
...Kekurangan dan kelebihan terdapat dalam diri masing-masing. Jangan pernah mengeluh dengan keadaanmu, karena kehidupanmu adalah untuk dirimu bukan untuk orang lain dan seperti orang lain....
...~Safiya Khanza Ayunindya ~...
_________________________
Hari ini merupakan hari PMR melaksanakan outboand. Outboand yang di laksanakan dua hari dua malam itu, di tempatkan di sebuah hutan yang tidak terlalu luas namun menyesatkan. Fiya memilih hari jumat, hari dimana para anggota PMR memulai outboand.
Tak hanya anggota PMR saja yang ikut, para anggota OSIS dan guru juga sebagian ada yang ikut untuk menemani dan membimbing mereka sewaktu mereka di hutan. Mereka ke hutan dengan menggunakan mobil bak terbuka. Sedangkan guru-gurunya menggunakan motor mereka masing-masing. Sedangkan Fiya dan teman-temannya menggunakan mobilnya karena membawa perlengkapan PMR juga.
Sekitar 50 anggota PMR dan 20 anggota OSIS serta 10 guru pembimbing berada di tempat yang disediakan. Mereka membangun tenda dengan masing-masing tenda berisi 3-4 anak.
Fiya dan Feni juga sedang mempersiapkan tenda, di bantu oleh Dimas dan Aldi. Para senior anggota PMR hanya mereka berempat saja, karena teman-teman seangkatan Fiya menjauhinya dan tidak menyukainya, namun bagi Fiya itu bukan masalah. Anak-anak PMR yang ikut pun karena kerterpaksaan dan hanya mengikuti beberapa rencana yang diadakan untuk PMR.
Setelah mereka selesai mempersiapkan tenda, mereka semua berkumpul di tengah-tengah diantara tenda yang telah mereka buat. Fiya dan teman-temannya berdiri untuk menata rapi barisan mereka. Setelah tertata, para anggota PMR di instruksikan untuk duduk.
"Baiklah, kita mulai sekarang. Selamat siang semuanya." ucap Fiya sebagai awalan pembukaan acara.
"Siang.. Siang.. Siang.. PMR JAYA... " jawab semua peserta kompak.
" Baiklah, kakak awali perjumpaan kita hari ini. Hari ini kakak akan instruksikan tentang aturan-aturan yang ada di sini. Jadi, tolong di patuhi. Kalian mengerti?"
"IYA.. "
Fiya tersenyum dan membalikkan badannya. Feni yang mengerti pun langsung memberikan beberapa secarik kertas yang di pegangnya.
" Ada beberapa aturan yang harus kalian patuhi dan wajib dilaksanakan. Pertama, kalian tidak boleh berbicara kasar, karena ini alam, pasti banyak pemilik dan penghuni selain kita. Kedua, jangan pernah pergi ketika kalian tidak di suruh. Ketiga, jika kalian ingin berbuat sesuatu, jangan lupa mengucapkan permisi atau salam, sekalipun memasuki tenda kalian. Dan yang terakhir, kalian dilarang melewati pembatas garis kuning walaupun hanya satu centi pun. Kalian paham? Jika ingin bertanya, silahkan angkat tangan kalian." jelas Fiya.
"PAHAM!!" jawab murid serentak.
Pandangan Fiya beralih kepada satu anggota yang mengangkat tangannya.
"Silahkan" ucap Fiya mempersilahkan.
"Kenapa kita tidak boleh melewati garis kuning kak?" tanya salah satu anggota.
"Namanya juga hutan kan? Kalian tau sendiri pasti ada tempat terlarang yang tidak boleh kalian lewati, jadi kalian jangan coba-coba melewati dan jangan sesekali melewati, jika kalian lihat garis kuning itu dari jauh, sebaiknya kalian berbalik. Kalian paham?"
"SIAP PAHAM!!"
" Ada pertanyaan lagi?"
"Tidak kak..."
"Baiklah kalau begitu, kita mulai langsung saja. Hari ini kita akan melaksanakan jelajah alam mencari obat-obatan alami. Sekitar 50 anggota PMR akan di bagi menjadi 5 anggota dengan 3 anggota perempuan dan 2 laki-laki. Dan ingat, jangan sampai melewati garis kuning. Kakak sudah menyiapkan tanda di beberapa pohon, yaitu tanda tali hijau yang artinya kalian tidak boleh melebihi batas itu, kalau sampai kalian mendapat atau melihat tali berwarna kuning, kalian harus segera kembali. Dan kalian jangan coba-coba untuk melewatinya, kalian paham?"
"SIAP PAHAM!!"
"Aldi, Dimas, siapkan dan bagi kelompoknya."
Mereka berdua mengangguk dan membagi barisan sesuai dengan nomor urutan yang mereka bagi, sisanya Feni membantu Fiya menyiapkan kertas untuk masing-masing kelompok.
"Tulis nama anggota kalian di dua kertas tersebut, setelahnya, kalian bawa satu kertas untuk menganalisis obat-obatan yang kalian dapat dan satu kertas lagi kalian berikan kepada kami. Kalian paham?"
"SIAP PAHAM!!"
"Dan carilah obat-obatan sebanyak mungkin, tetapi berbeda jenis ya. Kalian kembali sebelum pukul 3 sore, jangan kelayapan loh ya." ucap Fiya dengan nada sedikit bercanda dan membuat para anggota tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Pimpinan saya ambil alih. Ambil posisi berdiri." ucap Fiya tegap dan tegas.
"SIAP AMBIL POSISI BERDIRI!!" jawab serempak.
"Laksanakan!!"
"SIAP LAKSANAKAN!!!"
Setelah barisan dibesarkan, mereka pun langsung menuruti perkataan Fiya untuk mencari obat-obatan. Pandangan mereka berempat teralihkan pada kelompok 5 yang sedang mencari sambil bertengkar satu sama lain. Kelompok yang terdiri dari Daisy, Ayu, Vella, Bagas dan Gilang, sedang mencari dedaunan obat-obatan.
"Heh Yu, kamu kan paling disayang tuh sama mbah dukun, lo pasti tau kan apa yang harus lo cari." ucap Daisy.
"I-iya" jawab Ayu dengan polosnya.
"Kalian udah dapat?"
"Belum kak.." jawab mereka kompak.
"Ya sudah, kalian lanjut lagi, dan kompak ya. Kalau kelompok kalian kompak, kalian akan mendapatkan penghargaan dari kakak."
"Oke kak."
"Kalau begitu kakak tinggal. Semangat.."
Mereka mengangguk dan Fiya pun pergi kembali bersama dengan ke-tiga temannya yang sedang berkumpul di depan tenda. Para anggota kelompok yang melihatnya, tidak merasa senang dengan kedekatannya dengan Aldi dan Dimas.
"Eh, si dukun itu makan apa si, masa anak baru dua-duanya di deketin, terus mereka juga santai-santai aja gitu ngedeketinnya." ucap Vella yang mulai bergosip.
"Yah.. Namanya juga dukun pasti punya mantra, ya kan... Ya kali enggak." ucap Daisy.
"Eh, kalian percaya nggak si tentang garis kuning itu?." tanya Bagas.
"Nggak lah ya, mana ada hutan kecil ini ada tempat begituan." jawab Gilang.
"Betul, tuh betul." timpal Daisy.
"Gimana kalau kita kesana?" tanya Vella.
"Jagan, kita sudah diperingatkan kak Khanza untuk tidak melewatinya." ucap Ayu menghalangi.
"Haaallaahhh... Bilang aja takut." ucap Vella.
"Gue bukannya takut, tapi ini sebuah peringatan. Kita harus mematuhi semua perintah yang ada." ucap Ayu lagi.
"Udah lah, jangan ribut, pindah tempat aja yuk, siapa tau dapat lebih banyak." perintah Bagas untuk menghindari perdebatan panjang mereka.
Semua anggota pun mengangguk dan menurutinya. Vella menggandeng tangan Daisy, sementara Ayu berjalan sendiri di depan, sedangkan laki-laki berada di belakang. Ayu sendiri mencabut tanaman obat-obatan yang ditemuinya sambil berjalan.
"Udah belum Yu?" tanya Vella memastikan.
"Iya, ini udah kok."
Ketika mereka fokus ke arah Ayu, pandangan Gilang teralihkan kepada garis pembatas berwarna kuning yang berjarak 5 meter dari mereka. Gilang langsung menepuk bahu Bagas yang membuat Bagas menoleh kepadanya.
"Kenapa?" tanyanya.
Para anggota perempuan melihat ke arah mereka berdua yang sedang berbicara. Gilang menunjuk ke arah garis kuning dan pandangan mereka pun teralihkan ke arah yang ditunjuk oleh Gilang.
"Gue penasaran, ke sana yuk." ucap Gilang.
"Jangan. Lebih baik kita kembali saja, tanaman ini juga sudah cukup untuk kita." larang Ayu.
"Lo takut mending sini aja." bentak Bagas kepada Ayu.
"Kalian ikut." tanya Bagas kepada Vella dan Daisy.
"Boleh yuk." jawab Vella tanpa pikir panjang.
Mereka berempat berjalan, sedangkan Ayu terpaksa mengikuti mereka. Sesampainya di depan pembatas kain kuning itu, mereka melihat ke arah sekeliling mereka.
"Masuk nih Lang?" tanya Bagas.
"Boleh, yuk Yu, siapa tau di dalam lebih banyak tanaman obat-obatan." ajak Gilang.
"Ta-tapi.." jawab Ayu ragu.
"Udah jangan kebanyakan ngomong, ikut aja napa si."
Vella dan Daisy menariknya dan Ayu terpaksa menuruti mereka melewati garis kuning tersebut, karena dia yang paling paham tentang tanaman obat-obatan diantara teman-teman sekelompoknya.
//**//