Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
51. Si dukun 2 ( Farhan POV )


Farhan Liam Ma'ruf


.


.


.


Di sekolah, berita tentang meninggalnya Satya langsung tersebar di seluruh penjuru sekolah. Teman-teman sekelas Satya pun memutuskan untuk melayat ke rumahnya setelah pulang sekolah.


Bersamaan dengan itu, tersebar juga kabar tentang menghilangnya Khanza. Aku yang mendengarnya juga sedikit risih, karena sebenarnya Khanza berada di apartemenku.


Aku berjalan terbengong, namun seseorang membangunkan lamunanku saat tiba-tiba menggandeng lenganku.


"Sayaaannnggg..." ucap Jennie dengan manja dan langsung memelukku.


Tentu saja, aku risih dan langsung melepaskan tangannya dengan paksa dari lenganku.


"Sayang, kamu udah tau kan, ternyata yang kecelakaan semalam Satya, iihh... Ngeri. Orang yang di dekat si dukun bisa mati." ucapnya yang sedikit lebay membuat siapapun yang mendengarnya ingin menutup mulutnya dengan lakban, termasuk diriku.


"Dan, dukun juga ikutan ngilang lagi. Pasti di culik sama si setan yang bunuh Satya... Ih.. Serem.."


Aku hanya diam tak menjawab ucapan basa basinya dan berjalan lebih cepat untuk meninggalkan Jennie yang berbicara tanpa henti.


"Aarrgghh... Dukun itu di apartemen gue lagi, gue harus apa sekarang." batin.


Aku langsung masuk ke kelasku dan duduk di bangkuku. Aku tak sadar guruku memanggil, dan aku di bangunkan dari lamunanku oleh temanku. Dan aku pun langsung melihat ke arah guruku.


"Kenapa kamu Farhan? Kenapa bengong?" tanyanya dengan sedikit galak.


"Nggak papa bu." jawabku karena bingung harus menjawab apa sehingga aku di hukum sampai jam istirahat.


Setelah jam istirahat, aku dan teman-temanku langsung ke kantin seperti biasa. Aku hanya memakan mie goreng dan es teh saja. Di temani beberapa temanku. Ketika aku tengah makan, temanku menepuk pundakku.


"Lo kenapa tadi bengong? Nggak kaya biasanya." ucap Raka.


"Iya nih, masalah Jennie lagi?" tambah Edwin.


"Lebih parah dari dia. Lebih baik kalian jangan tanya lagi, gue mau makan laper." ucapku sebagai penutup mulut mereka agar tak terlalu banyak pertanyaan.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung menuju ke parkiran. Di sana sudah ada Jennie yang menunggu di motor ku bersama dengan teman setianya. Aku langsung saja mengambil helmku dan memakainya.


"Udah dateng.. Yuk sayang kita pulang." ajak Jennie dengan nada manja.


"Sana pulang sendiri, gue ada urusan." jawab aku dengan ketus.


Aku langsung menaiki motor ku dan kemudian melaju melewatinya secepat mungkin. Aku langsung melesat ke apartemenku dan langsung naik ke kamarku. Begitu aku sampai, aku mendapatkan bau yang sangat harum. Aku pun membuka pintu.


"Bau harum apa ini?" batin.


Aku langsung menuju ke meja makan dan menaruh tasku di samping kursi yang tersedia di sampingku. Aku melihat Khanza sedang menyiapkan makanan untukku, mungkin.


"Ternyata pinter masak juga lo. Kalau lo mau jadi asisten pribadi gue nggak masalah tuh." pujiku sekaligus mengejeknya.


"Masalah masak sih gampang. Gue bukan seperti gadis jaman sekarang yang taunya cuma rebahan doang. Emang lo yang cuma bisa masak nasi goreng doang." ejek Khanza balik.


"Ah... Terserah lo. Gue makan duluan."


Aku langsung mengambil nasi dan lauk ke piring ku yang baru saja di berikan dari Khanza.


"Jangan di habisin, gue juga laper." keluhnya.


Khanza ikut duduk di depanku dan kemudian memakan makanannya. Aku menyuapkan nasinya ke mulutku sendiri. Aku sangat kagum dengan rasanya. Begitu lezat terasa di lidahku.


"Kalau keadaan gue udah membaik, gue pasti pulang. Oiya... Btw, tadi malem siapa yang gantiin baju gue?" tanya Khanza sedikit ragu.


"Em.. Uhuk.. Uhuk.."


aku kaget dengan pertanyaan yang ia lontarkan dan aku langsung tersedak. Aku pun langsung meminum minuman yang ada di meja makan yang sudah tersedia.


"Kenapa lo bahas itu sekarang si? Intinya bukan gue, pelayan di sini yang gue suruh buat gantiin baju lo." ucap ku dengan sedikit marah.


Aku melihat Khanza menghela nafas lega dan kemudian melanjutkan makannya. Selesai makan aku pun ke kamarku dan memutuskan untuk berganti baju.


Aku kaget saat melihat lemariku yang sangat rapi.


"Rapi sekali.. Dan.. " batin.


Aku pun meneriaki nama Khanza yang sedang asik dengan kegiatannya.


"Khanza..."


Dia pun masuk ke kamarku dan melihat ke arahku yang sedang membuka lemari dengan lebar.


"Lo bersihin lemari gue. Lo buka laci ini nggak." ucap Farhan sambil menunjuk laci yang terletak di bawah lemari yang ia buka.


"Buka dikit, tapi nggak di beresin. Ada lagi?" tanya Fiya tanpa ragunya.


"Nggak ada, sana keluar."


Aku sendiri, hanya bisa pasrah dan kemudian mengambil baju seperlunya.


"Dasar anak itu." umpatku lirih dan mengganti bajuku dengan baju santai.


Setelah mengganti baju, aku keluar dan mendapati Khanza sedang menonton televisi sambil memakan camilan. Makannya yang tadinya lahap, tiba-tiba terhenti karena melihat berita yang sama seperti semalam. Aku yang melihatnya langsung berlari dan mematikan televisinya.


Aku melihat ke arahnya dan dia langsung meletakkan makanannya dan kembali menangis sambil menekuk kakinya di atas sofa.


Aku bingung dengan apa yang aku pikirkan dan aku tersadar bahwa aku memeluknya sambil duduk di sampingnya, dan dia juga sedang menangis dalam pelukanku. Aku ingin melepaskannya, namun tanganku terasa berat untuk ku tarik. Sehingga aku pasrah dengan keadaan.


Dan, jantungku. Tentu saja berdetak tidak normal seperti biasanya. Kali ini jantungku berdetak sangat kencang. Dan, rasanya seperti setelah berlari 500 meter rasanya.


Dan, dia bergerak-gerak di dadaku dan kemudian melepaskan pelukanku. Aku melihat kedua matanya yang sebab, padahal dia baru menangis sebentar.


"Emm.. Maaf Farhan, gue nggak sengaja peluk lo. Maafin gue... Dan.. Apakah lo punya gunting?" tanya Khanza dengan lirih.


"Iya ada, tapi nggak akan gue kasihin. Emang mau buat apa?" tanyaku yang langsung berfikiran negatif.


"Gue mau gunting rambut gue, gue selalu teringat Dimas dengan rambut panjang gue. Plis... Tolong kasihin ke gue, gue nggak bakalan bunuh diri. Bener.." ucapnya dengan senyum kecil.


"Lo nggak perlu lakuin itu kali, lebay banget." ucapku.


"Tolong.. Kumohon." dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nggak akan gue kasih. Lebih baik lo diem, nggak usah ngapa-ngapain. Makan camilan lagi." perintahku karena masih khawatir dia akan nekat.


Khanza mengangguk dan aku pun sedikit menjaga jarak karena gugup dan memakan makanan yang tersedia. Aku pun juga menyalakan televisi, sikapnya yang tiba-tiba diam membuatku gugup dan ragu untuk berbuat sesuatu.


"Mau nonton apa? Suka drakor atau film horor?" tanyaku sedikit ngilu.


Khanza hanya menggeleng sehingga aku memutuskan untuk memilih film kartun karena terlanjur gugup.


//**//