He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Salah Paham)


BACK (Point of View) SHEREN


"Sheren, mau ku antar pulang ?"


Yang bertanya itu kalian pasti sudah tau, ya dia Devanno.


"Ah gak usah Dev, aku bisa sendiri. Nanti aku berhentiin taksi aja" Ucap ku menolak ajakan Devanno.


Ya sengaja sih gak mau, takutnya ada kesalah pahaman. Ini aja aku terlalu larut pulang, gak sadar tawa tiwi sama Devanno sampai2 lupa waktu.


Hari juga udah semakin malam, udah pukul 22.40 cukup larut malam. Apa yang terjadi jika Vian sudah pulang, tapi aku belum ada diapartemen di pukul segini ? Mati saja lah aku.


"Kamu gak trauma ? Kan kamu udah pernah diculik sama orang yang ngaku2 jadi super taksi" - Devanno


Aku terdiam, dan sedikit mengingat kejadian mengerikan itu lagi. Aku berharap itu adalah yang pertama dan terakhir aku diculik.


"Oke baiklah, antarkan aku pulang. Tapi tolong jangan membahas soal penculikan itu lagi. Jika kau membahasnya lagi, aku tidak mau berteman" Jelas ku angkuh


"Iyaaaa sherenn"


Kami pun bergegas menuju parkiran Mobil tapi tiba2 ada gadis muda menghampiri kami dengan tergopoh gopoh berlari kearah kami berdua. Jujur saja wajah gadis ini tidak begitu jelas soalnya ditutupi belahan poni rambutnya yang panjang.


Aku sempat kaget sih, soalnya serem juga sih. Ada orang menghampiri kami malam2 seperti itu.


"Siapa ?" Tanya ku ke Devanno


Devanno hanya mengangakat ringan kedua bahu nya tanda 'Tidak tahu' untuk menjawab pertanyaanku tadi.


"Iya kenapa dek ?" Tanya ku kepadanya


Tapi kalau dilihat sih, seperti dia sebaya deh sama aku. Gpp deh itung2 sopan kan ya.


"Kak, kaka beli air minum ku ya. Ini tinggal satu botol aja lagi. Soalnya aku mau buat beli makanan dengan uang jualan air ini" Jelasnya


Hah ? Sebentar aku kaget.


Air ? Air apa ? Aku bertanya dengan diriku sendiri. Aku mengambil Air itu, dan ya air biasa sih. Air mineral.


"Oke.. ya sudah. Aku beli ya. Nih uangnya"


Aku memberikan uang ya semoga saja cukup untuknya. Dia langsung berlari setelah mendapatkan uang dari ku.


Aneh sih, dilihat2 seperti sebaya dengan ku. Terus dia tadi ngobrol sama ku kepala nunduk terus. Ih kenapa sih ? Creepy banget.


Aku buru2 masuk kemobil Devanno. Dan Devanno rupanya sudah masuk dari tadi.


"Siapa sih sher ? Kamu kenal ? Kok creepy gitu ?" Tanya Devan


"Ih gak tau lah, cepet jalan. Aku mau pulang" Ucapku sambil melihat lurus kedepan mobil


"Iya iya"


.


.


.


Aku meminumkan air mineral itu karena ya lumayan haus juga sih. Dijalan juga udah lumayan sepi jadi aku sedikit keringatan dingin gitu.


"Min.... a.....r apa ?"


"Hah ?" Aku tidak begitu denger sama yang ditanya Devanno. Tiba2 aja telinga ku seperti berdenyut dan merasakan sedikit pusing.


"Itu loh.. barusan minum apa ?" Tanya Devanno lebih jelas


"Ohh ini, ini air mineral biasa. Dari perempuan cafe tadi itu loh" jawabku sambil menyodorkan air mineral itu tepat di depan wajahku. Melihat lihat ada yang aneh gak sama air ini.


"Kenapa diminum sih ? Firasat ku gak begitu enak pas ngeliat Air itu." Ucap Devanno sambil melihat ku.


"Ahh enggak kok, baik2 aja aku."


(+- 10 menit kemudian)


"Okei, kita udah sampai. Hati2 Sher, besok jangan lupa pergi kekantor nya jangan terlalu pagi. Soalnya gak ada orang kalau pergi kekantor macem tadi." Jelas dia sambil mengeluarkan sedikit tawa.


Aku mengiya kan ucapan nya dan bergegas pergi keapartemen.


Sampai saja aku diapartemen. Belum sempat ingin menghidupkan lampu apartemen, aku tiba2 merasa mual yang sangat hebat.


Sekitar 6x aku muntah tanpa mengeluarkan sesuatu, seperti orang hamil (?)


'Hah hamil ? Mana mungkin. Aku belum pernah sama Vian.'


'Ada apa dengan ku ?'


Aku tersengal sengal karena sedikit sesak didada.


*Tinggg*


Seperti bunyi orang masuk keapartemen. Aku tidak sanggup melihat itu siapa yang masuk, yang aku yakini adalah itu suamiku. Vian Johnbert.


"Kamu kenapa ?"


Itu adalah pertanyaan yang terlontar pertama kali dari mulutnya, aku hanya mendiamkannya. Karena aku terus muntah yang tidak mengeluarkan sesuatu.


Sepertinya tidak ada nada marah atau kesal ? Nada khawatir kah ? Ah mana Mungkin.


"Itu... anak siapa ?" - Vian


Hell! Dia bertanya seperti itu. Apa maksud nya ? Dia mengira aku cewek ******* kah yang enak2 nya membuat hal yang sekeji itu ?


"Maksudmu apa Vian ?" Tanya ku lagi.


Dan berakhir ada sedikit perdebatan akhirnya Vian memutuskan untuk memanggil dokter pribadinya.


"Dok..bagaimana ? Ada yang salah dengan istriku ?" Ini adalah pertanyaan dari Vian.


istri ? Hahahahahaha


dia mengaku kalau aku ini istri nya ? Gak salah tuh ? Hahahahaha. Lawak deh dia.


"Anda mual2 ?" Tanya dokter


"Iya dok" - Sheren


"+- 15 menit yang lalu, kamu ada minum sesuatu yang aneh ?" Tanya dokter.


Aku memikirkan lagi, apakah ada hal yang aku minum. Aku terus mengingatnya.


"Ada gak ?" Tanya Vian dengan wajah cemas.


Aku melihat wajah Vian lekat2 dan


Ohya! Aku tadi ada minum air mineral. Tapi apakah berpengaruh ?


"Iya! Ada dok!" Jawabku semangat.


"Apa ? Dimana ?" Tanya Vian dengan cepat


"Aku meminumkan air mineral, ya air mineral! Ada dii....." aku melihat keluar kamar dan Vian pun bergegas keluar kamar. Mungkin mencari Air itu ?


Karna tadi aku membawanya ke apartemen sih, tapi lupa letak dimana tu botol air.


"Apakah ini?"


Aku menoleh kesumber suara. Dan Vian menemukan botol air tersebut. Aku mengiyakan pertanyaan Vian.


"Kau tau kan apa yang harus kau lakukan ?" Tanya Vian kedokter itu.


Dokter itu mengangguk,


"Istri Tuan mual dikarena racun. Bisa jadi racun yang ada di air mineral ini. Tenang, saya akan memeriksanya untuk Tuan dan Nyonya. Baiklah saya permisi"


Dokter itu pun lama2 tidak terlihat oleh mata lagi, dan dikamar itu tinggal hanya ada aku dan Vian.


Suasan kami kembali canggung. Aku terus memicit ringan perutku, agar menghindari mual nya lagi. Tidak ada satupun dari kami membuka pembicaraan.


Tapi sepertinya aku harus mengalah,


"Lain kali, tolong jangan salah paham. Dan bilang seperti hal tadi. Kamu tau ? Itu menyakiti hatiku. Emang kamu anggap aku ini istri yang menjadi ******* gitu ?" Tanya ku sedikit dingin dan terus memijitkan perutku.


Dia hanya diam, dia sedang menatapi sesuatu. Seperti orang yang lagi merenung.


"Menurutmu apakah hanya kau yang disini merasakan sakit hati sher ?"


Dia bertanya. Maksudnya apa ?! Dia yang memulai semua ini!


Oh jadi ini semua salah ku gitu ?


"Aku hanya ingin bilang, kamu egois dan aku juga egois" - Sheren


[TBC]