
Diantara air hujan yang turun dari langit, terlihat seekor ular naga yang terbentuk dari air, naga tersebut terlihat seperti hidup dan memiliki penampilan yang penuh dengan keagungan.
Mata dari naga itu berkilauan seakan memiliki intelektual sambil menatap para Iblis yang bermaksud menyerang Arya.
Kemudian naga itu meliuk liuk dan menyambar para Iblis dalam sekejap. Lalu naga tersebut berubah menjadi pusaran air dan menjebak para Iblis itu di dalamnya.
Para Iblis berteriak ketika pusaran air itu membuat tubuh mereka hancur dengan perlahan dan membuat pusaran air itu bercampur dengan darah.
Wulan membuka matanya lebar lebar ketika melihat tidak ada bagian tubuh Iblis yang tersisa didalam pusaran air tersebut, bahkan saat ini jiwa para Iblis itu terlihat panik karena mereka masih terjebak didalam pusaran air.
Kemudian saat jiwa para Iblis itu hancur, pusaran air itu berhenti.
Wulan hanya bisa menatap genangan air yang berasal dari pusaran air tadi dengan mulut yang terbuka.
" Terima kasih... "
Arya membungkukkan badannya yang sudah lemas dan tidak berdaya itu sambil mengucapkan terima kasih.
Setelah beberapa saat, Wulan bisa bernafas lega karena merasa seseorang yang mengawasi mereka sudah tidak memperhatikan tempat ini lagi.
Sebelumnya, saat ular naga yang terbentuk dari air itu hadir, nafasnya terasa sesak dan seluruh tubuhnya seperti diawasi oleh seseorang.
Kemudian Wulan melihat Arya terjatuh ke depan dan tidak sadarkan diri.
" Hah.. Mengapa kalian pingsan seenaknya.. "
Wulan menghela nafas melihat Satrio dan Arya yang saat ini kehilangan kesadaran mereka. Kemudian Wulan mengambil beberapa pil penyembuh untuk menyembuhkan luka lukanya sambil bermeditasi.
***
Di alam astral terlihat dua kubu yang sedang bertarung. Kedua kubu bertarung dan menghancurkan beberapa tempat di alam astral karena pertarungan mereka yang dahsyat.
" Kalian tetaplah menjijikan.. "
Bara berkata sambil mencekik salah satu Iblis dengan satu tangannya. Iblis itu memiliki sayap, namun saat ini hanya satu sayap yang tersisa. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka tinju, bahkan beberapa tulangnya terlihat remuk dan patah.
Kemudian dia merapatkan cekikannya dan terdengar suara sesuatu yang menggelinding di atas tanah. Lalu Bara berjalan dan menginjak sesuatu yang terjatuh tadi sampai hancur dan berjalan menuju Iblis lain yang bersiap untuk menyerangnya.
***
" Heh.. Jadi Kau yang bernama Wisnu. Aku salut padamu karena bisa sampai disini. Apa kau puas sudah membantai bangsa Iblis yang berada di luar? ".
Wisnu sedang berada di dalam kastil yang diselimuti oleh formasi tingkat tinggi sehingga kastil ini tidak bisa terlihat dan sulit untuk ditemukan.
Di dalam kastil yang besar ini hanya ada Wisnu dan seorang Iblis sejati yang bertubuh besar dan dipenuhi otot yang menyeramkan. Di dahinya terlihat satu tanduk yang besar dan berwarna hitam seperti kulitnya, matanya berwarna abu abu dan wajahnya dipenuhi beberapa simbol yang tidak Wisnu ketahui.
" Seperti biasa kalian akan mengorbankan Iblis lemah dan menguras stamina musuh kalian, namun mereka terlalu lemah untukku. "
Wisnu berbicara dengan nada yang datar. Di sekitar dan di dalam kastil ini terdapat beberapa Iblis yang sudah Wisnu kalahkan, para Iblis itu bahkan tidak membuat Wisnu kelelahan karena terlalu lemah untuk dirinya.
" Aku harap kau tidak terlalu lemah dan mengecewakanku.. "
Saat Wisnu menarik tangannya, terlihat bahwa dia sedang menggenggam sebuah pedang besar berwarna hitam dan berkilauan.
Pedang itu memiliki panjang yang hampir sama dengan tubuh Wisnu. Saat ujung pedang itu menyentuh lantai, terlihat lantai tersebut hancur karena sentuhan dari ujung pedang milik Wisnu.
" …. "
Iblis sejati yang melihat Wisnu sudah mengeluarkan senjatanya menjadi serius dan berdiri dari kursi tempatnya duduk.
" Bagus.. Bagus… Sepertinya kunjunganku kali ini tidak akan membosankan. "
Iblis itu tersenyum dan sayapnya terbuka lebar, seluruh tubuhnya dipenuhi aura yang kuat.
Dalam seketika terdengar beberapa suara yang seperti ledakan dari dalam kastil, bahkan tidak lama kemudian kastil itu terlihat seperti terbelah menjadi dua dan terpotong, namun sebelum kastil itu terbelah, terdengar suara serangan yang membuat kastil itu meledak.
***
Wulan berjalan di alam astral sambil menggendong Arya yang tidak sadarkan diri, sementara tangan kirinya memegang leher Satrio yang sama sama tidak sadarkan diri.
" Ah.. Mengapa Aku harus membawa kalian seperti ini, Sialan…. "
Wulan mengeluh sambil membawa dua pria yang menjadi beban ini. Sebenarnya tubuhnya pun belum pulih sepenuhnya karena dia terlalu banyak mengonsumsi pil penyembuh ketika bertarung sehingga mengurangi efek penyembuhan dari pil tersebut.
Pakaian Wulan masih dipenuhi noda darah dan beberapa robekan akibat serangan para Iblis. Penampilan mereka bertiga seperti gelandangan, namun Wulan tidak memiliki pilihan untuk beristirahat dan harus segera membawa mereka berdua agar mereka bisa mendapatkan pertolongan secepat mungkin.
" Hah.. Kamu kelihatan kuat kayak kecoa yang gak mau mati waktu lawan Iblis. Sekarang kamu kelihatan kayak anak kecil yang gak bisa apa apa… "
Wulan bergumam sambil merasakan nafas lemah dari Arya yang berhembus di dekat leher dan telinganya.
Wulan mengakui bahwa Arya memang benar benar kuat dan tidak menunjukkan sedikitpun kelemahan saat bertarung melawan Iblis tadi.
Ketika salah satu dari mereka terjatuh, maka Arya akan membantu dan melawan Iblis sendirian untuk mengulur waktu agar mereka bisa menelan pil penyembuh.
Wulan merasa seiring pertarungan itu berjalan, kekuatan Arya semakin berkembang dengan perlahan. Apalagi daya tahan tubuhnya membuat Wulan sedikit kagum, semangat pantang menyerahnya itu membuatnya malu ketika harus dilindungi oleh Arya.
" …… "
Wulan terhenti sejenak ketika merasakan tangan Arya bergerak dan memeluk dirinya. Dia sebenarnya tidak terbiasa berdekatan dengan lawan jenis seperti ini, namun ketika mengingat apa yang telah mereka lewati sampai saat ini Wulan membiarkan Arya untuk memeluknya.
Awalnya Wulan hanya menganggap Arya sebagai murid Wisnu yang cukup kuat dan tidak terlalu menyukainya karena Ayahnya menyuruh Wulan untuk akrab dengan Arya.
Oleh karena itu Wulan selalu memprovokasi Arya agar membuat hubungan mereka tidak dekat, namun Wulan sedikit terkejut ketika Arya bersedia melawan dirinya tanpa menahan kekuatan fisiknya.
Setidaknya Arya masih serius ketika mereka berdua bertarung, tidak seperti orang lain yang canggung dan merasa harus mengalah ketika bertarung dengan dirinya.
Namun ketika melihat Arya yang terlihat lemah sampai harus digendong dan memeluknya ini membuat Wulan bersyukur karena dia menuruti kata kata Ayahnya untuk keluar dari meditasinya dan bertemu dengan Arya.
" Hah.. Aku akan membiarkannya kali ini.. "
Wulan kembali berjalan sambil menggendong Arya dan menggusur tubuh Satrio.