
...Mengejar orang yang istimewa itu sulit, jika ada kesempatan, maka berikanlah dia kenyamanan dan pertahankan. Karena orang yang istimewa di dunia ini sangat sulit dipertahankan,apalagi kalau dia bukan ditakdirkan untukmu....
...~Aldi Bayu Kusumo ~...
_____________________
Aldi bergegas turun dari motornya dansl melepaskan helmnya. Tak lupa juga dia menenteng buah-buahan yang sempat dibelinya.
"Bukankah itu motor Satya?" pikirnya saat melihat motor Dimas parkir di depan rumah Fiya.
Tanpa pikir panjang, dia pun masuk dan mendapati Mama Lastri dan Mama Ova tengah duduk di ruang tamu bersama.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, nak Aldi, silahkan masuk."
Aldi melangkahkan kakinya dan memberikan buah tangan yang dibawanya kepada mama Ova.
"Ini tante, buat Khanza. Khanzanya dimana tante?"
"Khanza ada di kamarnya, kamu masuk saja, di sana juga ada Satya. Oiya, kamu nggak masuk ke sekolah hari ini?"
"Saya ijin tante, nanti juga ke sekolah lagi."
"Oohh, begitu silahkan, jenguk saja dia di kamar."
Aldi langsung melangkahkan kakinya dan menaiki tangga ke lantai atas untuk ke kamar Fiya. Dia melihat pintu yang terbuka lebar dan langsung mendekatinya. Langkahnya terhenti saat melihat Fiya sedang berada di pelukan Dimas. Dan Dimas pun mengambilkan mangkuk berisi bubur dan menyuapinya. Aldi langsung berbalik dan turun ke bawah.
"Udah?" tanya mama Ova.
"Udah tante, saya pamit duluan."
"Iya, hati-hati."
Aldi pun pergi dari rumah Fiya dan melajukan motornya dengan cepat. Dia pergi ke sebuah tempat, dimana dia merasa tenang.
Sementara itu, Fiya telah menyelesaikan makannya. Dimas pun memberikan minum kepadanya. Fiya tersenyum dan kembali memberikan gelas nya. Dimas mengusap kepalanya dan menyentuh keningnya.
"Kamu belum mandi kan, sekarang kamu mandi, aku ke bawah."
"Hmm.. Terimakasih."
Dimas turun ke bawah dan tak lupa membawa nampannya. Mama Lastri yang melihatnya langsung berdiri dan menghampirinya.
"Syukurlah Khanza makan. Kamu udah sarapan?"
"Sudah tante."
"Mending kamu pulang dan ganti baju, habis itu ke sini lagi." ucap mama Lastri.
"Iya mah."
Dimas pun pulang untuk mengganti bajunya. Tak lama kemudian, Dimas pun datang kembali dengan pakaian santainya lalu menuju ke kamar Fiya.
"Tok.. Tok.. Tok.. "
Dengan sopannya dia mengetuk pintu kamar Fiya, dan Fiya pun membukanya.
"Dimas, masuk saja."
Dimas pun masuk dan berbaring di ranjang Fiya.
"Dimas, nggak sopan banget. Ada yang lagi duduk loh tadi."
Dimas pun kembali berdiri dan melihat ke kanan dan kirinya.
"Dimana?"
"Dia udah pindah di sini sekarang."
Fiya mengelus kepala Aldo yang sudah berdiri di sampingnya. Dimas pun lega dan kembali berbaring.
"Siapa namanya Fi?"
"Kan udah aku bilang Aldo namanya."
"Oohh..."
Aldo pun melihat Fiya. Fiya tersenyum dan membungkuk ke arahnya.
"Ada yang ingin kamu katakan Aldo?"
"Tidak kakak, sudah sembuh kan?"
"Iya sudah, kamu tenang saja. Kamu sudah makan kan?"
"Iya sudah kak."
Dimas yang mendengarnya langsung duduk dan melihat ke arahnya.
"Hantu bisa makan?"
"Ya bisa lah. Gimana si.."
"Pas makan nggak nembus?"
"Iya nggak lah."
"Coba dong."
Fiya pun mengambil camilan yang ada di lemarinya lalu membuka bungkus camilannya.
"Nih do, dimakan."
"Nggak ada pergerakan apa-apa?"
Fiya memutar bola matanya malas dan kemudian mengambil camilan tersebut.
"Aldo, aaakk.."
Aldo pun memakannya dan camilan yang di pegang Fiya pun hilang.
"Waooowwww, amazing."
"Sudah bukan? Sekarang apa lagi?"
"Udah kok."
Aldo yang sudah merasa risih pun melihat ke arah Fiya.
"Kak, aku permisi ya, kayaknya aku ganggu deh."
"Kamu mau kemana?"
"Aku cuma mau jalan-jalan sebentar."
"Oohh, ya udah sana."
Aldo pun menghilang dan Fiya duduk di samping Dimas.
"Duh.. Bosen banget sekarang."
"Kamu kan suka nyanyi, nyanyi aja."
"Suara ku kan jelek."
"Udah cepetan."
Dimas menarik tangan Fiya untuk menuju ke depan tv. Lalu Fiya di dudukan di lantai beralaskan tikar lembut. Dimas pun membuka lemari di bawah televisi untuk mencari kaset untuk diputar. Dimas memilah-milah kaset yang sekiranya nyaman untuk didengar.
"Mau yang mana?"
Dimas menengok ke arah Fiya, dan Fiya hanya menggerakkan bahunya ke atas sambil menggeleng.
"Terserah aja."
Dimas kembali mencari dan membaca semua judul lagu yang tertera. Kemudian dia pun menemukan lagu yang pas untuk dia dengar. Dengan cepat, Dimas memasukan kaset tersebut pada DVD dan memutarnya.
"Ada microphone nggak" tanyanya.
"Ada, di lemari sampingnya."
Dimas pun segera membuka lemarinya dan mengambil dua microphone yang ada.
"Kabelnya mana?"
"Itu yang pake bluetooth."
"Oohh.."
Dimas pun mengambilnya dan segera menyambungkannya lalu memberikan satu microphonenya kepada Fiya. Lagu pertama yang mereka nyanyikan adalah sebuah kisah klasik dari Sheila On Seven. Selain itu juga lagu Armada, Afgan dan lain-lain. Mereka berdua berkarauke bersama. Kedua mamanya melihat mereka dari luar sambil tersenyum. Mama Lastri yang melihatnya pun memutuskan untuk mengambil camilan dan membawakannya untuk mereka berdua.
"Asik banget kalian. Udah mendingan Za?"
"Alhamdulillah udah mah."
"Syukurlah, karena Satya datang langsung sembuh. Lanjutin lagi ya, mama mau ghibah lagi sama mama Ova."
"Orang tua selalu gitu ya mah, nggak ada kerjaan lain selain ghibah?"
"Begitulah. Mama tinggal."
Mama Lastri meninggalkan kamar mereka tanpa menutup pintu. Sekiranya mereka bosan, mereka juga sesekali bermain PS dan setelah itu mereka juga sempat menonton film.
Waktu pulang sekolah, Feni menyempatkan pulang ke rumah Fiya. Dia juga membeli beberapa oleh-oleh dan camilan untuknya. Setelah menemui mama Ova, dia langsung menuju ke kamar Fiya dan melihatnya sedang tidur di pundak Dimas dengan televisi yang menyala. Dimas juga tidur bersandar kepala Fiya. Sungguh suasana yang membuat siapapun iri melihatnya.
Tiba-tiba Dimas terbangun dan membuat kepala Fiya hampir terjatuh. Dengan sigap, Dimas memeganginya. Dia melihat ke arah pintu dan melihat kedatangan Feni. Feni pun masuk dan melihat mereka dekat.
"Sudah baikan." ucapnya sedikit berbisik.
Dimas mengangguk dan kemudian menepuk-nepuk kepala Fiya pelan sambil mengelusnya.
"Ya udah.. Aku pulang ya, titip salam buat Fiya nanti kalau bangun."
Dimas mengangguk dan tersenyum kecil, kemudian membiarkannya pergi. Sebenarnya Dimas ingin membopong tubuh Fiya, namun dia takut Fiya akan merasa tidak nyaman dan bangun, jadi dia ikut tidur kembali.
Feni sampai di lantai bawah dan kemudian menemui mama Ova kembali. Mama Ova yang melihatnya pun menghampirinya.
"Loh.. Fen, kok cuma sebentar."
"Mereka lagi tidur bun, jadi aku tinggal aja deh."
"Oohh...pantes sunyi, dari tadi pagi mereka nyanyi, terus main PS lah. Mungkin mereka cape jadi tidur. Mau tunggu dulu kan?"
"Makasih bu, aku langsung pulang aja. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Feni pun pergi dari rumah Fiya. Rasanya senang bercampur bingung melihat kedekatan Fiya dan Dimas lagi.
"Kenapa hatiku merasa sakit ya melihat mereka berdua. Aahhh.. Pasti hatiku iri karena aku jomblo. Sabar hati, belum ada yang cocok dengan dirimu."
Dia bergumam dan segera meninggalkan rumah Fiya. Dia segera masuk ke mobilnya dan menyuruh supirnya yang menunggu untuk menjalankan mobilnya.
//**//