He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Aku Gila Dev!)


"Ohya, jangan salahkan sahabat mu ini. Apa yang kau pikirkan semua adalah kesalah pahaman. Salah mu tidak ingin mendengarkan penjelasan kami. Jangan menyesal. Selamat malam"


.


.


.


"DEVANNN!!! DEVANNNO!!! apa yang harus aku lakukan. Aku gila gila gila. Sangat gila!" Erang keras ku kepada Devanno.


Sumpah. Sekarang aku seperti Cacing kepanasan. Tidak bisa diam sama sekali. Aku menyesal, menyesal telah berbicara seperti itu.


Dua pertanyaan yang aku lontarkan kepada Devan berkali kali.


-KAPAN AKU BEGITU AROGAN MENJAWABNYA ?


- KAPAN AKU BEGITU BERANI MENJAWAB PERKATAAN SUAMI SENDIRI?


Bahkan selama ini jangankan suami, kedua orang tua ku saja tidak pernah aku jawab sama sekali. Walaupun aku itu tidak salah.


"Kkkkkk hahahahaha"


Aku melongo melihat Devan yang sedang tertawa.


"Apa yang kau tawakan?!" Bentakku padanya


"Huhhhhhh, tenang nyonya muda. Galak sekali anda. Haha apakah nyonya tidak malu dilihat orang banyak disini ? Dari tadi nyonya terus bolak balik didepan saya dan menggerutu tidak jelas" Ucap Devan dengan sedikit nada yang sedang menahan tawa.


"Nyonya palamu, aku sedang serius ih! Bodoamat sama mereka DEVAN!!!"


Huaaa aku kesal sekali sama Devanno. Dia terus mengejekku. Padahal aku sedang serius ini. Apa yang aku lakukan ? Aku melakukan kesalahan kan ?


"Tenang dulu Sheren. Minum dulu. Minum dan makan dulu punyamu itu. Sebelum mereka basi karna ocehan tidak jelasmu itu. Liat, makanan aja bisa basi dengernya. Apalagi aku dan orang lain hahaha" -Devanno


Dia tertawa lagi.


Aku melihatnya dengan tatapan sinis dan penuh amarah. Kalau saja bukan berada di cafe. Aku ingin sekali mencekik leher Devan sampai dia mati.


Ya, Kami sedang ada di barista cafe yang seharusnya kami kunjungi pagi tadi apabila tidak ada kecelakaan. Lokasi barista dan RS lumayan jauhlah.


"Wih, matanya. Ganas banget. Calmdown Sheren Alka. Calmdown" itu ucapan yang terdengar dari telinga ku untuk meredakan amarah ku.


Tapi ada satu hal yang ganjal... apa ya ?


"Kok bisa tau nama lengkapku ?" Sengaja tanya, karna penasaran.


"Aku kan sahabat Vian, dan aku juga salah satu yang dikantor tau kalau Vian udah nikah. Dimata orang2 kantor, bahkan dimata dunia. Vian itu masih single. Alias belum nikah. Kecuali aku, kamu, dan Ortu kalian" - Jelas Vian


'Lebay banget ih, sampai ke dunia dunia segala. Cih'


Oohh begitu ya.


Aku menjawab dalam hati tapi memberikan isyarat dengan mengangguk-angguk kan kepala tanda 'oohh' dalam perbincangan kami itu.


"Oh tadi... bukan alergi sih. Tapi aku memang dari kecil setiap sebulan sekali tubuhku timbul ruam2 merah. Tanpa diketahui sebab dan akibatnya. Biasanya sih dikasih salep. Yang olesin salep itu suamimu loh Sheren. Dia baik kok sheren. Makanya jangan gegabah dulu dalam bertindak" Jelas Devanno kepadaku sambil mengernyitkan alisnya dan meminumkan Coffee yang ia pesan.


Aku diam, merenungi apa yang dia bilang barusan.


"Jangan ngelamun" Tukasnya kepadaku.


Aku hanya memandang dia, dan memberikan mimik wajah seperti menjawab


'aku tidak melamun'


"Aku cuman mau bilang, jangan pernah ada niat lepasin Vian. Vian itu pria yang baik kok. Cuman dia hanya butuh sedikit kepercayaan dan kasih sayang sebagai pria normal. Bukan sebagai pria yang tampan maupun Kaya. Dan juga Vian sangat benci dipermaikan. Untuk sekarang belum ada perempuan yang berhasil menghapuskan pikiran buruknya ini" - Devanno


Aku memahami setiap kata2 yang dia lontarkan kepadaku. Entah kenapa disini aku merasa tidak nyaman. Aku merasa, sepertinya Devanno sedang menyudutkan ku sekarang.


"Jadi kau menyalahkan ku gitu ?" Tanyaku


"Bu..bukann Sheren"


"Diam! Kenapa disini seolah akulah pemeran yang paling jahat hah? Kenapa harus aku yang mengerti kalian semua ?! Bahkan kalian dari tadi tidak ada sedikitpun menyalahkan IREN! Wanita ******! Yang merebut Suami orang lain!" - Aku


"Kau tau Devan! Aku sangat mencintainya, kau tau tidak ? Aku sangat cemburu dan sangat marah ketika aku tau orang yang berteriak dijalan raya tadi pagi dengan sesegukan menangis meneriaki pacarnya kecelakaan. Eh rupanya Suami ku sendiri! Kalau kau diposisiku apa kau diam2 saja ?!" - Aku


Aku tak sanggup menahan air mata lagi. Aku perlahan lahan tersedu sedu. Sambil meratapi coffee yang sedang ku seduh itu.


"Ayo keluarkan semua unek2 mu. Aku akan mendengarnya" Ucap Devanno


"Aku bingung. Selama ini apakah aku pantas menjadi istrinya ? Aku merasa kenapa takdirku begitu buruk ? Kau bilang dia baik ?! Baik apanya Devann! Selama aku menikahinya, hanya secuil saja yang pernah aku rasakan bahagia. Itu saja hanya sebentar. Yang lainnya ? Hanya sakit hati." Ucapku sambil tersedu sedu lagi.


"Aku seperti ingin menceraikannya"


"Hussss, jangan ngomong begitu. Tenang.. sekarang ada aku. Aku akan selalu menjadi pendengarmu apabila kamu merasa hatimu sesak dan ada hal yang perlu kamu sampaikan. Aku siap mendengarkannya" -Devanno


Kata2nya berhasil membuatku sedikit lebih lega. Aku berhenti dari isak tangis dan berkata


"Aku tidak akan melakukan tindakan bodoh itu Devan. Aku akan tetap terus mencintainya. Dan membuat dia mencintaiku. Tapi aku akan melepaskannya apabila itu adalah kemauan dia sendiri" ucapku serius.


"Jangan sok tegar.. tapi baguslah. Semangat ya!" Setelah dia berkata seperti itu, Devanno tiba2 mengelus pucuk rambutku. Aku syok.


"Apa yang kau lakukan! Bagaimana jika ada yang melihat. Nanti salah paham lagi" ucapku berbisik sambil melelototinya.


"Tenang tidak akan. Mulai sekarang, kau ku anggap adik ku sendiri ya ? Bagaimana ?" Tanyanya padaku.


Aku terdiam. Karna selama ini aku hanya sendiri. Hanya sendiri. Tidak ada yang pernah mau atau menawarkan diri untuk menjadi lebih dekat denganku.


Aku mengangguk angguk cepat tanda menjawab 'iya' dari pertanyaan Devanno.


Devanno tersenyum padaku. Dan kami melanjutkan obrolan panjang. Sampai kami lupa waktu bahwa hari semakin larut malam.


*cekkreekk*


[TBC]