Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
70. Bully lagi


...Semua hal buruk yang terjadi, akan tergantikan dengan waktu yang indah di masa mendatang. ...


...~Safiya Khanza Ayunindya~...


_____________


Fiya pun berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Dimas dan Farhan pun ikut masuk ke dalam kamar mandi. Fiya berbalik dan terperanjat kaget karena ada Dimas dan Farhan di belakangnya.


"Eh... Ini kamar mandi perempuan kenapa kalian masuk?"


"Kami kan bisa masuk kapan saja." ucap Farhan.


"Kalau kalian mau buntutin gue, yang wajar dong. Untung gue cuma cuci tangan, kalau gue berak gimana coba?" keluh Fiya dengan kesal.


Dimas yang mendengar pertengkaran mereka hanya tersenyum. Namun, pandangan Fiya menatap ke arahnya tajam dan dia pun menunduk.


"Dan kamu Dimas, kenapa senyam senyum? Lucu?" tanya Fiya.


"Nggak lucu." jawabnya datar.


Fiya pun membuka pintu kamar mandi tersebut dan keluar. Dimas memegang tangannya saat dia hendak pergi ke kelas. Fiya berhenti dan menghempaskan tangannya.


"Kenapa lagi?" tanya Fiya.


"Kenapa nggak ke UKS aja, kamu pucat." ucap Dimas.


"Aku nggak papa kok, kalian berdua jangan khawatir. Aku ke kelas dulu."


Tanpa Fiya sadari, dua pasang mata melihat Fiya berbicara dengan Farhan dan Dimas. Namun di pandangannya, Fiya hanya berbicara sendirian. Tepat di samping tangga kedua orang yang tak lain adalah Jennie dan Bianka pun naik ke atas. Tepat saat Fiya menginjak satu tangga dasar, dia di siram air dan tepung dari atas. Jennie dan Bianka serta beberapa teman lainnya yang menyaksikan kejadian tersebut tertawa terbahak-bahak.


Fiya mendengus pasrah sambil menunduk. Ia juga mengepalkan tangannya kesal. Dimas dan Farhan yang melihatnya kaget dan kemudian berlari ke arahnya.


"Hahahaha... Hahahaha... Lo mau ke kelas ya... Lo nggak bakalan bisa, yang lain aja berunding sama gue buat melakukan semua hal ini ke lo. Karena apa? Lo itu pembawa sial... Hahahaha" ucap Jennie dengan tawanya.


"Iya bener, ntar kelas kita jadi kenal kesialan gara-gara lo, mending lo pulang aja deh..." ucap salah satu teman sekelasnya.


"Dan... Lo gila ya.. Bicara sendiri... Emang lo indigo?hahahaha... Dasar dukun gila..." kata Jennie lagi.


Aldi dan Feni yang melihat begitu banyak kerumunan setelah pergi ke laboratorium langsung menghampirinya. Aldi melihat ke bawah dan menyusulnya. Aldi mendorong semua siswa dan siswi yang menghalanginya hingga sampai ke lantai dasar dimana Fiya berada.


"Kenapa kalian disini? Bubar semua!!" Aldi membentak semua orang yang berkerumun, namun mereka masih tetap diam di tempat.


"Lo ngapain masih bela dia? Lo mau ya terkena kesialan gara-gara dia?" ucap Jennie memanas manasi Aldi.


"Diam lo semua!! Kalian nggak pernah tau bagaimana posisi dia sekarang. Coba kalian pikir jika kalian ada di posisi Khanza. Kalian akan apa??!! Kalian pasti langsung menelepon orang tua kalian dan mengadu bukan?? Penghianat kalian semua!! Ayo Khanza, ikut aku."


"Loh.. Apa yang terjadi kepada kamu Khanza?" tanya sang guru olahraga bingung.


"Seperti biasa pak, ini kelakuan Jennie dan murid yang lain." bela Aldi.


"Ini tak bisa dibiarkan..." guru olahraga membalikkan dirinya. Seorang guru agama mengangguk dan menghampirinya. Tetapi tidak dengan yang lain.


"Kenapa kalian hanya diam? Kalian juga seorang guru. Tidak sepatutnya kalian diam. Kalian juga harus membela Khanza." ucap sang guru olahraga tegas.


"Jika kalian hanya diam, kalian bukanlah guru sejati. Dan akan mendapat hukuman dari Allah Swt." tambah sang guru agama.


"Dan.. Kalian juga tidak patut di sebut sebagai seorang guru. Apakah kalian tidak ingat bagaimana Khanza menyelamatkan sekolah ini. Dan buktinya apa sekarang? Khanza sudah menyelamatkan sekolah ini dan sampai saat ini tidak ada seorang anak pun yang kerasukan... Apakah kalian tidak mengingat bagaimana Khanza rela masuk ke hutan terlarang demi menyelamatkan para murid yang lain. Kalian tidak tau apa artinya timbal balik dan pengorbanan." jelas Aldi panjang lebar.


Guru-guru yang lain hanya terdiam dan terduduk di mejanya masing-masing. Kedua guru yang membela Fiya hanya menggelengkan kepala dan merasa kecewa dengan guru-gurunya yang lain. Sehingga mereka berdua memutuskan untuk melakukannya sendiri.


"Aldi, sebaiknya antar Khanza pulang ke rumahnya. Ambil tasnya dulu di kelas. Dan Khanza, sebaiknya kamu membersihkan sebagian tepung tersebut di kamar mandi." perintah guru olahraga yang di jawab anggukan olehnya.


Sementara itu, Feni di tarik oleh Jennie dan Bianka dan di sudutkan di sebuah gudang yang cukup gelap. Feni ketakutan dan tubuhnya pun bergetar.


"Lo mau ikutan bela Khanza? Lo mau jadi tumbal juga? B*d*h lo!" bentak Jennie.


"Lo mau ngancam gue ya silahkan aja. Gue nggak takut ke lo. Pasti lo kan yang nyebar semua fitnah ini ke Khanza. Asal lo tau, gue bukan orang b*d*h yang lo maksud. Justru lo yang b*d*h, karena lo tuh sebenernya iri sama Khanza karena dia selalu dibela oleh cowok-cowok populer dan menawan, termasuk tunangan lo juga. Oh iya.... Atau jagan-jangan lo sendiri yang membuat Farhan kecelakaan dan lo fitnah Khanza biar dia yang disalahkan. Iya kan!!" bentak balik Feni.


"Dan.. Lo ngeracunin pikiran gue supaya gue ngejauhin Khanza agar gue bisa gabung ke grup lo, asal lo tau aja, temen kaya lo sendirilah yang bisa jadi penghianat." tambah Feni dan pergi dari hadapan Jennie dan Bianka.


"Lo suka kan sama Aldi, tetapi Aldi selalu bela Khanza. Lo nggak sakit hati di kayak gituin?"


Perkataan Jennie membuat langkahnya terhenti. Feni pun berbalik dan menghampirinya dengan dekat.


"Emang gue suka sama dia, tapi gue tau posisi Khanza lagi dimana? Dia butuh teman yang setia. Gue nggak cemburu kalau Aldi deket sama Khanza, karena yang masih di hati Khanza saat ini adalah Dimas yang masih tersemat di hati Khanza sebagai sahabatnya. Dan sahabat, tidak pernah akan hilang walaupun dia sudah tiada sekalipun."


Feni pun keluar hingga cukup jauh dari ruangan tersebut. Setelahnya pun ia bernafas lega dan kembali ke kelasnya. Begitu dia sampai, dia berpapasan dengan Aldi yang membawa tas Fiya dari kelasnya.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau mengantar Khanza, aku ijinkan ya, nanti aku juga akan kembali lagi ke sini."


Aldi tersenyum, begitu pula Feni. Feni pun masuk ke kelasnya yang ricuh dan menatapnya dengan tatapan sinis mereka.


"Ngapain lo liatin gue begitu? Mau gue tonjok." ancam Feni yang membuat mereka semua kembali menunduk dan berbicara dengan yang lainnya.


//**//