Kantor Urusan Gaib

Kantor Urusan Gaib
KUG 61 Livestream


Arya mengamati pemandangan yang berada di dalam bola kristal milik Bella.


Bola kristal tersebut menunjukan sesosok wanita muda yang sedang berjongkok sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Arya mengamati wanita itu dengan jelas dan bisa memastikan bahwa wanita itu adalah seseorang yang ia cari saat ini, Nisa.


Arya sudah melihat bermacam foto Nisa sehingga ia bisa memastikan bahwa wanita yang terlihat ketakutan tersebut adalah Nisa.


Saat ini Nisa sedang membelakangi sesosok wanita berjubah, dan Arya pun mengetahui sosok wanita berjubah tersebut karena ia sendiri lah yang telah memberikan jubah tersebut kepada sosok wanita itu.


Lisa menghadap ke arah Nisa dan terlihat sedikit panik, ia seperti sedang menjelaskan sesuatu kepada Nisa yang saat ini terlihat ketakutan.


"Hmm.. Sebentar, biar Aku naikan volumenya."


Bella bergumam dan menyentuh bola kristal miliknya dengan lembut.


Bibir Arya berkedut saat melihat di sudut kanan bola kristal tersebut terlihat ikon volume.


Arya tidak merasakan bahwa ia sedang melihat semuanya ini dengan bola kristal. Semua ini lebih terlihat seperti livestream dari gadget modern masa kini.


"Bagaimana? Kualitas gambar dan audionya tidak mengecewakan bukan?"


Ucap Bella dengan girang, ia sangat puas ketika melihat Arya yang terlihat sedikit takjub dengan teknologi canggih dari bola kristal miliknya.


"Ya.."


Arya menganggukkan kepalanya dan setuju dengan Bella untuk menghentikan topik ini, karena saat ini ia sedang berkonsentrasi dan mencoba mencari dimana lokasi Nisa dan Lisa saat ini.


"Uh.. Aku beneran gak ada niat buruk Nis. Aku sudah lama ada di rumah kamu, Aku sering nonton drakor yang kamu tonton juga! Selera kita juga sama kok. Aku tau kalau kamu suka…."


Arya mendengar suara Lisa yang terdengar bersemangat saat menjelaskan beberapa aktor dan aktris yang ia sukai, berikut judul seri yang ia sukai.


Nisa terlihat terkejut saat mendengar penjelasan dari Lisa, karena yang semua ia ucapkan benar sekali.


"Aku pikir kamu suruhan Kakek itu.."


Nisa menoleh ke arah Lisa dan bisa melihat Lisa yang terlihat tersenyum senang saat Nisa tidak terlihat ketakutan lagi.


Namun Nisa kembali memalingkan wajahnya saat melihat penampilan Lisa yang menyeramkan. 


Senyum Lisa membeku saat melihat Nisa memalingkan wajahnya, ia baru tersadar bahwa penampilannya memang menjijikan dan merasa malu.


"Maaf kalau penampilan Aku buat kamu gak nyaman.."


Lisa tersenyum sayu, mata yang sebelumnya bagaikan bersinar saat menjelaskan hal yang disukainya tersebut meredup saat sadar bahwa penampilannya menyeramkan untuk manusia.


Namun ia tidak menyalahkan Nisa, karena hal ini adalah hal yang normal. Lisa sudah lama mengamati perilaku manusia dan tahu bahwa tidak semua manusia bisa menerima hal seperti ini dengan cepat.


"Aku cuma kaget aja. Maaf kalau kamu tersinggung."


Ucap Nisa dengan nada bersalah. Ia menggertakan giginya dan memberanikan diri untuk menghadap Lisa.


Nisa merasa bersalah saat ia mendengar kata kata yang diucapkan oleh Lisa, oleh karena itu ia memberanikan diri untuk menatap Lisa secara langsung.


Namun saat ini Nisa melihat Lisa yang sudah menunduk dan membetulkan penutup kepala di jubahnya untuk menutupi sebagian wajahnya.


"Gak apa apa kok Nis. Yang penting kamu baik baik aja. Aku sama Arya nyariin kamu dari kemarin."


Lisa tidak mempermasalahkan hal sebelumnya dan lebih mementingkan keselamatan Nisa saat ini.


Meskipun Nisa baru pertama kali bertemu dirinya, namun untuk Lisa, ia sudah lama mengamati Nisa dan merasa dekat dengannya.


"Arya? Tukang bakso yang biasa lewat, Bang Arya?"


Nisa merasa heran karena ia tidak memiliki teman bernama Arya dan hanya tukang bakso yang biasa lewat di depan rumahnya saja yang bernama Arya.


"Bukan itu Nis! Arya itu dukun yang disewa orang tua kamu buat nyari roh kamu."


Bibir Arya berkedut kedut saat mendengar balasan dari Lisa.


Meskipun ia berbeda dengan dukun, namun orang awam akan mengaitkan profesinya dengan dukun sehingga ia pun hanya bisa menerimanya dengan lapang dada..


"Lagian Arya itu masih muda loh, Ganteng banget Nis! Kamu pasti suka liatnya!"


Ucap Lisa dengan girang, ia yakin bahwa Nisa akan memiliki pendapat yang sama saat melihat Arya.


"Masa sih dukun ganteng?"


Nisa bertanya dengan sedikit heran. Karena yang ada di dalam pikirannya, dukun itu adalah seseorang yang sudah tua, beruban, dan memiliki aroma bau kemenyan di sekitarnya.


"Nilainya 9,9 dari 10 Nis."


Ucap Lisa dengan wajah yang serius.


"Ok.."


Nisa merasa sedikit aneh mendengar ucapan Lisa yang seperti manusia biasa. Namun dia berwajah serius saat mengingat bahwa Lisa yang seharusnya sudah teracuni dengan drakor akan memiliki standar yang tinggi, oleh karena itu Arya yang disebutkan oleh Lisa tersebut sepertinya memang tampan.


"Hmph dasar buaya."


Bella bernada masam dan menatap Arya dengan sinis.


"...."


Arya hanya berpura pura tidak mendengar ucapan Bella.


Maja mengatakan bahwa seorang pria lebih baik diam dan mendengarkan wanita saat mereka sedang kesal, dan menjelaskan semuanya saat mereka sudah merasa tenang.


Meskipun ia tidak merasa harus menjelaskan sesuatu karena ia tidak melakukan apa apa..


Namun ia tetap berdiam diri dan tidak ingin berkomentar apapun untuk menghindari perdebatan.


Kemudian Arya melihat Lisa dan Nisa yang asik mengobrol terlihat terkejut dan menatap seseorang yang menghampiri mereka.


"Heh.. Sepertinya ada serangga yang menyusup"


Seorang pria tua yang bertubuh kurus dan tinggi menatap Lisa dan Nisa yang terlihat ketakutan. 


Pria tua itu menatap Lisa dan terlihat tertarik dengan Lisa yang bisa menembus formasi miliknya.


Ia sudah memasang formasi yang berguna untuk menyembunyikan tempat ini dan tidak menyangka bahwa akan ada seseorang yang bisa masuk ke tempat ini saat ia sedang berada diluar.


"Bagaimana kamu bisa masuk kesini?"


Pria tua itu terlihat sedikit heran dengan keberadaan Lisa, karena seharusnya ia bisa tahu bila ada seseorang yang berhasil menyusup masuk ke dalam kediamannya ini.


Formasi tersebut tidak hanya menyembunyikan keberadaan tempat ini saja, seharusnya ia bisa mengetahui keberadaan seseorang yang menyusup masuk.


Namun saat ia mengamati Lisa, ia menemukan seluruh tubuhnya dipenuhi energi negatif ataupun energi spiritual yang kotor.


Formasi yang ia gunakan pun menggunakan inti yang bersumber dari energi negatif, sehingga ia berpikir bahwa formasi ini menganggap Lisa sebagai bagian dari formasi dan mengacuhkan keberadaannya.


"Hmm.. Jin yang berkultivasi menggunakan energi spiritual yang kotor, Kau benar benar menarik. Sepertinya Aku berhasil mendapatkan sesuatu yang berharga hahahaha!"


Pria tua itu tertawa, ia tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan sesuatu yang menarik seperti ini.


"Karena kamu sudah masuk kesini, maka jangan harap kamu bisa pergi!"


Pria tua itu tersenyum sinis melihat Lisa dan Nisa yang terlihat ketakutan.