Kantor Urusan Gaib

Kantor Urusan Gaib
KUG BAB 12


( Arya POV )


Aku sudah memperhatikan Amelia saat dia mulai duduk di meja itu. Aku memperhatikan bagaimana cara dia menyikapi para Jin yang berada di sekitar kami ini.


Ternyata Amelia memilih cara untuk mengacuhkan mereka saja. Dan Akupun bisa memastikan bahwa apa yang dia lihat bukanlah hanya sekedar bayang bayang semata, melainkan bentuk nyata dari Jin yang sebenarnya.


Karena tidak semua indigo bisa memiliki penglihatan yang jelas sekali. Kadang mereka hanya bisa melihat mereka secara samar samar, ataupun hanya dalam bentuk bayangan.


Oleh karena itu Aku harus mengecek kembali semuanya tentang Amelia. Dan sepertinya indra pengelihatannya pun tidak memberikan efek buruk pada dirinya, sehingga dia bisa setiap saat melihat bangsa Jin tanpa batasan waktu.


Meskipun secara tidak sengaja, Aku pun jadi ikut mengetahui perjalanan karir yang telah dia jalani sampai saat ini. Bagaimana hal yang telah dia lalui dimasa lalunya.


Tentu saja Aku hanya bisa mengetahui apa yang dia pikirkan saja. Dan Aku yakin masih banyak cerita lain tentang perjalanan hidupnya itu.


Aku sangat kagum dengan tekadnya yang pantang menyerah. Selalu bisa berpikir positif disaat mentalnya akan jatuh, dan keyakinan untuk bisa menjalani hidup layaknya manusia normal.


Amelia terlihat penuh dengan semangat, meskipun antusiasnya untuk mengakhiri masa lajangnya sedikit menakutkan…


Sekilas matanya terlihat bersinar sinar saat meminta doa kepada orang tuanya. Namun senyum kecil di wajahnya terlihat sangat tenang.


Rambut hitamnya terurai sampai bahu dan Aku bisa mencium aroma parfum yang lembut dari tubuhnya. Dibalik wajah cantik yang terlihat tenang dan profesional itu, ternyata menyimpan banyak cerita.


"Silahkan duduk Pak Arya." Amelia berdiri dan mempersilahkanku duduk sambil membungkukkan sedikit badannya.


Kita memang tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Suara lembut yang keluar dari bibir mungilnya itu penuh keramahan dan kesopanan.


'Pertama tama berikan kesan yang ramah dan sopan dulu. Tunjukkan senyuman yang penuh kedamaian, lalu membungkuk untuk memberikan sedikit aroma parfum, membusungkan dada setelah membungkuk untuk sedikit memperlihatkan pesonamu sebagai wanita. Ahahaha'


"Terima kasih." Aku membalasnya dengan senyum kecil dan langsung duduk bersebrangan dengannya.


'Hehe, gak percuma baca novel dan nonton drama. Saatnya ilmu itu berguna sekarang!. Selanjutnya memuji penampilannya sedikit sehingga dia merasa lebih percaya diri, karena pujian bisa membuat pria lebih percaya diri dan itu bisa membuatmu memiliki sedikit perhatian darinya. Tentu saja tidak boleh memujinya terlalu berlebihan karena ini pertama kalinya kita bertemu.'


"Pak Arya terlihat sangat muda tapi penuh wibawa. Maaf saya jadi gak nyangka kalo Pak Arya yang akan meng-interview Saya." Amel memberikan senyum kecil dan wajahnya terlihat bahwa dirinya merasa bersalah.


"Panggil Arya aja. Ga usah terlalu formal kok, karena di kantor kami tidak terlalu formal juga. Kakek Wisnu juga tidak terlalu formal di kantor. Dan Saya juga masih SMA."


"Oh.. Iya Pak, eh.. Arya."


'Wait wait, masih SMA?? Kakek Wisnu?? Jadi dia masih keluarga dengan Pak Wisnu, wajar kalo dia sudah belajar untuk bekerja di kantor Pak Wisnu.'


'Pak Wisnu juga kelihatannya sangat percaya sama kemampuan Arya. Mana mungkin Interviewnya diserahin sama dia kalo Pak Wisnu gak percaya sama kemampuannya.'


'Dan yang paling penting, usianya terlihat sekitar 18 tahun. 25-18 \= 7. Perbedaan tujuh tahun..'


Senyum dan wajah Amelia sekilas terlihat membeku.


'Sangat berbahaya sekali.. Tapi kata temen kerjaku dulu, anak sekolah biasanya lebih tertarik dengan wanita yang terlihat dewasa dan percaya diri. Jangan menyerah!! Biar Kakak tunjukkan bagaimana berbahayanya wanita dewasa yang sudah menandai mangsanya! Hahaha!'


Namun kini Aku bisa melihat Amelia tersenyum dengan percaya diri dan terlihat lebih bersemangat. Dia benar benar bisa bangkit dengan cepat dan kembali pada dirinya yang penuh dengan semangat.


'Wajahnya terlihat sedikit dingin, dan sepertinya fokus dengan pekerjaan. Jadi kemungkinan kalau Arya belum punya pacar naik menjadi 70%. Harus bertindak lebih ekstra sebelum dia lulus dan bertemu orang yang lebih banyak. Siapa cepat, dia dapat!'


Aku tidak tahu harus menutup pendengaranku atau tidak. Aku merasa bersalah karena telah mendengarkan apa yang dia pikirkan. Namun Kakek menegaskan Aku harus mengetahui apa yang dia pikirkan.


"Ini data diri saya, silahkan diperiksa dulu" Amelia mengeluarkan file yang berisi data data dirinya dan memberikannya kepadaku.


Aku pun mulai melihat data data pribadi dari dirinya hanya untuk formalitas saja. Namun sepertinya Amel terlihat sedikit gugup di dalam pikirannya.


'Jangan kecewa lihat umur plis.. jangan cemberut plis.. Ah! dia senyum sedikit, aman.. aman..'


Aku merasa tidak tega dan sengaja tersenyum sedikit untuk menghilangkan kegugupannya.


Setelah mendengar sedikit tentang apa yang dia alami sebelumnya, Aku merasa ingin sedikit menghiburnya.


Dan Setelah sesi perkenalan lisan yang Amelia lakukan, dia terlihat lebih tenang dan rileks. 


Meskipun dia masih sedikit cemas tentang apa yang akan aku tanyakan dalam interview ini dan apakah dia akan bisa diterima atau tidaknya. 


Sebetulnya Aku lah yang sedikit cemas setelah mengetahui apa yang ada dipikirannya sebelum kami bertemu. 


Amelia memilih mengacuhkan bangsa Jin ataupun alam gaib, dan kantor kami berhubungan dengan alam gaib setiap harinya.


Bukankah dia berusaha untuk hidup normal? Apakah dia akan menolak pekerjaan ini? Atau dia akan menerima pekerjaan ini dengan rasa keterpaksaan?


Sejujurnya Aku tidak ingin membuat dirinya terbawa lebih jauh dari perkara yang ghaib ini.


Kelak tugas Amel hanya akan berdiam di kantor saja dan mendata para Jin, memberikan sedikit konsultasi kepada Jin yang baru tiba di dunia manusia dan lain sebagainya.


Dia tidak akan terjun kelapangan untuk bertarung atau berpatroli sepertiku. Namun Aku tahu bahwa kesehariannya tidak akan sama seperti apa yang dia harapkan, menjalani kehidupan normal..


'Hmm.. wajahnya serius banget.. tapi kenapa kerasa sepi banget ya… Semua Jin disini juga pada diem dan ga ada yang ngobrol.. Kenapa tiba tiba semuanya jadi tegang gini'


Aku mengangkat wajahku yang tertunduk dan memandang Amel dengan serius.


"Apa kamu bisa melihat mereka?"


"Eh.. liat apa.."


Wajah Amel yang tetap mempertahankan senyumannya itu sedikit kaku ketika melihat ekspresiku yang serius.


"Pekerjaan kantor kami berhubungan dengan alam Jin. Ini mungkin terdengar tidak masuk akal, namun jika kamu benar benar ingin mencoba pekerjaan ini, kamu akan menemui dan berinteraksi dengan mereka."


"Haha.. Arya bercandanya bisa aja" Amel tertawa kecil sambil menutupi bagian bibir dengan tangannya itu.


"Tentu Saja dia tidak bercanda nona kecil, apa Arya terlihat seperti sule yang suka melawak?"


Suara Maja yang jahil itu berhasil memudarkan senyum dan menghancurkan ekspresi profesional yang Amel miliki.


Aku melihat seluruh tubuh Amel bergetar dan terkejut melihat Maja yang melompat dan berada diatas meja.


Tentu saja Maja menggunakan wujud kucing imitasinya dan memiliki ekspresi yang sangat malas.


Seluruh tubuh Amel sedikit bergetar dan matanya terbuka lebar lebar, dia menelan ludahnya dan Aku bisa mendengar suara yang keluar dari bibir mungilnya sedikit bergetar.


"...Lucunya.. Sini puss…"