He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
V (Bohongi dia ?)


Vian (Point of View)


Aku membuka mataku perlahan, ketika mendengar suara pintu terbuka.


Dan ketika mendengar itu, aku berpura pura mengeleng gelengkan kepalaku. Seperti orang yang sedang bermimpi buruk.


Entah kenapa, aku sangat haus dengan perhatian Sheren. Sebelumnya aku tidak pernah begini. Aku pikir, Sheren memang wanita yang menarik. Sangat menarik. Aku sangat beruntung menjadi suaminya.


Sebenarnya setelah dia memberiku minuman jahe hangat buatan nya sendiri itu, aku tertidur pulas. Syukurlah, obatnya sangat manjur. Mungkin dibuat dengan rasa cinta, hahaha uch so sweetnya istriku.


Bahkan aku sudah bangun lebih cepat dari yang diduga. Aku sudah bangun tidur, dari saat si Sheren menyeduhkan kopi favoritenya itu, Mocca chapochino.


Aku mengintipnya, aku juga melihat wajahnya yang begitu kusut. Entah apa yang dia pikirkan, tapi walaupun begitu. Aku senang melihatnya diam diam. Aku merasa dia lebih manis dan cantik ketika dia sedang berpikir keras seperti itu.


Ah, sepertinya aku sangat jatuh cinta dengan Sheren haha.


Dia mengkhawatirkan ku tidak ya ?


Jujur saja, semenjak aku tau. Sahabatku menyukai istriku sendiri. Devanno.


Aku merasa sangat bersaing dengannya, karna aku tahu. Sheren memang sudah menjadi istriku, tapi tidak dengan hatinya. Aku cuman punya status bahwa dia istriku. Tapi tidak dengan fisik dan hatinya. Dia belum menjadi milikku sepenuhnya.


Dia menelpon dokter pribadi ku, apakah dia khawatir denganku ? Bukankah tadi aku menyuruhnya untuk tidak menelpon ??


.


.


.


[Dikamar Vian]


"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi ? Kenapa anda tidak segera menelpon ku ? Aku dengar, banyak darah yang keluar dari hidungmu. Apakah benar ?" Tanya dokter itu sambil mengeluarkan peralatan medisnya.


"Hey dokter Ardi, berhenti mengoceh. Kamu ini masih muda. Bahkan umur kita sebaya, kenapa cerewet sekali sih haha." Jawabku berusaha duduk, masih pusing tapi bisa aku tahan.


Nama dokter pribadi ku ini adalah Ardi Kurniawan. Dia dokter pribadi yang masih muda, tapi sangat telatent dan rendah hati. Makanya aku sangat mempercayainya.


"Lebih muda saya setahun dari anda tuan." Balasnya dengan wajah datar.


"Kamu marah dengan tuan muda mu ini ?"


Dokter itu tidak menjawab pertanyaanku, Ardi sudah ku anggap seperti adik sendiri. Dia sering sekali badmood ketika aku sakit, tapi aku tidak ingin menghubunginya.


Tadi tidak ada alasan spesifik sih aku gak mau nelponin Ardi. Ya aku mau lihat aja istri ku khawatir apa tidak, haha.


"Kenapa tidak menelpon ku?" Tanya Ardi.


"Aku mau lihat, istriku khawatir atau tidak denganku," jawabku sambil ketawa receh.


"Tuan mau mati ? Hanya karna alasan itu ? Aku sudah memeriksa nadi tuan. Nadi tuan lemah, nadi tuan dan detak jantung tuan sama persis dengan kejadian insiden beberapa tahun yang lalu. Tuan harus aku suntik dengan vitamin yang biasa aku kasih. Kalau tidak mau aku suntik dengan itu, jangan melakukan hal bodoh lagi."


"Jika obat yang aku suntik ini, tidak terlalu ber efek samping pada tuan. Berarti tuan akan segera bisa hilang dari trauma tuan ini. Tuan sakit disertai trauma, itu sangat sulit. Jadi tuan harus sabar, semoga suntikan ini tidak berefek begitu besar seperti sebelumnya." Jelas Ardi kepadaku.


"Mmm sebentar, kamu bisa kasih aku infus ?"


"Maksud tuan ?"


"Tolong kasih aku infus, nanti jika setelah kamu beri aku suntikan. Jangan kaget kalau aku tidak bereaksi, aku pura-pura tidur. Kemudian kamu panggil Sheren bisa ? Aku mau lihat, dia mengkhawatirkan ku, apa tidak."


"Tuan sudah bisa menerima posisi nyonya ?" Tanya Ardi.


"Bukan hanya menerima, tapi aku sudah mulai mencintainya. Dan aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya. Kamu bisa membantuku kan ?" Tanya ku lagi untuk meyakinkan Ardi.


"Bi-bisa, tapi jika kepala mu makin sakit. Tolong berhenti berpura pura, tuan harus segera kuberi obat penenang agar bisa tidur. Oke ?"


"Baiklah dokter Ardi haha, thank you."


"Iya tuan, aku ingin memakaimu infus dulu. Didalam infus ini juga kukasih penahan rasa sakit. Tuan yang kuat oke."


Sekitar sepuluh menit,


"Baik tuan Vian, infusnya sudah terpasang. Suntik obat nya segera aku lakukan."


"Lakukanlah, aku sudah siap." Jawabku dengan sedikit mengeluarkan keringat dingin.


Jujur aku sangat takut berhadapan dengan suntikan ini, sangat sakit. Membuat ku sangat tidak tahan. Tapi demi untuk sembuh, dan demi membuktikan kepada Sheren bahwa aku sungguh mencintainya, aku harus kuat dan harus sembuh!


"Ahh... shhh.."


Suntik itu sudah beraksi, kepala ku pusing dan sakit. Pandangan ku sedikit blur. Tapi masih bisa ku tahan, sebab rasa sakitnya tidak seperti sebelumnya.


"Pa..pa..panggilkan Sheren sekara..ng"


"Baik tuan."


Entah kenapa, aku seperti tak sanggup untuk berbicara.


-


Sebentar... ada yang lain didalam diriku, aku bisa mendengarkan apapun. Tapi tidak bisa membuka mata, kenapa ? Apakah efek lain dari obat ini ? Pertama kalinya aku seperti ini. Tubuhku juga terasa lemah.


Aku sadar, aku bisa mendengarkan apa yang terjadi. Krasak krusuk, dll. Tapi mataku dan tubuhku seperti mati rasa. Kenapa ?


-


"Vian?! Kamu kenapa !??? Hiks..hiks...."


[TBC]