
Esok harinya, Fiya berangkat ke sekolah dan memasuki semester baru. Feni yang berpapasan dengan Fiya langsung memeluk dirinya.
"Khanzaaaaaa.... Gue punya berita bagus buat lo." ucap Feni.
"Berita bagus apa?" tanya Feni.
"Ntar gue kasih tau. Lo pulang sekolah ikut gue ya nanti."
Feni menggandeng Fiya dengan senang dan menceritakan tentang liburannya.
"Lo nggak liburan Za?" tanya Feni.
"Gue liburan kemarin di kebun binatang sama temen adik gue."
"Temen atau temen...." goda Feni.
"Isshh... Apaan si.."
Fiya terpaksa meninggalkan Feni karena pasti dia akan bertanya macam-macam sehingga ia memutuskan untuk meninggalkannya.
Pulang sekolah, mereka pulang ke rumah masing-masing terlebih dahulu dan Feni pun ke rumah Fiya untuk menjemputnya pergi ke mall.
Dan benar, di saat Fiya sedang bersiap dengan santainya, mamanya memanggilnya.
"Khanzaa... Ada Feni nih..." panggil mama Ova.
"Iya bentar.."
Fiya pun menyambar tasnya yang sudah di siapkan lalu keluar dari kamarnya dengan terburu-buru sehingga hampir terjatuh. Farhan dengan sigap memeganginya.
"Kalau jalan hati-hati."
Fiya langsung melepaskannya dan turun langsung ke ruang tamu. Feni sangat senang dan dia pun langsung berdiri.
"Mama Ova, papa Brian. Feni pinjam Khanza ke mall buat jalan-jalan. Nggak pulang sore kok. Dah.."
"Eh..eh..Fen.."
Fiya di tarik paksa tanpa berpamitan dan bersalaman dengan kedua orang tuanya. Fiya langsung di dorong ke mobil dan Feni pun langsung masuk dan duduk di kursi kendali dan lekas meninggalkan pekarangan rumah Fiya.
"Lo kenapa si? Kayaknya seneng banget?" tanya Fiya bingung.
"Lo mau gue traktir nggak mau. Ya udah lo turun di sini."
"Jahat banget si. Tega pula. Iya iya, kita ke mall sekalian makan siang loh."
"Beres."
Feni melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi. Begitu mereka sampai di mall, Fiya langsung di ajak berkeliling dan membeli sesuatu dan setelahnya, mereka langsung menuju ke restoran yang ada di mall tersebut.
"Lo kenapa si?"
"Gue kencan sama Aldi." ucap Feni semangat.
Fiya yang sedang minum seketika menyemburkan minumannya ke samping kanannya dan kemudian langsung meletakkan gelasnya dengan kasar di atas meja.
"Lo serius? Kencan sama Aldi?"
"Iya gue serius lah. Makanya gue ajak lo ke mall sekalian pajak jadian gue ke lo."
Fiya sedikit kaget dan tak percaya dengan pernyataan yang Feni ucapkan. Dia terbengong sejenak dan kemudian dia pun berdiri.
"Fen, gue ke kamar mandi sebentar ya."
"Iya sana."
Fiya membawa tasnya dan berlari ke kamar mandi. Kemudian, dia pun mencuci mukanya beberapa kali dan mengeringkannya dengan tisu yang tersedia di tempat tersebut.
"Bagaimana ini? Feni sudah masuk ke dalam jebakannya." ucap Fiya kepada Farhan, Dimas dan Aldo.
"Ini nggak bisa di biarkan. Bagaimanapun aku harus mencegahnya." ucap Fiya.
"Jangan dulu Fiya. Kalau kamu langsung membentak dan menentang Feni. Yang ada persahabatan kalian akan rusak. Kamu jangan nentang dia dulu. Tapi, kamu harus terus awasi dia dari kejauhan." ucap Dimas.
"Nggak, gue nggak bisa biarin ini. Aldi terlalu berbahaya."
Tak ada yang bisa mencegahnya, sekalipun dengan Farhan. Fiya tetap berjalan dengan keadaan marah yang tidak terkontrol.
Feni berdiri dari tempat duduknya. "Loh kok lo ngelarang gue. Atau jangan-jangan yang dikatakan Jennie bener. Lo suka sama Aldi kan? Iya kan."
"Bukan begitu Fen, gue nggak suka sama Aldi. Dia orang yang berbahaya buat kita semua. Jangan sampai lo terjebak dengan Aldi, dia itu berbahaya dan masih dalam penyidikan gue."
"Penyidikan apa? Makhluk lagi? Ah... Udahlah cape gue. Kalau deket lo pasti selalu tentang makhluk yang seolah-olah lo bisa liat mereka. Dan mulai sekarang, lo bukan sahabat gue lagi." Feni pun membawa tasnya dan kemudian meninggalkan Fiya begitu saja.
Begitu sampai di parkiran, Feni langsung membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi karena merasa kesal dan jengkel dengan sikap Fiya.
Fiya hanya bisa diam dan membisu. Ia merasa lemas dan akhirnya dia pun duduk di kursi sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu nggak papa?" tanya Farhan.
"Nggak papa, sebaiknya kita pulang. Aku akan pesan taksi online terlebih dahulu."
"Tunggu Nindya. Kamu terlewat akan satu hal." cegah Farhan.
"Kemarin malam..."
Fiya pun ingat dan kemudian tersenyum paksa. Lalu ia segera pesan taksi online untuk menuju ke rumah sakit. Begitu ia sampai, Fiya langsung keluar dan menuju ke ruangan dimana Farhan di rawat. Fiya masuk ke ruangan tersebut dengan hati-hati, karena ada makhluk di sampingnya. Fiya berusaha untuk bersikap seolah dia manusia biasa yang tidak dapat melihat makhluk halus.
Fiya duduk di kursi yang tersedia, dan dia pun meraih tangan Farhan. Dia tersenyum dan langsung memakaikan gelang bergambar matahari di tangan kanannya.
"Cepatlah sembuh dan ayo kita lekas bertemu."
Begitu gelang tersebut melekat di tangan Farhan dengan tepat. Pergelangan arwah Farhan juga terdapat gelang tersebut. Bersamaan dengan itu, Jennie datang ke rumah sakit. Jennie kaget saat melihat Fiya yang duduk di samping ranjang Farhan.
"Eh dukun, lo ngapain di ruangan tunangan gue. Mending lo pergi dari sini."
"Gue juga mau pergi kok. Gue cuma jenguk doang. Gue pamit dan lo hati-hati di sini."
Fiya langsung keluar dari ruangan Farhan. Dia melihat ke arah Farhan dan menunjukkan pergelangan tangannya yang sudah ada gelang. Fiya tersenyum dan merekapun pulang.
Di saat Fiya akan mengeluarkan ponselnya untuk mencari taksi online, Arya meneleponnya. Dan, tanpa pikir panjang, Fiya mengangkatnya.
"Hallo Arya... Ada apa?" tanya Fiya.
"....."
"Apa!"
...*****...
Bastian sedang asyiknya bermain di teras rumahnya bersama dengan para pembantunya. Karena pembantu yang menjaga Bastian terlalu asik bercanda, Bastian pun lepas dari pandangan mereka.
Bastian melihat sebuah bola menggelinding ke dalam gerbangnya. Dia pun berdiri untuk mengambilnya dan keluar hingga keluar gerbang untuk mengembalikan bola tersebut kepada pemilik bola. Namun, tanpa Bastian ketahui, itu semua adalah jebakan. Tanpa Bastian sadari di belakangnya ada orang yang membekap dirinya hingga pingsan.
Di saat salah satu pembantu sadar, dia mulai panik dan melihat ke sekeliling mereka. Dan dengan takut salah satu pembantu tersebut melihat dengan ekspresi khawatir.
"Eh.. Tuan Bastian dimana?" tanyanya kemudian.
Mereka pun lekas berdiri dan mencari di sekitar teras, belakang rumah dan seluruh ruangan yang ada di rumah tersebut sambil berteriak memanggil nama Bastian. Di saat yang tepat Arya datang. Para pembantu yang melihatnya langsung laporan dengan cemas.
"Ada apa bi? Kok semuanya teriak nama Bastian? Bastian lagi main petak umpet."
"Maaf tuan Arya, tuan Bastian hilang. Dia tidak ada di penjuru rumah ini. Kami sudah mencarinya beberapa kali, tapi tetap tidak ketemu."
Arya tak ada pilihan lain selain menelepon Fiya. Tanpa berfikir panjang dia langsung meneleponnya.
"Hallo Fiya?"
"Hallo Arya... Ada apa?"
"Aldo hilang, gue butuh bantuan lo, lo dimana sekarang?" tanya Arya.
"Apa!"
"Lo dimana sekarang?"
"Gu-gue di depan rumah sakit tempat Farhan di rawat. Lo ke sini aja."
"Baiklah, tunggu gue di sana. Gue jemput lo sekarang."
Arya bergegas mengeluarkan kunci mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah Bastian untuk menjemput sekaligus mencari Bastian.
//**//