
Setelah menyegel kekuatan spiritual anak perempuan itu, Aku mengantarkan anak itu ke alamat rumahnya yang berada tidak jauh dari gudang kosong ini.
Anak itu tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku saat Aku berpamitan kepadanya. Syukurlah Aku berhasil mencegah rencana para Iblis itu, sekarang anak itu sudah tidak memiliki kekuatan spiritual dan tidak akan menjadi target para Iblis lagi.
" Hah.. Maja lama banget sih.. "
Aku yang sedang duduk di bangku di suatu taman menatap Maja yang terlihat dipenuhi luka dan bercak darah.
" Hah.. Kalo kamu gak tiba tiba ngeluarin senjata itu, Aku masih bisa senang senang bertarung. Kirain gak bakal ada ritual lain. Soalnya Aku juga bertarung sama Iblis tadi. "
Maja menggelengkan kepalanya dan terlihat lelah sekali. Sepertinya dia juga mengalami pertarungan yang cukup sulit, dilihat dari energi spiritual dan tenaga dalamnya yang terasa lemah.
" Untung aja Kakek lagi meditasi di dalam ruangan, jadi dia gak bakal ngerasain aura nya Ya. "
Maja berbicara sambil menatap ke arah kiri dan kanannya. Aku juga bersyukur karena Kakek sedang berada di dalam ruangan meditasi yang memutus hubungan antara ruangan itu dengan dunia luar.
Karena Kakek pasti akan datang ketika merasakan aura yang kuat dari senjata pusaka milikku. Bahkan saat ini tidak ada satu pun Jin yang terlihat sejauh 100 km dari tempatku bertarung.
Mereka pasti akan berlari dan bersembunyi ketika merasakan aura tersebut. Hal tersebut sangatlah lumrah karena aura yang berasal dari senjata milikku sangatlah mengintimidasi mereka yang bisa merasakan auranya.
Bahkan beberapa orang yang sensitif akan energi spiritual akan merasa gugup dan tidak nyaman ketika merasakannya.
Senjata pusaka memiliki aura tertentu dan tidak semua senjata pusaka yang kuat memiliki aura yang agresif dan mengintimidasi makhluk lain seperti milikku.
Senjata ini baru pertama kali aku gunakan untuk bertarung dan Aku masih belum bisa mengontrolnya dengan baik. Senjata pusaka ini menguras banyak tenaga dalam sekaligus energi spiritual, jadi kualifikasi penggunaan senjata ini sangatlah tinggi sekali.
Aku sudah paham dengan efek senjata pusaka ini yang bisa menyerap jiwa Iblis yang ditebasnya. Hal ini adalah sesuatu yang berbahaya bila diketahui oleh orang lain. Tentu saja Aku tidak ingin membunuh Iblis begitu saja, agar tidak terjadi kecurigaan yang akan terjadi.
Karena bila bangsa Iblis mengetahui Aku memiliki senjata pusaka seperti ini, maka mereka akan mencoba segala cara untuk memburuku.
Namun Aku tidak punya pilihan lain dan terpaksa menggunakannya. Untung saja Maja berada di dekatku dan Aku bisa mengalihkan perhatian mereka yang merasakan aura yang kuat ini kepada Maja.
" Aku terpaksa harus ngebunuh Iblis itu biar informasinya gak bocor.. Arya Arya.. "
Maja kembali menggelengkan kepalanya dan merasa lelah karena untuk membunuh Iblis memang dibutuhkan kekuatan yang besar dan menguras energi.
" Ya mau gimana lagi Ja. Nangkep hidup hidup lebih susah daripada ngebunuh mereka kalau tingkatan kekuatan kita gak beda jauh. "
Aku membalas ucapan Maja sambil memutar bola mataku. Aku ingin menghindari kedatangan Iblis lain bila Aku terlalu lama bertarung dengannya dan harus membuat keputusan tersebut dengan cepat, sehingga Aku terpaksa harus membunuhnya.
" Gendong dong Ja. Aku capek banget. "
Aku pun berdiri dan mulai memegang tubuh Maja dan masuk kedalam dimensi astral. Maja hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mulai berlari ke arah Kota Sukabumi.
Tubuhku sudah sangat lelah dan Aku hanya ingin bersantai saja saat ini. Aku ingin mengetahui batas kekuatanku tanpa bergantung pada senjata pusaka dan hasilnya cukup memuaskan.
Kejadian yang menimpaku sebelumnya membuatku sedikit ragu akan kemampuanku, karena Aku benar benar tidak bisa berbuat apa apa ketika terkena panah tersebut.
Namun untung saja ternyata Aku tidaklah begitu lemah dan masih bisa bertahan ketika bertarung dengan Iblis yang cukup kuat itu. Setidaknya kepercayaan diriku sudah kembali dan Aku pun bisa membantu Kakek bila hari pertarungan itu tiba.
Aku tidak ingin berdiam diri dan tidak melakukan apa apa ketika tiba waktunya Kakek bertarung dengan Iblis itu. Setidaknya Aku pun tidak boleh menjadi beban ketika Aku ikut bertempur dalam pertempuran melawan bangsa Iblis kelak.
***
Seorang wanita cantik terlihat sedang menatap lautan yang membentang di hadapannya. Suara ombak dan angin yang berada di lautan ini menyertai suaranya yang lembut.
Wanita itu mengayunkan kakinya yang terendam di dalam air laut dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Kecantikan dan keanggunannya membuat potret dirinya yang sedang melamun ini terlihat sangat indah. Namun lamunannya terhenti ketika seorang wanita yang memakai kebaya berwarna nila menghampirinya dan membungkukkan badannya.
" Ratu, Li Shu sudah berada di dalam Istana dan ingin bertemu dengan Ratu. "
Nilasari membungkukkan badannya dan berbicara dengan nada yang pelan, seolah olah tidak ingin mengganggu kedamaian yang ada disini.
" Baiklah, biarkan dia menunggu dan siapkan beberapa material untuk pembuatan obat obatan. Aku akan segera menemuinya. "
Wanita itu berbicara dengan lemah lembut dan tidak mengalihkan pandangannya yang tetap tertuju kepada lautan yang luas.
" Baik Ratu. "
Nilasari kembali membungkukkan badannya dan berjalan perlahan untuk meninggalkan wanita itu.
***
Di dalam lautan yang luas terdapat suatu gunung yang sudah lama terendam oleh air laut dan seperti menghilang dari permukaan bumi ini.
Gunung berada di dalam lautan ini tidaklah terlalu besar. Kehidupan di sekitar gunung ini sangatlah damai dan dipenuhi berbagai macam spesies ikan, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya yang mampu bertahan hidup di kedalaman laut ini.
Namun tiba tiba gunung ini bergetar dengan pelan yang membuat para penghuni disekitarnya panik dan menjauhi gunung tersebut.
Namun hanya makhluk hidup yang berada di alam manusia saja yang berada disekitar gunung ini. Padahal beberapa Jin akan membuat sebuah tempat tinggal ataupun kerajaan bahkan di dalam lautan yang luas ini.
Akan tetapi tidak ditemui tanda tanda bangsa Jin di sekitar tempat ini. Entah karena tempat ini begitu terpencil ataupun karena tempat ini tidak cocok untuk mereka tinggali, namun di tempat ini dan sekitarnya memang tidak terlihat satupun bangsa Jin yang berkeliaran.
Gunung itu hanya bergetar sejenak dan langsung berhenti begitu saja. Namun di dalamnya lautan ini terdengar suara yang menggema, suara itu sangat pelan dan lembut.
Meskipun seharusnya suara manusia tidak bisa terdengar di lautan, namun bila ada manusia yang berada disini, maka dia akan merasakan suara itu tepat di telinga mereka dengan jelas.
" Yuwaraja… Apakah itu engkau.. "
Terdengar suara wanita yang lemah lembut. Namun suara itu terdengar sedikit serak dan aneh, seperti orang yang sudah lama tidak berbicara.
" Dunia ini sangat menyesakkan… Kekuatanku pun belum pulih… "
" Yuwaraja.. Aku ingin bertemu denganmu.. "
" Denganmu… "
Suara wanita itu semakin melemah pada akhirnya dan hanya terdengar seperti suatu bisikan saja.