Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
86. Bunga Matahari


Keesokan harinya, Bastian pun sembuh dan mulai berlarian di rumahnya sendirian, ditemani dengan mainan-mainan pemberian dari Fiya. Namun, Bastian merasakan kerinduan di dalam hatinya terhadap Fiya, karena hari ini Fiya tak datang ke rumahnya.


"Mamah, aku kangen kak Khanza." rengek Bastian.


"Nggak Bastian, jangan. Kak Khanza bukan siapa-siapa kamu. Kamu nggak boleh menemui kak Khanza lagi. Mama akan panggil guru les baru buat kamu."


"Mama, kemarin kak Khanza di marahin ya. Pasti gara-gara aku."


"Nggak sayang bukan karena kamu kok."


"Kalau bukan, mama jangan ngelarang aku buat ketemu kak Khanza ya... Bastian mohon..."


Orang tua Bastian hanya pasrah. Dan Mama Ifa pun menghubungi Arya untuk mengantarkan Bastian ke rumah Fiya. Tak lama Arya pun sampai dan siap mengantar Bastian ke rumah Fiya. Di perjalanan, Bastian menyuruh Arya berhenti di sebuah toko bunga. Arya menurut dan Bastian pun memilih sebuah bunga untuk Fiya.


Begitu mereka sampai di rumah Fiya, Bastian langsung berlari sambil membawa bunga yang di belinya. Dia mengetuk pintu dan memberi salam dengan suara imutnya.


"Assalamualaikum..."


Pintu pun terbuka dan ternyata itu adalah mama Ifa yang membukakan pintu untuknya.


"Eh... Ada siapa ini?" tanya mama Ova.


"Hallo tante, aku Bastian. Kak Khanzanya ada?" sapa Bastian.


"Ada, kebetulan kamu datang. Dia ada di kamar. Siapa tau kamu datang kak Khanza keluar. Yuk tante antar."


Mama Ova memberikan tangannya untuk di gandeng oleh Bastian. Bastian tersenyum dan menggandeng tangannya. Papa Brian yang melihat Mama Ova menggandeng anak kecil langsung menghadangnya.


"Kenapa dia bisa ada di sini?"


"Om... Om kemarin yang datang ke rumah aku ya.. Maaf ya Om.. Gara-gara aku kak Khanza jadi marahan sama om. Tapi om, kak Khanza itu baik banget. Bagaikan bunga matahari yang aku bawa ini. Jadi, Om jangan marahin kak Khanza lagi ya. Oiya Om, Bastian mau ijin menemui kak Khanza boleh ya..."


Papa Brian tersenyum dan kemudian menyetujui perkataan Bastian. Mama Ova pun juga langsung menuntunnya hingga ke depan kamar Fiya.


"Khanza... Lihat siapa yang datang. Ayo keluar." teriak mama Ova yang tidak ada jawaban dari dalam kamar sedikitpun.


Dimas berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang. Dia tersenyum saat melihat Bastian ada di luar kamarnya.


"Fiya, itu ada Bastian." ucap Dimas.


"Kamu bohong agar aku keluar bukan."


"Aku nggak bohong, kalau nggak percaya buka aja pintunya."


Fiya masih terdiam di tempatnya dan memilih berbaring kembali di kasurnya setelah mandi. Rasa malas dan tak ***** makan datang setelah kejadian kemarin.


"Kak Khanza, ini aku Bastian."


Teriakan Bastian membuat Fiya bangkit dan tak perlu menunggu lama lagi, dia pun keluar dari kamarnya.


"Bastian..."


Fiya langsung memeluk Bastian dengan erat dan mencium keningnya. Dia mengelus pipinya sambil tersenyum.


"Kakak, aku rindu kakak. Ini hadiah buat kakak." ucap Bastian.


"Bunga matahari? Kenapa bunga matahari?" tanya Fiya sambil menerima bunga tersebut.


"Kakak itu bagaikan matahari yang memberikan kehangatan untuk orang di sekeliling kakak. Walaupun matahari itu jika di gapai dengan dekat panas, tetapi matahari itu sebenarnya jauh dan hanya memberikan kita kehangatan. Seperti kakak, jadi aku lambangkan kakak sebagai bunga matahari yang tak pernah layu dengan matahari yang ada di sekeliling kakak. Dan kakak akan selalu indah dan bermakna bagi orang di sekeliling kakak."


"So sweet. Sini peluk."


Bastian kembali memeluk Fiya dan Fiya pun mencium pipinya dengan gemas. Fiya pun berdiri dan mengacak rambutnya.


"Sini masuk sayang."


Bastian tersenyum dan masuk ke kamar Fiya. Fiya membuka pintu makanan ringan dan memberikan beberapa untuk Bastian. Fiya pun menghidupkan televisi dan menontonkan film edukasi kepada Bastian. Fiya pun duduk di sampingnya sambil mengelus kepalanya yang di senderkan di bahunya.


"Bastian, suruh kak Khanza makan ya. Dari kemaren kak Khanza belum makan."


"Oh ya.. Nanti kakak bisa sakit kalau nggak makan. Ayo kak makan, nanti kalau nggak ada matahari terus terusan hujan dong."


"Nggak sayang, kakak udah kenyang kok."


"Kalau gitu Bastian marah ah sama kakak." Bastian memanyunkan bibirnya ke depan dan membuat Fiya gemas.


"Baiklah, kakak makan demi Bastian."


Fiya mengambil piring yang ada di depannya dan mulai memakannya. Bastian yang melihat Fiya makan dengan pelan langsung merebut sendoknya dan menyuapi Fiya. Fiya merasa senang dan ia pun menerimanya dengan lahap.


"Jangan besar-besar dong."


Mama Ova yang melihat keseruan dan keakraban mereka hanya bisa tersenyum kecil. Begitu pula dengan papa Brian.


"Sekarang papa lihat. Bagaimana mereka bersenang-senang? Apakah papa akan terus memisahkan takdir yang sudah terlanjur bertemu dan tidak dapat dipisahkan? Sekarang, itu hanya akan menjadi keputusan papa, karena mama pasti akan kalah jika terus berdebat dengan papa tanpa memikirkan perasaan orang lain dan memilih ego sendiri."


Mama Ova pun turun ke lantai bawah dan menuju ke kamarnya sendiri. Papa Brian hanya menghela nafas panjang dan bingung dengan apa yang dikatakan oleh mama Ova.


...*****...


Di waktu makan siang, Fiya mengajak Bastian untuk makan siang bersama. Bastian tidak menolak dan mengikutinya hingga ke dapur. Kebetulan pula Arya datang untuk menjemput Bastian. Dan Arya pun langsung di ajak untuk makan siang bersama.


"Bastian, kakak mau tanya. Yang milih bunga matahari, Bastian sendiri?" tanya Fiya.


"Iya kak, kak Arya rekomendasiin bunga mawar. Memang mawar itu harum, tapi sayangnya dia berduri dan bisa melukai orang lain. Dan itu tidak cocok pula untuk kakak, jadi aku pilih bunga matahari sesuai dengan kepribadian kakak." jawab bijak Bastian.


"Kamu pinter banget. Kakak salut. Makasih ya..."


"Sama sama kakak bunga matahari."


Perkataan Bastian berhasil membuat Fiya tersipu malu dan yang lainnya tersenyum. Bastian pun kembali makan dengan lahap bersama dengan yang lain.


"Kak Khanza, aku pulang ya. Nggak masalah kalau kakak nggak ke rumah Bastian, tapi Bastian yang akan main ke rumah kakak setiap hari. Boleh kan Om?" tanya Bastian kepada papa Brian.


"Iya boleh. Kak Khanza main ke rumah Bastian pun boleh, asalkan tidak terlalu larut." ucap papa Brian sambil mengacak rambut Bastian.


"Papa serius?" tanya Fiya yang langsung mengarah kepadanya.


"Iya papa serius."


"Terimakasih papa..." Fiya langsung memeluk papanya dan papanya pun membalasnya dengan senang.


"Yeayyy... Berarti kak Khanza bisa main bareng aku lagi... Yeeaayy...."


"Iya sayang. Eh.. Itu kak Arya nungguin. Yuk kakak antar ke sana."


Bastian menggandeng tangan Fiya sambil melompat lompat kegirangan menuju ke mobil Arya. Orang tua Fiya yang melihat putri mereka kembali tersenyum juga ikut merasa lega.


Begitu Fiya di kamarnya, Fiya melihat dan terus memandangi bunga matahari yang di berikan oleh Bastian. Kata-kata yang di lontarkan Bastian terus terngiang di kepalanya.


"Ada yang lagi bahagia karena anak kecil ya.." Farhan mengagetkan Fiya yang sedang memandangi bunga tersebut tanpa henti.


"Ini pasti kerjaan kakaknya ini..." ledek Fiya.


"Aku nggak pernah dekat dengan adikku. Kamu yang membuatnya memiliki seorang kakak. Aku hanya kakak yang hanya bisa melihat senyumnya dengan orang lain."


"Kamu ingin merasakan menjadi seorang kakak. Sekali-kali kamu masuk ke raga Arya dan bermainlah dengannya. Kamu akan tau bagaimana rasanya menjadi seorang kakak."


Fiya pun berdiri dari tempat duduknya dan mengambil camilan di lemarinya dan menyalakan televisinya. Farhan hanya menggeleng dan berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Fiya.


//**//