
Saat ini Aku sedang duduk di sofa dan mengamati Amel yang masih menyembunyikan wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Amel masih merasa malu karena apa yang dia lakukan sebelumnya bisa diketahui dengan jelas bahwa dia sedang menunggu ciuman dariku.
Tentu saja Aku tidak bisa menyalahkan Amel dan pikirannya yang menjadi liar seperti itu.
Karena sepertinya alat yang dipakai untuk menahan auraku sudah tidak bisa menahan semua auraku lagi saat ini. Yang berarti Aku harus segera meminta Kakek untuk menahan aura yang sangat merepotkan ini.
Aura yang kumiliki bisa membuat orang untuk tertarik kepadaku. Hal itu cukup merepotkan karena bisa membuat lawan jenis yang berada dekat denganku menjadi terus memperhatikan dan mengamatiku.
Sampai akhirnya mereka akan terus memikirkanku. Hal tersebut bisa mengganggu daya pikir lawan jenis dan turut menggangguku karena Aku akan menjadi pusat perhatian orang banyak.
Oleh karena itu Aku selalu memakai alat pemberian dari Kakek yang memang digunakan untuk menyegel aura yang terus terpancar dari dalam diriku.
"Sekali lagi.. Maaf ya tadi kaya gitu." Amel mengangkatkan wajahnya dan menatapku dengan wajah yang memerah.
"Gak apa apa Mel, itu cuma mereka aja yang salah paham."
"Hehe … Iya."
'Nutup mata, bibir maju ke depan. Salah paham? Anak kecil pun bisa tau kalo itu bohong!. Tapi.. Arya bersikap tenang dan pura pura ga tau supaya kita berdua ga canggung lagi..' Pikir Amel sambil mengamati ekspresiku dengan teliti.
Aku sebenarnya tidak merasa terlalu terganggu akan hal itu, karena memang Auraku sendiri lah yang menyebabkannya.
"Di tempat ini sudah dipasang segel sama Kakek, jadi wajar kalau kamu gak bakal bisa ngeliat Jin di wilayah rumah ini Mel." Aku menjelaskan mengenai kemampuan Amel yang terhalang ditempat ini.
Karena bisa berbahaya bila ada seorang indigo melihat banyak para Jin yang masuk atau mengantri di dalam rumah kami bukan?.
Oleh karena itu Kakek telah menyegel wilayah rumah ini sehingga keberadaan kantor ini tetap menjadi rahasia.
"Tapi kamu ga mesti megang dagu juga kan tadi.." Amel menatapku dengan wajah seorang korban.
"Aku cuma pakai satu jari kok.. Maaf kalau itu jadi bikin kamu salah paham." Aku meminta maaf kepada Amel dengan nada yang merasa bersalah.
Namun sebetulnya Aku hanya ingin sedikit menjahilinya. Karena pikirannya begitu liar dan membuatku ingin memberinya sedikit pelajaran saja.
"Hehe, malah jadi minta maaf balik. Jadi kantornya di ruangan mana Ya?." Amel segera mengalihkan pembicaraan untuk menghindari situasi yang lebih canggung.
"Sini biar ku antar."
Aku pun berdiri dan mulai memandu Amel ke dalam ruangan kantor. Dan setelah Aku membukakan pintu ruangan kantor ini, Amel langsung mengamati ruangan kantor ini.
"Hmm.. biasa aja ya.. Aku kira bakal kayak ruangan dukun.."
"Gimana? Semuanya normal kan?."
Aku pun mulai memandu Amel untuk duduk di kursi dan mulai menyalakan komputer. Aku memberitahu Amel tentang dokumen dokumen yang merupakan daftar pengunjung dari alam gaib.
"Wow.. Jadi mereka ga bisa asal masuk ke alam manusia?. Aku kira mereka alam mereka sama seperti kita tetapi cuma beda dimensi aja."
"Hmm.. Ketika mereka ada di alam manusia, mereka memasuki dimensi astral. Namun Jin memiliki alamnya sendiri, dan di alam astral itulah terdapat beberapa gerbang kedalam alam Jin."
"Contohnya pintu itu di sana adalah gerbang menuju alam gaib." Aku pun menunjuk salah satu pintu yang berada di ruangan ini.
"Jadi.. Aku bisa masuk alam gaib kalo masuk kesitu?." Amel terlihat penasaran dengan semua hal yang baru kujelaskan ini.
"Bisa, tapi manusia memiliki batasan waktu kalau masuk ke alam Jin. Setiap manusia biasa tidak bisa berkeliaran begitu saja di alam Jin, jika mereka melewati batasan waktu yang bisa ditahan oleh tubuhnya, maka mereka akan selamanya terjebak di alam Jin."
"Dan tentu saja nasib mereka tergantung pada apa yang akan mereka temui di alam Jin. Bila mereka menemui Jin yang mau membantu mengembalikannya ke alam manusia, maka itu adalah hal yang baik."
"Tapi, kalo mereka ketemu Jin yang berniat buruk, mereka bisa menjadi budak dari para Jin, ataupun menjadi sebuah bahan ritual terlarang dari para Jin yang sudah bersekutu dengan Iblis."
"Oleh karena itu keberadaan gerbang yang menuju alam gaib sangatlah rahasia dan patut dijaga oleh pihak pihak terkait."
"Karena kadang banyak Jin yang sengaja memancing manusia untuk memasuki gerbang gaib, dan tentu saja tidak semua manusia bisa masuk ke dalam alam gaib begitu saja. Paling tidak, mereka harus memiliki energi spiritual ataupun tenaga dalam untuk bisa masuk ke dalam alam gaib."
Amel pun mendengarkan dengan teliti mengenai penjelasanku yang berkaitan dengan alam gaib ini.
"Jadi kalau ada kasus yang seperti orang hilang dan tidak bisa ditemukan jasadnya, mereka bisa saja tersesat ke alam gaib?."
"Bisa saja, namun kita tetap harus menyelidikinya terlebih dahulu. Kita tidak bisa selalu menyalahkan alam gaib tentang sesuatu yang tidak diketahui manusia.".
Kami terus melakukan tanya jawab seputar alam gaib, Amel sepertinya orang yang memang menyukai sesuatu yang baru.
"Sebelumnya sih Aku ga mau tau menahu soal Jin dan dunia gaib. Kadang Aku kesel banget, kenapa Aku punya kemampuan ini. Tapi lama kelamaan Aku juga merasa mungkin kemampuan ini tidak begitu buruk.",
"Kalau pas kemarin kemarin Aku gak mendengar obrolan para Jin di tempat kerja ku, Kayaknya Aku udah jadi mainan om om bejat itu."
Amelia pun menceritakan pengalaman yang dia alami di tempat dia bekerja sebelumnya. Meskipun Aku sudah mengetahui itu sebelumnya, Aku bereaksi layaknya orang yang baru pertama kali mendengarnya.
Aku pun mulai menceritakan beberapa cerita lucu mengenai hal hal keseharianku dan Maja, seperti saat Aku menabrak Jin yang sengaja menakuti para pengemudi dengan wujud pocong, saat Aku terpaksa mengikuti permintaan Jin wanita yang hanya mau berhenti meninggalkan manusia yang dia suka dengan memperkenalkannya dengan salah satu Jin pria yang tampan.
Amel pun sangat antusias mendengarkan ceritaku, dia tertawa dan rasa gugup, malu, dan khawatir tentang pekerjaan barunya ini menghilang. Aku pun melanjutkan ceritaku agar Amel merasa lebih rileks saat berada ditempat yang baru ini.
Moodnya terlihat sangat baik dan suasana di ruangan ini pun menjadi lebih baik. Dan Amel mendekatkan kursinya kepadaku agar bisa mendengarkan ceritaku dengan lebih jelas.
Namun ketika Aku baru saja selesai bercerita, mata kami saling bertatapan sejenak, lalu kami pun mendengar suara Maja.
"Mood kalian berdua sangat baik, posisi pun sudah pas. Apa sekarang kalian akan berciuman?."
Suara Maja seperti sambaran petir yang menghancurkan suasana hangat diruangan ini.