
"Maaf, saya tadi kaget, jadi teriak." alasan Arya.
Mereka pun menggeleng dan kembali ke ruang tamu bersama dengan keluarga Fiya. Fiya sendiri Hanya cengengesan puas.
"Lo liat nggak Fen?" tanya Fiya.
"Nggak tuh." melihat ke kanan dan kirinya. "Memangnya lihat apa?" tanyanya kemudian.
"Terus waktu di perumahan tua itu, kamu melihat kami berkelahi bukan?" tanya Fiya memastikan.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kebenarannya, yang kalian lihat itu bukanlah manusia, melainkan makhluk halus."
"Apa!! Serius Za?" ucap Feni tak percaya.
"Jadi, yang aku lihat sekarang adalah hantunya Farhan? Farhan sudah meninggal?" ucap Arya tak percaya.
"Bukan begitu Arya, Feni. Dengerin gue dulu makanya."
Arya dan Feni mengangguk sambil melihat Fiya yang akan berbicara dengan serius.
"Nungguin ya..." ledek Fiya.
Feni dan Arya kecewa karena di PHP-in oleh Fiya yang seakan-akan berbicara dengan serius.
"Kebiasaan deh..." kesal Feni.
"Maaf Fen, kali ini gue serius. Hal ini sudah di ketahui oleh Arya, bahwa gue bisa melihat makhluk."
"Apaa!! Lo bisa liat makhluk, kenapa lo baru cerita?"
"Ish Feni, diem dulu.. Iya Fen, gue bisa liat makhluk sedari kecil. Dan gue juga bisa membuat orang lain melihat makhluk. Seperti yang dialami lo Ar, maaf ya.. Gue terpaksa karena itu bahaya kalau lo nggak ngeliat mereka."
"Terus, Farhan dan Dimas? Mereka masih hidupkan?" tanya Arya memastikan.
"Hah.. Dimas hidup?" ucap Feni tak menyangka sekaligus salah paham dengan omongan Fiya.
"Jadi Arya, yang lo liat sekarang itu adalah arwah Dimas. Selama ini dia juga ngelindungin gue sama Aldo. Dan... Farhan, raganya masih ada di rumah sakit. Dia koma, namun dia tidak bisa kembali ke raganya karena ada makhluk menghalanginya masuk ke raganya. Dan Arya, lo mau tetep seperti itu atau kembali seperti semula."
"Seperti ini aja, yang penting bisa liat dia."
"Feni, lo mau juga?" ucap Fiya.
"Kaga, kalau gue bisa liat mereka, nanti bangsanya juga bisa liat. Kaga kaga, gue pilih lo aja sebagai perantaranya." tolak Feni.
Arya tak mempedulikan mereka dan langsung bercengkrama dengan Farhan dan Dimas. Sebenarnya, Fiya masih merasakan lelah, dan akhirnya dia memutuskan untuk istirahat.
...*****...
Di luar kamar Fiya, orang tua Farhan dan Fiya sibuk berdebat tentang kesehatan Fiya di juga perihal mengurus Fiya.
"Pak Brian, kami akan mengurus Khanza hingga sembuh. Jadi, biarkan dia di sini dan kami akan mengurusnya. Kami melakukan ini untuk membalas budi Khanza yang sudah menolong anak kami dan juga bentuk rasa tanggung jawab kami kepada Khanza, jadi biarkanlah Khanza menginap di sini hingga dia sembuh." jelas mama Ifa panjang dan lebar.
"Bagaimana itu bisa kami percaya. Kelakuan anak kamu dulu yang sempat membuat Khanza menangis. Dan juga perlakuan atas calon menantu kalian yang menghina dan membully dia habis-habisan, bagaimana bisa kami percaya." tolak mama Ifa tegas.
"Baiklah, kami setuju, karena waktu sudah malam, kami pamit pulang dan akan menyiapkan baju untuk Khanza." kata papa Brian.
"Untuk hal itu, kami sudah siapkan. Jadi, kalian tidak usah khawatir. Dan kebetulan, makan malam sudah siap, sebaiknya kalian makan malamlah terlebih dahulu." ajak mama Ifa.
"Maaf, kami akan makan malam bersama lain kali." tolak papa Brian sambil berdiri.
Papa Wendi dan Mama Ifa juga ikut berdiri. Kebetulan di saat yang bersamaan Arya dan Feni keluar dari kamar Fiya dan langsung menuju ke ruang tamu dimana kedua keluarga tersebut berada.
"Maaf semua, Khanza sudah tidur di dalam. Saya pamit..."
Mama Ifa langsung mencegah Feni pergi dan kemudian memeluknya sekejap.
"Makanlah terlebih dahulu, ini sudah malam kan. Tante sengaja masak banyak. Mubazir kalau tidak di makan, ayo kita makan terlebih dahulu. Tidak perlu sungkan." ajak mama Ifa dengan ramah.
"Kalau begini, jadi merepotkan."
Mereka pun terpaksa menurutinya dan makan bersama di ruang makan. Sebelum orang tua Fiya pergi, mereka terlebih dahulu menjenguknya di kamar. Dia mengelus kepalanya dan mencium keningnya.
"Kamu di sini dulu ya... Cepat sembuh biar cepat pulang."
Mama Ova kembali mencium kening Fiya dan juga mencium kening Bastian lalu mengusapnya. Kemudian mereka pun pergi dari ruangan tersebut.
Sekarang giliran Farhan yang duduk di sampingnya. Dia juga mengelus kepala Fiya. Dia menggenggam tangan kanan Fiya dan mengecupnya pelan.
"Senangnya di urus sama calon mertua. Kalau lihat kalian udah akur, aku juga jadi lega."
Farhan mencium keningnya dan kemudian meletakkan kepalanya di ranjang sambil melihat Fiya hingga dia tertidur pulas tanpa melepaskan genggaman tangannya.
...*****...
Keesokan paginya, Fiya pun terbangun lebih dulu dari Arya dan Farhan. Saat Fiya membuka matanya, dia langsung melihat Farhan yang tertidur pulas tepat di depan matanya. Fiya tersenyum kecil dan kemudian mengelus kepalanya sehingga membuatnya terbangun.
Fiya yang melihat pergerakan mata Farhan, langsung menutup matanya kembali dan menyingkirkan tangan kirinya dari kepala Farhan. Farhan yang melihat ke arahnya langsung tersenyum dan mengelus pipinya dengan lembut.
"Andai aku cepat bangun dan lekas dewasa, aku pasti akan menikahimu dan melihatmu setelah terbangun dari tidur di setiap pagi. Mengobati rasa lelah setelah bekerja suatu saat nanti."
Tiba-tiba mata Fiya terbuka dan membuat Farhan kaget. Farhan juga langsung membangunkan dirinya dari samping tempat tidur Fiya.
"Halu ya bang... Sejak kapan kamu mulai bucin sampai halu begitu?" tanya Fiya heran.
"Sejak kapan kamu bangun?"tanya Farhan gelagapan.
"Mungkin 5 menit terlebih dahulu dari kamu. Dan... Ternyata kamu bisa bucin juga ya..""
"Enggak kok, siapa bilang?" jawab Farhan karena merasa malu dengan perkataan tadi kepada Fiya.
Tak lama pintu kamar Fiya terbuka, dan yang datang adalah mama Ifa dengan membawa nampan penuh berisi makanan dan minuman.
"Loh, tante Ifa, kok bisa di kamar aku?" tanya Fiya heran.
"Ini kamar kamu?" tanya mama Ifa yang mulai mengerjai Fiya.
Fiya melihat sekelilingnya dan juga samping tempat tidurnya yang masih terdapat Bastian yang tidur nyenyak di sampingnya.
"Loh, kirain aku di rumah sendiri. Kenapa mama sama papa nggak bawa pulang aku?" heran Fiya.
"Tante ngelarang mereka ajak kamu pulang, karena kamu sementara ini di rawat oleh tante. Jadi, kamu di sini dulu beberapa hari hingga kamu sembuh." Mama Ifa mengelus kepalanya Fiya dan kemudian mengambil mangkuk berisi bubur dan menyuapkannya kepada Fiya.
Tak lama kemudian juga Bastian pun terbangun. Dia langsung duduk dan mengecek matanya.
"Bastian, sekarang kamu ke kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi. Habis itu sarapan."
Bastian mengangguk dan Fiya tersenyum kepadanya dan mengelus kepalanya. Setelah selesai makan, Fiya pun di suruh untuk mandi, namun saat dia akan bangun, dia malah di ledek oleh Farhan.
"Cie yang di manja sam calon mertua."
Fiya melempar bantal ke arah Farhan. "Jangan ngarep ya..." katanya, namun dalam hatinya sebenarnya dia sangat malu dan juga gugup.
//**//