
VIAN (Point of View)
Aku tidak tahu, apakah keputusan ku ini benar atau salah. Aku dengan tidak sadar menghampiri Sheren dan memeluknya, sambil berkata "Tuntun aku untuk mencintaimu"
SHIT!
What the hell man??! apa yang telah ku perbuat ?! apakah aku bisa mempertanggung jawabkan apa yang aku bilang tadi ? aku benar-benar gila. Tapi tidak apa-apa aku akan mencoba mendekatinya secara perlahan lahan. semoga dia tidak mengecewakan ku.
apa kalian tahu ? aku muak dengan wanita yang di luar kelihatan lugu dan lemah lembut. tapi aslinya seperti injak semut tak mati.
Sangat menjengkelkan. aku muak, aku tidak mau masa lalu ku terulang kembali. Masa lalu ku sangat tragis, aku tidak bisa menceritakan sekarang. aku bisa sesak ketika mengingat kejadian itu lagi.
***
Setelah keluar dari situasi gila tadi, yang aku bilang tuntun aku mencintai dirinya. aku langsung keluar dari ruangan sheren dan memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini ? bukankah selama ini aku tidak memperhatikannya ? jadi dengan kata2 ku tadi, apakah aku harus memperhatikannya sangat ekstra ? seperti layaknya anak bayi ?
OH NO! Aku muak! aku tidak mau... atas dasar apa aku tadi bilang seperti itu ?!
Sekarang aku berada di kantor pribadiku di RS JOHN NEW. Aku bingung, resah, kesal, dan juga sedih. aku tiba2 sedih mengingat kejadian yang sangat mengerikan tadi malam. Yang hampir saja mengambil nyawa istriku. aku tiba2 merasa bahwa aku ini tidak layak menjadi seorang suami.
aku masih bingung, sikap ku ini terkadang malas peduli dengan sheren. tapi dadaku begitu sesak Jika melihat sheren mengeluarkan air mata. aku merasa, aku telah gagal membahagiakan dirinya.
memang benar, kami menikah tidak ada dasar saling mencintai. tapi apakah hidupku sampai tua akan berjalan seperti ini ? tanpa kebahagian ? dan tanpa adanya mesra2 bersama istri tercinta ?
tapi apa boleh buat, aku benar2 tidak ada rasa sedikit pun dengan sheren. apakah selama ini aku hanya kasihan padanya ? heuh aku tidak tahu itu.
"Tn.Vian mohon menggantikan bajumu, bajumu sudah berlumuran darah" Ucap salah satu Bodyguard R2 ke diriku. dia tiba2 memberikan ku baju kemeja dan celana yang sangat casual. seperti orang ingin pergi kekantor.
"APA KAU BODOH ? Untuk sekarang aku tidak mau pergi kekantor! dan kenapa kau memberikan baju sangat casual ?! aku hanya ingin menggantikan Bajuku dengan Hoddie dan celana training saja! turuti apa yang aku Minta!" - bentakku
Ya begitulah aku, tidak terlalu suka yang Ala2 CEO pada umumnya. bukan sombong ya, aku memang seorang CEO. tapi aku sangat tidak suka memakai casual2 seperti kemeja / jas / lainnya.
kecuali diwaktu yang sangat diwajibkan untuk berpakaian seperti itu.
aku berjalan menuju cermin panjang yang memperlihatkan seluruh tubuhku di ruangan kantor tersebut. aku sekarang memang sedang memakai Tshirt kemeja berwarna terang, putih dan biru laut.
begitu jelas terdapat bercak darah, aku menyentuh luka ku dipunggungku.
'shhh sakit juga ya' -gumamku sendiri
Aku melihat wajahku di cermin secara seksama, ternyata aku ini ganteng banget ya! hahaha. wait wait aku bukan hanya ganteng. tapi Tampan hahaha. tanpa sadar aku tersenyum sendiri karna geli dengan apa yang aku bilang.
Tak sampai beberapa menit kemudian, baju ku sampai. dan aku menggantikan nya. setelah itu aku pergi ke ruangan sheren. ingin menjaganya, setidaknya selama dia disini biarkan aku yang menjaganya. heuh... melelahkan ssekali
Aku melihat Sheren tidur, aku melihat wajahnya. begitu lugu, lemah, dan tak berdaya. tak lupa, aku juga baru sadar. sheren ternyata sangat kurus, rahang nya terlihat jelas dan dibawah matanya sembab. Makin kutatap wajah sheren, makin keliatan manis. Jujur sheren itu tidak cantik, tapi manis ditambah lagi wajah lugunya itu. seperti ingin kumakan saja dirinya.
lucu.
"eeuhhh.. hooaaaammm"
"humm.... ehhh Vian, kok kamu disini ? gak tidur ? tidur disini yuk yuk." ucap Sheren sambil mem puk puk kan Ranjang kecil yang dia tiduri itu.
"badan ku bukan seperti lidi, jangan tawarkan. jika kau tawarkan lagi, kau yang tidur dilantai. mau ?" -
jawabku
"Gila sih,.. batu es banget. kalau gak salah, tadi mood kamu baik2 aja. kamu kan emang begitu ya. Sikap bener2 mudah banget berubah" Tegas Sheren sambil memanyunkan Mulutnya.
huh! aku gemes liat sheren, ingin sekali aku meciumnya saat ini juga. sangat cerewet!
apalagi salah ku ? aku mengatakan dengan benar. apakah terlihat dingin ? ck aku salah lagi.
"Malam tadi, kenapa kamu pergi ke mall ?" Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.
entah kenapa tiba2 wajah sheren yang tadinya senyum2 gak jelas, berubah menjadi sangat murung.
'lah kenapa dia?' -gumam ku dalam hati
"a.. aku... aku sebenarnya pergi enggak malam. aku perginya sekitar sorean gitu. tapi gak sadar lihat2 baju2 bagus di mall jadi kemalaman. aku ke mall mau beli baju kantor buat kerjaku hari ini. seharusnya hari ini adalah hari pertama ku kerja dengan mu. tidak apa2 Vian kau potong saja gajiku sehari, karna telah menyusahkan mu." Jelas sheren sambil menundukkan kepalanya.
"d...dan... a..ku.. aku kesana sendirian, gak jalan2 sama laki2 lain. aku bukan cewek yang kamu pikirkan vian. Hiks hiks hiks" sambung Sheren
ehh dia nangis! aduh salah lagi kan topikku. Bodoh sih, aku baru ingat! aku bilang dia jalan2 dengan laki2 lain di mall. bodoh bodh bodoh! Vian bodoh!
"aku minta maaf dengan mu, aku bersalah. aku telah berburuk sangka padamu" Ucapku sambil memeluk dirinya.
aku sudah bilang, aku sangat tidak suka melihat sheren manangis dan mendengarkan isakan tangisnya. itu membuat dadaku sesak.
Aku memeluknya tapi makin keras dia menangis.
aku melepaskan pelukanku padanya, dan menangkup wajahnya tepat didepan wajahku.
"Sheren... Sudah jangan menangis, kalau kau menangis luka dipipimu akan sangat perih. aku kan mempercayaimu." Jelas ku sambil mengelus pipi halusnya itu dan membelai kepala sheren, bertujuan untuk melegakan Tangisannya.
"Vian, apakah kau serius dengan ucapan mu tadi ?"
tiba2 Sheren menanyakan hal itu. aku tau pertanyaannya mengarahkan kemana.
"Iya.. aku serius. Yakin kan aku bahwa kau bisa membuatku percaya denganmu sepenuhnya dan jangan mengecewakan ku." - Vian
[TBC]