
" Hei… Ayo dong jangan diem aja.. Ceritain gimana Mei waktu masih kecil.. "
Satrio sedang berbaring di atas kasur yang empuk. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh perban layaknya seorang mumi, hanya mata, hidung, dan mulutnya saja yang tidak tertutupi oleh perban.
" … Itu privasi Kak Mei. Lebih baik kita fokus meditasi biar cepet sembuh. "
Arya yang sedang berbaring di kasur menanggapi Satrio dengan nada yang datar sambil memejamkan matanya.
Mereka berdua berada di dalam ruangan yang ada di kediaman Arya. Kasur tempat mereka berbaring tersebut bersebelahan dan membuat Arya sedikit kesal karena Satrio yang tidak bisa diam dan terus berbicara tentang banyak hal.
Apalagi ketika Satrio bertanya tentang Mei dan kehidupan pribadinya. Arya sudah beberapa kali mengacuhkannya, namun Arya menyadari bahwa sekuat apapun dia mencoba mengacuhkan Satrio, Satrio tidak pernah bergeming dan terus bertanya.
Arya tidak pernah merasakan rasanya diincar oleh kawanan nyamuk karena dia bisa membunuh nyamuk nyamuk yang mendekatinya dengan gelombang tenaga dalam, namun kali ini dia merasa bahwa mungkin rasa kesal ini adalah perasaan setiap orang yang sedang dikerubuti oleh kawanan nyamuk yang berdengung dan tidak bisa diam.
" Tapi kan bosen juga meditasi terus. Kamu udah pernah pacaran Ya? udah berapa cewek yang jadi pacar kamu? "
Satrio tidak menyerah dengan sikap Arya dan terus mencoba mengajaknya untuk mengobrol.
" …. "
Arya menggerakkan kepalanya dan menoleh kearah Satrio, ekspresi wajahnya sangat datar dan mata Arya terlihat tenang.
" Hehe.. Gak usah malu malu gitu, orang spesial kayak kita emang gak semudah itu dapet pacar. Aku aja meskipun tau kalau ada cewek yang suka sama Aku, Aku tetep jaga jarak biar dia gak semakin suka sama Aku. Kalau cuma buat temenan sih Aku gak apa apa, Aku pasti temenin dia jalan. Cuma kalau buat pacaran Aku gak bisa.. Hah.. Aku takut mereka terbawa bawa kalau Aku punya musuh, dan kehidupan kita itu gak cocok sama manusia biasa Ya. "
Satrio memasang ekspresi yang serius dan berbicara dengan nada yang bijak. Matanya sangat dalam dan serius layaknya orang yang sudah melewati berbagai macam hal.
" Kita juga harus pintar menilai cewek Ya. Banyak yang mau dekat kita itu karena ada maunya, entah karena ketampanan ataupun harta kita. Makanya kita lebih baik sembunyikan dulu kelebihan kita, biar kita bisa lihat sifatnya bagaimana. Aku disini bukannya mau nasehatin kamu, cuma mau berbagi pengalaman aja. "
Satrio mengangkat ujung bibirnya dan tersenyum penuh percaya diri kepada Arya yang sedang menatap langit langit dengan mata yang kosong.
" Udah gak usah terlalu dipikirin Ya, yang penting kamu harus ingat kalau kita gak bisa semudah itu menjalin hubungan sama cewek biasa. Cukup berteman aja kalau sama cewek normal, kecuali kalau memang udah jodohnya ya. "
Satrio sedikit menggelengkan kepalanya, kemudian dia menghela nafas sambil berpikir bahwa mungkin Arya adalah orang yang kaku, pendiam dan sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
" Aku ngerti kok yang kamu pikirin Ya. Tenang aja, jodoh gak akan kemana mana. Tetap semangat! Masih banyak cewek diluar sana, diantara mereka itu pasti ada jodoh kita Ya! "
Satrio mencoba menyemangati Arya dan menatap Arya dengan mata yang penuh rasa simpati.
" ….. "
Arya kembali memalingkan wajahnya ke arah Satrio, kemudian dia kembali menatap langit langit setelah melihat Satrio menganggukkan kepalanya seakan memberi tanda bahwa Arya tidak perlu berterima kasih kepadanya.
" Biar Aku ceritain pengalamanku waktu Aku….. "
Satrio kembali berbicara dengan keras dan mencoba bercerita kepada Arya yang masih menatap langit langit ruangan ini dengan tatapan mata yang kosong.
" Ayolah Maja.. Aku cuma pengen tau, apa bener kalau mahluk gaib yang berbentuk binatang itu gak malu meskipun gak pakai pakaian? apa kalian nganggap bulu yang ada di tubuh kalian itu pakaian? "
Satrio bertanya untuk kesekian kalinya kepada Maja yang baru saja tiba di kediaman Wisnu. Maja baru saja pulang dari pertempuran dan mengalami beberapa luka sehingga dia berniat untuk beristirahat.
Kemudian dia mendengar dari Mei yang memang bertugas untuk melakukan pertolongan dan merawat setiap orang yang terluka bahwa Arya mengalami cedera dan harus beristirahat di ruangan yang sudah mereka siapkan.
Namun saat Maja berniat untuk beristirahat sekaligus menemani Arya, dia melihat Arya yang terlihat seperti patung dan Satrio yang terlihat seperti seorang penyiar radio.
Kemudian saat dia mencoba untuk diam dan bermeditasi di dekat Arya, Satrio langsung menyapanya dan memberikan beberapa pertanyaan kepada Maja dengan penuh semangat.
" Hal ini natural untuk kami, lagi pula kami akan menyembunyikan bagian yang memalukan dan kalian tidak akan bisa melihatnya. "
Maja yang merasa lelah menjawab Satrio dengan nada yang malas. Namun alis Maja berkedut kedut ketika Satrio mengamati daerah diantara kedua kaki belakang Maja dengan seksama.
" Uh.. Maaf Aku cuma penasaran aja, hehe. Soalnya Aku kalau liat hewan gaib, mereka kayak hewan biasa aja. "
Satrio merasa sedikit malu dengan apa yang telah dilakukannya, namun dia memang jarang bertemu dengan mahluk gaib berbentuk hewan maupun siluman sehingga dia sangat jarang memperhatikan mereka dari dekat seperti ini.
Maja hanya memutar bola matanya mendengarkan ucapan Satrio. Tentu saja hewan gaib normal berbeda dengan makhluk gaib sepertinya yang memiliki kepintaran dan bisa melakukan kultivasi ataupun meditasi untuk memperkuat dirinya sendiri.
Kemudian dia berbaring di lantai yang berada diantara kasur tempat Arya dan Satrio beristirahat.
Pertarungan yang dia lakukan hari ini cukup menguras tenaganya, dia harus berhadapan dengan beberapa Iblis seorang diri. Untung saja Maja memiliki tubuh yang kuat dan kecepatan yang mumpuni sehingga dia bisa memenangkan pertarungan tersebut.
Meskipun dia masih ingin bertarung dan membantu anggota lainnya, namun dengan keadaannya yang seperti ini dia hanya akan menjadi beban saja.
Oleh karena itu Maja lebih memilih untuk beristirahat di dalam ruangan perawatan yang memiliki formasi yang bisa mempercepat proses penyembuhan dan regenerasi tenaga dalam ini.
" Uh.. Terus gimana perasaannya waktu liat harimau betina? "
Satrio merasa bahwa Maja terlihat seperti mahluk gaib yang bersahabat dan senang berkomunikasi dengan manusia, oleh karena itu dia ingin bertanya lagi kepada Maja untuk menjawab rasa ingin tahunya.
" ….. "
Maja yang telah menutup matanya dan bermaksud untuk beristirahat membuka matanya dengan perlahan. Kemudian dia beranjak dari tidurnya dan menatap Arya dengan wajah yang datar.
" Arya, apa hukuman bila mahluk gaib menyerang manusia… ? "
"... Aku tertidur di ruangan ini dan tidak melihat apa apa.. "
Arya yang masih menatap langit langit berbicara dengan nada yang sama dengan Maja.
*Glek*
Satrio menelan ludahnya sendiri ketika melihat Maja tersenyum.