
Entah kenapa disini aku melihat tatapan Devanno dengan ku sedikit berbeda. Pandangannya begitu hangat. Tak pernah aku jumpai seumur hidup ada pria yang memandangi ku sehangat ini.
Termasuk Vian suamiku, dia tidak pernah memandangiku sehangat ini. Pandangan Devanno sepertinya bukan pandangan merendah ataupun kasihan. Ya memang pandangan seperti menimangi kekasih lewat tatapan.
'Sadarrrr sheren sadarr!! Kau sudah punya suami!'
Aku menggeleng gelengkan kepala, dan segera bangkit dari posisi yang sangat tidak nyaman itu.
Kami sedikit canggung
"Ka...kamu gpp Devan ? Itu badan2 kenapa ruam2 merah sih ?" Aku bertanya sambil melihat secara seksama tangan, tengkuk, bahkan wajah. Ya memang sedikit tidak wajar sih.
*prrokkk prokkk prokkk*
Bunyi tepukan tangan. Aku terdiam seperti patung karna terkejut. Aku membalikkan badan untuk searah dengan sumber suara.
Ketika aku membalikkan badan.
Sial.
Kalian pasti tau itu siapa...
Itu Vian suamiku. Perasaanku sangat tidak enak. Bercampur aduk, antara takut sedih dll. Aku takut dia salah paham. Bagaimana ini ?
"Wah hebat sekali kalian ya ? Enak ga adegan romantis nya ? " tanya Vian dengan nada sedikit meremehkan dan jijik mungkin (?)
"Hahahaha aku merasa sedikit terhina. Aku punya istri dan tidak pernah berpelukan seperti itu. Dimana ya istriku ?" Ucapnya dengan menoleh kekanan dan kekiri seolah olah sedang mencari istrinya yang padahal ada dihadapan dia sekarang.
"Vi..viann jangan salah pahan dulu" Bilang ku ke Vian dengan menunduk karna merasa sangat bersalah.
"Vian. Jangan salah paham dulu. Kami tidak ada apa2 kok. Tadi istri mu mau jatuh jadi ya aku gak sengaja tangkep dia" Jelas Devanno untuk mencair suasana.
.
.
.
"Sheren." Panggil Vian dengan nada yang membuat Sheren sedikit merinding
"I..iya" Jawab Sheren sangat gugup dan gemetar
"Kau tau. Sepertinya aku lebih suka kau terjatuh dan terluka, jadi kau bisa dirawat disini dan aku akan menjagamu. Ketimbang kau diselamatkan oleh lelaki lain" Jawab Vian sambil melihat Sheren dengan mata tajam.
Sheren melirik secara perlahan kearah Vian, dan mendapati Vian yang memandanginya sangat tajam.
"Ma...maafkan aku Vian. Iya aku tau aku salah" - Sheren
"Sheren.. aku sepertinya terlalu baikk dan memanjakanmu ya ? Aku menarik kata2 ku dulu yang belajar ingin mencintaimu. Kau sudah merusak kepercayaanku. Selamat tinggal." - vian
.
.
.
Aku melihat Devanno dengan mengisyaratkan 'sudah diam, jangan bicara lagi'
Ya mungkin emang begini nasibku, yang harus mendapatkan penderitaan terus. Entah kapan bahagia nya.
"Sudah van, aku sudah muak. Aku baru saja ingin mulai belajar membuka hati untuk orang baru. Tapi apa ? Hah dia mengecewakanku." - Vian
"Vian! Kan aku udah bilang ini semua salah paham. Biarkan kami menjelaskan dulu. Kau hanya tinggal mendengarkan saja susah sekali sih"
Aku melihat wajah Devanno yang sangat kesal. Dan tak lupa Ruam2 dibadannya makin menjadi.
'Dia alergi dingin ya ?'
Aku bertanya tanya didalam pikiranku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan Vian, terserah dia mau pergi dari sinu atau marah besar kepadaku. Aku tidak peduli.
Toh nanti juga aku yakin dia bakalan ceraiin aku, dan hidup bahagia sama Iren hahaha.
Drama yang menarik bukan ? Menarik sekali.
Aku mendekati Devanno dan ingin meleraikan mereka berdua dari adu mulut yang tak kenal ujungnya ini.
"Sudah Devan. Jangan lagi emosi sama orang yang seperti ini." Ucapku sambil menarik lengan Devanno ke posisi tepat di belakangku.
Maaf, kali ini aku malas sekali membela Vian. Rasa sakit hatiku masih saja sangat terasa hingga saat ini. Seperti tidak berkurang sama sekali. Terlebih aku melihat Vian secara langsung dan terkenang didalam pikiran dia menangis tersedu sedu ketika Iren Kecelakaan tadi.
"Apa yang kau lakukan Sheren ?!" Nada bentak Vian.
Wah bahkan dia berani sudah membentak ku. Bukan hanya dingin, membentak ku saja dia berani.
"Aku tidak melakukan apapun, seharusnya aku yang bertanya seperti itu dengan mu. Apa yang kau lakukan disini ? Ohh aku tau, kau kan pemilik Rumah Sakit ini. Jadi ya bebas2 aja ya mau kemana aja ? Ya sudah deh biar kami aja yang pergi."
'Apa yang aku katakan ? Berani sekali aku bicara seperti ini dengan suamiku sendiri. Sheren tamat sudah riwayatmu'
Menutupi rasa canggung dan takutku. Aku dan Devanno beranjak ingin pergi dari balkon. Aku memandu Devanno, Devanno bisa jalan sih. Tapi sepertinya dia emang alergi. Dia dari tadi sedikit tidak nyaman.
"Apakah aku salah mencari istriku sendiri ? Dan ketika aku mencarinya, dia bersama pria lain. Tak lain dan tak bukan, pria itu sahabatku sendiri"
Aku terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Vian secara tiba2. Dia mengakui bahwa aku ini istrinya ? Atau aku salah dengar ?
Tubuhku sedikit gemetar dan sedang menahan isak tangis yang ingin keluar dari pupuk mata.
"Kau punya istri ? Ahh aku baru tau"
'Apa yang aku katakan?!'
"Ohya, jangan salahkan sahabat mu ini. Apa yang kau pikirkan semua adalah kesalah pahaman. Salah mu tidak ingin mendengarkan penjelasan kami. Jangan menyesal. Selamat malam"
'Sheren.. kau kah itu ?'
[TBC"