
...Percayalah, tantangan terberat yang pernah aku jalani adalah tidak berkomunikasi dan memilih memendam kabar yang ingin diketahui walaupun ada rasa khawatir....
...~Safiya Khanza Ayunindya~...
.......
.......
Sudah dua hari, Fiya tidak bercengkrama dengan Dimas. Fiya hanya berjalan dengan Aldi. Setiap dia dengan Aldi, bayangannya selalu ada Dimas.
"Eh Za.. Kamu udah tau kapan rencana Selamatan di adakan?"
"Bersamaan dengan ulang tahun sekolah satu minggu lagi."
"Oohh begitu."
"Besok juga aku akan merekrut anggota baru PMR setelah upacara."
"Aku, jangan lupa ya."
"Iya besok. Dimas nggak jadi ikut ya?"
"Kenapa memang?"
"Nggak papa si, cuma nanya. Udah yuk, cepetan ke perpusnya, nanti keburu banyak yang ngantri."
Merekapun pergi ke perpustakaan. Di sana juga mereka melihat Feni dan Dimas sedang duduk berdua di salah satu bangku di perpustakaan.
"Oh.. Feni, Dimas. Kalian juga di sini?"
"Iya, Khanza. Sini duduk."
"Kalian saja. Aku mau pinjam novel dulu. Oiya Fen, aku mau bilang sesuatu, Dimas pinjam Feni sebentar."
"Silahkan saja."
Fiya menggandeng tangan Feni dan membawa mereka sedikit menjauh.
"Besok, Gue akan adakan perekrutan anggota baru. Dimas ikut?"
"Bukannya dia bilang sama lo?"
"Nggak, dia nggak bilang apa-apa. Kalau dia ikut, dia suruh hadir besok waktu upacara."
"Oh.. Kenapa nggak bilang sendiri?"
"Gue sibuk, dia juga jarang di rumah belakangan ini. Jadi, tolong bilangin ya. Emm.. Gue mau cari novel dulu."
Fiya hendak pergi, namun dengan segera Feni memegang tangannya.
"Pasti lo lagi ada masalah sama Dimas kan?"
"Nggak kok, nggak ada."
"Lo nggak bisa bohong dari gue. Kelihatan dari sikap kalian berdua yang terlihat menjauh."
Fiya hanya diam sambil menunduk, Feni memegang pundaknya.
"Gue tau kok, perasaan lo ke Satya nggak cuma sekedar sahabat. Semenjak lo dekat dengan Satya, gue lihat kebahagiaan terpancar dari wajah lo. Berbeda dengan sekarang, lo saat bersama Aldi, kelihatannya hanya kebahagiaan semata untuk menipu daya mereka. Kalau lo ada masalah sama Satya, lebih baik segera perbaikin ya."
"Lo ngomong apa si Fen, jelas gue nggak marahan sama dia." bohongnya.
"Wajah lo pucat Za"
Feni menyentuh pipi Fiya dan dia panik dan segera berteriak, namun mulutnya langsung ditutupi oleh Fiya.
"Sstt... Jangan.. Jangan.. "
"Lo sakit Za."
"Nggak papa kok. Cuma anget doang. Nanti juga sembuh."
"Nggak Za, lo pucet."
"Nggak papa Fen. Isshh.. Sana balik, ntar gue nyusul."
"Cepetan ya."
"Hmm..."
Fiya lekas mencari buku novel, dia tak sengaja melihat Farhan ada di depan nya, lebih tepatnya di seberang raknya. Tatapan mereka bertemu, tetapi langsung mereka buang ke arah lain.
Fiya terus mencari dan dirinya tak sengaja menabrak seseorang di belakangnya dan membuat buku yang di pegang orang tersebut jatuh ke atas kepalanya.
"Aduh.. "
Fiya langsung melihat ke belakang dan orang itu membungkuk untuk mengambil buku yang terjatuh.
"Farhan, lo lagi?"
"Kenapa masalah?"
"Lo ngapain di sini?"
"Lo pikir ini perpustakaan lo. Pake nanya lagi, nyari buku lah."
"Lah, kok sewot si."
"Bukan urusan lo."
Fiya pun melihat buku yang sedang di pegang Farhan, lalu dia pun mengambilnya.
"Untung nemu."
"Dasar wanita memang tidak tau terimakasih." ucapnya lirih.
"Heh, lo yang udah buat pala gue sakit. Lo yang harusnya minta maaf. Enak aja gue yang bilang terimakasih."
Fiya pun meninggalkannya dan kemudian ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain.
"Lo lama banget Za." ucap Feni.
"Biasalah, nyari yang baru-baru."
"Za, nanti siang kamu ada waktu nggak."
"Waktu luang aku banyak. Memangnya kenapa?"
"Maaf, aku nggak bisa ikut. Aku sedikit nggak enak badan. Pulang sekolah nanti langsung istirahat. Oiya, nanti aku pulang sekolah naik taksi aja, jadi Aldi, kamu nggak perlu repot-repot nganterin aku. Angin-anginan pake motor nanti malah buat aku nambah sakit."
"Hmm.. Mending ke UKS aja biar bisa istirahat."
"Masih ada 2 jam lagi buat pelajaran. Sayang kalau di tinggalkan."
Belum pun berbunyi setelah Fiya berbicara. Fiya pun bangkit dari duduknya dan mengambil novelnya.
"Udah bel tuh. Yuk, ke kelas."
Merekapun mengangguk dan kemudian ikut Fiya ke kelas.
"Kelihatan dari wajahnya, dia pucat. Semoga kamu cepat sembuh Fiya." batin Dimas.
*****
Keesokan paginya, Fiya bergegas menggunakan sepatunya dan kemudian menyentuh keningnya sendiri yang sedikit panas.
"Huh.. Masih panas aja. Gue kenapa si."
Fiya pun bangkit dan mengolesi bibirnya dengan gincu untuk menutupi bibirnya yang pucat. Setelahnya, dia keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan.
"Pagi mah, pah, dan Sofi."
"Pagi sayang. Ini rotimu."
"Mah, aku bawa bekal aja, makan di sekolah ya. Aku ada upacara. Ayo pah, cepetan."
"Minumlah susunya dulu."
"Iya mah."
Fiya pun
"Dimas nggak nganterin?"
"Mamah, aku udah populer semenjak kedatangan dia, jadi aku sama dia sepakat buat nggak berangkat bareng dulu."
"Kirain kalian ada masalah."
"Nggak mah. Ayo pah, buruan."
"Iya-iya."
Fiya pun berpamitan kepada mamanya dan adiknya kemudian segera menuju ke depan rumahnya untuk menyusul papanya. Dia pun masuk ke mobil dan mobil tersebut meninggalkan pekarangan rumahnya.
Fiya di dalam mobil membaca buku sambil mendengarkan musik melalui earphone nya. Papanya melihatnya dari kaca dan kemudian fokus kembali ke depan.
"Sebaiknya kamu makan di mobil saja nak."
"Nggak pah, aku udah minum susu tadi, jadi lumayan kenyang."
"Setidaknya ada serat yang kamu makan nak. Nanti pingsan gimana?"
"Tenang pah, banyak yang nolongin kok."
"Tapi beneran nanti di makan loh."
"Iya pah."
Akhirnya, mobil yang ditumpanginya pun sampai di sekolahnya. Dia pun turun dan pamit kepada papanya. Dia tak langsung ke kelas, tetapi langsung ke UKS dan mempersiapkan untuk acara perekrutan dan mengecek jadwal anak-anak yang bertugas.
"Selamat pagi kak." sapa salah satu anggotanya.
"Pagi juga. Waahh.. Kalian semangat sekali."
"Iya kak."
"Ya sudah, kalian lanjutkan. Kakak mau bersiap terlebih dahulu."
Setelah Fiya bersiap, Fiya dan Feni pun berkeliling di belakang barisan. Juga mengecek para anggotanya untuk menanyakan keadaan para peserta upacara.
Upacara berjalan khitmat, setelah barisan di bubarkan, Fiya dengan cepat mengambil mikrofon yang terletak di tengah lapangan.
"Pengumuman untuk seluruh anggota PMR untuk tetap di tempat."
Seluruh anggota PMR yang aktif dan tidak aktif pun diam di tempat masing-masing.
"Pimpinan saya ambil alih. Siap grak.. Setengah lengan lencang kanan grak."
Seluruh anggota mengikuti arahan yang Fiya berikan dan tertata dengan rapi sebagai mana mestinya.
"Tegak grak. Istirahat di tempat grak."
Fiya melihat ke seluruh arah dan mendapati Dimas dan Aldi sedang menunggu.
"Syukurlah, Dimas ikut." batin.
"Baiklah, kakak mulai. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." jawab mereka serempak.
"Langsung saja, kakak mengumpulkan kalian di sini karena kakak akan memberikan pengumuman penting. Kakak akan merekrut anggota baru PMR. Mari kita sambut Kak Aldi dan Kak Dimas."
Semua anggota bertepuk tangan saat Aldi dan Dimas maju ke depan. Feni pun membawakan syal PMR dan topi PMR. Fiya memasangkan syal tersebut dan memasang topi PMR untuk mereka.
"Selamat, kalian berdua resmi menjadi anggota PMR, untuk kedepannya kalian harus siap siaga menolong orang yang sakit."
"Siap, kami akan menjalaninya dengan siaga."
Fiya pun membalikkan badannya dan melihat para anggota PMR yang perempuan dengan mata yang berbinar. Fiya hanya menggelengkan kepalanya.
"Sekali lagi tepuk tangan."
Mereka bertepuk tangan dengan semangatnya.
"Untuk hari nanti siang, PMR libur. Untuk minggu depan, kalian wajib mempersiapkan diri untuk outboand. Dan kakak akan memberikan sertifikat untuk anggota yang paling aktif selama PMR dilaksanakan. Untuk biaya outboand nya, setiap anak hanya 20 ribu dan jangan lupa bawa bekal sendiri. Biaya kalian berikan kepada bendahara. Kalian paham?"
"Siap paham."
"Baiklah. Untuk para pengurus ikut kakak ke UKS. Pimpinan saya ambil alih. Siap grak, tanpa penghormatan, bubar jalan."
Merekapun menuruti Fiya dan pergi ke kelas masing-masing untuk belajar. Fiya, Feni dan beberapa pengurus PMR masuk ke ruang UKS untuk mempersiapkan dan mendiskusikan persiapan untuk minggu yang akan datang.
//**//