
#####
"Jadi, Pa... bagaimana?" tanya sangat istri Rosa
"Berhasil Ma... Suruhan papa berhasil menyusup ke dalam perusahaan cabang nya Zidan. " jawab Septian
"Bagus lah.. Papa harus bermain cantik, jangan sampai suruhan papa tertangkap. Jika dia tertangkap, maka kemungkinan nya 60% Dia bakal ngasih tau kalau dia suruhan papa. Dan Zidan akan curiga " kata Rosa.
"Pasti nya.. Wahyu bilang, tempo hari ada bocah yang menangkap basah dia. " ujar Septian.
"Bahaya Pa... Bisa-bisa bocah itu melaporkan wahyu " ucap Rosa khawatir.
"Gak! Buktinya sampai sekarang wahyu belum mengirimkan kabar apapun tentang kecurigaan. "
"Tapi itu harus di waspadai Pa... Anak itu bisa bermulut ember. " Rosa masih saja khawatir.
"Bocah itu satu satu nya saksi yang menangkap basah wahyu kan?.. " Tanya Rosa.
"Iya, terus.. ??"
"Papa tau, Wahyu masuk keruangan apa?"
"Wahyu bilang itu ruangan khusus pengawas pabrik. Bisa dipastikan di sana pasti ada Surat surat penting kan?" tanya balik Septian.
"Terus kenapa bocah itu bisa masuk sembarangan?Dia pasti bukan bocah asal lewat yang tiba-tiba bisa masuk kesana kan? Dia pasti punya kenalan di pabrik itu, atau kemungkinan besarnya.... " ujar Rosa menggantung.
"Apa Mah... ???"
"Dia Anak Salah satu orang di pabrik itu.. " tebak Rosa.
"Gak mungkin lah Ma... Disana nggak di perbolehkan bawa anak anak ke tempat kerja... Dan kalaupun ada anak anak pasti... " Septian tampak berpikir keras.
"Dia anak Zidan!! " seru keduanya
"Iya Pa... mama yakin dia anak Zidan!! Karena tadi Wahyu bilang dia anak anak kan. ??Gak mungkin anak anak karena Zidan gak punya anak lagi selain Gilang dan Caca itu.. " Kata Rosa.
"Dan kemungkinan paling besar yang menangkap basah wahyu adalah Caca... " Cetus Septian.
"Tapi, ... "
"Tapi apa Pa!!? " Sentak Rosa.
"Dia itu kan masih anak kecil. Dia gak mungkin ngerti urusan orang tua. Dalam pikiran nya pasti dia ngira wahyu itu emang berkepentingan di ruangan pengawas itu. Gak mungkin dia laporan ke Zidan. " Jawab Septian.
"Itu bisa jadi Pa.. Tapi mama Gak mau ngambil resiko sekecil apapun. Bisa aja dia cerita cerita sama Zidan.. Lagi pula Wahyu itu kan karyawan baru, gak mungkin dia punya kepentingan di ruangan pengawas.!! " bantah Rosa.
Septian sakit kepala dibuat nya. Istrinya selalu menentang perkataan nya...
"Sudah lah!!! Mama diam saja.. karena mama nggak ngerjain apapun dalam hal ini.. Dasar istri tau nya ngoceh mulu!! " sentak nya.
Septian meninggalkan Rosa dan menuju teras depan rumah mereka. Rosa terdiam di depan TV yang masih m nyala namun dengan volume kecil. Mereka berdua menghabiskan waktu mengobrol santai untuk mendatangkan rasa ngantuk di jam 10 malam. Namun seperti nya, bukan kantuk yang datang, tapi pertengkaran.
"Gak bisa!! Aku harus melenyapkan siapapun saksi. Sekalipun itu anak nya Zidan!! " tekat kuat dan ambisi nya sudah menutup hati nurani nya.
__$$$__
Sepekan berlalu. Kondisi Caca dan bang Gilang sudah membaik. Hanya mereka perlu kontrol beberapa kali. Mereka sudah diperbolehkan pulang hari ini.
"Gak banyak kok, yah.. cuman pakaian Caca sama Gilang aja.. " ujar ibu memperlihatkan sebuah tas ransel lumayan ukuran nya.
"Sini biar ayah yang bawa. Ini berat loh, nanti ibu capek. " ucap ayah.
Begitulah mereka, selalu harmonis dan penuh kasih sayang.
"Mau pacaran jangan depan anak napa?" Ketus Caca.
"Tau tuh... Lupa ya anak Bujang nya baru patah hati ditinggal nikah.. " gerutu Gilang.
"Ciahahahah.. Derita kalian lah. " ejek ayah.
"Ayah udah.. Sana siapin mobil nya. " lerai ibu.
Ayah mengangguk dan keluar. Setelah itu seorang suster datang dengan senyum ramah dan sebuah catatan dan pulpen di tangannya.
"Assalamualaikum permisi... " Ucap nya.
"Waalaikumsalam.... " jawab ketiga nya.
"Kita cek dulu sebentar ya, yang terakhir kok. Sebelum benar-benar dipastikan kondisi sudah pulih. " ucap nya.
"Iya suster. " jawab ibu.
Suster itu mengecek Caca lebih dulu, dia mengecek denyut nandi nya per menit, detak jantung serta bahu kanan nya yang sempat retak.
"Adek, untuk beberapa hari bahu nya jangan terlalu banyak di gerakin ya. Dan kalau tidur, sebelah kanannya di sangga pakai bantal biar nggak menekan bahu nya. Tolong bu di perhatikan. Soal nya kalau gak sengaja tersenggol dengan kuat.. nanti bahu nya bisa bengkak. Itu aja"
"Iya suster... " jawab ibu.
Suster pun memeriksa bang Gilang. Dia mengecek perban kepala bang Gilang. Dan melakukan pemeriksaan yang hampir sama dengan Caca.
"Catatan aja, buat Kepala nya jangan basah dulu. Setelah cek up, dokter akan bilang kapan boleh keramas ya pak. Dan jangan mikir yang berat berat dulu. " ujar suster itu.
Whattt!!?? Pak?? ahahah.. setua itu bang Gilang sampe di panggil bapak!??? Caca ingin meledakkan tawa nya tapi takut kualat dan di kutuk jadi jomblo selamanya.
"Iya sus. " jawab bang Gilang.
"Permisi bu.. " ucap suster itu sebelum keluar dari ruangan inap.
"Bu.. umur abang berapa sih? sampe di panggil bapak. Hahahaha 😂😂😂😂" gelak Caca.
"Ha'hahaha... udah 40 tahun kali. " ibu meladeni ejek kan Caca.
"Teros... ejek aja teros.. Udah lah!! abang mau pulang. Capek bosen di RS mulu... yang diliat muka nya itu itu terus. " sergah bang Gilang.
"Maksudnya kami bosan liat muka ibu terus, gitu!!? " sungut ibu.
"Canda bu... Jangan cepet marah, nanti di panggil nenek loh. " balas bang Gilang.
"Halah.. gak mungkin, ibu gak bakalan jadi nenek sebelum ada bocil owek owek di rumah kita bang. " Sahut Caca.
"Apa sih!!! Gaje beut.. " ketus bang Gilang.
"Mungkin kepalanya panas.. hahahah iya kan buk" tawa Caca di angguki ibu.