He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Kesal)


"Kamu kenapa ?" - Vian


Cih, dia bertanya sekarang ? Kenapa dia bertanya kepada ku ? Mau sok perhatian ? Alah bullshit.


Aku tidak menggubris pertanyaan Vian, aku keluar dari balkon dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan badan. Aku melihat Vian bawaannya kesal, kesal sekali. Kalau bisa ingin sekali aku mencabik cabik wajah nya yang sok perhatian itu. Aku muak dengan kepura-puraan mu.


.


.


(10 menit berlalu)


.


.


"Hey sayang. Kamu kenapa mandi malem2 gini ? Badanmu gak enakan ya ?" Tanya nya.


Lagi lagi aku hanya terdiam, dan mengabaikan Vian. Aku hanya berjalan disekitar apartemen dengan tidak memperdulikan nya. Apartemen terasa sangat sunyi.


Aku ingin mencair suasana yang sangat suram ini. Saling mendiamkan satu sama lain. Ah.. ayolah Vian. Bicara lah padaku! Gumamku sendiri.


"Mmmm sheren.. kamu kenapa ? Kenapa kamu mendiamkan ku ? Aku berbuat kesalahan ?" - tanya Vian.


Hah? Dia bertanya kepada ku. Vian! Kamu tidak memakan masakanku! Apakah kau tidak merasa itu adalah sebuah kesalahan ? Gumamku dalam hati.


Aku hanya meliriknya sebentar


"Tidak, kau tidak berbuat kesalahan." Jawabku bohong


"Ohya.. maaf aku tidak memasak untukmu malam ini. Aku tau masakanku tidak enak." Tambah ku lagi sambil menuju kekamar. Aku sangat kesal kepadanya!


Aku orangnya kalau kesal, aku tidak bisa marah seperti kebanyakan orang yang memarahi memaki maki tidak jelas. Aku ketika kesal, hanya bisa menunjukkan mukaku yang sinis. Dan aku tidak akan menegur orang yang membuat diriku kesal.


"Apa maksud mu ? Masakan mu enak kok." Jawabnya


"Jangan bilang seperti itu kalau kenyataannya memang tidak enak ya tinggal bilang. Aku akan belajar lebih giat lagi untuk menghidangkan masakan untukmu" Tegas ku lagi


"Sebentarr she..."


"VIAN! SUDAH! Jangan ajak aku bicara. Besok aku akan mulai kerja di perusahaan mu" ucapku memotong bicara Vian, dan menuju kekamar dengan membanting pintu kamar tersebut.


Aku cukup kesal dengannya, kenapa aku kesal ? Aku kesal melihat wajah seperti tidak bersalah nya itu! Aku tidak bisa melihatnya! Dia seperti bayiiii :(


Lihat lah aku, aku sangat labil. Tadi aku kesal dengannya karna dia tidak memakan makanan ku. Dan sekarang aku kesal karna wajah bodohnya itu. Aku menyelimuti setengah tubuhku. Dan diam meratapi kekesalan yang sangat amat aku kesali ini.


Aku mendapati tempat tidur yang sedikit bergoyang, aku yakin itu pasti Vian.


Sebenarnya waktu pertama kali kami menikah, kami pisah kamar. Tapi semenjak kejadian hari itu, yang KATANYA Vian mau berubah dan belajar mencintaiku walaupun itu bullshit. Setelah hari itu, kami satu kamar.


"Kamu kenapa hum ?" Tanyanya. Aku hanya diam. Jujur, aku tidak akan bertanya kepadanya persoalan kenapa dia tidak memakan masakanku tadi siang. Aku akan bertanya padanya disaat waktu yang tepat.


"Aku tidak apa-apa" ucap ku.


"Kamu kedatangan tamu nih, kok bisa sih tiba2 marah gak jelas" - Vian


"Kamu serius mau kerja besok? Jadi sekretaris aku susah loh. Lebih baik kamu batalin aja deh. Jadi sekretaris aku ada masa2 percobaan. Dan yang ngatur masa percobaan bukan aku, tapi sekretaris utama ku. Yang jabatannya lebih tinggi dari kamu" - Jelas Vian


Aku hanya diam, tidak menanggapi apa yang dia katakan.


"Aku yakin kamu belum tidur. Ayolah, jangan marah2 gak jelas seperti anak kecil ini.."


Sebentar.


Vian bilang aku anak kecil ? What ? Tidak salah ? Siapa yang sebenarnya anak kecil ? Dia seharusnya lebih pantas dibilang anak kecil. Mempunyai sikap yang sangat buruk.


Mempunyai sikap yang susah sekali ditebak. Malam ini ramah dengan ku, nanti kita lihat aja dikantor. Pasti dingin sikapnya keaku. Cih dasar Vian banyak muka.


"Aku ingin bekerja. Aku tau, tak selama nya aku akan menjadi pasangan suami istri denganmu. Jadi aku mau mulai belajar mandiri." Jelas ku.


Aku tau, perkataan ku sedikit lancang. Tapi aku harus jujur, benar kan ? :) status suami istri kami tidak akan bertahan lama. Gak tau sih ya, aku mempunyai firasat seperti itu.


"Lahh.. maksud mu apa sheren ? Aku sama kamu bakalan jadi pasangan suami istri sampai hayat memisahkan kita. Tolong percayalah. Kamu kenapa ? Ada apa dengan hari ini ? Coba ceritakan kepadaku. Jangan kau marah2 tidak jelas seperti ini. Aku bingung mau bersikap seperti apa Sheren." Jelasnya begitu panjang.


Aku menghelakan nafas, dan beranjak pergi dari ranjang tersebut. Aku mau tidur dikamar tamu aja malam ini. Aku terlalu kesal sama kata2 Vian.


Kata2 Vian benar-benar menohok hatiku. Emang benar ini aku lagi datang bulan. Mungkin pengaruh pms juga kali ya, jadi sedikit sensitif dan emosional.


"Kau mau kemana ?" Tanya Vian


"Aku ? Aku mau kekamar tamu saja. Jangan mengikutiku" Jawab ku.


Aku melihat wajah Vian yang begitu kebingungan sama tingkah ku seperti ini. Tapi aku tak habis pikir kenapa Vian tidak merasa bersalah sama sekali ? Atau mungkin dia memakannya ? Tapi..


Tapi apa ?! Jelas2 itu dirantang tadi tidak tersentuh siapapun. Masih hidangan seperti yang awal aku kasih ke dia. Sudahlah! Aku malas. Aku lelah sekali hari ini.


Aku keluar dari kamar tersebut, dan menuju ke kamar tamu. Aku harus tidur lebih awal, agar besok aku punya stamina yang bagus untuk mengawali hari pertama kerja.


.


.


.


.


Seperti biasanyaaa~


Aku bangun lebih awal, dan buru2 membuat sarapan pagi yang sangat sederhana untuk suamiku. Berharap semoga Vian menyukainya :)


aku memberikan sebuah surat bahwa aku pergi duluan, pergi lebih awal kerja. Agar gak begitu dicurigai orang kantor kalau aku ada hubungan apa2 sama si Vian.


Orang Ceo mah beda, mau dateng lama juga its okey. Lah emang dia yang punya perusahaan kan ? Haha.


"Mencintai dan dicintai itu adalah kesamaan yang sama-sama melelahkan dan menyakitkan jiwa dan raga" -Sheren Alka


[TBC]